CINTA NARA

CINTA NARA
2.87. SESUAI HARAPAN


__ADS_3

Jadwal pemeriksaan kandungan Nara tiba. Ditemani sang suami yang sangat menjaganya, Nara pergi ke klinik di mana Alya bertugas.


Saat memasuki pintu utama, mereka berpapasan dengan Rendy yang hendak pulang usai mengantarkan Alya ke klinik.


Karena merasa mengenalnya dan pernah bertemu sekilas saat berasa di ruang pemeriksaan Alya bulan lalu, Nara tersenyum dan menganggukkan kepala saat bersitatap dengan dokter itu.


Melihat keduanya saling menyapa tanpa kata, Yoga pun melakukan hal yang sama. Setelah itu, Rendy berlalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari teras klinik.


"Kamu mengenalnya, Sayang?" tanya Yoga sambil mengajak istrinya duduk di depan ruang pemeriksaan untuk menunggu giliran mereka.


"Dia dokter yang aku ceritakan padamu dulu, Mas. Dokter tulang yang tengah dekat dengan Dokter Alya." Nara menyamankan duduknya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka di atas pangkuan Yoga.


"Apakah Dokter Alya juga menyukainya?" tanya lelaki itu lagi.


"Aku tidak tahu, Mas. Waktu itu Dokter Alya tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berkata jika mereka sedang menjalani hubungan yang lebih dekat setelah sebelumnya berteman baik."


Yoga sebenarnya sudah mengetahui sedikit cerita tentang Rendy saat mendapatkan laporan tentang kehidupan Alya dan masalahnya dengan mantan suaminya dulu. Namun dia tidak berbuat apa-apa dan cukup tahu saja karena itu semua merupakan urusan pribadi Alya.


"Mas, sepertinya mereka serasi jika menjadi pasangan hidup. Dua dokter spesialis yang sama-sama baik dan berprestasi."


"Riwayat kehidupan rumah tangganya pun sama, berakhir dengan perceraian karena kesalahan pasangannya," lanjut Yoga dalam hati.


"Semoga kehadiran dokter itu bisa membuka hati Dokter Alya dan membuatnya melupakan perasaan lamanya pada Dokter Ardi yang sudah lebih dulu hidup bahagia bersama istri dan bayi kecil mereka di sana."


Yoga hanya mengangguk mengiyakan harapan Nara untuk kebahagiaan dokter kandungan yang sudah menjadi sahabat istrinya tersebut.


Pintu ruangan kembali terbuka bersamaan dengan seorang pasien keluar. Perawat memanggil nama Nara dan mempersilakan pasangan suami-istri itu masuk lalu menutup pintunya.


"Selamat siang, Dokter. Bagaimana kabar Anda?" Nara lebih dulu berpelukan dengan Alya yang berdiri sudah menyambut mereka dan saling memberikan ciuman di kedua pipi.


Yoga menganggukkan kepala saat Alya menyapanya kemudian, dan mempersilakan keduanya duduk di hadapan sang dokter.


"Kabarku baik dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi dengan kedua kakiku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas bantuan kalian selama ini."


Mengakhiri perbincangan pembuka mereka, Alya mempersilakan Nara menuju bilik dan berbaring di sana untuk dilakukan pemeriksaan. Yoga mengikuti sang istri dan berdiri siaga di sampingnya.


Perawat membantu mempersiapkan semuanya sampai Nara siap untuk diperiksa. Alya pun memulai pemeriksaan rutinnya untuk mengetahui kondisi janin di dalam kandungan Nara.


"Baiklah, ini dia janin kalian." Alaya menghentikan putaran transduser di permukaan perut Nara dan menunjukkan titik di layar monitor yang bentuknya sudah menyerupai biji kacang.

__ADS_1


"Sudah semakin terlihat jelas, bukan? Sepertinya dia tumbuh dengan baik dalam waktu satu bulan ini."


Alya memperbesar ukurannya sehingga Nara dan Yoga bisa melihat lebih jelas pergerakan janin kecil itu yang menunjukkan tanda perkembangannya.


"Syukurlah, janin kalian sangat kuat dan tumbuh sebagaimana harapan kita. Semuanya normal dan sehat, sesuai usianya saat ini, menjelang sepuluh minggu."


Nara dan Yoga saling memandang dan mengungkapkan kebahagiaan mereka melalui senyuman lebar yang menghiasi wajah keduanya.


Alay sibuk mengukur dan memeriksa semua hal yang berkaitan dengan pertumbuhan janin di dalam kandungan Nara untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik saja.


