
"Tolong maafkan aku, Al. Aku tidak sengaja mengatakannya lagi. Aku tidak bermaksud mendesakmu apalagi memaksamu."
Rendy mengambil selembar tisu yang tersedia di dalam mobilnya, lalu diberikannya pada Alya yang masih menyeka air mata dengan jemari tangannya.
Tanpa kata, Alya menerima tisu itu dan segera digunakan untuk membersihkan cairan bening yang masih menggenangi pelupuknya.
"Maafkan aku, Al."
Alya tengah memikirkan sesuatu namun masih tidak yakin apakah dia mampu melakukannya atau tidak.
Dia tidak ingin terus-menerus mengecewakan Rendy, tapi dia juga tidak yakin apakah dia bisa melakukan hal sebaliknya, yaitu membahagiakan lelaki itu.
"Ren ...."
"Ya, Al? Ada apa?"
Alya kembali terdiam dalam ragu yang masih membelenggu.
"Katakan saja." Rendy mulai menanti apa yang akan disampaikan oleh wanita yang dicintainya.
Alya memejamkan mata untuk sejenak, berusaha menenangkan hati sekaligus meyakinkan keputusannya.
"Seandainya aku ingin memberi kesempatan bagi hubungan kita, apakah kamu akan kecewa dan sakit hati, jika nantinya aku tetap tidak bisa membuka hatiku untuk dirimu?"
Rendy melebarkan pandangannya, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Alya.
"Sungguh aku ingin sekali membuatmu bahagia, tapi aku takut aku tidak bisa melakukannya dan pada akhirnya hanya akan memberimu kekecewaan lagi. Tidak perlu aku jelaskan mengapa, kamu pasti sudah tahu apa alasanku, Ren."
"Lelaki itu. Aku tahu, kamu masih mencintainya tanpa bisa merubah perasaan itu sedikit pun. Cintamu telanjur tulus dan utuh hanya untuk lelaki itu."
Rendy berusaha menenangkan perasaannya yang turut gamang. Akankah hubungan yang hanya dilandasi cinta sepihak ini akan bermuara pada kebahagiaan?
Ataukah pada akhirnya nanti dia akan tetap menerima kenyataan pahit lagi seperti sebelumnya? Seperti cinta pada mantan istrinya yang berakhir kecewa karena sang istri lebih mencintai dan memilih pria lain daripada dirinya?
Tenyata dokter tulang itu pun masih ragu dengan perasaannya. Bukan meragukan rasa cintanya pada Alya, akan tetapi ragu pada kesiapan hatinya untuk menghadapi kenyataan pahit yang mungkin akan kembali diterimanya dalam hubungan yang baru ini.
"Mengapa di saat kamu berusaha untuk menerimaku, justru aku yang menjadi ragu untuk memulainya?"
Rendy merutuki kelemahannya. Lelaki bersahaja itu ternyata masih menyimpan luka di hati atas kegagalan pernikahannya di masa lalu.
__ADS_1
"Aku takut akan merasakan kekecewaan lagi jika suatu saat nanti kamu akan kembali pada cinta pertamamu, sama seperti yang dilakukan oleh mantan istriku dulu."
Alya tidak melanjutkan ucapannya lagi. Diamnya Rendy sudah memberikan jawaban bagi keduanya, bahwa mereka tidak perlu memaksakan hubungan tersebut, jika akhirnya hanya akan berakhir dengan saling menyakiti dan disakiti.
"Aku rasa sebaiknya kita tidak membicarakan hal ini lagi, Ren. Kita jalani saja pertemanan seperti biasanya, yang sudah terjalin sangat baik dan cukup dekat di antara aku dan kamu."
"Tidak perlu kita memaksakan diri untuk menjalin hubungan yang belum bisa kita yakini sepenuhnya di dalam hati. Lebih baik tetap berteman dengan rasa nyaman, daripada memilih bersama hanya untuk mengulang kecewa."
.
.
.
Di dalam taksi daring yang mereka tumpangi menuju kantor Yoga, Bunga lebih banyak diam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Sayang? Apa kamu kecapekan?"
