CINTA NARA

CINTA NARA
2.44. ASA DAN SEMANGAT BARU


__ADS_3

"Alya ...."


Lelaki yang sudah lanjut usia itu memanggil lirih nama buah hati kesayangannya, putri satu-satunya, anak semata wayangnya.


"Papa ...."


Alya menghambur ke pelukan papanya yang terbaring dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya dan jarum infus yang menancap di punggung tangan kirinya.


Untuk beberapa saat mereka larut dalam pelukan kerinduan yang hangat dan penuh haru.


Papa Alya mengusapi kepala putrinya dengan tangan lemahnya, menyeruakkan rasa bahagia di hati bercampur rasa sesak di dalam dada.


"Kamu baik-baik saja, Al?" tanya Papa lirih membuat Alya menarik tubuhnya dari pelukan lelaki tua yang tengah dirundung duka dan penyesalan.


"Aku baik-baik saja, Pa."


Alya mengambil tangan kanan sang papa lalu mencium punggung tangannya dengan takdzim. Disunggingkannya senyum bahagia yang dibalas oleh senyuman kelegaan di wajah kedua orangtuanya.


"Mama ...."


Alya mengalihkan pandangan kepada mamanya yang sudah berdiri di sampingnya. Diciumnya tangan Mama lalu mereka pun berpelukan diiringi isak-tangis yang bersahutan dari keduanya.


Setelah puas melepas rindu, Alya kembali berdiri menghadap ke arah pembaringan di mana Papa sekarang meminta untuk duduk bersandar.


"Mengapa kamu menyembunyikan semuanya dari kami, Al? Mengapa tidak meminta perlindungan pada orangtuamu ini?"


Pertanyaan Papa membuat Alya menahan nafas seketika. Suaranya hilang tercekat, lidahnya pun terasa kelu. Pikirannya tidak terpusat dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf, Pa, Ma." Alya menunduk dengan rasa bersalah.


"Aku hanya tidak ingin menjadi beban pikiran Papa dan Mama lagi. Aku ingin Papa dan Mama selalu merasakan kebahagiaan saja, hanya itu."


Papa terlihat jauh lebih kuat dan tenang setelah Alya datang dan terlihat baik-baik saja tanpa kurang suatu apa.


Sebelumnya lelaki tua tersebut begitu terkejut setelah besannya yang tak lain adalah orangtua Riko, mantan mertua Alya, datang dan menyampaikan berita berikut bukti tentang kondisi pernikahan anak-anak mereka yang sebenarnya.

__ADS_1


Entah siapa pelakunya, yang sepertinya memang dengan sengaja mengirimkan dokumen tersebut. Siapa pun dia, terbaca jelas maksud dan tujuannya adalah untuk membeberkan kenyataan yang selama ini ditutupi dan disembunyikan oleh Alya dan Riko dari seluruh keluarga mereka.


Kenyataan tentang kehidupan pernikahan mereka yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pernikahan yang sedari awal tidak didasari oleh rasa cinta dari keduanya dan hanya terwujud sebagai bentuk kepatuhan mereka atas perjodohan yang dilakukan oleh orangtua Alya dan Riko.


Pernikahan yang dipenuhi dengan sikap kasar dan ringan tangan Riko terhadap istrinya sendiri. Pernikahan yang kerap kali diwarnai dengan perselisihan dan pertengkaran setiap hari tanpa henti.


Dan yang lebih parahnya lagi, Riko masih tetap menjalin hubungan dengan kekasih lamanya secara terang-terangan di depan mata Alya.


Sekian lama mencoba untuk tetap bertahan dalam pernikahan yang penuh kepalsuan dan ketidakadilan tersebut, akhirnya Alya memilih untuk berpisah setelah Riko juga memutuskan untuk menikahi kekasihnya.


Tapi ternyata, perceraian tidak lantas membuatnya bernafas lega begitu saja. Riko masih terus menguasainya dan meminta pertanggungjawaban Alya atas semua yang telah dilakukan orangtuanya untuk keluarga Alya, hingga Alya bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter kandungan.


"Kalau boleh aku tahu, siapa yang telah melakukannya?" Alya bertanya pada Papa dan Mama.


