
"Apa kamu keberatan jika kita menginap di sini malam ini?"
Dugaan Nara benar. Mereka akan melewatkan malam di sini, hanya berdua. Tanpa Raga dan tanpa ada siapa pun lagi di tempat ini selain mereka berdua.
Hal yang belum pernah mereka lakukan sejak Yoga dinyatakan sembuh dan bisa kembali ke rumah setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan.
Setelah itu, hari-hari mereka disibukkan dengan pemulihan kondisi Yoga dan pemeriksaan rutin berbulan-bulan lamanya untuk memastikan tidak adanya keluhan dan komplikasi pasca transplantasi jantung yang dijalaninya.
Dan malam ini adalah pertama kalinya mereka pergi berdua tanpa Raga.
"Tapi, Mas. Raga ....?"
"Tadi aku sudah meminta ijin pada Bapak dan Ibu. Aku juga sudah menitipkan Raga untuk menginap di sana malam ini."
Tanpa Nara tahu, Yoga sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya. Dia sudah merencanakannya beberapa hari yang lalu. Malam ini, dia ingin menikmati kebersamaan hanya berdua dengan Nara.
"Kamu mau, Sayang?"
Kedua tangan Yoga sudah melingkar semakin erat di pinggang sang istri. Sementara tangan Nara mau tak mau turut melingkar di tubuh Yoga yang kian menghangat.
Kegugupannya semakin terlihat dari gerak tubuh dan pandangan matanya.
"Aku ...." Nara masih ragu untuk menjawab.
Dia menatap Yoga yang masih terus menunggunya dengan penuh harap. Mata sayunya mewakili keinginannya. Pelukan eratnya menunjukkan kepemilikannya atas Nara.
Nara mengangguk akhirnya, tak ingin mengecewakan suaminya, sedangkan dirinya pun sebenarnya telah mengharapkan hal yang sama.
"Terima kasih, Sayang."
Yoga mencium kening Nara lalu mereka berpelukan lama. Saling mendekap, saling mengikat, saling berbagi kehangatan rasa di antara mereka.
Tak banyak kata, cukup pelukan untuk menunjukkan betapa mereka saling memiliki dan menginginkan. Tak perlu bukti, hanya ciuman untuk menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam.
Keduanya semakin larut dalam suasana penuh cinta yang menyelimuti hati. Tak ingin memikirkan hal lain lagi selain kebersamaan mereka saat ini. Tak ingin melakukan hal lain lagi selain berbagi kebahagiaan malam ini.
__ADS_1
Yoga menarik tubuhnya pelan,memberi jarak antara tubuh mereka dengan tangan yang masih saling memegang pinggang.
"Terima kasih telah menerima perasaanku dan membalasnya dengan rasa yang sama untukku. Kita akan selalu bersama untuk menjaga cinta kita, cinta yang paling kuat, cinta yang paling indah, cinta yang terbaik milik kita berdua."
Nara merasakan hatinya dipenuhi desiran halus yang menembus kalbu. Rasanya begitu menenangkan jiwa sekaligus menumbuhkan rasa haru.
"Terima kasih telah bersedia menjadi teman hidupku untuk selamanya. Kamulah yang terbaik dan akan selamanya menjadi yang terbaik dalam hidupku, Sayang!"
Nara tak kuasa untuk berkata-kata. Hanya senyuman dan anggukan yang mewakili perasaannya saat ini. Rasa yang sama seperti apa yang telah diungkapkan oleh suaminya. Rasa yang terkuat, rasa yang terindah dan rasa yang terbaik yang telah hadir dan mewarnai kehidupannya.
"Apa yang telah kamu ungkapkan padaku, itu pulalah yang aku rasakan untukmu, Mas. Kamu adalah anugerah terbaik dan terindah dalam hidupku. Terima kasih!"
Nara meninggikan tubuhnya lalu melabuhkan satu ciuman lembut di bibir suaminya. Wajahnya bersemburat merah, antar malu dan rindu untuk melakukannya.
