
Yoga tak ingin membuang waktu. Hari berikutnya, dia mengajak Nara pergi berkencan, seperti yang selalu dilakukan setiap pasangan yang akan mengawali sebuah hubungan.
Setelah menitipkan Raga pada nenek dan kakeknya, Yoga segera membawa Nara pergi ke sebuah tempat yang telah dipersiapkannya.
Berdua di dalam mobil, mereka mulai berbagi cerita tentang banyak hal untuk saling mengenal pribadi masing-masing yang belum diketahui karena jarangnya komunikasi di antara mereka sebelumnya.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di area parkir di lantai atas salah satu pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota.
Nara yang sudah hafal dengan kebiasaan suaminya, hanya diam dan menunggu. Dia memperhatikan Yoga yang segera keluar dan memutari mobil hingga sampai di pintu sebelah kiri untuk membukanya.
"Ayo, Sayang." Yoga memegang tangan Nara dan membantunya turun dari mobil. Mereka saling berbalas senyuman sebelum memasuki area pusat perbelanjaan dengan tangan saling menggenggam erat.
Rupanya Yoga mengajak Nara pergi ke restoran yang pertama kali mereka datangi saat keluar bersama untuk makan siang berdua waktu itu.
Seperti sebelumnya, seluruh tatapan mata pengunjung langsung tertuju pada pasangan bahagia tersebut. Jika dulu Nara masih tampak gugup dan malu, tidak demikian halnya sekarang.
Kali inฤซ Nara terlihat bahagia dengan senyum manis yang terus menghiasi paras cantiknya yang dipoles riasan tipis nan sederhana namun tetap menunjukkan pesonanya.
Yoga pun sama, tak ada lagi wajah dingin dan datar bak es balok yang menjadi penampilan khasnya selama ini. Setiap kali bersama istri tercinta, wajahnya selalu bersinar bahagia dan berubah penuh senyuman.
Sampai di restoran yang dituju, mereka langsung diantar oleh seorang pramusaji ke tempat yang sudah dipesan oleh Yoga. Tempat yang sama seperti dulu, yaitu di bagian ujung yang menyatu dengan dinding pembatas yang terbuat dari kaca.
Kali ini mereka duduk bersebelahan dengan kursi yang diganti dengan sofa panjang untuk berdua dengan sebuah meja di depannya, yang sudah ditata rapi menghadap ke dinding kaca yang menembuskan pandangan ke luar dengan pemandangan suasana kota di siang hari.
"Mengapa mengajakku kembali kemari?" tanya Nara polos membuat Yoga gemas dan mencium tangan yang masih digenggamnnya.
"Karena di sinilah kencan pertama kita terjadi. Kamu ingat, Sayang?" Yoga menatap Nara dengan senyuman bahagianya.
Nara mengangguk dan membalas senyuman lelaki yang duduk merapat di sampingnya.
"Ya, aku ingat. Kencan pertama kita, saat Raga masih di dalam kandunganku."
Yoga mencium kening samping istrinya tanpa peduli pada banyaknya pandangan dari pengunjung restoran di sekitar mereka, yang menyaksikan kemesraan keduanya.
Hidangan makan siang segera tersaji lengkap sesuai pesanan Yoga. Dengan penuh perhatian Nara menyiapkan makan siang untuk sang suami dan untuk dirinya.
"Mau aku suapi?" Dan Yoga pun mengangguk dengan senang hati.
Nara mulai melayani suaminya dengan bahagia. Suapan demi suapan penuh cinta dia berikan dan dibalas Yoga dengan hal yang sama untuknya. Mereka makan bersama namun saling menyuapi dengan mesra.
Sesekali saling membersihkan sisa makanan yang tertinggal di sudut bibir, keduanya tak lagi malu untuk berlaku mesra satu sama lain.
__ADS_1
Usai menikmati makan siang istimewa yang disiapkan oleh Yoga, mereka melanjutkan pembicaraan dengan Nara yang masih menyuapi suaminya dengan puding penutup yang lembut dan lezat.
"Sayang, apa yang biasanya orang lakukan saat berkencan?"
Nara menggeleng dan membiarkan Yoga melanjutkan ucapannya sendiri. Dia tidak mau lagi mengingat kencan masa lalunya dan memilih untuk diam tanpa memberi jawaban pada Yoga.
"Aku tidak tahu karena aku belum pernah melakukannya. Mungkin mereka akan merayu atau meminta sesuatu pada pasangannya?"
