CINTA NARA

CINTA NARA
69 NYATA BUKAN MIMPI


__ADS_3

Satu minggu berlalu lagi, Nara dan bayinya sudah diijinkan pulang. Hanya Yoga yang masih terbaring lemah di rumah sakit, tanpa menunjukkan perubahan seperti yang diharapkan.


Sejak masih berada di rumah sakit sampai sudah pulang ke rumah, Nara setia menemani Yoga setiap hari. Dia selalu meluangkan waktu khusus untuk menjaga suaminya, di sela waktunya merawat dan menyusui sang bayi.


"Ga, sudah dua minggu lebih kamu seperti ini. Kapan kamu akan bangun?"


Nara mulai terisak. Dia tidak bisa menahan kesedihannya, setiap kali hanya berdua bersama Yoga di ruangannya yang senyap.


"Kamu pernah berkata, tidak akan membuatku bersedih dan menangis lagi. Tapi sekarang, kamu melakukannya lagi. Bahkan sangat lama ...."


Meraih tangan Yoga yang dingin dan lemas, Nara membawanya ke bibir dan menciuminya dengan lembut. Matanya terpejam meresapi setiap ciumannya di tangan sang suami.


Tak peduli tangan mereka yang dibasahi air mata, Nara terus mendekap tangan Yoga dan menempelkan di pipinya. Berharap dalam sekejap mata Yoga membalas dan menggerakkan tangannya.


Namun harapan itu hanya sebatas angan yang tak kunjung terwujud nyata. Yoga masih saja memejamkan sepasang matanya dan terlelap dalam tidur panjangnya yang tak berkesudahan.


Nara merasakan tubuhnya begitu lelah dengan mata yang mulai menutup. Direbahkannya kepala di tepi pembaringan tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Yoga.


Wanita itu mulai terlelap, tidur di samping sang suami yang masih diam di atas pembaringan.


Tanpa Nara tahu, saat dirinya pulas, Yoga menggerakkan jemari tangannya yang tergenggam Nara. Sedikit gerakan balasan spontan, seolah ingin membalas genggaman sang istri seperti yang biasanya dia lakukan.


Nara yang terlalu lelah, merasakan sentuhan itu seperti bagian dari mimpi yang tengah dialaminya. Dia tersenyum sembari tetap terlelap, dan semakin mempererat genggamannya.


Ada pergerakan di wajah Yoga. Pelan-pelan matanya mulai terbuka, beradaptasi dengan cahaya di sekitarnya, lalu mulai menajamkan pandangan, mencari sosok yang dirasakan ada bersamanya dan selalu setia menemaninya selama ini.


Wajah tampan itu mulai mengembangkan rona bahagia, saat melihat sang istri di sampingnya, terlelap terbuai lelah yang mendera, karena mendua perhatian untuk dua orang yang disayanginya, di dua tempat yang berbeda.


Bibir yang pucat dan kering itu mengulas sebuah senyuman bahagia, seraya menatap wajah sang istri yang rebah menghadap ke arah wajahnya.


Ingin rasanya membelai kepala sang istri, juga wajah yang sangat dirindukannya itu. Namun sayang, tubuhnya tiada daya dan tangannya masih berada dalam genggaman istrinya.


"Ra ...." Yoga mencoba membuka bibirnya memanggil Nara, akan tetapi tenggorokannya tercekat, kering dan parau, hingga tak sanggup mengeluarkan suara sama sekali.


Terus digerakkan tangannya, mencoba memberitahu Nara bahwa dirinya bangun dan melihatnya yang saat ini tengah terbuai mimpi yang setengah nyata dirasakannya.

__ADS_1


Yoga pasrah, tenaganya tiada. Bunyi dari alat monitor yang berubah lebih keras pun tak bisa membangunkan Nara yang begitu lelap dan lelah, setelah dua minggu berbagi waktu dan perhatian untuk suami dan si buah hati.


"Syukurlah kamu selamat, Ra. Dan bayi kita, pangeran kecil kita telah lahir dengan sehat dan selamat. Aku sudah menjadi ayah, kamu menjadi ibu, kita sudah menjadi orangtua."


Yoga terus berbicara tanpa suara, meskipun tak ada satu pun kalimatnya yang akan terdengar oleh Nara yang masih tertidur pulas.