"Kami tidak tahu karena semua itu dikirimkan ke alamat keluarga mereka. Barulah kemudian ayahnya datang ke rumah dan memberitahu kami tentang semuanya."


Alya belum melihat bukti apa saja yang sudah diterima oleh keluarga Riko dan keluarganya. Tapi saudara seupupunya mengatakan bahwa terdapat dokumen perceraian mereka dan sejumlah foto.


Foto-foto yang memperlihatkan keseharian Riko dan istri barunya juga beberapa foto yang diperoleh dari rekaman cctv di rumah kontrakannya, yang menunjukkan sifat asli Riko yang selalu kasar dan main tangan kepada Alya serta memeras hasil kerja istrinya selama ini.


"Mengapa dia selalu meminta uang hasil jerih payahmu selama bekerja? Bukankah seharusnya dia yang wajib memberimu nafkah?"


Papa meminta air putih dan dengan cekatan Alya mengambilkan dan membantu meminumkannya kepada sang papa. Setelah selesai, barulah Alya menjawab pertanyaan papanya tadi.


"Riko mengatakan bahwa uang tersebut dijadikannya sebagai ganti rugi atas semua biaya hidup dan biaya pendidikan yang telah diberikan oleh orangtua Riko kepadaku dan keluarga kita."


Wajah Papa menunduk dengan penuh kesedihan dan penyesalan. Kalau saja dirinya dan sang istri mengetahui tabiat asli Riko sedari awal, pasti mereka tidak akan bersedia menerima perjodohan Alya dan Riko waktu itu.


"Padahal kami sudah melupakan semua itu dan sama sekali tidak mengharapkan balasan apa pun darimu juga dari keluarga kalian. Kami tulus melakukannya dan kami juga sangat menyayangimu, Al."


Alya dan kedua orangtuanya menoleh ke asal suara di ambang pintu ruangan yang telah terbuka.


"Ayah, Ibu!"


Alya berbalik dan segera menghampiri kedua orangtua Riko. Mereka berpelukan bergantian dan saling menumpahkan kerinduan lantaran sudah sangat lama tidak pernah lagi bertemu.

__ADS_1


"Maafkan kami yang tidak bisa mendidik Riko dengan baik sehingga dia menjadi anak yang sangat arogan dan penuh perintah." Ayah Riko menepuki bahu Alya membuat wanita itu mulai meluruhkan air mata.


"Kami tidak menyangka dia sedemikian teganya berbuat kasar dan semena-mena kepadamu. Maafkan kami, Al." Ibu Riko melanjutkan ucapan suaminya dengan berurai air mata.


Alya menggeleng cepat dan menampakkan senyuman manis di tengah tangisannya. Hatinya dipenuhi rasa haru atas sikap kedua orangtua Riko yang membuatnya sungkan dan semakin merasa bersalah.


"Saya yang harusnya meminta maaf kepada Ayah dan Ibu, juga Papa dan Mama karena tidak bisa menjaga dan mempertahankan rumah tangga kami. Maafkan atas kelemahan hati saya yang memilih untuk menyerah dan mengakhiri pernikahan kami."


Ruang perawatan Papa yang semula tenang sebelum kedatangannya, kini berubah ramai dan dipenuhi dengan suara isak tangis mereka semua yang berada di dalam sana.


"Kamu sudah melakukan hal yang benar dan mengambil keputusan yang tepat, Al. Kami mendukungmu meskipun kami telah sangat terlambat mengetahuinya."


Alya tersenyum dan mengangguk, menatap mereka satu per satu dengan hati yang lega. Setidaknya, sekarang dia tidak sendiri lagi. Ada keluarga dan orang-orang terdekat yang mendukung keputusannya.


Satu asa baru hadir di hati wanita itu. Asa untuk menata hari barunya esok dengan hatinya yang tidak lagi gelap dan suram.


Sekarang, ada banyak orang yang akan selalu menjadi kekuatannya untuk mengakhiri penindasan Riko kepadanya dan berani bertindak tegas untuk melawan lelaki itu.


Alya menghela nafas panjang dengan semangat baru di hatinya. Semangat untuk bangkit dan melepaskan diri dari belenggu masa lalunya yang penuh kesedihan dan air mata.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2