
"Dokter, ada pasien baru saja datang dalam kondisi sudah pembukaan enam."
Baru saja beristirahat sejenak setelah waktu prakteknya usai, Alya dikejutkan dengan kedatangan seorang perawat yang berbicara dengan tergesa-gesa.
"Apakah kondisinya mengkhawatirkan?"
Perawat yang datang tersebut menggelengkan kepala.
"Kondisinya stabil, Dok. Tapi dia ...."
"Jika kondisi pasien baik maka persalinannya bisa segera dipersiapkan!" Alya memberikan arahannya.
"Tapi dia bersikeras ingin bertemu dengan Dokter Alya lebih dulu." Sang perawat mengatakan apa yang didengarnya dari wanita yang datang untuk bersalin tadi.
"Apakah dia pasien di sini?"
"Iya, Dok. Dia adalah pasien Dokter Alya, limpahan dari Dokter Irfan."
Baiklah, kita ke ruang bersalin sekarang!"
Masih dengan langkah terbatas karena menggunakan satu tongkat penyangga, Alya tetap berusaha profesional dan memenuhi permintaan salah satu pasiennya tersebut.
Saat hendak masuk ke ruang bersalin di hadapannya, dokter berhijab anggun tersebut dikejutkan oleh keberadaan dua orang yang dikenalnya di depan ruangan.
"Alya ...."
"Mas Miko?" Miko, kakak satu-satunya Riko bersama istrinya berdiri dan menghampirinya.
"Tolong bantu Cindy, Al. Dia hendak melahirkan tetapi bersikeras ingin bertemu dulu denganmu. Dia yang meminta kami untuk mengantarnya kemari."
"Cindy? Jadi pasien itu adalah Cindy?" Kali ini perawat yang masih mendampingi Alya mengangguk membenarkan pertanyaan sang dokter.
Tanpa menunggu lagi, setelah menganggukkan kepala kepada Miko dan istrinya, Alya segera masuk dengan langkah cepat tak peduli sakit di kaki yang mulai dirasakannya karena memaksakan diri bergerak dengan cepat.
"Alya ...."
Di salah satu bilik, Cindy terbaring dengan kondisi lemah dalam posisi kaki yang sudah terbuka lebar, usai diperiksa bagian kewanitaannya oleh seorang bidan yang bertugas di sana.
Setelah berbicara sebentar dan mendengarkan penjelasan dari sang bidan, Alya mendekati Cindy dan berdiri di samping pembaringan.
"Cin, tenangkan dirimu. Jangan khawatir, putri kecilmu akan segera lahir. Kuatkan dirimu, sebentar lagi pembukaanmu akan lengkap dan kita bisa memulai proses persalinanmu."
Cindy tak terlalu mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Alya. Tangan kanannya meraih tangan Alya, mantan istri suaminya.
"Aku ingin minta maaf kepadamu, Al. Aku minta maaf karena tidak bisa mencegah perlakuan Riko kepadamu selama ini sehingga kamu selalu tersakiti olehnya dan menanggung banyak penderitaan karena perbuatannya."
__ADS_1
Cindy mulau terisak, bukan karena rasa sakit yang dirasakannya di bagian inti dan kontraksi yang terus datang menyerangnya semakin sering, melainkan karena penyesalan dan rasa bersalahnya pada Alya.
Perawat yang terus mendampingi Alya mengambil sebuah kursi dan memberikannya pada Alya, agar sang dokter bisa duduk dan mengistirahatkan kakinya.
"Aku sudah melupakan semuanya. Jadi aku minta, jangan lagi terbebani dengan kisah masa lalu kita."
Satu tangan Alya yang masih bebas mengusapi perut Cindy dan mencoba untuk terus menenangkan wanita mandiri tersebut, lantaran harus berjuang sendiri tanpa suami yang mendampinginya.
"Maafkan aku, Al. Aku mohon, maafkan aku ...!" Cindy terus mengharapkan maaf dari Alya.
Wanita itu tidak puas dengan jawaban yang didengarnya dari bibir Alya. Dia ingin memastikannya lagi demi untuk membebaskan hati dan pikirannya dari rasa bersalah yang masih membuatnya tidak tenang selama ini.
"Aku memaafkanmu, Cin. Tanpa harus kamu minta pun, aku sudah memaafkan kamu dan Riko sejak dulu. Lupakan semuanya. Kita buka lembaran baru hubungan persaudaraan kita setelah ini."
Kedua sudut bibir Cindy tertarik ke atas, mengulas sebuah senyuman tipis, tanda kelegaan hati atas maaf yang telah didengarnya terucap dari bibir Alya.
"Aaauuwhh ...!! Sakit sekali ...!!!"
Kontraksi yang dirasakan Cindy semakin tak terkira sakitnya hingga tanpa sadar dia mencengkeram tangan Alya yang tak ingin dilepaskannya sedari tadi.
