
Nara baru saja menidurkan Raga dan membaringkan bocah menggemaskan itu di atas tempat tidurnya. Menyelimuti dan mencium kening putra kesayangannya, wanita itu lalu menutup kelambu dan meninggalkannya untuk menemani Yoga yang sedang menikmati makan malamnya sendirian.
"Mas, bagaimana pertemuan dengan Pak Alam tadi?"
Nara duduk di samping suaminya dan langsung mengambil alih sendok yang dipegang Yoga, kemudian mulai menyuapi sang suami dengan senyuman manis di bibirnya, membuat lelaki itu turut membalasnya dengan senyuman yang sama menawannya.
"Semua berjalan lancar, Sayang. Kami sudah menandatangani seluruh dokumen kerjasama yang rencananya akan dimulai pengerjaannya awal bulan depan."
"Sayangnya tadi aku tidak bisa ikut menemanimu, Mas. Aku sempat membuka media sosial milik istrinya dan aku kagum pada sosok Ibu Embun, istri Pak Alam. Ternyata dia dikenal sangat baik dan sederhana oleh masyarakat. Semua orang menyukainya dan segan padanya."
Yoga menatap istrinya dengan tetap mengulas senyuman. Dia seperti sedang mendengarkan Nara membicarakan dirinya sendiri.
"Dia sama seperti dirimu, Sayang. Baik dan ramah pada semua orang. Penampilannya pun sangat sederhana dan penuh kharisma. Seperti itu pula dirimu. Dan aku sangat bangga memilikimu."
Yoga mengusap kepala Nara lalu mencium keningnya, membuat sang istri tersipu dengan senyum bahagianya. Wanita itu terus menyuapi suaminya sampai makanan di piring habis tanpa sisa, lalu memberikan minuman kepada lelaki itu.
Nara membereskan piring dan gelas kotor yang ada lalu membawanya ke dapur untuk mencucinya. Bibi Asih dan Mbak Indah sudah beristirahat di kamar mereka usai menyiapkan makan malam tadi.
Dengan cekatan Nara mencuci bersih semuanya lalu menaruhnya di tempat tirisan sebelum dikembalikan ke rak masing-masing. Setelah itu dia mengeringkan tangannya dengan lap bersih lalu berbalik untuk kembali ke kamar.
Langkahnya terhenti karena ternyata Yoga sudah berdiri di hadapannya. Tatapannya berubah teduh dan sangat dalam, sementara di sekitar mereka telah sunyi dan sepi.
"Mas ...?" Nara gugup seketika mendapatkan tatapan seperti itu dari suaminya.
Yoga menatap istrinya semakin lekat. Ada perasaan tidak nyaman saat tiba-tiba dia teringat pertemuannya dengan seseorang di kafe sore tadi.
Tubuhnya menegang, gugup dan memanas. Ketakutan mulai menguasai perasaannya sehingga sikapnya berubah dan semakin posesif pada Nara.
Tanpa berkata apa-apa, dia memeluk tubuh wanita di hadapannya itu lalu menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh permukaan wajahnya. Sedikit tergesa dan tanpa kelembutan seperti biasanya.
"Mas ... hentikan. Ini bukan di kamar, Mas ...!"
Nara berusaha mengingatkan suaminya namun Yoga tidak mengindahkannya dan terus melampiaskan kegundahan hatinya karena ketakutan yang dirasakannya.
"Mas, jangan seperti ini! Kamu membuatku takut ...." Nara mulai meronta dalam pelukan Yoga yang semakin kencang dan terus menciuminya tanpa henti.
Yoga tersentak begitu mendengar Nara mengatakan ketakutannya. Kedua tangannya terlepas begitu saja dari tubuh Nara bersamaan dengan wajahnya yang ditarik menjauh, masih dengan raut tegang dan nafas tersengal.
__ADS_1
Nara yang sudah menduga adanya sesuatu yang tengah menganggu pikiran suaminya, segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih lalu meminumkannya pada Yoga dengan sedikit memaksa namun tetap penuh perhatian.
Perlahan emosi Yoga mereda setelah menghabiskan segelas air putih yang diberikan oleh istrinya. Rasa bersalah membuat matanya memerah dan berkaca-kaca. Tubuhnya mendadak lemas dan segera merengkuh istrinya tanpa daya lagi.
"Maaf, Sayang. Maafkan sikapku tadi." Suara Yoga lirih dan bergetar.
"Kita ke kamar dulu, Mas. Kita bicarakan semuanya di sana." Nara memeluk lengan suaminya lalu menuntunnya masuk ke dalam kamar.
