
"Bagaimana dengan Dokter Alya, Mas? Apa dia masih terus bersama dengan Dokter Rendy saat menemani Aura?"
Nara merapikan pakaian kerja Yoga dan melipat krah kemejanya yang masih berantakan. Setelah memastikan semuanya sempurna, dibantunya sang suami menyisir rambut.
Wanita itu mengaturnya dengan gaya yang tidak terlalu rapi namun tetap berkesan menawan. Gaya yang sangat disukainya. Rapi namun tetap terlihat apa-adanya.
"Tidak, Sayang. Aku belum bertemu dengannya lagi sejak malam hari kami bertemu saat pertama kali memeriksakan Aura."
"Biasanya mereka terlihat bersama saat berangkat dan pulang kerja. Apa ada masalah setelah Dokter Ardi datang kemari?" terka Nara dengan dugaan yang ada di dalam pikirannya.
Yoga menggelengkan kepala dan memikirkan sesuatu yang berbeda.
"Mungkin bermasalah dalam hal waktu saja. Toh mereka juga tidak menjalin hubungan selain pertemanan, bukan? Jadi ada atau tidak adanya Ardi, mereka akan tetap menjadi teman, tidak lebih."
Nara mengerti maksud dari ucapan suaminya. Kalaupun sekarang Alya meluangkan banyak waktunya untuk orang lain, tidak akan menjadi sebuah kesalahan baginya karena dokter kandungan itu tidak memiliki kewajiban apa pun atas hubungannya dengan Rendy.
"Yang aku lihat Dokter Alya selalu siap di samping Aura. Bahkan Aura pun sangat lengket dengannya dan tidak mau jauh darinya. Mereka layaknya pasangan ibu dan anak yang sangat dekat." Yoga melanjutkan ceritanya.
"Benarkah?" Nara terlihat senang mendengar kabar dari sang suami yang dianggapnya sebagai kabar baik itu.
"Seperti itu yang aku lihat. Sayangnya dia masih menutupi semuanya dari Ardi. Padahal Ardi juga mulai memberi perhatian pada Dokter Alya meskipun terus ditahannya agar tidak berlebihan, karena yang dia tahu, Dokter Alya masih bersuami dan hidup bahagia."
"Menurutmu, apakah masih ada kemungkinan bagi mereka untuk saling membuka hati lagi, Mas? Bukankah sebenarnya mereka berdua masih saling menyimpan rasa cinta?" tanya Nara antusias.
Yoga mengangguk dengan yakin sesuai dengan apa yang dirasakannya.
"Aku sebenarnya menginginkan hal itu terjadi, Sayang. Melihat Aura yang sakit dan hanya bersama Ardi, aku merasa kasihan dan tidak tega pada mereka. Tapi kembali lagi, semua tergantung pada Ardi dan Dokter Alya."
Nara menyusul duduk di samping suaminya yang tengah mengenakan sepatu. Di tangannya sudah siap tas yang akan dibawa Yoga pergi ke kantor.
"Aku akan mengatakan kebenarannya pada Ardi. Dia berhak tahu semuanya karena ini juga berhubungan dengan pesan terakhir Bunga kepadanya dan juga kepada kita."
Kepada keduanya terutama Nara, Bunga menitipkan Aura untuk tetap dekat dengan keluarga mereka. Bunga juga meminta kepada mereka untuk meyakinkan Ardi agar bersedia kembali pada Alya dan membahagiakan wanita masa lalu suaminya tersebut.
"Mungkin kejadian ini adalah salah satu jalan yang dibukakan oleh Allah untuk menyatukan Ardi dan Dokter Alya."
Yoga mengambil tas dari tangan Nara kemudian mengusap kepala sang istri sebagai tanda terima kasih.
__ADS_1
"Kedatangan Ardi dan Aura kemari, pertemuannya kembali dengan Alya dan sakitnya Aura di sini, aku rasa semua itu saling berhubungan dan memang sudah diatur oleh Allah untuk menuntun hati mereka agar bisa bertemu dan bersama kembali."
Berdiri dan mengenggam tangan Nara dengan erat, Yoga mengajaknya untuk keluar dari kamar.
"Aura akan menjadi pengikat di antara mereka agar selalu dekat dan kembali menyatukan hati."
.
.
.
