
"Jadi, siapa nama putri kecil kita?"
Ardi menemani Bunga duduk bersandar di atas pembaringan. Tangan kirinya merangkul bahu sang istri dan tangan kanan mereka saling menggenggam erat.
Sementara itu, di sisi kiri tepat di samping pembaringan terdapat boks bayi di mana bayi mungil mereka terlelap di balik kelambu yang menutupinya.
"Aura Jelita Ardiatama."
Ardi tersenyum bahagia mendengar rangkaian nama yang diucapkan oleh istrinya.
"Nama yang indah, Sayang. Semoga putri kita tumbuh menjadi anak yang selalu dipenuhi kebaikan dan kebahagiaan serta mampu memberikan kesejukan dan keberkahan bagi kehidupan di sekitarnya."
"Aamiin, Mas." Bunga melebarkan senyumannya setelah mengetahui sang suami menyukai nama yang dipilihnya untuk putri kecil mereka.
"Kita akan membimbingnya bersama-sama hingga kelak dia dewasa dan menjadi kebanggaan keluarganya."
Bunga merapatkan pelukannya dan terus bersandar nyaman di dada suaminya. Nyeri di bagian luka bekas sayatan operasi tak begitu dirasakannya. Hatinya telanjur dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan yang bermekaran indah.
Tiba-tiba di tengah rasa bahagianya yang membuncah, dia teringat seseorang yang belum sempat ditemuinya sejak dirinya sadar sore tadi.
"Mas, kapan aku bisa menemui Dokter Alya? Aku belum berterima kasih kepadanya."
Ardi menatap istrinya lekat-lekat. Dia tahu jauh di dalam hatinya, wanita itu pasti merasakan ketidaknyamanan saat membicarakan tentang Alya.
Bagaimanapun juga, dia tidak bisa membohongi istrinya. Bunga sudah tahu semua tentang dirinya termasuk tentang masa lalunya dengan Alya.
"Tadi aku sudah menemuinya sebentar dan berterima kasih kepadanya."
"Dia masih di sini, Mas?" Ardi pun mengangguk pelan dengan pandangan menerawang, mengingat kondisi Alya saat ditemuinya tadi.
"Dia harus beristirahat lebih lama karena tubuhnya belum pulih kembali setelah menyumbangkan dua kantong darah untuk menyelamatkanmu."
Bunga yang memang belum mengetahuinya terkejut. Dia tidak menyangka mantan kekasih suaminya bersedia menyumbangkan darahnya hingga sebanyak itu tanpa mempedulikan keterbatasan kekuatan tubuhnya sendiri.
"Mas, apa aku boleh menemuinya? Aku mohon, aku ingin berterima kasih langsung kepada Dokter Alya."
Ardi tidak mungkin mengijinkan untuk saat ini karena kondisi Bunga ynag masih belum diperbolehkan untuk banyak bergerak.
"Kita lihat besok saja ya, Sayang. Kamu belum boleh ke mana-mana. Utamakan kondisimu sendiri. Aku ingin kamu cepat sembuh dan kita bisa segera pulang bersama Aura putri kita."
__ADS_1
Diciumnya kening Bunga dengan lembut dan penuh kasih lalu perlahan dia melepaskan pelukannya dan turun dari pembaringan.
Kemudian diturunkannya posisi pembaringan menjadi sejajar kembali. Bunga pun mulai menyamankan kepalanya supaya bisa tidur dengan tenang.
"Sudah semakin malam. Tidurlah, Sayang. Aku akan membawa Aura kembali ke ruang bayi untuk ditempatkan kembali di inkubator."
Ardi menyelimuti tubuh sang istri hingga di atas dada lalu membelai wajahnya dengan sayang.
"Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas. Selamat malam."
Bunga tersenyum dan memejamkan mata. Usapan lembut tangan Ardi di keningnya, seolah membuainya hingga dia terlelap dengan cepat.
Setelah memastikan istrinya telah tidur dengan nyenyak, lelaki itu berjalan ke arah boks bayi berkelambu di sisi kiri kemudian mendorongnya keluar dari ruangan dengan perlahan dan sangat hati-hati, agar putri kecilnya tidak terbangun karena guncangan.
