
"Mas ..., jangan pergi. Temani aku, Mas ...!!"
Napas Nara sudah hampir habis akan tetapi belum ada tanda-tanda bayinya mau dikeluarkan. Hanya kontraksi yang terus-menerus dan semakin sering dirasakannya yang membuatnya semakin tidak berdaya saat rasa sakit itu datang menyerang.
Tiga bulan berlalu dan kandungan Nara telah sampai pada usianya untuk dilahirkan. Subuh tadi, ketubannya pecah usai berjamaah dengan sang suami, sehingga Yoga segera membawanya ke klinik Alya.
Sudah setengah hari wanita itu berjuang di dalam ruang persalinan, sejak pembukaannya masih tiga saat datang ke klinik, sampai sekarang sudah mencapai pembukaan delapan.
Wanita itu sudah tidak mampu berjalan-jalan untuk memancing percepatan pembukaan sehingga hanya bisa menunggu dan menikmati kesakitan yang luar biasa.
"Aku di sini bersamamu, Sayang. Bertahanlah, sebentar lagi kita akan bertemu dengan buah hati kita yang kedua."
Yoga tak henti-hentinya menguatkan sang istri dengan semua kata-kata yang bisa dia ucapkan guna menyemangati Nara yang sudah sangat kepayahan.
"Sakit sekali ..., bagaimana kalau aku tidak kuat ...? Aku takut, Mas ...."
"Ssstt ...!! Kamu pasti bisa, Sayang. Kamu pasti bisa melahirkannya. Kamu adalah ibu yang hebat, ibu yang kuat dan penuh semangat. Aku mencintaimu!"
Yoga terus menciumi istrinya dan semakin erat menggenggam tangan Nara sebagaimana wanita itu juga melakukannya lebih erat dan tak mau lepas.
Berulang kali Nara berteriak saat dirasakannya gelombang kontraksi kembali datang menyerang semakin menyakitkan dan meluluh-lantakkan sekujur tubuhnya.
Selama itu pula Yoga tak berhenti memeluk dan menciumi istrinya, membiarkan tubuhnya menjadi sasaran pukulan, cengkeraman dan cakaran tangan Nara yang sudah tak terkendali lagi.
Alya menangani sendiri proses kelahiran bayi Nara dan dia mengijinkan Yoga ikut menemani istrinya sepanjang proses persalinan.
Setelah berulang kali memeriksa dan Nara terus mengalami peningkatan pembukaan, akhirnya jalan lahir sudah terbuka penuh. Sang bayi pun sudah berada pada posisinya dan siap untuk segera dilahirkan.
Beberapa perawat dengan sigap dan cepat mempersiapkan segala sesuatunya. Tubuh bagian bawah Nara sudah ditutupi kain berwarna hijau dan diposisikan sedemikian rupa, dengan paha yang terbuka lebar dan ditopangkan pada alat penyangga di kedua sisi.
Alya sudah berdiri tepat di bagian bawah tubuh Nara dan mulai memandu proses persalinan dengan cermat dan cekatan.
"Ayo, Ra. Tarik napas sedalam-dalamnya dan mengejanlah sekuat tenagamu ...!!"
Nara mengikuti arahan dari Alya dengan susah payah dan diliputi rasa sakit yang tak terbendung lagi. Dia berteriak kencang seiring tekanan yang dilakukannya pada bagian bawab tubuh, untuk mendorong keluar sang bayi yang sudah terlihat oleh Alya.
__ADS_1
"Persiapkan dirimu sekali lagi, Ra. Kepalanya sudah terlihat olehku. Mari segera kita selesaikan bersama-sama sekarang juga."
Yoga terus berdiri di samping istri tercintanya, membiarkan seluruh tubuhnya menjadi sasaran pelampiasan kesakitan Nara, demi kelancaran proses persalinannya.
"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa! Ikuti arahan dari Dokter Alya."
Yoga kembali mencium kening istrinya dan membersihkan seluruh peluh yang membasahi wajah merah Nara yang berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.
Mereka kembali bersiap. Alya memandu dengan sabar dan tenang, sementara Nara mencengkeram tangan suaminya semakin kuat saat mulai mengejan kembali untuk mendorong bayinya keluar melewati jalan lahirnya.
"Aaaarrgghhh ...!!!" teriakannya memekik dan menggema di seluruh ruangan seiring tubuhnya yang melemas dan lunglai seketika.