"Periksa kembali pembukaannya, Sus!"
Tanpa ada bantahan, dengan segera bidan yang sejak awal tadi sudah mendampingi Cindy, kembali berkonsentrasi di bagian inti Cindy, disertai erangan kesakitan yang lolos dari bibir yang kering dan pucat tersebut.
"Sudah pembukaan delapan, Dokter!"
"Tekanan darahnya semakin menurun, Dok."
Alya berusaha untuk menahan kesadaran Cindy agar tetap terjaga dan tidak menyerah meskipun tubuhnya sudah mulai lemas dan kehabisan tenaga.
"Buka terus matamu, Cin! Jangan menyerah, kamu pasti bisa melahirkan secara normal. Sebentar lagi, ayo dengarkan aku dan teruslah berbicara untuk mengurangi kesakitanmu."
Cairan infus sudah terpasang dengan jarumnya yang menancap di punggung tangan kiri Cindy.
"Aku tidak kuat lagi, Al! Aku menyerah, aku ingin dioperasi saja .... Aku ... aku ..., aaauuwhh ...!!!"
Spontan Alya bangkit dan berdiri dengan melupakan tongkatnya yang masih tersandar di samping meja. Diabaikannya rasa sakit di pergelangan kaki yang masih rawan pasca operasi tersebut.
"Jangan bicara seperti itu lagi, Cin! Kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa. Tinggal selangkah lagi, kumpulkan tenagamu!"
Alya yang sebelumnya telah meminta disiapkan teh hangat segera membantu Cindy untuk meminumnya. Wanita yang penampilannya sudah sangat berantakan itu pasrah dan menuruti apa pun yang diminta oleh Alya.
Tak lama kemudian, erangan kembali keluar dari bibir pucatnya disertai wajah yang semakin terlihat kesakitan.
Bidan kembali memeriksa ke dalam bagian inti Cindy untuk memastikan kesiapannya.
__ADS_1
"Sudah pembukaan sepuluh, Dok! Kita bisa memulai proses persalinannya sekarang."
Alya mengangguk dan bersiap untuk melaksanakan tugasnya. Sebenarnya dengan kondisi Cindy saat ini, bidan masih bisa menangani semuanya.
Akan tetapi hati kecilnya tergerak untuk turun tangan sendiri membantu istri mantan suaminya yang tengah berjuang melahirkan putrinya ke dunia.
Peringatan perawat yang setia mendampingi tak dihiraukannya. Alya tetap bertahan dan bergeser perlahan hingga tubuhnya berdiri tepat di bagian bawah tubuh Cindy yang telah ditutupi kain berwarna hijau dalam posisi paha yang terbuka lebar dengan ditopangkan pada alat penyangga di kedua sisinya.
Setelah semuanya siap, Alya yang sudah melapisi tubuhnya dengan pakaian steril segera melaksanakan tugasnya dengan konsentrasi penuh.
"Ayo lakukan lagi, Cin. Tarik napasmu dalam-dalam dan keluarkan bersamaan dengan tekanan penuh di bagian bawah! Lakukan sekarang!"
Alya mulai berpeluh sama seperti Cindy yang lebih bermandi keringat di sekujur tubuhnya. Sesekali dia melihat ke atas, memperhatikan wajah Cindy yang telah merah-padam menahan kesakitan dan terus mengerang.
Bidan yang membantu di sebelahnya telah berpindah ke samping pembaringan, memegang tangan Cindy dan membantu wanita itu untuk kembali mengejan sekuat tenaganya.
"Sekali lagi, Cin! Kepalanya sudah terlihat. Mengejanlah, sekarang ...!!!"
Suara Alya yang meninggi memacu Cindy untuk ikut mengeluarkan seluruh sisa kekuatannya dan kembali mengejan sekuat tenaga.
"Ooweekk ...! Ooweekkk ...!! Oowweekkk ...!!!"
Terdengar lengkingan tangisan bayi Cindy untuk pertama kalinya, menggema di ruang persalinan tersebut.
"Alhamdulillah ...!! Putrimu sudah lahir dengan selamat, Cin. Dia sehat dan sempurna, tak kurang suatu apa pun."
Kedua tangan Alya yang terbungkus sarung tangan medis memegang bayi merah yang masih berlumuran darah itu. Pandangannya takjub dan dipenuhi rasa syukur, karena telah berhasil membantu proses kelahiran bayi cantik Cindy dan Riko, mantan suaminya.
Perlahan Alya berpindah ke samping untuk menunjukkan bayi merah itu kepada ibunya yang masih setengah sadar akibat kelelahan hebat usai menghabiskan tenaga untuk melahirkan putri cantik yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih.
"Lihatlah, Cin. Bayimu sangat cantik. Secantik dirimu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.