CINTA NARA

CINTA NARA
2.57. BERTINDAK TEGAS


__ADS_3

"Beri dia pelajaran! Pastikan dia tidak berkutik lagi, baru kalian serahkan pada pihak yang berwajib!"


Nara yang baru masuk setelah mengembalikan cangkir ke ruang pantri, terkejut mendengar ucapan keras suaminya pada seseorang melalui sambungan telepon.


"Mas ...." Dia memanggil pelan dengan sedikit was-was.


Yoga yang duduk dengan memutar kursinya membelakangi pintu, menoleh ke arah kedatangan istrinya dan mengangguk untuk memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.


"Laporkan padaku setelah semuanya selesai!"


Yoga menutup panggilan teleponnya dan meletakkan ponsel di atas meja kerja, lalu berdiri dan menghampiri istrinya yang masih berwajah cemas.


Nara memang selalu bersikap demikian setiap kali melihat Yoga berbicara keras atau tengah meluapkan amarahnya kepada seseorang. Wanita itu tidak suka jika suaminya bersikap arogan dan di luar kendali.


"Maafkan aku, Sayang." Dipeluknya Nara dan dicium kepalanya dengan lembut. "Ada hal penting yang harus segera aku selesaikan."


Nara membalas pelukan itu dengan pelukan penuh kehangatan dan kasih sayang. Pelukan yang membuat emosi Yoga mereda dan kembali bersikap tenang.


"Aku tidak mau kamu terlibat masalah apa pun. Ingat Raga, Mas."


Yoga mengangguk di tengah pelukan mereka. Nara memang selalu mengingatkannya untuk bersikap bijak dan menanggapi segala sesuatu dengan kepala dingin.


"Aku tidak akan melewati batasanku, Sayang. Aku janji!"


Raga selalu menjadi alasan utama Nara karena sekarang mereka berdua sudah menjadi orangtua dan mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mendidik Raga dengan sebaik-baiknya.


Segala apa pun yang mereka perbuat akan menjadi panutan dan bahan tiruan bagi bocah kecil kebanggaan mereka yang sudah semakin aktif dan pintar menirukan ucapan dan perbuatan orang-orang di sekitarnya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Yoga sembari menarik wajahnya untuk menatap bidadari kesayangan yang selalu meneduhkan hatinya.


"Katakan dulu padaku, apa yang kamu bicarakan di telepon tadi, Mas?"


Yoga menghela nafas panjang dan sedikit ragu untuk mengatakannya pada Nara.


"Mas?"


"Baiklah. Ini tentang Dokter Alya dan kecelakaan yang dialaminya."


Nara merenggangkan pelukan mereka dan menatap Yoga lebih lekat. Dia mulai bisa menebak arah pembicaraan suaminya, setelah mengaitkannya dengan telepon yang baru saja diterima Yoga tadi.


"Jangan katakan jika ...." Nara menggantung ucapannya dengan ragu.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Dokter Alya tidak jatuh sendiri karena terpeleset, tapi ...."


"Tapi ada yang sengaja ingin mencelakainya? Benar seperti itu, Mas?" Nara menyahut pernyataan suaminya dengan cepat dan Yoga pun mengangguk.


"Kamu yakin, Mas?"


"Orang kepercayaanku sudah memastikan semuanya dan sudah memegang bukti untuk membawanya ke pihak kepolisian."


Nara tahu, Yoga tidak akan bertindak lebih jauh jika tidak mempunyai bukti yang kuat di tangannya.


"Sudah, Sayang. Jangan memikirkan hal itu lagi. Sebaiknya kita pulang sekarang."


Yoga mendekap erat tubuh istrinya dan memberikan ciuman yang cukup lama di keningnya, menandakan bahwa dirinya butuh ketenangan dan kenyamanan untuk menghalau pikiran berat yang tengah membebaninya.


Nara sudah mengerti dan memahami kebiasaan suaminya. Lelaki itu akan bersikap lebih lunak dan manja setiap kali menghadapi sebuah masalah, baik di kantor maupun di luar pekerjaannya.


Wanita itu membiarkan suaminya memuaskan ciuman dan pelukannya selama yang dia mau, sampai akhirnya Yoga melepaskannya sendiri dengan perasan yang sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu mengerti dan memahamiku tanpa aku harus mengatakannya atau memintanya."