"Semuanya berkembang sesuai harapan kita. Janinmu tumbuh dengan baik, Ra. Selamat, ya! Selamat juga untuk Anda, Pak Yoga."


Lagi-lagi Yoga hanya mengangguk sembari terus menggenggam tamgan istrinya dan memperhatikan layar monitor di samping pembaringan.


Tak lama kemudian, Alya mempersilakan pasangan di hadapannya untuk mendengarkan dengan seksama denyut jantung janin yang kali ini sudah bisa terdekteksi dengan alunan suara yang menggetarkan hati Nara dan Yoga.


"Inilah detak jantung dari janin kalian. Salah satu tanda vital kehidupannya sudah bisa kalian dengarkan dengan jelas dan teratur, menandakan perjalanan kehidupannya telah dimulai dari sekarang."


Yoga mencium kening Nara tanpa sungkan di hadapan Alya dan perawat yang mendampingi mereka. Disekanya air mata yang mengalir si kedua pipi sang istri yang masih terus diliputi keharuan dan kebahagiaan yang membuncahkan hati.


Alya meninggalkan mereka dan kembali ke mejanya. Dia menuliskan seluruh hasil pemeriksaannya pada berkas laopran kesehatan milik Nara sembari menunggu pasangan itu kembali dari bilik pemeriksaan.


"Oleh karena itu, kalian terutama kamu, Ra, harus tetap menjaga pola makan dan istirahatmu dengan baik. Jangan banyak beraktivitas dulu, sampai berakhirnya trimester pertama ini."


Nara dan Yoga yang sudah kembali duduk, mengangguk bersamaan dan mendengarkan dengan serius semua penjelasan dan pengarahan yang disampaikan oleh Alya.


Karena pasien Alya masih cukup banyak, keduanya pun segera pamit setelah menerima secarik resep dari dokter kandungan yang murah senyum tersebut.


"Jaga kesehatanmu, Ra. Hubungi aku kapan pun kamu membutuhkan bantuan atau ingin berkonsultasi seputar kehamilanmu."


.


.


.


"Aku sangat bahagia, Mas. Allah begitu cepat memberi kita kepercayaan berikutnya tanpa harus menunggu lebih lama lagi."


Malam harinya, Nara duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membuka kuncian layar ponsel di tangannya. Dia membuka artikel seputar kehamilan dan mencari tahu banyak hal yang ingin dipelajarinya untuk diterapkan dengan baik dan disiplin selama kehamilannya kali ini.

__ADS_1


Sesuai saran Alya, dia masih harus menjaga aktivitas hariannya demi janin kecil yang sedang berjuang untuk terus tumbuh dan berkembang lebih kuat lagi di dalam rahimnya.


Lagipula, Yoga jauh lebih mengkhawatirkan dia dan kandungannya, sehingga pergerakannya benar-benar dibatasi dan terus diawasi sepanjang hari.


"Maka dari itu, kita harus selalu menjaga kehamilanmu ini sebaik-baiknya. Aku ingin kalian berdua sehat selalu, Sayang."


Yoga duduk di samping sang istri, menemaninya beristirahat sembari memangku laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Jika sudah mengantuk, tidurlah lebih dulu. Jangan menungguku karena masih ada beberapa laporan yang harus aku periksa."


Sebelum berkonsentrasi pada pekerjaannya, Yoga terlebih dahulu memberikan pelukan hangat penuh cinta pada sang istri yang langsung membalasnya dengan pelukan yang sama eratnya.


Untuk sesaat Nara bermanja di tempat ternyamannya, memejamkan mata dan meresapi pelukan mereka. Wanita itu tersenyum bahagia merasakan ciuman yang terus diberikan Yoga di puncak kepalanya tanpa henti.


Setelah puas bermanja pada sang suami, Nara melepaskan pelukannya. Yoga tersenyum seraya membelai lembut wajah bidadari kesayangannya dan memberikan ciuman sayang di kening Nara.


Ciuman itu akhirnya turun hingga menyentuh mesra bibir manis kesukaannya dan berlanjut dengan gerakan lembut keduanya yang semakin dalam dan semakin basah, saling menuntut dan ingin terus saling memuaskan.


"Aku mencintaimu, Sayang. Selalu mencintaimu dan selamanya mencintaimu."


Yoga membersihkan bibir istrinya dengan jemari tangannya. Terakhir, dikecupnya dengan singkat bibir yang selalu membuatnya lupa waktu itu.


"Aku juga mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu dan semakin mencintaimu."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2