"Ooeeekk ... ooeeekk ...ooeeekk ....!!!"
Teriakan Nara berganti suara tangisan bayi yang terdengar lantang menyapa dunia.
Kedua tangan Alya yang berbalut sarung tangan medis memegang bayi yang masih berlendir dan berlumuran darah dengan senyum merekah di bibirnya.
"Alhamdulillah ...!! Putra kedua kalian sudah lahir dengan selamat. Tangisannya sangat sehat dan penuh kekuatan. Selamat, Nara dan Pak Yoga."
Alya menyerahkan bayi yang masih terus menangis itu kepada perawat untuk dibersihkan terlebih dahulu, sebelum diberikan pada Nara untuk disusui sebagai langkah inisiasi dini.
Alya kembali menyelesaikan tugasnya. Setelah memotong tali plasenta yang tersambung dengan bakal pusar bayi tadi, dia memberikan ari-ari tersebut pada perawat untuk diletakkan pada wadah khusus yang nantinya akan diserahkan kepada pihak keluarga pasien.
Tepat setelah membersihkan bagian bawah tubuh Nara dan memberikan beberapa jahitan pada luka robek yang ada di sana, perawat yang tadi bertugas mengurusi bayi Nara kembali dengan penampilan sang bayi yang sudah lebih bersih dari sebelumnya.
Alya lebih dulu melepaskan sarung tangannya lalu membersihkan kedua tangannya, sebelum membantu Nara melakukan inisiasi menyusui dini dengan meletakkan bayi merah itu telungkup di atas dada dan membiarkan mulut mungilnya mencari-cari sendiri sumber minuman sehat miliknya.
Yoga memperhatikan dengan takjub interaksi pertama kali antara Nara dan bayi mungil putra kedua mereka. Tak butuh waktu lama, bayi itu telah menemukan tempat yang dicarinya dan segera menyusu dengan lahap untuk pertama kalinya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sungguh luar biasa. Terima kasih."
Yoga berkaca-kaca bahagia hingga ciumannya tak pernah berhenti diberikannya kepada sang istri yang terlihat sangat bersemangat untuk berinteraksi tubuh dengan putra kedua mereka.
Kedua tangan mereka sama-sama menyentuh lembut jemari kecil bayi mungil yang belum mengenakan pakaian itu. Hanya kain hangat yang menutup bagian atas tubuh untuk menghangatkannya.
__ADS_1
"Mas, aku sangat bahagia. Akhirnya impianku untuk bisa melahirkan secara normal terwujud. Terima kasih sudah selalu nendukungku, walaupun aku tahu sebenarnya kamu tidak ingin aku melakukannya."
Nara menatap wajah Yoga yang sangat dekat dengannya. Alya dan para perawat sengaja menjauh untuk sementara waktu guna memberikan kesempatan kepada pasangan suami-istri itu untuk menikmati momen awal lahirnya putra kedua mereka.
"Aku tidak akan pernah bisa mengabaikan permintaanmu, Sayang. Apalagi aku sadar itu adalah impian terbesar semua wanita. Aku hanya takut melihat kesakitanmu dan perjuanganmu untuk melahirkan adiknya Raga ini."
Pandangan keduanya kembali tertuju pada bayi mungil yang sangat mirip dengan Raga tersebut.
"Dia mirip sekali dengan kakaknya, Mas. Sama-sama tampan seperti Ayahnya."
Nara tersenyum dengan wajah yang sudah kembali memerah karena menahan malu, membuat Yoga kembali mencium keningnya penuh kasih.
"Terima kasih sudah memuji suamimu ini, Sayang. Aku senang mendengarnya" Yoga tersenyum lalu mengusapinya kepala sang istri dengan bahagia.
"Mereka memang tampan dan bermata bening seindah mata Ibunya." Yoga membalas pujian tulusnya untuk sang istri tercinta.
Nara melebarkan senyumannya dengan tatapan yang saling mengunci dalam dekat dan lekat. Ada getaran-getaran indah yang berdenting di hati keduanya, menjadikan suasana di ruang persalinan itu berubah seindah kamar mereka.
Yoga merapatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan dalam kehangatan rasa untuk sesaat.
"Aku sangat mencintaimu, Dinara Larasati, Ibu dari kedua pangeran kecilku!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.