
Berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan di mana istrinya dipindahkan untuk ditangani lebih lanjut, Yoga dipenuhi perasaan kalut dan hampir putus asa.
Pak Budi yang terus mendampingi meminta tuan mudanya untuk duduk dan menenangkan diri, sambil menunggu kabar dari dokter yang masih berada di dalam ruangan. Yoga pun pasrah, menurut lalu duduk di bangku tunggu.
Lelaki itu menyisir kasar rambutnya ke belakang dengan kedua jemari tangannya dan berhenti di tengkuk lalu menunduk. Wajahnya terlihat tidak tenang dan penuh kekhawatiran.
"Bertahanlah, Sayang! Kamu pasti kuat, kamu dan calon anak kita. Kalian pasti bisa melewati masa kritis ini dan segera sadar kembali."
Sebelum dipindahkan ke ruang penanganan lain, dokter keluar dan menemui Yoga untuk menyampaikan kondisi sementara Nara berdasarkan hasil pemeriksaan awal.
"Istri Anda mengalami keracunan makanan yang cukup parah dan membuat kondisinya sangat lemah. Andai Anda terlambat membawanya kemari, mungkin akan lain ceritanya."
Wajah Yoga semakin pasi mendengar ucapan terakhir sang dokter yang mengartikan bahwa kondisi Nara sangat kritis dan hampir saja tidak tertolong jiwanya.
"Bagaimana dengan calon anak yang dikandungnya, Dok?"
Bayangan peristiwa buruk beberapa waktu yang lalu tentang dua kali kehamilan Nara sebelumnya, membuat Yoga didera ketakutan yang jelas tak bisa disembunyikannya lagi.
"Kami sedang berusaha untuk menyelamatkan keduanya. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dokter Alya mengenai penanganan kandungan istri Anda. Beliau sedang dalam perjalanan dari kkinik menuju kemari."
Lantaran panik, Yoga melupakan semuanya termasuk menghubungi Alya yang selama ini menangani kehamilan Nara.
"Terima kasih, Dok. Saya memang belum sempat menghubungi Dokter Alya karena panik. Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri dan calon anak kami, Dok!"
Dokter lelaki berusia sebaya itu, mengangguk dan menatap Yoga dengan tenang.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik!"
.
.
.
"Maaf, Pak Yoga, saya datang terlambat."
Alya datang ditemani oleh Rendy yang mengantarnya. Sebelum masuk ke ruang penanganan, dia menyempatkan diri untuk menemui Yoga yang duduk menunggu di depan ruangan dengan wajah kusut dan terlihat lemah.
Yoga hanya bisa mengangguk pelan dengan raut yang datar dan pandangan kosong.
"Tolong selamatkan Nara dan calon anak kami, Dok," ucap lelaki itu lirih namun penuh pengharapan.
"Nara pasti baik-baik saja, Pak. Dia wanita yang sangat kuat."
__ADS_1
Alya berusaha menguatkan Yoga dan memberinya semangat. Setelah itu dia meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam ruangan bersama perawat yang mendampinginya.
.
.
.
Yoga tidak tinggal diam. Dia tidak terima keluarganya menjadi sasaran tindak kejahatan, apa pun alasannya.
Apalagi saat ini Nara yang menjadi korbannya. Bukan hanya Nara, tapi keselamatan calon anak mereka yang masih dikandung oleh Nara juga terancam.
"Siapa pun dia atau mereka, aku tidak akan memaafkannya begitu saja!"
Beno datang bersama dua orang petugas kepolisian yang hendak meminta keterangan dari Yoga dan menindaklanjuti laporan yang dibuatnya melalui sang asisten.
"Kami sudah meminta keterangan dari beberapa orang yang tinggal di rumah Pak Yoga. Selain itu petugas kami yang lain juga sudah mendatangi toko kue yang menerima pesanan kue yang dikirimkan kepada Ibu Nara."
Yoga tidak yakin kue itu langsung dikirim dari toko kue yang dimaksud karena setelah dicek oleh Beno, toko kue tersebut cukup ternama dan tidak mungkin lepas pengawasan mengenai hal seperti ini.
"Kami sudah meminta keterangan dari kurir yang mengantarkan kue ke rumah Bapak. Menurut pengakuannya, dia menerima pesanan atas nama Yoga Mahendra dan diminta untuk mengambil kue tersebut di depan toko roti yang dimaksud dan mengantarkannya sesuai alamat."
