
"Jadi? Bolehkah aku menyimpan nomormu mulai sekarang?" tanya Ardi dengan nada serendah mungkin agar Alya tidak merasa mendapatkan tekanan darinya.
Alya masih terdiam dalam ragunya. Dia memilih untuk memandangi wajah polos Aura yang terlihat tenang dan nyaman di dalam dekapannya.
"Ah ..., mengapa aku merasa sangat berat untuk berpisah dengan bayi cantik ini? Kata Ardi, lusa mereka akan pulang. Lalu bagaimana denganku di sini? Apakah Aura akan melupakan aku setelah ini?"
Alya teringat kondisi Aura yang masih harus terus menjalani pengobatan rutin untuk memulihkan kondisinya. Dia terus berpikir bagaimana caranya agar bisa ikut memantau keadaan Aura dan terus mengikuti perkembangan kesehatannya, sementara mereka akan terpisah dalam jarak yang sangat jauh.
Ardi terkejut saat tiba-tiba Alya terisak dan semakin erat mendekap Aura lalu menciuminya dengan lembut berulang kali. Air matanya bahkan menetes mengenai wajah putri kecilnya, yang buru-buru dibersihkan sendiri oleh wanita itu.
"Alya ...?"
Panggilan dari Ardi terdengar berbeda, mengingatkan Alya pada masa yang telah lalu. Segera dihapusnya sisa air mata yang masih ada, lalu tersenyum tanpa menoleh ke arah Ardi yang terus menguasai kemudi sambil sesekali memperhatikannya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedih saja mengingat sebentar lagi aku akan berpisah dengan Aura," jawab jujur Alya dengan wajah yang sudah menampakkan senyuman yang dipaksakan.
"Kita masih bisa berhubungan melalui telepon, Al. Dengan demikian kamu bisa terus memantau Aura setiap saat, dan sebaliknya aku bisa menghubungimu jika dia merengek mencarimu nanti."
Alya mendengar ucapan Ardi dan mulai merasa tenang kembali. Ardi benar, dia masih bisa bertemu dengan Aura melalui sambungan telepon setiap saat.
"Jadi ijinkan aku menyimpan nomormu dan sebaliknya, simpanlah nomorku agar sewaktu-waktu kita bisa saling menghubungi, terutama jika Aura mencarimu."
Akhirnya Alya mengangguk dan mengabulkan permintaan Ardi. Dia pun merasa lega karena nantinya masih bisa bertemu dengan Aura meski hanya melalui sambungan suara dan video.
"Terima kasih, Al." Ardi tak kalah senangnya karena sekarang dia bisa menyimpan nomor Alya seperti keinginannya.
.
.
.
Menunggu di depan ruang pemeriksaan dokter anak, mereka bertiga layaknya keluarga kecil yang bahagia. Ardi duduk di samping Alya yang masih menggendong Aura yang tetap terlelap di dalam dekapannya.
__ADS_1
Tak ada kata yang terucap namun sesekali pandangan mereka bertemu disertai getaran indah yang terus mereka rasakan di dalam hati.
Pintu ruangan terbuka dan terlihat seorang perawat memanggil nama pasien berikutnya sambil mempersilakan keluar pasien yang sudah selesai diperiksa.
"Alya ...," panggil seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
Jantung Alya seolah berhenti berdetak seketika saat melihat ke arah wanita yang mengendong bayi mungil di hadapannya. Wajahnya mendadak pias dan diliputi ketakutan, yang jelas terlihat oleh Ardi yang langsung berpaling menatapnya.
"Ada apa dengan Alya?"
Bukan wanita itu yang membuat Alya terkejut dan berubah sikap, melainkan seorang lelaki yang berdiri merapat di samping wanita yang memanggilnya tersebut.
Sekilas tadi, Alya sempat bersitatap dengan lelaki tersebut yang langsung membuat perasaannya melemah dan dipenuhi ketakutan luar biasa.
Diam-diam Ardi mulai waspada meskipun belum mengetahui apa yang sedang terjadi. Dia hanya mengkhawatirkan Alya yang berubah menjadi tegang dan pucat pasi. Gerak tubuhnya pun menunjukkan ketidaknyamanan yang sangat terlihat olehnya yang terus memperhatikan dari samping.