Setelah mengunci pintu, Nara kembali menghampiri Yoga yang sudah duduk di sofa dengan kepala bersandar ke belakang.
Duduk di samping suaminya, Nara mengusap pelan-pelan keringat yang membasahi wajah Yoga yang masih memerah, lalu memberikan ciuman lembut di kening lelaki itu.
"Ceritakan padaku, Mas. Apa yang tengah mengganggu pikiranmu?"
Suara halus Nara membuat Yoga merasa semakin bersalah atas apa yang baru saja dilakukannya. Apalagi setelah itu, Nara mengenggam tangannya dan menciumnya dengan lembut lalu meletakkan di atas pangkuannya.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu takut dengan sikap kasarku tadi. Sungguh aku tak bermaksud demikian, Sayang."
Nara mengangguk dan menampakkan senyumannya untuk menenangkan hati Yoga yang masih bergejolak. Yoga membalas mencium tangan istrinya sebelum memulai ceritanya.
"Tadi sore aku melihatnya. Dia ada di sini."
"Marcell." Yoga menatap wajah Nara, berharap jawabannya tidak membuat istrinya terkejut sama seperti dirinya tadi sore.
Harapannya tidak terjadi, Nara terkejut dan wajahnya berubah menjadi tegang. Senyumannya sirna seketika begitu mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"A-Apa dia juga melihatmu ...? Apa dia melukaimu, Mas?"
Nara khawatir akan keselamatan Yoga, mengingat dari cerita suaminya dulu, target kejahatan Marcell adalah lelaki yang dekat dengan dirinya. Apalagi sekarang, Yoga sudah menjadi suaminya.
Yoga menggeleng dan mulai bisa menguasai dirinya kembali. Dia tahu arah pertanyaan istrinya dan dia juga tahu, seharusnya dialah yang lebih waspada karena Marcell pasti akan menyerang dirinya lebih dulu, sebelum melakukan sesuatu terhadap Nara.
"Lagipula dulu dia tidak mengenalku dan belum pernah bertemu denganku sekali pun. Semoga saja dia tidak mengetahui keberadaan kita di sini dan yang kulihat tadi hanyalah kebetulan semata."
Nara memeluk Yoga dan merebahkan kepalanya di atas dada Yoga. Tak bisa dipungkiri, hatinya turut merasakan kegundahan sama halnya yang dirasakan oleh suaminya.
"Aku takut, Mas. Aku takut jika ternyata dia sudah mengetahui semuanya, dia akan mencelakaimu dan berusaha untuk memisahkan kita ...."
__ADS_1
Nara mempererat pelukannya. Jantungnya berdegup kencang penuh ketakutan. Apalagi dirasakannya jantung Yoga pun berdetak semakin cepat. Mereka merasakan ketakutan yang sama. Takut kehilangan dan takut terpisahkan satu sama lain.
.
.
.
Di sebuah kamar yang gelap tanpa penerangan sedikit pun, seorang lelaki duduk di kursi putar sambil memainkan ponselnya yang menampilkan wajah cantik seorang wanita yang sangat dicintainya dan ingin dimilikinya dengan segala cara.
Tatapan matanya terpaku menatap layar ponsel yang dipenuhi wajah cantik wanita yang telah membuat hidupnya berantakan dan kehilangan pekerjaan.
Sebenarnya bukanlah kesalahan wanita itu karena dia tidak pernah tahu perasaannya dan apa yang sudah dilakukannya dulu.
Tapi dia tidak peduli semua itu, dia tidak lagi peduli pada hal yang lain. Sekarang, dia hanya ingin memiliki wanita itu, bagaimanapun caranya.
Sudah cukup dia mengalah dan membiarkan wanita yang dicintainya itu selalu bersama orang lain. Sekarang setelah dia kembali, dia justru harus menghadapi kenyataan bahwa wanita tercintanya itu sudah benar-benar menjadi milik lelaki lain.
Seluruh tubuhnya memanas terbakar api cemburu. Hatinya mendidih dan tidak bisa menerima semua itu. Dia harus bertindak cepat dan merebut wanita yang dia cintai. Dia harus memilikinya, hanya dia yang boleh memiliki wanita itu!
"Susah-payah aku berusaha menyingkirkannya dulu, tapi ternyata kamu meninggalkannya dan berpaling pada lelaki lain bahkan sudah menikah dengannya."
"Kamu tidak pernah menganggapku, Nara. Kamu meremehkan perasaanku padamu. Sekarang aku sudah kembali dan aku akan membuatmu menjadi milikku!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.