Petugas menunjukkan beberapa foto dari rekaman cctv di sekitar toko kue tersebut dan hasilnya memang sesuai dengan pengakuan sang kurir.
"Apakah dia pelakunya?" tanya Yoga geram dengan tangan yang mengepal kencang.
"Bisa ya, bisa tidak. Ada dua kemungkinan, dia pelaku yang sebenarnya atau dia hanya orang suruhan dari pelaku tersebut."
Dalam foto yang didapat, wajah orang itu terlihat samar ditambah lagi dia memakai pelindung wajah lengkap dengan penutup kepala, sehingga kurir yang menemuinya pun kesulitan untuk mengingat bentuknya.
"Saya percayakan semuanya pada pihak kepolisian. Dan untuk selanjutnya asisten saya yang akan mewakili."
Yoga memilih untuk fokus pada Nara yang masih dalam penanganan dokter. Dia masih enggan memikirkan hal yang lainnya, sebelum mendapatkan kabar baik tentang kondisi kesehatan Nara dan calon anak mereka.
Dua jam sudah berlalu sejak Nara mulai ditangani, Alya maupun dokter yang lain belum ada yang keluar sekedar untuk memberikan kabar apa pun.
Yoga masih menunggu ditemani oleh Pak Budi, sementara Beno sudah pergi lagi bersama dua orang polisi yang datang bersamanya tadi. Rendy yang menemani Alya pun sudah kembali ke ruangannya.
Saat di luar sana langit mulai menggelap dan sang mentari turun ke peraduan, dokter yang menangani Nara dari awal keluar didampingi seorang perawat.
Yoga berdiri dan segera menghampiri bersama Pak Budi di sampingnya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Yoga tak sabar saat melihat sang dokter hanya diam tanpa suara.
__ADS_1
"Sesuai dengan diagnosa awal kami, Ibu mengalami keracunan makanan. Racun tersebut berasal dari zat yang telah dicampurkan ke dalam makanan yang terakhir dikonsumsinya."
Yoga semakin tegang dengan amarah yang jelas terlihat di wajahnya.
"Sepertinya Ibu makan cukup banyak sehingga racun yang terserap di tubuhnya pun tidak sedikit dan bereaksi dengan cepat. Racun tersebut sudah masuk ke pembuluh darah sehingga rawan menyebar ke seluruh tubuh bahkan hampir saja masuk ke plasenta yang akan sangat membahayakan kondisi janin yang dikandungnya."
Yoga tidak sabar dengan penjelasan dokter yang dirasanya terlalu panjang padahalmemang begitulah seharusnya informasi tesebut disampaikan secara runtut dan lengkap.
"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya, Dok?" Yoga mengulangi pertanyaannya.
"Kandungan Ibu baik-baik saja meskipun kondisinya sempat menurun dan denyut jantungnya melemah. Tapi Dokter Alya berhasil menanganinya dengan baik."
"Sedangkan Ibu ...." Dokter menjeda kalimatnya membuat perasaan Yoga semakin kacau kendati satu kabar baik sudah didengarnya lebih dulu.
"Ada apa dengan istri saya, Dok? Katakan!" Suara Yoga meninggi dan tak terkontrol lagi sehingga Pak Budi mendekat dan menepuki pundaknya agar lelaki itu tidak terbawa emosi.
"Ibu mengalami penurunan kesadaran akibat racun yang telah menyebar melalui pembuluh darah. Perlu dilakukan trasnfusi darah untuk membersihkan racun yang telanjur menyebar dan bisa semakin membahayakan kondisinya."
Yoga teringat cerita yang dulu disampaikan padanya bahwa pada saat melahirkan Raga, Nara pun membutuhkan tambahan darah akibat perdarahan yang dialaminya. Dan darah tersebut didapatkannya dari Bapak dan Bunga.
Tapi sekarang, mereka berdua tidak ada di sini sehingga Yoga harus bisa mencari pendonor yang cocok untuk Nara secepatnya.
"Bagaimana dengan stok darah di rumah sakit ini? Atau di ...."
"Bapak tidak perlu khawatir, karena Ibu sudah mendapatkan pendonor yang siap dan sekarang kami sedang melakukan proses transfusinya."
Yoga terdiam dan mencoba mencerna pelan-pelan ucapan sang dokter.
"Maksud Dokter ... istri saya sudah bisa diselamatkan?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.