
Pukul 11.30 Wib , di kediaman rumah Nara.
Arif begitu tergesa - gesa mendatangi rumah Nara. Ia amat mengkhawatirkan Nara dan ibunya. Setelah mendapat izin dari atasannya ia langsung pulang. Pulang sebentar ke rumah untuk menukar motor dengan mobil milik ayahnya.
Setibanya di rumah Nara, tampak Nara sekeluarga sudah duduk di teras rumah. Mereka memang sengaja menunggu Arif. Ketika melihat mobil Arif terparkir di depan pagar rumah mereka. Nara , ibu dan ayah langsung menghampirinya dan membawa semua tas yang akan mereka bawa. Kali ini ayahnya Nara ikut serta untuk memberikan penghormatan terakhir pada anak sambungnya ini.
Arif mengantar Nara sekeluarga ke bandara Fatmawati. Ibu masih saja tak berhenti menangis sepanjang perjalanan itu. Nara berusaha menguatkan ibu yang berada di sampingnya. Sedangkan ayah hanya bisa menatap iba pada ibu dari balik kaca spionnya.
Arif juga tak banyak bicara. Ia hanya diam saja sambil mengemudikan laju mobilnya. Suasana diam hening, hanya sesekali ayah yang berbicara di samping Arif.
Arif mengemudikan laju mobil dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian tiba di bandara fatmawati. Dengan berbekal tiket yang dibeli melalui jasa traveloka online. Nara sekeluarga berangkat ke Jakarta.
Setelah check- in dan mendapatkan nomor kursi yang tertera dalam tiket boarding pass. Nara sekeluarga berangkat naik pesawat lion air.
Panggilan naik pesawat pun tiba. Berbondong bondong Nara sekeluarga dan awak penumpang lainnya yang mau berangkat berjalan menuju pesawat.
Dikarenakan waktu check - in mepet maka Nara, ibu dan ayah terpaksa terpisah tempat duduknya. Ayah sendiri di depan , sementara ibu harus duduk di belakang ayah.
Setelah membantu menemukan kursi ayah dan ibu nya. Barulah Nara mencari nomor kursinya. Ia harus duduk di kursi paling belakang, nomor 34 E. Saat Nara telah menemukan kursinya. Dan meminta seorang pria yang duduk di kursi no 34 D untuk berdiri. Pria bertopi itu tampak menundukan kepala dengan kedua tangannya menangkup di meja.
__ADS_1
"Permisi Pak ..., permisi Pak , " panggil Nara pelan sampai meninggi suaranya.
Pria bertopi itu tidak menyahut juga. Karena tidak ada respon. Nara memberanikan diri menepuk bahu pria itu.
Saat di tepuk , pria itu mulai terbangun. Ia langsung melihat seseorang yang menepuk bahunya. Dan ternyata seseorang yang amat di kenalnya.
" Nara ... , oh ... kamu rupanya, " jawabnya dengan mata terbelalak.
" Kamu ... , " keluar suara dari Nara. Ia tak pernah menyangka kalau ia akan duduk berdua dengan orang yang amat di kenalnya, Angga.
Angga lalu menaruh kembali meja yang ia gunakan ke tempat semula, di jok belakang kursi penumpang depannya. Setelah itu ia langsung berdiri dari kursinya. Sehinggah Nara bisa duduk di sebelahnya.
Nara enggan menyapa Angga. Begitu pula Angga. Ada perasaan bersalah Angga ketika menatap wajah Nara. Ia telah melukai hati gadis yang dulu amat dipuja dan dicintainya.
Nara pun demikian. Ia masih merasakan sakit hati saat ia tahu Angga telah bertunangan dengan seseorang. Belum hilang rasa sakit hatinya saat ia di tinggal oleh Angga begitu saja.
Namun mengapa lelaki ini selalu menggangu hidupnya. Nara tak habis pikir, kenapa sosok ini selalu menghantui hidupnya. Dan ... kini ia bersamanya lagi.
Nara yakin pasti seseorang telah memberi tahu perihal meninggalnya Dina, tapi siapa ?Apa mungkin papa langsung yang memberi tahu Angga. Hah ... ini tidak mungkin. Tidak mungkin papa akan melakukannya, gumam Nara dalam hatinya.
__ADS_1
Angga mau pun Nara walaupun mereka saling diam. Namun mereka berdua sebenarnya tahu apa maksud mereka ke Jakarta , yaitu sama - sama mau melayat Dina. Mau melihat terakhir kali sosok yang sama - sama mereka sayangi.
Perjalanan udara selama satu jam amat menyiksa Nara. Ia pura - pura tidur selama berada dalam pesawat. Angga juga demikian.
Perjalanan ini begitu lama membuat keduanya tersiksa.
Jauh di lubuk hati Angga ia sebenarnya masih mencintai Nara. Namun karena ia di tentang oleh ibunya Nara, maka ia terpaksa meninggalkan Nara. Tak berapa lama setelah itu, Dina muncul kembali di hidupnya. Apa salah jika Angga menerima Dina kembali. Toh ... dulu mereka pernah pacaran. Pacaran cinta monyet ala anak SMP.
Kemudian terdengar suara pramugari lewat pengeras suara yang memberi tahu bahwa pesawat akan segera mendarat di bandara Sukarno Hata. Suara pramugari itu memecah lamunan Angga dan Nara.
Lalu tiga orang pramugari keluar dari belakang tempat duduk pilot dan co - pilot menghampiri para penumpang. Meminta semua penumpang untuk merapikan meja dan menjaga sabuk pengaman agar selalu terjaga sampai pesawat benar - benar berhenti. Seluruh awak penumpang disuruh bersiap - siap karena pesawat akan segera mendarat di bandara Sukarno Hatta.
Tiba di bandara Sukarno Hatta pukul setengah dua siang. Angga kemudian memberanikan dirinya untuk bertanya pada Nara sebelum Nara di jemput oleh mobil jemputan papanya.
"Nara ... aku ikut kamu ya. Aku ingin melihat Dina untuk terakhir kalinya. Aku mohon, " pinta Angga.
Nara hanya menganguk saja apa yang diminta oleh Angga. Lalu ayah dan ibu berjalan mengikuti Angga dan Nara menuju pintu keluar kedatangan. Menunggu jemputan yang akan menjemput mereka.
Mobil pajero hitam yang dikendarai oleh Pak Rizal akhirnya datang juga. Ia di suruh langsung oleh Pak Donnie menjemput Nara sekeluarga langsung menuju rumah duka, rumah kediaman Pak Donnie Prambudya ....
__ADS_1