Nara tetap menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya dengan pelan.
"Bagaimana jika aku memintamu untuk selalu menjadi teman kencanku? Teman kencan satu-satunya dan untuk selamanya?"
Nara meletakkan mangkok puding yang isinya telah habis, lalu mengambil sapu tangan dan membersihkan bibir Yoga yang kini selalu membuat hatinya berdesir halus.
"Apakah kamu tidak akan merasa bosan jika hanya aku yang kamu kencani?"
Yoga menggeleng dengan tegas dan dan yakin. Tangan mereka telah menyatu di pangkuan lelaki itu.
"Aku pastikan aku tidak akan pernah merasa bosan, karena hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai dan aku dambakan dalam hidup dan kehidupanku."
Nara tersipu malu tanpa ingin menyembunyikannya dari lelaki yang baru saja merayunya. Tanpa berpikir lagi, dia mengangguk dan melebarkan senyuman di bibir manisnya.
Yoga merengkuh tubuh Nara lalu mencium keningnya dengan mata terpejam. Nara pun tersenyum dan mengikuti, memejamkan mata dan meresapi rasa bahagianya di dalam hati.
.
.
.
Usai kencan makan siang yang dibuat istimewa oleh Yoga untuk Nara, tiga hari berikutnya lelaki itu kembali mengajak Nara berkencan dengan menyiapkan sebuah makan malam romantis seperti yang diinginkan oleh sang istri tercinta.
Gaun malam berwarna abu tua pilihan Yoga, sangat indah melekat di tubuh ramping Nara dan begitu serasi dipadukan dengan jas kasual warna senada yang dikenakan lelaki itu.
Kemeja hitam di balik jas tersebut semakin mempertegas sisi maskulin lelaki tampan yang sudah menggandeng mesra wanita cantik di sampingnya, yang berpenampilan elegan dengan aura feminin yang memancar penuh pesona.
Bukan makan malam di restoran mewah atau di tempat lain yang biasa digunakan untuk menciptakan sebuah momen luar biasa, Yoga justru mengajak Nara pergi ke kantornya.
Di gedung megah Mahen Land, Yoga membawa Nara menuju ke ruang pertemuan yang telah disulap menjadi ruang pribadi untuk makan malam berdua sang pemilik perusahaaan beserta wanita tercintanya.
"Kamu suka, Sayang?"
__ADS_1
Yoga memeluk Nara dari samping dan memperhatikan wajah bahagia istrinya tersebut.
"Aku terkejut. Dan aku sangat menyukainya."
Nara memperhatikan seluruh ruangan yang telah dihias sedemikian indah untuk sepasang anak manusia yang hendak memulai awal yang baru dalam hubungan percintaan mereka.
"Terima kasih." Nara memalingkan wajahnya ke samping dan memberikan satu ciuman tak terduga di pipi Yoga.
Untuk sesaat lelaki itu tertegun atas kejutan yang diterimanya dari Nara. Seiring debaran bahagia di dadanya, Yoga membalasnya dengan ciuman sayang di ujung kepala Nara.
Kemudian mereka berjalan menuju meja makan yang telah tertata penuh pernik romantis, di tengah ruangan yang diterangi cahaya beberapa lampu hias di langit-langit atas.
Terlebih dahulu menarik kursi untuk istri tercintanya, Yoga mempersilakan Nara duduk, baru kemudian dia duduk di hadapan wanita kesayangannya.
Mereka menikmati makan malam dalam hening. Saling mencuri pandang dan menatap dengan mesra. Senyum tak pernah lepas sedetik pun dari bibir keduanya hingga mereka telah menghabiskan seluruh hidangan yang tersedia.
Tiba-tiba lampu yang benderang padam semua, berganti dengan satu sinar lampu temaram dengan hiasan lampu-lampu kecil di sekeliling ruangan yang menciptakan suasana romantis seketika.
Yoga berdiri dan menghampiri Nara, mengulurkan tangannya agar sang istri turut berdiri di hadapannya. Nara mulai berdebar, merasa ada yang tak biasa akan terjadi di antara mereka.
"Apa kamu tahu, Sayang? Mengapa aku menyiapkan makan malam impianmu di tempat ini?"
Pertanyaan Yoga hanya dijawab dengan gelengan kepala Nara yang semakin berdebar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐๐
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
๐Author๐
.
__ADS_1