CINTA NARA

CINTA NARA
75 MASIH BISA MENJAGA


__ADS_3

Serangkaian acara doa bersama telah selesai dilaksanakan dengan lancar dan khidmat. Raga si bayi mungil pun telah dicukur habis rambutnya menandai terlaksananya aqiqah atas dirinya.


Bayi montok itu semakin terlihat lucu dengan kepala gundulnya. Yoga yang duduk memangkunya terus tersenyum tiada henti melihat geliat-geliat sang anak di atas pangkuannya.


Masih terlihat kaku dan sedikit tegang saat menggendong sang bayi, Yoga tetap percaya diri menimangnya dan sesekali mengajaknya bercengkerama meskipun Raga tidak merespon dan hanya asyik sendiri dengan gerakan semaunya.


Nara datang membawa kue dan teh hangat untuk sang suami. Duduk di samping Yoga, wanita itu kemudian melayaninya minum dan menyuapi dengan telaten, sementara lelaki itu tetap sibuk dengan Raga kesayangan mereka.


"Kamu bahagia?" tanya Nara seraya terus menyuapi Yoga.


"Sangat bahagia, Ra. Kamu dan Raga yang akan selalu membuatku bahagia."


Yoga menatap penuh cinta kepada Nara di sampingnya, kemudian mencium keningnya lalu berpindah ke kening bayi mereka.


Hanya bahagia yang tengah mereka rasakan saat ini. Bahagia yang sangat lengkap sebab mereka telah bersama, bertiga layaknya keluarga ideal yang selalu diimpikan oleh Yoga selama ini.


Di sudut yang lain, Ardi dan Dokter Danu tengah berbincang sambil memperhatikan kebersamaan keluarga kecil Yoga yang baru saja berkumpul dengan bahagia.


"Lihatlah mereka, betapa bahagianya mereka saat ini." Dokter Danu berucap.


Panďangan keduanya terus tertuju pada Yoga dan Nara yang masih menimang putra mereka bergantian.


"Saya justru semakin merasa takut, Dok. Mengingat sakit yang masih diderita Yoga, saya takut kebahagiaan itu tidak akan lama mereka rasakan bersama."


Ardi menghela nafas panjang, mencoba menghalau sesak di dadanya akibat perasaan takut yang terus menghantui pikirannya, sejak dia mengetahui jika sahabat kecilnya itu memiliki harapan hidup yang semakin menipis dari hari ke hari.


"Sangat sulit untuk mendapatkan pendonor dalam waktu secepat ini, sementara waktu kita sangat terbatas dan semakin berkurang bahkan di setiap detiknya."


Dokter Danu yang mengetahui riwayat penyakit Yoga, lebih paham bagaimana harus mengupayakan kesembuhan pasien istimewanya tersebut. Berbagai cara sudah dilakukan demi memperpanjang kesempatan Yoga untuk mendapatkan pendonor yang tepat untuknya.


Hanya satu kenyataan yang kini tak bisa lagi diingkari, bahwa sangat sulit untuk bisa melakukan transplantasi, yang merupakan satu-satunya cara terakhir yang harus mereka lakukan demi menyelamatkan nyawa Yoga yang sudah berada di ujung tanduk.


"Semua rumah sakit sudah saya hubungi untuk mendapatkan kesempatan menerima pendonor lebih cepat, namun hasilnya tetap saja belum ada. Daftar antrian mereka masih cukup panjang untuk sampai pada giliran Yoga."


Dokter Danu dengan kesenioran di bidangnya, mempunyai jangkauan relasi yang sangat luas hingga ke manca negara. Namun hampir semua rekanannya tersebut memberikan jawaban yang sama.


"Dengan kenyataan yang seperti ini, saya semakin tidak tega untuk memberi tahu Nara perihal kondisi kesehatan Yoga yang sebenarnya." Ardi merasakan kedua matanya mulai memanas dan pandangannya berkabut oleh genangan air mata.


"Jangan pernah kehilangan harapan, sekecil apa pun itu. Karena mukjizat Allah selalu datang tak terduga bagi mereka yang tidak mengenal kata menyerah dan putus asa!"


Dokter Danu menepuk bahu Ardi berulang kali untuk menguatkan dokter muda tersebut, agar tetap semangat dalam upaya mereka berdua mencari pendonor terbaik, agar proses transplantasi yang diharapkan bisa segera dilaksanakan demi menyelamatkan nyawa Yoga.


Diam-diam, tanpa sepengetahuan Ardi dan Dokter Danu, seseorang sedari tadi sudah menyimak pembicaraan serius kedua dokter tersebut.

__ADS_1


Terkejut? Tentu saja. Dia tak menyangka sama sekali bila Yoga memilih untuk menyembunyikan hal sepenting itu dari semua orang bahkan dari istrinya sendiri sekalipun.