Setelah mendapatkan telepon dari Nara, Yoga kembali ke rumah sakit saat tiba jam makan siang. Istri tercintanya sudah menyiapkan makan siang dan mengirimkannya ke rumah sakit agar bisa dinikmati bersama Ardi dan juga Alya jika dokter anggun tersebut ada bersama mereka.
Saat memasuki ruang perawatan yang pintunya terbuka sebagian, Yoga diam-diam memperhatikan Ardi dan Alya yang tengah bermain bersama Aura di atas pembaringan.
Lelaki itu tersenyum menyaksikan pemandangan sempurna di hadapan mata, tatkala ketiganya tertawa bahagia dan terlihat begitu menikmati kebersamaan mereka.
"Akan aku pastikan kalian bertiga selalu bersama dan bahagia seperti ini. Kalian berhak mendapatkannya, setelah masa-masa sulit dan semua yang sudah kalian lalui sebelumnya."
Dilihatnya di atas meja sudah tertata sajian makan siang yang dikirimkan Nara melalui Pak Budi sebagaimana yang disampaikannya tadi.
Yoga mengambil air minum dalam botol kemasan yang tersedia lalu membukanya dan meneguknya pelan-pelan.
Ardi mulai menyadari keberadaannya setelah menoleh dan mendapati sang sahabat kecil sudah menikmati minuman seorang diri.
"Ga, sejak kapan kamu datang?" tanya dokter duda itu diikuti Alya yang juga mengalihkan pandangannya sesaat untuk menyapa Yoga dengan senyumannya, kemudian kembali bermain bersama Aura yang duduk dengan aktif dan ceria.
"Sejak tadi," jawab Yoga singkat membuat Ardi dan Alya salah tingkah karena merasa kebersamaan mereka telah diperhatikan oleh ayah dua putra tersebut.
"Temanilah Pak Yoga makan siang dulu. Biar Aura bersamaku di sini," ucap Alya dengan suara lembutnya hingga Ardi tak kuasa membantah dan mengikuti saja permintaan wanita anggun itu.
Ardi dan Yoga mulai menikmati makan siang buatan Nara dengan lahap. Sesekali Ardi menoleh ke arah pembaringan dan memperhatikan sang putri kesayangan yang tetap ceria bermain bersama Alya di sana.
Bibirnya mulai mengulas sebuah senyuman saat melihat pemandangan hangat yang entah mengapa membuat hatinya merasa sangat bahagia.
Yoga memperhatikan tingkah sahabatnya dan semakin yakin bahwa Ardi mulai membuka hatinya kembali. Kehadiran Alya di saat-saat berat seperti ini nyatanya membawa perubahan baik untuk lelaki satu putri itu.
__ADS_1
Mungkin masih sangat jauh untuk memikirkan sebuah hubungan baru. Tapi setidaknya, pertemuan dengan Alya menjadikan sang sahabat lebih bahagia menjalani kehidupannya bersama sang putri saat ini.
"Jangan larut dalam kesedihan dan rasa kehilangan yang terlalu lama, sehingga melemahkan dirimu dan membuatmu melupakan masa depan."
Ardi menoleh dengan wajah terkejut setelah mendengar ucapan Yoga yang lirih dan hanya ditujukan untuknya.
"Apa maksudmu?" tanya lelaki itu dengan menyembunyikan kegugupannya.
"Kamu sudah tau apa maksudku. Apa pun yang membuatmu bahagia, aku pasti akan mendukungmu," jawab Yoga dengan tatapan tajam yang menghujam perasaan Ardi.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan, Ga" elak sang sahabat dengan tingkah yang tidak tenang.
Yoga tersenyum dan memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Dibiarkannya Ardi dengan pembelaannya yang tak ingin dia tanggapi.
"Aku bukan lelaki perusak rumah tangga orang lain," sanggah Ardi lagi dengan keyakinannya.
"Aku tahu," jawab Yoga singkat dan membuat Ardi semakin salah tingkah.
"Aku tidak mungkin merebutnya dari seseorang yang telah memilikinya lebih dulu." Ardi terus menyanggah dengan lirih, khawatir jika Alya sampai mendengarnya.
"Seandainya dia masih sendiri seperti dulu, apa kamu akan membiarkannya dimiliki oleh lelaki lain?"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1