CINTA NARA

CINTA NARA
3.80. MELEPAS RINDU


__ADS_3

Genap satu minggu menunggu, akhirnya Nara mendapatkan titik terang tentang ke suaminya. Entah harus dikatakan kabar baik atau buruk, setidaknya dia bisa menemui Yoga yang sudah sangat dirindukan.


Bersama Ardi yang selama beberapa hari ini selalu meluangkan waktu untuk dirinya dan anak-anak, Nara menuju ke sebuah rumah di ujung kota, tak jauh dari rumah Dokter Danu yang sekarang ditinggali oleh keluarga Dokter Dani, putra sulungnya.


Pak Budi yang mengantarkan mereka, memilih diam sama halnya Ardi. Dari dokter kandungan itu, beliau sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Yoga.


Semoga Mbak Nara kuat dan bisa menguatkan anak-anak. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk keluarga mereka.


Sebelum sampai di rumah Dokter Dani, mobil berbelok memasuki halaman luas sebuah rumah yang desainnya tidak jauh berbeda dengan rumah lain di sekitarnya.


Tanpa banyak bicara, Ardi turun dan meminta Nara mengikutinya. Meski masih diliputi kebingungan, Nara patuh dan segera keluar dari mobil. Dia memperhatikan suasana di sana. Sejuk dan segar, sama seperti keaan pertama saat mengunjungi Dokter Danu kala itu.


Tapi ini rumah siapa? Rumah almarhum Dokter Danu ada di sana ....


Pandangannya beralih ke samping, menatap sebuah rumah yang berjarak tak terlalu jauh dan dibatasi oleh sebidang tanah perkebunan. Rumah yang dulu dia kunjungi bersama suami tercinta.


"Ayo masuk, Ra!" ajak Ardi yang sudah menunggu di ambang pintu.


Nara mengangguk dan melanjutkan langkahnya memasuki teras dan berhenti di belakang Ardi. Entah mengapa tiba-tiba hatinya mulai berdebar keras.


Ardi masuk ke dalam rumah yang sejak mereka datang tadi sudah terbuka lebar, diikuti Nara yang berjalan di belakangnya dengan perasaan yang semakin gelisah.


"Dok, ini rumah siapa dan mengapa kita datang kemari?" Nara memberanikan diri untuk bertanya pada Ardi.


Ardi masih terdiam hingga mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya masih tertutup rapat. Sebelum membukanya, dia menoleh ke arah Nara dan menatapnya dengan pandangan sayu.


"Aku harap kamu kuat setelah melihat apa yang ada di dalam sana, Ra. Persiapkan saja hatimu." Ardi memejamkan mata, tak sanggup melihat gurat kebingungan bercampur kecemasan di wajah Nara.


Dokter kandungan yang baru saja melepas masa dudanya tersebut menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, barulah kemudian dia membuka pintu ruangan yang merupakan sebuah kamar tersebut.


Pertama kali yang dilihat oleh Nara saat kakinya melangkah masuk ke kamar itu adalah Beno dan Indra. Keduanya tengah berdiri di samping pembaringan yang menyerupai tempat tidur khusus untuk pasien di rumah sakit.


"Mas Beno, Indra, kalian ada di sini?"


Keduanya menoleh bersamaan saat mendengar suara Nara. Di seberang mereka terlihat dua orang yang tidak dikenal Nara. Dari jas putih yang dikenakan sepertinya mereka adalah dokter.


"Mbak, aku dan Mas Beno di sini mengantarkan ...." Ucapan Indra terpotong karena ada suara lain yang mendominasi.


"Sayang ....!"


Jantung Nara berdegup kencang seketika. Wajahnya berubah tegang seraya mencari pemilik suara yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


"Mas ..., Mas Yoga?"


Ardi meminta Nara mendekat ke arah pembaringan. Sementara Indra dan Beno mundur dan menjauh, memberi tempat untuk wanita yang melangkah dengan penuh ketakutan itu.


Semakin dekat dengan tempat tidur, terlihat tubuh seseorang terbaring tak berdaya di sana. Hampir seluruh badannya terbalut perban dan gips, menandakan hal yang buruk dan sangat parah telah terjadi padanya.


"Astaghfirullahaladzim ... Mas!"


Dan semuanya berubah gelap bagi Nara. Wanita itu pingsan setelah menyadari siapa yang berada di sana dan memanggilnya.


.


.


.