Nara tersenyum dan mengangguk pelan. Dilabuhkannya satu ciuman penutup di bibir Yoga dan saling menikmatinya untuk sesaat, sebelum keduanya bersiap untuk pulang dan bertemu dengan Raga kesayangan mereka.


.


.


.


Sementara kedua wanita itu naik menuju ke ruang perawatan Alya, Yoga dan Alam memilih untuk menunggu istri mereka di kedai kopi yang terletak di salah satu sudut lobi.


"Apakah orang itu sudah ditangkap?" tanya Alam yang telah mendapatkan informasi tentang pelaku yang mencelakai Alya hingga dokter berhijab itu menderita luka parah di kedua bagian kakinya.


"Sudah, Mas. Orang kepercayaanku masih menahannya dan memberinya pelajaran serta balasan setimpal lebih dulu, sebelum besok dia akan diserahkan kepada pihak yang berwajib."


Alam mengangguk dan mengacungkan ibu jari tangannya. Dia setuju dengan langkah yang diambil oleh Yoga. Mereka sama-sama membenci lelaki yang ringan tangan dan temperamental terhadap wanita, apa pun alasannya.


"Bagaimana dengan Dokter Alya? Aku rasa dia tidak akan menuntutnya dan memilih untuk menyudahi masalah ini."


Alam yang sudah lebih lama mengenal Alya, mengetahui sifat pemaaf dan kesabaran yang dimiliki dokter anggun tersebut.


"Setidaknya polisi sudah memproses laporan yang masuk dan menahannya. Jika Dokter Alya tidak ingin menuntutnya, biarlah pihak yang berwenang yang akan memutuskannya kemudian."

__ADS_1


Di saat Yoga dan Alam tengah berbincang mengenai pelaku yang sudah tega mencelakai Alya, Nara dan Embun bersama pasien yang mereka sambangi sudah terlibat pembicaraan lain di luar topik tersebut.


Bertiga mereka memilih untuk membahas tentang pekerjaan Alya setelah dia keluar dari rumah sakit nanti.


"Aku ingin tetap bekerja saja semampuku. Jika hanya berdiam diri di rumah dan menunggu hingga kedua kakiku sembuh, maka itu akan membutuhkan waktu cukup lama."


"Aku tidak mungkin meninggalkan pasienku dan melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku akan mengajukan permohonan pada pihak rumah sakit dan klinik untuk meminta keringanan dalam menjalankan tugas dan kewajibanku."


Nara dan Embun hanya bisa mengangguk dan mengiyakan rencana dokter kandungan mereka tersebut.


"Apa pun yang menurut Dokter baik, maka kami akan selalu mendukung," ucap Nara dengan senyuman tulusnya.


"Katakan saja kepada kami jika Dokter membutuhkan bantuan sewaktu-waktu." Embun menambahkan dengan wajah lembut keibuannya.


"Terima kasih banyak. Aku sangat bersyukur bisa mengenal dan berteman baik dengan kalian berdua. Kesederhanaan kalian dan apa-adanya sikap kalian membuatku merasa nyaman berada di antara kalian."


Mereka pun melanjutkan obrolan ringan malam itu dengan pembahasan seputar rencana kehamilan Nara dan Embun yang sudah mereka dambakan, namun belum Allah kabulkan sampai saat ini.


Untuk sejenak Alya bisa melupakan semua beban di hatinya. Meskipun setelah Nara dan Embun pamit pulang beberapa saat kemudian, semuanya kembali seperti semula.


Kesendiriannya, kesepiannya dan kesedihannya kembali menjadi teman setianya sepanjang waktu.


"Sampai kapan aku akan menjalani kehidupan seperti ini? Sampai kapan aku harus bertahan dengan tekanan dan siksaan darinya?"


Alya mengingat Riko dan semua perbuatannya selama ini. Tadinya dia sudah merasa lega dan bisa menjalani hari-harinya dengan lebih tenang.


Namun ternyata pikirannya salah. Mantan suaminya itu belum juga berhenti mengganggunya, meskipun seluruh perbuatannya sudah diketahui oleh keluarga mereka.


"Haruskah aku bertindak tegas kali ini dan mengabaikan perasaan kedua keluarga kita? Haruskah aku melaporkanmu atas semua perbuatan burukmu kepadaku selama ini, agar kamu benar-benar berhenti mengusik kehidupanku??"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2