"Terima kasih, Ra. Kamu adalah wanita yang kuat dan hebat. Aku bahagia memiliki istri sepertimu, meskipun aku terpaksa melakukan dosa besar untuk mendapatkanmu dengan cara yang tidak benar."


Nara menggeliat kecil seakan merespon ucapan Yoga yang ditujukan untuk dirinya. Tapi wanita itu tetap tak merasakannya apalagi mendengarnya. Dia masih tetap terlelap dan hanya bergerak sejenak untuk menyamankan posisinya.


Namun gerakan kecil yang Nara lakukan tadi tanpa sadar membuatnya merenggangkan genggaman tangannya, sehingga Yoga bisa menarik tangannya dari bawah tangan istrinya.


Dengan tenaga yang masih sangat lemah dan terbatas, Yoga mencoba mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kepala Nara.


Air mata mulai menggenangi pelupuk mata lelaki itu. Rasa bahagianya membuncah karena bisa melihat lagi wajah kesayangannya dan merasakan perhatian yang begitu besar dari wanita yang sangat dicintainya.


Dielusnya kepala Nara dengan rambut yang terurai menutupi sebagian wajah cantiknya. Hatinya bergetar indah diiringi desiran halus setelahnya.


Perasaan yang sama yang dirasakan Yoga, saat pertama kali dia bertemu dan melihat Nara. Perasaan yang luar biasa berkesan dan membekas indah di hati, saat dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Nara.


Tangan Yoga turun perlahan, menyibak rambut yang menutupi wajah sang istri, lalu memuaskan diri menatap wajah lelap yang selalu membayangi pikirannya setiap saat.


Menyentuh pipi Nara dengan lembut, mata Yoga mengerjap menghalau air mata yang memburamkan pandangannya.


Dibelainya pipi merah merona Nara yang menambah kecantikan alaminya saat tertidur, membuat jantungnya berdegup semakin kencang dan mulai menyesakkan dadanya. Dia terbawa perasaan haru hingga melambungkan emosi di hatinya.


Yoga mencoba menenangkan dirinya, meredam gejolak di dadanya dan menormalkan kembali detak jantungnya. Dia tahu harus bagaimana menguasai keadaan tubuhnya yang masih rentan dan beresiko.


Mencoba tersenyum di tengah gusar yang melanda sanubarinya, Yoga terus membelai pipi Nara dengan penuh cinta.


"Terima kasih sudah bersedia mengandung anak kita, melahirkannya dan merawatnya dengan kasih sayangmu yang tulus. Kamu adalah istri terbaik dan ibu terhebat, Ra."


Lambat laun tangannya mulai melemah kembali. Belaiannya terhenti, sentuhannya berakhir di atas pipi sang istri, seiring kedua matanya yang mulai menutup rapat.


Beberapa menit kemudian Nara terbangun dan mendapati dirinya masih berada di tempat semula dan dalam posisi yang tidak berubah.

__ADS_1


Dia mulai menyadari bahwa semua yang baru saja dia rasakan hanyalah serangkai mimpi indah sebatas bunga tidurnya semata.


(Aku hanya bermimpi. Bermimpi dia bangun dan menyapaku dengan sentuhan cintanya. Sentuhan yang selalu aku rindukan ....)


Nara hendak mengangkat kepala dan menegakkan tubuhnya, ketika tiba-tiba dia tersentak tak percaya, menyadari ada sesuatu yang terasa hangat menyentuh wajahnya.


Dia memegang pipinya yang menghangat dan terasa sedikit berat. Sontak matanya terbuka sempurna, membelalak tak percaya saat tangannya menyentuh tangan Yoga yang terkulai lemas di atas pipinya.


"Ga ...." Dia memanggil secara spontan.


Ditariknya pelan tangan Yoga dan ditatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ga, tanganmu bergerak, kamu menyentuh pipiku! Kamu bangun, Ga?"


Antara terkejut dan bahagia, Nara melebarkan senyuman di wajahnya yang masih tegang dan panik.


(Jadi, yang aku kira mimpi tadi ... adalah nyata? Kamu sungguh-sungguh bangun dan menyapaku, Ga?)


Buru-buru Nara berdiri dan menyentuh tombol hijau di atas pembaringan Yoga berulang kali. Dia tak sabar menunggu kedatangan dokter untuk memeriksa keadaan suaminya.


"Ga, bertahanlah dan kembalilah sadar! Aku di sini menunggumu ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2