CINTA NARA

CINTA NARA
2.26. SIAP MENJADI MILIKKU


__ADS_3

"Mas, apa kamu tidak bisa membatalkan kehadiranmu dalam acara kali ini?"


Bunga tampak begitu berat untuk melepaskan kepergian Ardi yang akan menghadiri seminar profesi nasional di luar kota.


Kandungannya yang semakin besar dan telah mendekati waktunya persalinan, membuatnya enggan untuk ditinggalkan sang suami.


"Aku menjadi salah satu pemateri di sana, Sayang. Jadi tidak mungkin aku membatalkannya begitu saja."


Meskipun hatinya berat, Bunga tetap membantu persiapan sang suami. Dengan perut bulat sempurnanya, wanita itu membantu merapikan pakaian yang dikenakan Ardi dan menyisir rambutnya hingga penampilan dokter tampan itu terlihat sempurna.


Tak lupa dia juga memakaikan jas formal di luar kemeja sang suami dan menyerahkan koper kecil yang sudah disiapkannya semalam.


"Tapi aku berjanji, setelah aku selesai memberikan kuliah umum di sana, aku akan meminta ijin untuk pulang lebih dulu."


Satu ciuman hangat diberikan oleh Ardi di kening sang istri sebelum mereka berjalan bergandengan tangan, keluar dari kamar.


Di teras depan, mobil sudah disiapkan oleh sopir yang akan mengantarkan Ardi ke bandara. Setelah itu sang sopir akan tinggal untuk siaga menjaga dan mengantarkan Bunga beraktivitas selama suaminya pergi bertugas.


Ardi berlutut untuk berpamitan pada calon anak mereka yang masih berada di dalam kandungan Bunga. Lantunan doa-doa terbaik dipanjatkannya untuk memohon kesehatan dan keselamatan bagi istri dan calon putri kecil mereka.


Setelah puas menciumi perut istrinya, Ardi pun bangkit dan berdiri di hadapan Bunga.


"Jangan bersedih. Aku hanya pergi tiga hari dan akan aku usahakan agar bisa pulang lebih cepat."


Bunga hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Bagaimanapun juga, seorang istri harus ikhlas melepaskan suaminya untuk bekerja, agar hasil yang diperoleh selalu penuh berkah dan kebahagiaan untuk keluarga mereka.


"Hati-hati, Mas. Cepatlah pulang. Kami menunggumu."


"Pasti, Sayang. Jaga dirimu dan kandunganmu. Aku berangkat sekarang."


Bunga meraih tangan sang suami dan menciumnya dengan rasa sesak di hati. Entah mengapa serasa ada yang tetap mengganjal di hatinya. Namun dia mencoba untuk menyembunyikan dari Ardi agar lelaki itu tidak mengkhawatirkannya.


Ardi membalasnya dengan ciuman mesra di keningnya dan diteruskan ke bibirnya. Untuk sesaat Bunga melupakan kegelisahannya dan menikmati ciuman perpisahan dari sang suami tercinta.


.


.


.


Di tempat yang lain, Nara semakin sibuk dengan segala persiapan pernikahan Indra dan Rizka.


Meskipun sudah diserahkan kepada Wedding Organizer yang terpercaya, tetap saja ada beberapa hal pribadi yang ingin mereka siapkan dan mereka pastikan sendiri dalam prosesnya.

__ADS_1


"Ndra, kapan kalian akan melakukan fitting terakhir? Ini sudah satu minggu menjelang hari pernikahan kalian, lho. Besok kalian sudah tidak boleh bertemu dulu."


Sesuai kebiasaan keluarga Jawa pada umumnya, kedua calon pengantin akan menjalani masa pingitan selama satu minggu dan akan dipertemukan kembali di hari pernikahan nanti.


"Hari ini aku dan Rizka akan pergi fitting, Mbak," jawab Indra sembari memeriksa kembali daftar seserahan yang akan dia berikan kepada Rizka.


Beberapa barang dan keperluan pribadi Rizka serta sejumlah seserahan yang lainnya sudah dihias dengan sangat indah oleh jasa pembuatan seserahan pernikahan.


"Mas Yoga kapan pulang, Mbak?"


"Mungkin besok atau lusa. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum ditinggalkan kemari."


