CINTA NARA

CINTA NARA
3.65. SATU JAWABAN


__ADS_3

Setelah berusaha menenangkan Aura yang tak ingin ditinggalkan olehnya, akhirnya Alya berhasil menidurkan bayi cantik itu dan diantarkan Ardi untuk dibaringkan di dalam kamar.


Untuk pertama kalinya Alya masuk ke kamar lama Ardi, yang berada di rumah orangtuanya. Meski jarang ditempati lagi, kamar itu tampak rapi dengan perabotan klasik yang ada di dalamnya. Beberapa foto lelaki itu terpajang di dalam figura dan berjejer rapi di atas meja di salah satu sudut. Mulai dari foto bayi dan masa kecilnya, hingga foto saat dokter kandungan tersebut diwisuda.


Setelah menyelimuti Aura yang sudah benar-benar terlelap, Alya turun dari tempat tidur dan merapikan hijab yang sedari tadi terus ditariki oleh tangan mungil bayi kesayangannya.


Ardi diam memperhatikan dengan debaran keras di dalam dada, yang semakin lama kian kencang degupannya. Gelenyar aneh terasa menyisiri dinding sanubari yang mulai tak tertahankan lagi. Perlahan dia melangkah maju, mendekat ke arah wanita yang masih belum menyadari tatapan penuh cinta yang mengarah kepadanya.


"Aura sudah ti ... dur." Alya terkejut mendapati Ardi sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Aโ€“Aku akan berpamitan dulu pada semuanya." Alya bergeser ke samping agar bisa melangkah menuju pintu yang terbuka lebar. Namun Ardi mengikuti dan tetap menghalanginya tanpa sepatah kata.


"Ardi ... ini sudah semakin malam. Aโ€“ku harus segera pulang ke kediaman Pak Yoga," ucap wanita itu beralasan. Dia menghindari tatapan mata Ardi yang terus tertuju padanya. Kegugupan mulai terlihat di wajah yang semakin tegang dan ditundukkan.


"Beri aku waktu lima menit. Biarkan tetap seperti ini dulu, Alya. Aku belum ingin berpisah denganmu malam ini."


Ada yang berdesir halus di sanubari, menyentuh dan menyisir lembut dengan debaran yang semakin menyesakkan rasa di dalam dada. Alya tak kuasa menahan kegugupan dan ketakutan sehingga tubuhnya sempat goyah dan bergetar hampir terjatuh.


Sekuat tenaga dia menahan agar bisa tetap berdiri tegak di hadapan lelaki yang terus memaku pandangan ke arahnya. Mata teduh itu memancarkan cahaya cinta seindah waktu dulu.


"Tolong lihat aku, Al. Aku mohon," pinta Ardi dengan suara yang semakin berat.


Menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, Alya mencoba menguasai diri sendiri agar tidak sampai lepas kendali. Setelah merasa tenang dan lebih kuat, dia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan lekat lelaki di hadapannya.


Gemuruh di dada semakin terasa riuh di antara tatapan mata keduanya yang semakin teduh. Ada damai terasa di dalam sanubari, meski nyatanya detak jantung mereka berdegup lebih cepat dari saat biasa. Tenang tapi sarat akan debaran. Bahagia namun terselip rasa malu.


Cinta itu semakin terlihat jelas di antara mereka. Dalam hening yang memaku tatapan keduanya, hati mereka seolah telah saling bicara dengan bahasa kalbu. Diam namun penuh rasa dan makna terdalam.


Ardi benar-benar tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersama Alya sedekat ini. Banyak hal yang ingin diungkapkan pada wanita yang semakin terlihat matang dan dewasa di matanya. Namun hanya satu hal yang akhirnya terucap dengan lancar tanpa perlu berpikir lebih lama lagi.