"Cindy ...." Sepatah kata terucap dari bibir Alya. Suaranya lirih dan bergetar sedemikian rupa.
Ya, wanita itu adalah Cindy yang menggendong bayi mungil yang dulu dia bantu proses kelahirannya. Dan lelaki di sampingnya adalah Riko, yang baru saja keluar dari penjara karena mendapatkan potongan masa hukuman.
Cindy yang sebenarnya masih ingin berbicara dengan Alya mengurungkan niatnya setelah melihat gelagat suaminya yang tidak baik dan perlu ditenangkan dengan segera.
"Maaf, aku harus segera pulang. Senang bertemu denganmu, Al. Mungkin di lain waktu kita bisa berjumpa lagi dalam situasi yang lebih baik." Dengan tutur kata setenang mungkin, wanita itu berpamitan pada Alya yang hanya membalasnya dengan satu anggukan kepala.
Sesaat Alya menatap bayi mungil yang digendong Cindy dan kembali menatap wanita itu seolah ingin menanyakan keadaan bayi itu namun tak terucap dalam kata-kata.
"Dia sehat-sehat saja. Kami membawanya kemari untuk melakukan imunisasi sesuai jadwal. Terima kasih atas perhatianmu." Cindy memberi tahu Alya agar mantan istri suaminya itu tidak lagi menatap bayinya dengan khawatir.
Alya kembali mengangguk lalu menundukkan pandangannya, menghindari tatapan Riko yang sejak awal terus tertuju ke arahnya.
Cindy segera mengajak Riko pergi dari hadapan Alya dan Ardi lantaran tidak ingin suaminya sampai bertindak di luar batas lagi seperti dulu.
Dia bahkan tidak sempat bertanya apa pun tentang keberadaan Alya yang dilihatnya menggendong bayi yang lebih besar dari bayinya, dan ada seorang lelaki tak dikenalnya yang duduk di samping dokter kandungan tersebut.
__ADS_1
Setelah kepergian Cindy dan Riko bersama bayi mereka, perlahan wajah Alya mulai terlihat tenang kembali meskipun masih tampak gurat kecemasan dan ketegangan di wajahnya. Duduknya pun sudah terlihat nyaman dan tidak panik lagi seperti sebelumnya.
"Kamu baik-baik saja, Al?"
Ardi memberanikan diri bertanya pada Alya yang sudah menampakkan senyuman di bibirnya sambil menatap lekat wajah Aura dan mengusapi pipi merahnya dengan lembut.
Alya hanya mengangguk tanpa sepatah kata dan tidak sedikit pun melihat ke arahnya. Sepertinya wanita itu masih menyembunyikan sesuatu darinya dan tidak ingin dia mengetahuinya.
"Aku merasa ada sesuatu yang membuatmu tidak baik-baik saja saat ini, Al. Tapi apa ...?"
Ardi mencoba menerka-nerka dan mengurai ingatannya tentang kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Siapa mereka? Mereka saling mengenal tapi ... entahlah, rasanya ada sesuatu yang lain yang sama-sama mereka tahan dan mereka sembunyikan."
Ardi menatap Alya dengan pandangan hangat dan penuh kasih. Dalam hati dia masih terus bertanya-tanya dan dipenuhi kecurigaan terhadap dua orang yang dilihatnya tadi, terutama sang lelaki yang hanya berdiri tegang dengan raut wajah tidak bersahabat sama sekali.
"Terlihat sekali kilat kebencian dalam sorot mata lelaki itu. Dia juga terus menatap Alya dengan tajam dan penuh amarah yang tertahan. Tapi mengapa ...? Apakah ada masalah di antara mereka? Ataukah dia adalah bagian dari masa lalu Alya?"
Berbagai kemungkinan mulai melintas dalam pikiran Ardi. Entah mengapa kali ini dia sangat mengkhawatirkan kondisi Alya. Tidak biasanya Alya bersikap seperti itu pada orang lain. Wanita itu selalu bersikap ramah dan penuh senyuman kepada siapa saja yang menyapanya di mana pun, entah dia mengenalnya atau tidak.
"Aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Al. Aku tidak ingin lagi melihatmu seperti tadi. Penuh ketakutan dan kecemasan. Aku hanya ingin melihatmu selalu tersenyum dan penuh kebahagiaan."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.