CINTA NARA

CINTA NARA
Ke Singapura


__ADS_3

Pesawat garuda itu mendarat mulus di bandara Changi Singapura. Tepat jam 10 pagi. Ini pertama kali Nara menjejaki kaki di Singapura. Kota yang terkenal akan kebersihannya dan kota termahal di dunia.


Rasanya Nara tak percaya bahwa ia sampai juga ke kota Singa ini. Sambil menunggu jemputan. Nara asyik menggunakan ponselnya. Ia menelpon seseorang, ayahnya.


"Assalamualaikum ayah. Ayah Nara sudah sampai ya, " ucap Nara.


"Waalaikum salam, iya hati - hati di sana ya. Sampaikan salam ayah buat ibumu, " jawab ayah.


" Uda ya ayah, assalamualakum , " ucap Nara.


Kemudian Nara menghubung Arif.


"Assalamualaikum kak Arif. Aku uda nyampe ya, " sapa Nara melalui ponselnya.


"Waalaikum salam. Kamu kalau ada apa - apa segera telpon ya. Jangan sungkan ya, " balas Arif.


Iya, makasih ya. Eh ... , udah dulu ya kak. Kayaknya jemputan aku udah datang. Assalamualaikum, " Nara mengakiri teleponnya dan buru - buru menyimpan ponsel di dalam tas sandangnya.


"Ibu ... , " ucap Nara langsung menyambut dengan memeluk ibunya.


"Nara ... , " jawab ibu sambil memeluk erat putrinya.


"Lama menunggu ya nak ! " sapa hangat ibu.


"Gak, bu. Aku baru nyampe juga , " timpal Nara pelan.


Nara dan ibunya berjalan masuk ke dalam mobil jemputan. Duduk di belakang kemudi supirnya.


"Ibu, kita nanti nginap di mana ? " tanya Nara.


"Oh, ya. Kita nginap di apartemen, " jawab ibu.


Nara terdiam sesaat. Apa !! menginap di Apartemen ! menyewa di apartemen pasti lumayan merogoh kocek.


Nara kemudian melongok ke kanan dan ke kiri


jalan. Langit singapura tampak membiru terang. Gedung - gedung pencakar langit berdiri megah. Sungguh takjub mata Nara di buatnya.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan Nara tiba di apartemen ibunya. Memasuki pelataran depan apartemen. Di depan lobi ia di sambut hangat petugas penjaga Apartemen.


Nara dan ibu naik lift 20, menuju lantai 20. Tempat di mana ibunya tinggal selama berada di Singapura. Ibu mengajak Nara masuk ke dalam apartemennya.


Setelah masuk ke dalam apartemen. Nara meletakan tas travel bagnya dikamar sebelah kamar ibunya. Apartemen yang mungil, hanya ada 2 kamar dan satu kamar mandi. Disediakan dapur minimlis serta ruang tamu berukuran sedang yang tertata rapi.


Setelah Nara merapikan diri, ibu mengajak Nara ke rumah sakit yang terletak dekat dengan rumah sakit Dina di rawat.


Nara diam saja, ia hanya mengikuti saja ke mana ibu mengajaknya. Ia sebenarnya ingin bertanya, tapi ibu tampaknya enggan membicarakannya.


Hanya berjalan kaki kurang lebih 38 menit, Nara dan ibu tiba di pelataran depan nasional university hospital.


Saking penasaran, akhirnya ia memulai percakapan dengan ibunya.


"Ibu, kita mau kemana sih? Kok ... ke rumah sakit ? " tanya Nara.


"Iya nak, sebentar lagi sampai. Nanti ibu akan katakan semuanya padamu, " jawab lugas ibu.


Ibu dan Nara memasuki gedung rumah sakit. Naik lift menuju lantai 3 tempat seseorang yang ingin di jumpai Nara. Dalam perjalanan mengikuti ibu, tampak sekali ibu terlihat gusar. Dan ... ia tak ingin sedikitpun berbicara pada Nara.


Tok ... tok ... tok ...


Tak ada sahutan dari dalam. Krek ... , pintu di buka ibu.


Tampak yang sedang sakit sedang tertidur menghadap ke sisi kanan. Dan ... seseorang laki - laki duduk di depannya tampak menundukan kepala di samping pasien yang tertidur pulas.


Ibu dan Nara masuk pelan - pelan ke dalam. tetap saja penunggu pasien dan pasien masih tertidur pulas. Ada kurang lebih 5 menit ibu dan Nara berada di ruangan itu. Tetap saja tak ada yang bergeming. Akhirnya ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


"Ayo ... Nara, kita keluar cari makan dulu yuk. Nanti kita kemari lagi, " ajak ibu.