"Maafkan aku karena tidak memberimu kabar selama ini. Maaf ... sudah membuatmu menunggu." Yoga berucap lirih. Dia menatap Nara dengan pandangan yang tak seterang sebelumnya.


Tangan yang biasanya kokoh dan selalu melindungi istri dan anak-anaknya, kini hanya bisa bergerak pelan. Yoga mencoba menyentuh wajah Nara yang dipenuhi air mata, dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya.


Hanya sesaat. Tenaganya telah habis terkuras. Setidaknya dia merasa lega dan bersyukur sebab masih bisa bertemu Nara, memandang dan menyentuh wajahnya.


"Kamu membohongi aku, Mas. Kamu bilang kamu akan menghubungiku setiap hari. Kamu juga tidak menepati janjimu pada Raga. Kamu berkata akan meneleponnya setiap pagi dan malam hari. Kamu tidak tahu, betapa takut dan khawatirnya aku ...!"


Nara masih terus terisak tanpa henti. Dia duduk lemas di samping pembaringan. Dia rindu lelaki di sampingnya. Sangat rindu. Namun dia tak bisa memeluknya seperti biasa. Jangankan memeluk, menggenggam erat tangannya pun tak bisa dia lakukan.


Mereka hanya bisa melepas rindu dengan saling memandang. Sentuhan pun hanya bisa mereka lakukan secara terbatas, mengingat Yoga masih sangat lemah dan tak bisa bergerak banyak.


Sejak Nara datang tadi, yang lainnya sengaja keluar dan memberi waktu pada pasangan suami-istri itu untuk bicara berdua.


"Bagaimana kabar anak-anak? Apakah mereka sehat? Maaf ... aku belum bisa menemui mereka dalam keadaan seperti ini," ucap Yoga dengan rasa bersalahnya.


Lelaki itu sangat merindukan kedua putra kesayangannya. Namun apa daya, kondisinya saat ini tidak menungkinkan jntuk bertemu mereka yang masih balita. Yoga tak ingin membuat mereka takut dan justru menjauhinya.


"Mereka sehat dan menunggumu, Mas. Raga setiap hari bermain bersama Aura di rumah Dokter Ardi. Dia pintar menyembunyikan perasaannya, sama seperti dirimu. Hanya Gana yang sering rewel di malam hari. Mungkin karena terbiasa bersamamu sehingga dia pun merasa kehilangan," terang Nara di antara isakannya yang masih terdengar.


Sekali lagi dia pandangi tubuh Yoga dan tangisnya tumpah kembali. Semua bayangan kejadian buruk muncul dalam benaknya. Entah apa yang sebenarnya dialami Yoga, Nara belum menanyakannya. Dia telanjur syok begitu melihatnya tadi.


Kedua kaki yang biasanya berjalan gagah dengan penuh wibawa, kini terbalut gips pada tempat yang berbeda. Pun dengan tangannya yang selalu menggenggam dan memeluk erat, sekarang penuh luka tertutup perban. Wajah dan seluruh tubuhnya pun tak jauh berbeda, penuh luka yang masih belum kering.


Nara merebahkan kepalanya di tepi pembaringan berbantalkan kedua tangan yang terlipat. Tangisannya semakin keras seperti kali pertama datang.

__ADS_1


"Sayang ... aku tidak apa-apa. Nanti juga akan sembuh. Meski mungkin tidak akan seperti dulu lagi ...." kata Yoga lemah. Melihat parahnya diri sendiri, dia tahu jika tidak akan bisa pulih sempurna.


"Aku harap kamu masih mau menerimaku dan mendampingiku dalam keadaanku yang tak lagi sama. Tapi ... jika kamu tidak sanggup maka aku ...."


"Jangan bicara seperti itu lagi, Mas! Kita ini suami-istri, selamanya kita akan selalu bersama dalam keadaan apa pun." Nara menegakkan tubuhnya dan menatap Yoga dengan pandangan tajam. Dia tidak suka suaminya bicara seperti itu.


"Maafkan aku. Bukan maksudku untuk meragukanmu, Sayang. Aku hanya merasa tidak pantas lagi untukmu. Apalagi jika nanti aku mengalami kecacatan akibat kecelakaan ini."


Yoga memejamkan mata. Membayangkan peristiwa tak terduga yang membuatnya menjadi seperti saat ini.


.


.


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana πŸ™πŸ’œ


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.



__ADS_1


__ADS_2