Setelah memastikan semua persiapan di rumah sudah selesai, Indra pamit hendak menjemput calon istrinya untuk merampungkan agenda terakhir mereka hari ini sebelum berpisah mulai esok hari.


Satu jam kemudian, sepasang calon pengantin itu sudah berada dalam satu mobil menuju sebuah butik ternama yang dulu merupakan langganan keluarga Mahendra.


"Besok kita sudah tidak boleh bertemu dulu, Dik." Indra menoleh sekilas untuk menatap wajah calon istrinya.


"Iya, Kak. Kita akan bertemu di hari pernikahan kita nanti." Malu-malu Rizka menjawab dengan hati berdebar.


Terkadang sisi kekanakannya terlihat juga, saat dia tersenyum dan tersipu malu karena dipuji dan disanjung oleh pujaan hatinya.


Seperti saat ini, membayangkan hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung mundur tak lama lagi, Rizka terlihat sangat ceria dan sering tersenyum sendiri mengingat sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri.


"Kamu siap untuk menjadi milikku seutuhnya?" tanya Indra tanpa mengalihkan pandangannya dari kendali kemudi.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Dik. Aku tidak akan memaksamu melakukannya jika kamu belum siap. Bukankah tujuan utama kita menikah ini adalah ibadah?"


Rizka mengangguk entah apa maksudnya. Mengiyakan karena belum siap, atau menyetujui tujuan utama pernikahan mereka.


"Aku menikahimu dengan segera karena tidak ingin merusakmu, Dik. Dengan kita menikah, aku juga bisa menjaga dan melindungimu sepenuhnya karena kamu telah menjadi tanggung jawabku selamanya."


Mereka kembali larut dalam pembicaraan serius perihal pernikahan dan kehidupan setelah keduanya resmi menjadi suami-istri nanti.


"Aku bersyukur karena dipertemukan dengan kamu yang akhirnya akan menjadi suamiku. Selalu bimbing aku, Kak, dan ingatkan aku jika aku salah dan belum bisa menjadi istri yang baik untukmu."


Indra meraih tangan kiri Rizka dan menggenggamnya. Senyuman bahagia dan penuh ketulusan menghiasi wajah tenang lelaki itu. Rizka membalasnya dengan penuh rasa bahagia.


"Kita akan belajar bersama-sama. Saling mengingatkan dan belajar menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami dan istri, dengan tanggung jawab yang sama untuk menjaganya dan mengisinya dengan kebahagiaan selamanya."


.


.

__ADS_1


.


Menjelang siang, Ardi tiba di hotel berbintang tempat penyelengaraan seminar yang dihadirinya. Setelah melakukan check in di bagian resepsionis, dia segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat sejenak sebelum mengikuti rangkaian acara yang padat mulai siang hari nanti.


Sembari berbaring melepas penat setelah menempuh perjalanan udara selama satu setengah jam, Ardi berbalas pesan dengan sang istri yang sudah dirindukannya.


"Aku sudah sampai di hotel, Sayang. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Maaf jika nanti agak jarang memberimu kabar karena jadwal yang sangat padat."


Tak lama kemudian Bunga membalas pesan dari suaminya.


"Iya, Mas. Jaga kesehatanmu dan jangan terlambat makan."


Ardi tersenyum membayangkan wajah istrinya dengan mata terpejam sesaat. Lalu ditulisnya lagi satu pesan untuk wanita tercintanya.


"Aku merindukanmu dan calon anak kita. Tunggu aku pulang, Sayang. Aku mencintai kalian."


"Kami menunggumu dan merindukanmu, Mas. Kami mencintaimu."


Ardi mulai terlelap untuk beberapa lama, setelah membaca pesan terakhir dari Bunga.


Satu jam kemudian dia terbangun dan merasa lebih segar untuk memulai kegiatannya.


Setelah mandi dan bersuci untuk melaksanakan kewajibannya, Ardi berganti pakaian dan bersiap untuk turun ke lantai bawah di mana seminar dilaksanakan.


"Selamat siang, Dokter Ardi. Senang bertemu kembali dengan Anda."


Beberapa orang dokter yang tengah bercengkerama, menyambut dan menyapa Ardi yang baru saja tiba dan mengisi buku kehadiran.


"Selamat siang, semuanya." Ardi menjawab dengan senyuman ramah dan mulai menyalami mereka satu per satu.


"Selamat siang, Dokter Ardi. Apa kabar?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2