
Yoga membelai mesra kepala Nara dan memberikan ciuman lembutnya di puncaknya. Didekapnya dengan erat tubuh Nara yang masih memeluknya sangat erat. Masih terdengar dan terasa isakan di atas dadanya.
"Semua sudah berlalu, Sayang. Masa-masa sulit itu bisa kita lewati bersama. Kita kuat karena cinta kita kuat. Kekuatan cinta kita yang akan selalu membuat kita bersama dan tak terpisahkan."
Nara menarik tubuhnya dan menatap Yoga dengan sendu.
"Selamanya?" tanya wanita itu penuh harap.
Yoga pun mengangguk lalu kedua tangannya menangkup wajah istrinya dan membersih air mata yang masih terlihat di sana.
"Selamanya!" Tanpa ragu lelaki itu menjawab dengan pasti hingga membuat bibir Nara menampakkan lagi senyumannya.
Satu ciuman hangat di kening Nara diikuti kecupan singkat di bibirnya, diberikan Yoga sebagai tanda kasih sayang yang tulus pada wanita terbaik sang pemilik hatinya. Nara memejamkan mata dan merasakannya di lubuk kalbu.
Kini dia yakin dan percaya, cintanya pada Yoga adalah cinta sebenarnya. Cinta yang dulu dianggapnya hanya sebatas kenyamanan karena seringnya mereka bersama. Namun nyatanya cinta itu adalah cinta terbaik yang dimilikinya sepanjang hidup.
Nara membuka matanya dan mendapati wajah menawan itu masih berada di hadapannya. Dia tersenyum dengan bahagia. Mensyukuri anugerah terindah yang Allah berikan pada dirinya.
Memberikan balasan kecupan singkat di bibir Yoga, Nara kemudian menjauh dan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti suaminya.
"Nanti kita makan malam berdua, ya? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Yoga menunggu jawaban dari istrinya.
Sambil membawa pakaian suaminya, Nara mengangguk dan tersenyum. Saat membantu memakaikan kaos Yoga, Nara berhenti dan kembali menatap ke arah dada suaminya.
Kali ini dia tersenyum, mengelusnya dengan lembut lalu meninggalkan satu ciuman lagi di sana. Wanita itu kemudian menurunkan kaos yang dipakai suaminya hingga menutup tubuhnya dengan rapi.
"Di mana?" tanya Nara ingin tahu.
"Tempat yang belum pernah kita datangi berdua."
Yoga tetap merahasiakannya sampai mereka berdua berangkat, setelah menitipkan Raga di rumah nenek dan kakeknya.
Lelaki itu melajukan mobilnya ke arah pinggiran kota yang merupakan daerah perbukitan dan persawahan. Dalam hati Nara mulai bertanya-tanya lagi, tapi ditahannya dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"
Yoga tahu istrinya pasti masih penasaran dengan tempat tujuan mereka malam ini.
"Hanya ingin tahu saja ke mana sebenarnya kita akan pergi." Wajah cantik itu menoleh ke arah Yoga yang balas menatapnya dengan senyum tertahan.
"Keluargaku punya sebuah villa di daerah ini. Tapi sejak mama dan papa tiada, aku tidak pernah lagi mengunjunginya apalagi menginap di sana."
__ADS_1
Nara bisa merasakan aura kerinduan yang terlihat jelas dalam kalimat demi kalimat yang Yoga ucapkan. Refleks tangan kanannya terulur menyentuh bahu suaminya dan mengusapinya dengan lembut, seraya memberikan senyuman untuk membuang kesedihan lelaki itu.
"Jadi malam ini kita akan pergi villa itu?" Nara memastikan tebakannya dan Yoga mengangguk pasti.
"Iya, Sayang. Ini pertama kalinya aku akan datang lagi ke sana dan aku ingin kamu menemaniku."
Nara tersenyum dan terus mengalihkan perhatian suaminya agar tidak terbawa suasana sedih karena mengingat kedua orangtuanya.
"Ke mana pun kamu ingin pergi dan mengajakku bersamamu, aku pasti akan ikut dan selalu menemanimu, Mas."
Yoga menampakkan kembali senyumannya. Tangan kirinya mengambil tangan kanan Nara yang masih berada di bahunya, digenggamnya lalu didekapnya di atas dada.