Nara hanya diam saja, saat tangan ibu menariknya pelan. Ia hanya mengikuti langkah ibunya. Tak sedikitpun ia mempertanyakan siapa yang sakit.


Ibu dan anak itu meninggalkan ruangan tersebut. Mereka berjalan keluar ruangan perawatan itu. Mereka turun ke lantai satu menuju food court.


Pilihan makanannya adalah fried chiken. Tak menunggu waktu lama, Nara membawa makanan itu di meja tepat di hadapan ibu.


Nara pun duduk berhadapan dengan ibu. Nara terlihat amat lahap menikmati makanannya. Maklum sebelum berangkat Nara belum sarapan. Alasan Nara sederhana, takut sarapan pagi. Dikarenakan kebiasaan Nara, setelah sarapan pasti mau Bab ( buang air besar).

__ADS_1


Sembari makan, Nara pun bertanya pada ibu.


" Ibu ... , siapa yang sakit ? Apa hubungan ibu dengannya ? Setahu aku ibu tidak punya keponakan ! , " pertanyaan beruntun keluar dari mulut Nara.


"Ia bukan keponakan ibu nak. Setelah selesai makan kita naik ke atas lagi. Semua akan ibu ceritakan di sana. Sabar ya sayang, " jawab ibu.


"Sebenarnya apa yang di rahasiakan ibu. Mengapa harus di atas, kenapa tidak di sini saja. Aku sudah tidak bisa bersabar ibu, " tanya Nara kembali.


"Tunggu sebentar lagi nak. Kamu pasti tahu. Ibu tidak akan menutupinya. Sabar ya, biar semua mengetahuinya. Makanya kita bicaranya di atas saja nanti, " pinta ibu.


Nara hanya diam saja karena ia tahu sifat ibu. Ibu tidak suka di bantah, makanya Nara hanya mengangguk saja. Mungkin ibu punya pertimbangan sendiri untuk mengatakannya.


Menikmati makan berdua bersama ibu. Kebiasaan yang tak pernah ia lakukan kembali semenjak memutuskan hijrah ke Jakarta. Tapi sekarang Nara mantap untuk tinggal di Bengkulu. Tak ada yang membuatnya bertahan di Jakarta.


Sang mantan telah kembali ke kota asal. Sang kekasih pun telah pulang juga. Dan ... pekerjaannya sebagai penulis bisa di lakukan di kota kelahirannya, Bengkulu.


Selesai makan ibu membuka percakapan dengan putrinya.


"Nara apa kabar ayah di rumah, " tanya ibu.


"Ayah baik - baik aja bu. Kemarin ayah masih bawa bis ke Palembang bu. Kenapa ibu menanyakan padaku, " tanya Nara penasaran.


"Ia laki - laki baik nak. Memang pekerjaan ayahmu hanya sebagai supir bis. Tapi dia laki - laki luar biasa. Membantu kita di saat kita kesusahan. Ibu bangga bisa menjadi istri ayahmu, " jawab ibu.


Nara juga bingung, kenapa ibu berkata demikian padanya. Ayah memang baik. Sudah sewajarnya ia baik pada anak dan istrinya. Selayaknya sebagai seorang kepala keluarga.


"I-bu, Nara sangat sayang pada Ayah. Tak ada yang perlu ibu ragukan lagi. Tak ada seorang pun yang bisa mengganti kedudukan ayah di hatiku, sampai kapan pun, " ungkap Nara.


Ibu kemudian menggenggam erat kedua tangan Nara. Lalu berkata , "Terimakasih Nara, kamu tidak malu memiliki ayah sebagai supir bis antar kota, " ucap ibu pelan.


"Apa yang harus membuat aku malu ibu? tidak ada. Aku hanya kasihan dengan ayah. Aku ingin ayah tidak bekerja lagi. Sepulangnya kita dari Singapura, aku ingin membuka sebuah bengkel mobil untuk ayah. Untuk mengwujudkan mimpi ayah yang sempat tertunda. Dan ... ayah tak perlu kerja keras lagi. Ayah sudah mulai menua, " ucap Nara sedih.


"Benarkah yang kau katakan itu nak ! Ibu bangga padamu, " ucap ibu dengan air mata yang luruh mendengar keinginan Nara untuk membahagiakan ayahnya.


Ibu kemudian diam sesaat. Hanya air mata yang tetap mengalir dari kedua sudut matanya. Air mata bahagia. Sekarang ibu sudah yakin akan menceritakan semuanya.


Langit kota Singapura akan jadi saksi, saksi sebuah rahasia besar akan terungkap. Kisah hidup ibu Nara.

__ADS_1


__ADS_2