CINTA NARA

CINTA NARA
93 HARI BAHAGIA


__ADS_3

"Rasa ini memang tumbuh sangat cepat, namun selalu aku syukuri karena telah berlabuh pada orang yang tepat."


Yoga tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang kini menghujani hatinya dengan rinai cinta yang mengalir deras menghangatkan jiwa yang selama ini menanti jawaban dari sang pemilik hati.


"Jadi ....?"


Nara menatap Yoga yang masih bertanya dan menunggu dirinya mengungkapkan isi hati terdalamnya.


"Apakah aku harus mengatakannya?" Senyum terkulum di bibir Nara.


"Harus, Sayang. Kamu harus mengatakannya. Sama seperti aku mengatakannya kepadamu."


Mereka berdua masih berdiri berhadapan tanpa merasa lelah, karena hati yang telah membuncah oleh bahagia yang membuat semua terasa indah.


"Aku ...." Nara terdiam lagi. Debaran di dadanya semakin terasa keras.


"Ya?" Yoga melebarkan matanya hingga alisnya terangkat. Tak sabar menunggu sang istri mengucapkannya.


"Aku juga." Ada setitik senyum di sudut bibir Nara.


"Juga apa?" Cecar Yoga lagi. Tangannya menggenggam semakin erat.


Nara kembali mengatur nafas guna meredam gejolak yang mengguncang hatinya. Memaku tatapannya lurus ke dalam mata Yoga yang penuh pengharapan, Nara memantapkan hati dan mengungkapkan perasaannya pada lelaki di hadapannya.


"Aku juga mencintaimu, Suamiku."


Tak hanya itu, Nara berjinjit kecil lalu mencium bibir Yoga untuk sesaat, kemudian melepaskannya dan kembali menatap sang suami yang masih terpana atas apa yang dilakukannya.


"Apakah jawabanku sudah membuatmu benar-benar percaya akan perasaanku padamu?"


Kali ini justru Yoga yang tak mampu berkata-kata. Hatinya terlalu bahagia hingga bibirnya terkatup rapat dan hanya bisa membalas tatapan mata bening Nara dengan mata berkaca-kaca.


Hanya bisa mengangguk dan tersenyum, lelaki itu lantas menarik tubuh Nara dan mendekapnya sangat erat.


Andai waktu bisa dia hentikan, maka dia ingin tetap berpijak pada saat ini, detik di mana dia mendapatkan balasan perasaan dari wanita yang sangat dicintainya, sejak pandangan mata mereka bertemu untuk pertama kali.


Kini, dua tahun berlalu sejak saat itu, akhirnya perasaan Yoga terbalaskan sudah. Nara menerima cintanya dan menerima dirinya sebagai seorang suami.


Nara menyamankan tubuhnya dalam pelukan hangat lelaki itu. Lelaki yang baru saja dia akui sepenuhnya sebagai suaminya, lelaki yang akhirnya bisa dia cintai dan dia percayai untuk memiliki hatinya tanpa terbagi lagi.


Mulai malam ini, tak ada lagi rahasia di antara mereka. Tak ada lagi hal yang disembunyikan oleh mereka satu sama lain.


Keduanya telah sepakat dan berjanji untuk selalu jujur dan terbuka, saling setia dan percaya, serta menjaga keutamaan komunikasi untuk selalu mempererat hubungan mereka.


.


.

__ADS_1


.


Raga merengek manja pada sang ayah, minta ditimang dan dinyanyikan lagu kesayangan. Dengan sigap Yoga mengambil bayi berpipi bulat yang masih menangis itu dari gendongan ibunya dan mengayun tubuhnya sesaat lalu mendekap dan menciuminya dengan gemas.


Bayi empat bulan itu terkekeh geli tanpa suara, saat wajah ayahnya turun ke perut dan menciuminya tanpa henti. Tangan kecilnya terangkat dan menggapai ke sembarang arah, lalu menarik rambut ayahnya yang teraih secara acak.


"Anak Ayah sudah semakin pintar."


Yoga memutar posisi Raga menghadap ke depan dan seketika bayi gembul itu menampakkan wajah riangnya dengan celoteh-celoteh anehnya.


Tangan dan kakinya terus bergerak dengan wajah semringah, memukul dan menendang ke depan dengan lincah, seolah ingin meloncat dari pangkuan tangan sang ayah.


"Sayang, bersiaplah dulu. Penata riasnya sudah datang. Biar Raga bersamaku di ruang depan."


Yoga mendekati Nara yang masih mengenakan daster dan wajah polos sehabis mandi. Dia mencium kening istrinya yang dibalas Nara dengan ciuman lembut di pipi kanannya.


"Ya, Ga. Botol ASI untuk Raga sudah dihangatkan dan disiapkan Bibi Asih. Kalau dia haus, ambilkan saja di dapur."


Yoga mengangguk dan membawa Raga keluar dari kamar. Sementara Nara segera bersiap karena dia akan dirias di kamar lamanya.


Dua jam kemudian, sepasang suami istri sudah berpakaian rapi bagaikan pengantin baru yang akan menjadi pusat perhatian hari ini.


Hari ini, tepat satu tahun yang lalu, di tempat yang sama dan di waktu yang sama dengan saat ini, Yoga dan Nara menikah.