"Terima kasih, Sayang. Hidupku selalu penuh kebahagiaan sejak ada kamu di sisiku."
Lelaki itu mencium tangan istrinya, lalu mendekapnya kembali hingga mereka sampai di tempat tujuan.
Pagar depan villa dibukakan oleh seorang penjaga berusia paruh baya. Yoga membuka kaca jendela dan menyapanya.
"Selamat malam, Pak Hasan."
Penjaga tersebut datang menghampiri dengan senyum ramahnya.
"Ini istri saya, Pak." Yoga memperkenalkan istrinya dengan bangga.
"Selamat malam, Pak Hasan. Saya Nara. Senang bertemu dengan Bapak." Nara menyapa dan memperkenalkan diri.
Pak Hasan membalas sapaan Nara lalu mempersilakan Yoga membawa mobilnya ke halaman villa yang sangat luas dan terawat.
Keluar dari mobil, Yoga menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam villa. Mereka disambut oleh Bibi Siti, istri dari Pak Hasan.
Setelah saling menyapa dan berkenalan dengan Nara, Bibi Siti pamit keluar untuk kembali ke paviliun belakang, tempat tinggalnya bersama suami.
Yoga mengunci pintu depan lalu membawa Nara masuk ke ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang makan. Di meja makan, telah siap hidangan makan malam yang ditata rapi untuk mereka berdua.
"Siapa yang menyiapkan semua ini, Mas?" tanya Nara.
"Bibi Siti dibantu Pak Hasan. Mereka sudah menjaga villa ini belasan tahun, sejak aku masih remaja dulu."
Yoga mempersilakan istrinya duduk lebih dulu, diikuti olehnya yang duduk di hadapan Nara. Karena waktu telah semakin larut, keduanya segera menikmati makan malam mereka.
"Maaf, Sayang. Makan malam kita seperti makan malam biasa saja. Tidak istimewa dan tidak romantis."
__ADS_1
Yoga menyelesaikan suapan terakhirnya, dan memperhatikan Nara yang masih menghabiskan makanannya dengan tenang. Wanita itu tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Di mana pun dan apa pun yang kita makan, tetap akan terasa nikmat jika ada orang tersayang bersama kita. Karena yang paling penting adalah rasa syukur kita atas apa yang masih bisa kita jalani dan kita miliki hari ini."
Yoga melebarkan senyumannya setelah mendengarkan jawaban Nara. Istrinya memang sederhana dan selalu rendah hati. Selalu menerima dirinya apa-adanya dan tidak pernah menuntut dalam hal apa pun.
"Aku bangga memilikimu sebagai istriku, Sayang. Kamulah yang terbaik untukku dan kehadiranmulah yang menyempurnakan hidupku."
Yoga berdiri dan mengulurkan tangannya pada Nara yang sudah menyelesaikan makan malamnya. Mereka berdiri berhadapan, saling menatap dalam-dalam dan mengunci pandangan satu sama lain.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Apa pun akan aku lakukan demi bisa selalu membahagiakanmu di sampingku."
Yoga mencium kening Nara lalu mengajaknya masuk ke salah satu kamar di bagian depan. Hati Nara pun mulai berdebar-debar. Dia memikirkan sesuatu yang mungkin akan terjadi di antara mereka malam ini.
Lelaki itu menyalakan lampu kamar, hingga menampakkan keseluruhan isi kamar yang telah dihias begitu romantis dengan banyak sekali kelopak bunga mawar merah yang bertaburan di lantai dan di atas tempat tidur.
"Mas, ini ...?" Nara tak melanjutkan pertanyaannya. Seketika rasa malu dan gugup telah lebih dulu membuatnya terdiam dengan wajah memerah dan tubuh yang semakin menghangat.
Yoga merapatkan tubuh mereka hingga tanpa sekat, kecuali pakaian yang masih membatasi pertemuan antar kulit mereka.
"Aku ingin menghabiskan malam ini hanya berdua denganmu, Sayang."
Suara Yoga mulai terdengat berat dan parau. Ada gejolak lain yang mulai terasa menguasai tubuhnya.
"Apa kamu keberatan jika kita menginap di sini malam ini?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1