Yoga tersenyum lalu mencium bibir manis istrinya dengan penuh perasaan. Dia ingin menciptakan kenangan yang tak terlupakan malam ini.
Kenangan terindah yang akan menjadi pembuktian tertinggi atas cinta yang mereka rasakan dan mereka miliki. Cinta yang ingin mereka satukan dan mereka nikmati berdua malam ini.
"Sayang, apa kamu sudah siap bila kita melakukannya malam ini?" Yoga bertanya dengan hati-hati, tak ingin sampai menyinggung perasaan istrinya.
Selama itu pula, mereka masih terus mengutamakan pemulihan kondisi kesehatan Yoga. Nara begitu menjaga dan merawat suaminya tanpa lelah, selalu mematuhi semua pesan dan nasehat dokter demi melihat Yoga segera sembuh dan sehat kembali.
Dan sekarang, semua telah kembali bahagia. Kesembuhan Yoga adalah kebahagiaan terbesar yang selalu mereka syukuri setelah perjuangan panjang penuh air mata yang mereka lalui berdua dengan kekuatan cinta.
"Melakukannya ...?" Nara gugup hingga tak tahu harus bicara apa. Ingin langsung menjawab pun rasanya masih malu.
"Iya, Sayang. Aku menginginkan hakku sebagai seorang suami. Apakah kamu mau melakukannya bersamaku?"
Yoga mengulangi pertanyaannya dengan suara lembut penuh hasrat. Nara yang mendengarnya pun mulai terbawa rasa yang sama, ingin menikmati malam ini bersama lelaki di hadapannya.
Tanpa ragu lagi Nara memantapkan hatinya dan mulai menyiapkan dirinya. Wanita itu mengangguk dan menunjukkan senyuman malunya.
"Aku mau, Mas. Aku siap menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri."
Binar bahagia terlihat jelas di wajah Yoga. Senyumnya mengembang sempurna tatkala melihat Nara juga melebarkan senyumannya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Sorot mata sayu keduanya telah mewakili hasrat yang sama-sama mereka rasakan. Saling menginginkan dan saling ingin membahagiakan.
Detik berikutnya, entah siapa yang memulainya, wajah mereka telah sama-sama menyatu dengan hembusan nafas yang saling bersahutan dan saling menghangatkan.
Mereka mengawali malam panjang mereka dengan ciuman lembut yang penuh haru. Butiran bening muncul di sudut mata keduanya, menandakan dalamnya perasaan sayang mereka satu sama lain.
Selanjutnya, ciuman lembut itu mulai bergerak saling memberi dan saling meminta. Saling menuntut lebih dan tanpa henti, hingga ciuman itu terasa semakin cepat dan penuh gairah, semakin dalam dan semakin basah.
Yoga mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya di atas tempat tidur yang bertaburan kelopak bunga mawar merah. Saling menatap dengan wajah yang saling berhadapan, dengan tubuh yang terpisah oleh topangan kedua tangan Yoga di atas tubuh Nara.
Lelaki itu mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu yang lebih redup dan temaram, menciptakan aura romantis yang menuntun mereka untuk segera memulainya, mereguk manisnya cinta yang telah menyatukan dua hati menjadi satu jiwa.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu ...." Yoga rebah di samping istrinya, setelah mengakhiri penyatuan mereka dengan ciuman sayang di kening Nara. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah dan pancaran sinar matanya, mewakili seluruh perasaan yang membuncah di dalam hati.
"Sama-sama, Mas. Aku juga mencintaimu ...." Nara menatap wajah suami di sampingnya, lalu merebahkan tubuh di tempat ternyamannya dengan perasaan tenang dan bahagia.
Sama seperti Yoga, dia pun merasa sangat bahagia dan bersyukur karena telah menunaikan kewajibannya. Dia telah menjadi istri seutuhnya untuk lelaki pilihan hatinya. Lelaki yang akhirnya menjadi pelabuhan cinta terakhir dan menjadi imam hidup terbaik untuk selamanya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.