Bukan pernikahan pada umumnya yang diwarnai kebahagiaan dan senyuman, akan tetapi pernikahan paksa yang dilakukan oleh Yoga setelah Nara diketahui sedang mengandung akibat dari perbuatan terlarangnya yang telah menodai Nara terlebih dahulu.


Dan hari ini, tepat satu tahun setelahnya, mereka akan melakukan lagi prosesi akad nikah sederhana di tempat yang sama. Namun kali ini dengan kerelaan hati sepenuhnya dan mereka lakukan dengan niat yang baik untuk memulai hubungan baru mereka dengan cara yang semestinya.


Nara yang meminta Yoga untuk mengikrarkan ijab qobul lagi, dalam suasana baru yang benar-benar dipenuhi rasa cinta di antara mereka serta dilakukan dengan sadar dan penuh keikhlasan hati.


Yoga terlihat semakin menawan dengan setelan jas koko berwarna putih tulang yang dikenakannya, serasi dengan kain batik dan kebaya berwarna senada yang melekat sempurna di tubuh Nara yang ramping dan penuh pesona.


Mereka duduk bersama, di hadapan penghulu dan Bapak, juga didampingi oleh dua orang saksi di antara mereka.


Meskipun hanya sebuah pengulangan, namun mereka melakukannya dengan sangat khidmat dan dipenuhi air mata kebahagiaan.


Tepat pukul sepuluh pagi, Yoga mengucapkan ijab qobul bersama Bapak dengan suara lantang dan tegas serta dilafalkannya dengan lancar dalam satu tarikan nafas.


Nara tak kuasa menahan tangisannya yang sudah mengalir membasahi kedua pipi. Kali ini, tangisannya adalah tangisan bahagia seorang pengantin wanita yang akhirnya bisa duduk bersanding dengan pengantin pria yang dipilih dan dicintainya, serta telah diterima sepenuhnya oleh hati dan jiwanya.


Berdiri berhadapan dengan wajah dihiasi senyuman lepas nan bahagia, Yoga kembali memasangkan cincin kawin yang dulu pernah disematkannya di jari manis yang sama, yaitu jari manis tangan kanan Nara.


Di lehernya, Nara mengenakan seuntai kalung permata yang indah dan berkilauan, hadiah dari Yoga yang merupakan pasangan dari cincin kawin yang kini melingkari jari manis tangan kanannya, sehingga menambah kecantikan alami Nara yang terus mengukir senyuman terindah di bibirnya.


Nara mencium punggung tangan suaminya dengan perasaan haru dan bahagia, yang kemudian dibalas Yoga dengan melabuhkan ciuman mesra di kening istrinya dengan penuh ketulusan.


Nara tak bisa lagi menyembunyikan rona bahagia di wajahnya yang dipenuhi binar cinta untuk lelaki pilihan hatinya. Pun Yoga, wajahnya terus mengulas senyuman lepas yang menyiratkan kebahagiaan sempurna yang dirasakan di dalam sanubarinya.

__ADS_1


"Terima kasih, sudah mewujudkan keinginanku dan memberiku kebahagiaan sempurna hari ini. Aku mencintaimu."


Nara menatap mesra suaminya dengan hati berbunga-bunga. Sementara Yoga yang ditatapnya, membalas dengan pandangan penuh cinta, cinta yang seutuhnya dan selamanya.


"Terima kasih juga atas balasan perasaanmu, atas cinta dan kasih sayang yang kamu berikan untuk diriku. Selamanya aku mencintaimu, Sayang. Hanya kamu."


Yoga mengambil Raga dari pangkuan Ibu lalu memeluk bayi tampan itu dengan erat bersama Nara yang juga memeluk di sampingnya.


"Hari ini, sepenuhnya aku bahagia dan tidak ada lagi yang aku harapkan selain kebahagiaanmu dan kebahagiaan Raga, putra kesayangan kita."


Yoga mencium Raga kemudian berpindah pada kening Nara yang menyambutnya dengan senyum bahagianya.


"Aku menyayangi dan mencintai kalian berdua."


Tak lama setelah momen sempurna nan bahagia tersebut, Yoga meminta ijin untuk pergi ke kamar sebentar.


Hanya sebentar, itu yang dikatakannya pada Nara. Namun hingga setengah jam berlalu, Yoga belum juga keluar dari kamar. Nara mulai gelisah dan tidak tenang hati.


Dititipkannya Raga pada Ibu lalu segera menuju ke kamar untuk menyusul Yoga.


"Ga ...."


Dilihatnya Yoga duduk sendiri di tengah sofa. Memejamkan mata dengan senyuman terindah menghiasi wajah rupawannya.


Nara mendekat dan duduk di sampingnya. Pandangannya tertuju pada bingkai foto yang didekap Yoga di dadanya. Itu adalah bingkai foto yang berisi potret bahagia mereka bertiga. Yoga, Nara dan Raga.


Nara menyentuh pelan tangan Yoga untuk membangunkannya, tetapi tangan Yoga tiba-tiba lunglai dan menjatuhkan bingkai yang dipegangnya.


Praang ..!! Pyaarrr ....!!


Deggg ...!! Seketika Nara menahan nafasnya dan mengamati wajah suaminya dengan seksama.


Dengan tangan gemetar disentuhnya wajah itu dan dalam satu gerakan singkat, tubuh Yoga telah roboh di pangkuan Nara.


"Yogaaa ...!!!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2