Sekembalinya dari ruang bayi, Ardi berjalan hendak kembali ke ruangan Bunga. Namun mendadak langkahnya terhenti begitu saja di depan ruang perawatan Alya.
Entah mengapa dia berhenti dan berdiri cukup lama di sana, sampai seorang perawat keluar dan menyapa pemilik klinik tersebut.
Ardi mengangguk untuk membalas sapaan perawat tersebut. Saat perawat keluar dan membuka pintu tadi, dia sempat memperhatikan ke dalam ruangan dan melihat Alya yang sudah tertidur tanpa ada yang menungguinya.
"Mengapa kamu yang menunggui Dokter Alya? Apakah suaminya atau keluarganya belum ada yang datang?" tanya Ardi mulai penasaran.
""Saya permisi sebentar untuk mengambil charger ponsel saya, Dok."
Setelah mendapat ijin dari Ardi, perawat itu pergi meninggalkan Ardi yang tetap berdiri di depan pintu dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Dia menghubungi Yoga untuk menanyakan perihal Alya yang belum ditemani oleh suami atau keluarganya.
"Keluarganya belum ada yang bisa datang. Jadi aku meminta perawat untuk menungguinya." Suara Yoga terdengar tenang di telinga Ardi.
"Suaminya? Apa dia juga tidak bisa datang?"
Ardi memang tidak mengetahui apa pun tentang Alya karena mereka baru dua kali bertemu, itu pun secara tidak sengaja dan tidak terduga.
Sementara Yoga mungkin lebih mengetahuinya karena Nara sering bertemu dan berkonsultasi dengan Alya selaku dokter kandungannya yang bertempat tinggal satu kota.
"Suaminya masih berada di luar kota dan tidak bisa menyusulnya," jawab Yoga dari seberang sambungan telepon.
__ADS_1
Lelaki itu terpaksa berbohong dan tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada sahabat kecilnya itu karena Alya sendiri yang memintanya.
Tadi sore sebelum dia pulang, Alya memintanya untuk tidak membuka rahasia apa pun tentang kehidupan pribadinya, yang sudah lebih dulu diketahui oleh Yoga.
Alya tidak mau Ardi tahu tentang statusnya yang sebenarnya. Dia ingin menjaga hubungan Ardi dan Bunga tetap sebaik dan sebahagia selama ini.
Dia takut jika Ardi mengetahui rahasianya, maka lelaki itu akan mengabaikan Bunga dan akan membuat hubungan mereka terganggu karenanya.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu dan juga informasi tentang keluarga Alya."
Ardi menutup panggilan teleponnya dan menyimpan kembali ponselnya. Kemudian dengan sangat pelan dan hati-hati dia membuka pintu ruangan Alya dan melangkah masuk mendekati pembaringan.
Perawat yang datang dari ujung koridor dan melihat atasannya masuk ke ruangan Alya, memilih untuk duduk menunggu di luar ruangan.
Dengan hati yang mulai berdebar Ardi memandangi wajah pucat Alya yang telah terlelap dengan kepala berhijabnya lunglai ke samping, berhadapan dengan posisi berdirinya di samping pembaringan.
"Wajahmu masih terlihat pucat dan lelah, Al. Kamu pasti merasa sangat lemah setelah menyumbangkan darahmu begitu banyak untuk istriku ...."
Untuk sesaat Ardi larut dalam kenangan masa lalu mereka yang hadir begitu saja melintasi pikirannya.
Hampir saja lelaki itu lupa diri dan hendak menyentuh tangan Alya, karena hanyut dalam nostalgia cinta mereka yang dipenuhi kenangan indah yang masih tersimpan khusus di lubuk sanubarinya.
Akhirnya dia menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana, agar tidak kembali lepas kendali untuk menyentuh wanita di hadapannya.
Senyuman mulai menghiasi wajah tampan sang dokter yang baru saja dikarunia seorang putri cantik tersebut.
"Masihkah kamu menyimpan kenangan indah kita di dalam hatimu, Al? Sama sepertiku yang tak bisa melupakan sedikit pun segala hal tentang masa lalu kita ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.