Ardi merebahkan kepala Bunga di bahunya lalu diusapinya dengan sayang. Sang istri pun segera menggeleng sembari menyamankan rebahannya.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya tiba-tiba saja teringat Aura di sana." Perawat lemah lembut itu tersenyum menatap wajah suaminya, lalu kembali bermanja di bahu Ardi.
Tak peduli dengan sopir taksi berusia muda yang memperhatikan mereka diam-diam, Ardi mencium kepala istrinya dengan penuh cinta kemudian merapatkan dekapannya.
Bunga memejamkan mata dan menenangkan pikirannya yang sedang gelisah. Masih ada tanda tanya besar di benaknya yang membutuhkan jawaban pasti agar dia bisa memantapkan hatinya.
"Semoga aku tidak salah langkah dalam mengambil keputusan. Aku yakin semuanya akan menjadi bahagia pada waktunya nanti."
Taksi berhenti di depan pintu utama kantor Yoga yang sekarang dipimpin oleh Nara. Ardi dan Bunga segera turun dan masuk ke dalam gedung dengan bergandengan tangan.
Bsrtemu dengan Beno di lantai bawah, mereka kemudian diantarkan naik ke ruangan Yoga yang sekarang digunakan oleh Nara.
Beno mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, asisten kepercayaan Yoga itu membuka pintu dan mempersilakan masuk pasangan suami-istri tersebut.
"Mbak Nara!" Bunga terlebih dahulu menyapa Nara yang tampak terkejut dengan kedatangan keduanya.
Segera meninggalkan pekerjaannya dan berdiri, Nara menyambut Ardi dan Bunga dengan hangat. Kedua wanita yang sudah seperti saudara itu berpelukan dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri.
"Mengapa tidak memberitahu aku sebelumnya? Kalau aku tahu, aku bisa meminta tolong Pak Budi untuk menjemput kamu dan Dokter Ardi di bandara."
__ADS_1
Wanita berpakaian kerja sederhana namun terlihat berwibawa itu mempersilakan mereka duduk lalu menghubungi bagian pantri dan meminta diantarkan minuman dan kue untuk menjamu tamu istimewanya.
"Aku tadi sudah ke rumah sakit, Ra. Aku menemui dokter dan berbincang banyak tentang kondisi Yoga."
Untuk beberapa saat Ardi menceritakan tentang pembicaraannya bersama dokter, kecuali mengenai respon kecil yang sempat ditunjukkan oleh Yoga di hari kemarin.
"Terima kasih atas perhatian yang besar dari Dokter untuk Mas Yoga. Maaf jika kami sering membuat kalian berdua repot dan harus bolak-balik datang kemari."
Nara bersyukur, suaminya mempunyai sahabat sebaik dan setulus Ardi. Bahkan mereka berdua sudah seperti saudara dan keluarga karena tumbuh bersama sejak mereka kecil.
"Seandanyai aku bisa pun, aku ingin terus tinggal di sini dan menjaganya, Ra. Tapi sayangnya, aku hanya bisa mengunjunginya sesekali saja." Ardi menjawab dengan sikap tenang dan tanpa beban.
Nara mengangguk dan memahami kesibukan mereka masing-masing. Dengan perhatian yang diberikan Ardi dan istrinya sejauh ini saja, dia sudah sangat berterima kasih dan merasa banyak berhutang budi.
Dirinya merasa sangat beruntung karena banyak sekali orang yang menyayangi keluarganya dan selalu ada di setiap saat mereka mengalami kesulitan maupun kesusahan seperti sekarang.
"Lihatlah, Mas. Banyak sekali yang sudah mencarimu dan merindukanmu. Semua orang menyayangimu dan mengkhawatirkanmu. Mereka semua menunggumu untuk kembali, sama seperti diriku."
Nara terus mengulas senyuman bahagia di antara kesedihan yang masih terus bersarang di hatinya, selama sang suami tercinta belum sadar dan pulih seperti harapannya.
"Cepatlah kembali, Mas. Segeralah pulang menemuiku dan berkumpul bersama keluarga kita. Aku tidak akan pernah lelah untuk menunggumu, karena aku selalu yakin dan percaya bahwa tak akan lama lagi kamu pasti akan membuka mata dan kembali menatapku dengan pandangan penuh cinta."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1