Tanpa sadar, wajah seseorang tersebut telah berderai air mata begitu menngetahui apa yang dibicarakan kedua dokter tersebut di balik dinding di mana dia tengah melewatinya dan tanpa sengaja mendengarkan semuanya.


.


.


.


Di kamarnya, Alan terbangun dalam kondisi berantakan di atas tempat tidur. Dilihatnya di balik selimut, dia sudah berganti pakaian mengenakan celana pendek dan kaos rumahan miliknya.


Kepalanya masih terasa berat dan berputar-putar, saat melihat ke sekeliling kamarnya yang sepi tak ada siapa pun. Dia menarik tubuhnya ke belakang dan bersandar pada kepala tempat tidur.


Lelaki itu berusaha mengingat semuanya, apa yang terjadi sebelumnya sampai pada akhirnya dia terbangun saat ini.


"Sasha!"


Jantungnya berdetak sangat kencang begitu mengingat kekasih tercintanya. Tapi mengapa dia tidak melihatnya sekarang? Di mana Sasha?


"Ya Allah, ampunilah hamba! Apa yang sudah hamba perbuat pada Sasha ...??"


Alan frustasi saat mengingat kejadian yang masih bisa terekam dalam memori di kepalanya tentang apa yang sudah dilakukannya siang tadi bersama Sasha.


Sasha membiarkan apa pun yang dilakukannya saat itu. Dia yang berada di bawah pengaruh obat perangsang, terus menikmati tubuh kekasihnya tanpa penolakan sama sekali.


Alan mengingat apa yang mereka lakukan. Dirinya masih sadar dan mengingat semuanya dengan jelas. Saat hasratnya semakin memuncak, ingin menguasai semua yang ada pada tubuh kekasihnya.


"Aaarghhh ..., mengapa aku melakukannya?? Mengapa aku tak bisa menahan diriku dan menjaga dirinya ...?!?"


Alan menjambaki rambutnya dan mengusap kasar wajahnya dengan penuh penyesalan. Napasnya memburu bukan lagi karena nafsu, akan tetapi karena kemarahannya pada diri sendiri yang sudah bertindak kurang ajar pada kekasihnya.


Tiba-tiba Sasha masuk ke kamarnya, dengan wajah segar dan berpakaian lengkap, membawa secangkir teh panas yang baru saja dibuatnya untuk sang kekasih.


"Kamu sudah bangun, Lan?" Sasha meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja, lalu hendak menghampiri Alan.


Alan yang terkejut melihat kedatangan Sasha, seketika turun dari tempat tidur dan lebih dulu mendatangi dan langsung memeluknya sangat erat dengan rasa penyesalan yang teramat sangat.


"Maaf! Maafkan aku, Sha. Tolong maafkan aku yang tak bisa menjaga dirimu ...!!"


Alan meneteskan air mata di balik tubuh Sasha yang didekapnya semakin rapat. Hanya ada penyesalan di dalam dirinya saat ini, setelah apa yang dilakukannya pada sang kekasih.


"Alan, tenangkan dirimu. Kamu ...." Alan memotong ucapan Sasha.

__ADS_1


"Iya, aku jahat! Aku sudah merusakmu. Aku sudah menodaimu!"


Pelukan Alan semakin erat membelit tubuh Sasha dalam kungkungannya. Hampir saja dia membuat Sasha tak bisa bernafas karenanya.


"Alan, dengarkan aku! Tidak terjadi hal buruk di antara kita."


"A-Apa ...??" Alan merenggangkan pelukannya dan menatap Sasha lekat-lekat.


Sasha mengangguk dan membalas tatapan mata Alan untuk meyakinkannya.


"Kamu tidak menodaiku. Kamu tidak melakukannya!"


"Tapi ... kita berdua di sini, di atas tempat tidur ini ...??"


Alan masih mengingatnya, saat dirinya melepaskan sebagian pakaian Sasha dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya keluar dari kamar mandi dan merebahkannya di atas tempat tidur.


Setelah itu, yang terakhir diingatnya adalah dia berada di atas Sasha dan mengulangi apa yang sudah mereka lakukan di kamar mandi. Kemudian ... dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.


"Kita memang sudah melewati batas, tapi ...." Wajah Sasha berubah memerah saat ingin menceritakannya.


"Kita hampir melakukannya, tapi bukan seperti apa yang kamu pikirkan sekarang ...." Sasha menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa semakin panas dan merona menahan malu.


"Ka-kamu yakin, Sha? Kamu serius? Kamu tidak sedang membohongiku untuk menenangkanku, kan??"


Sekali lagi Sasha menggeleng untuk menegaskan jawabannya pada lelaki yang sangat dicintainya itu.


"Aku masih bisa menjaga diriku, sekalipun itu dari orang yang sangat aku cintai, yaitu dirimu!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.

__ADS_1


__ADS_2