"Alya, maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


Wanita ayu berhijab anggun itu benar-benar akan terjatuh, jika Ardi tidak lebih cepat meraih kedua tangannya yang kini telah berada dalam genggaman lembut lelaki itu. Sepasang mata indah Alya tak berkedip sama sekali, sebab terpana dan terkesima oleh kalimat yang diucapkan oleh Ardi dengan mengunci tatapan mata keduanya.


Dia melamarku? Dia memintaku untuk menikah dengannya? Ya Allah ... ini adalah impianku, tapi apakah yang kudengar tadi juga sebatas mimpi belaka? Apakah semua ini hanya ilusiku semata?


Alya berdiri terpaku dan menahan napas untuk sesaat. Pikirannya masih terpusat pada ucapan yang baru saja didengarnya dan terus terngiang-ngiang di telinganya.


"Alya ... jangan diam saja. Bisakah kamu menjawab pertanyaanku sekarang juga?" Suara lirih Ardi menyadarkan Alya bahwa semuanya adalah nyata. Matanya mengerjap lalu kembali menatap dokter romantis itu dengan pandangan tak percaya.


Mengapa secepat ini dia menanyakannya? Tidak adakah waktu lain untuk membicarakan semua ini? Haruskah malam ini juga aku menjawabnya?


Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Alya, Ardi mencoba meyakinkan wanita itu dengan mempererat genggaman tangannya.


"Maafkan aku, Alya. Aku tak bermaksud menekanmu dengan pertanyaanku. Sungguh aku hanya ingin mengetahui jawabanmu saat ini juga. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku takut ... aku takut kamu tidak menerimaku ...."


Dalam posisi berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, keduanya bisa saling memperhatikan dengan jelas tanpa sekat. Kali ini Ardi benar-benar menuntut, ingin Alya segera menjawabnya sebelum mereka keluar dari kamar itu.


"Aku akan tetap menunggu kesiapanmu dan kesediaanmu, kapan pun kamu ingin menentukannya. Tapi aku mohon, jawablah pertanyaanku sekarang juga. Aku hanya butuh kepastian itu, Alya."


Banyak pertimbangan di hatinya, bukan sekadar memberikan jawaban ya atau tidak. Mungkin Ardi belum memikirkan hingga ke sana atau memang sengaja tidak ingin membahasnya saat ini. Akan tetapi bagi Alya, semua hal harus mereka pastikan sebelum mereka bersatu dan bersama untuk selamanya.


"Ardi ... ini bukan tentang jawaban singkat dan sesaat saja, tapi lebih dari itu. Aku masih harus memikirkan dan menyelesaikan banyak hal. Demikian pula dengan kita. Masih banyak yang harus kita pertimbangkan sebelum memutuskan langkah berikutnya."


Ardi maju selangkah membuat jarak di antara mereka semakin pupus. Alya hendak mundur namun tangannya ditahan oleh lelaki yang sudah tidak ingin menunggu lagi.


"Alya ... aku mohon. Jawab saja pertanyaanku. Setelah itu, kita akan membicarakan hal yang lainnya bersama-sama."


Hembusan napas Ardi mulai terasa menerpa wajah Alya yang kian tak berjarak darinya. Wanita yang semakin tak berkutik itu kembali memejamkan mata guna memulihkan kesadarannya yang hampir lepas kendali.


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Aku tidak ingin melihatmu rapuh lagi. Aku hanya ingin terus mendampingimu. Aku hanya ingin tetap bersamamu apa pun yang akan terjadi."


Dalam pejaman matanya yang semakin rapat, Alya mendengarkan penegasan yang diucapkan sekali lagi oleh Ardi. Lelaki itu tak butuh banyak alasan, melainkan hanya satu jawaban.

__ADS_1


"Alya Annisa Zahra, maukah kamu menikah denganku?" Ardi mengulangi pertanyaannya.


Alya membuka mata dan memberanikan diri untuk menatap mata teduh yang kian sendu itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan tak kuasa menghindar lagi.


Dengan satu gerakan tegas di kepalanya akhirnya dia telah menunjukkan satu jawaban. Pasti dan tanpa ragu lagi.


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2