CINTA NARA

CINTA NARA
3.36. BERAT UNTUK BERPISAH


__ADS_3

Alya membawa Aura ke ruangan pribadinya di belakang ruang pemeriksaan diikuti oleh Ardi yang membawakan tas perlengkapan putrinya.


Setelah makan siang di tempat yang dipilihkan oleh Alya, dalam perjalanan menuju ke klinik Aura tertidur di pangkuan Alya. Oleh karena itu sesampainya di klinik, dokter berhijab anggun itu membawa Aura untuk beristirahat di ruangannya bersama sang ayah.


"Kalian bisa beristirahat di sini. Tapi maaf, ruangannya kecil seperti ini." Alya membaringkan Aura di atas tempat tidur seukuran dipan yang biasa dipakainya untuk melepas lelah usai bertugas.


"Tidak apa-apa, Al. Terima kasih sudah mengizinkan kami menunggumu di sini, walau sebenarnya kami bisa pulang untuk beristirahat di rumah Yoga." Ardi mengambil selimut dari dalam tas perlengkapan lalu membentangkan di atas tubuh mungil putri kesayangannya yang terus terlelap.


Alya membuka pintu penghubung dan masuk ke sana, lalu berbicara dengan perawat yang sudah menunggu untuk mendampingi tugasnya kali ini. Saat kembali, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menjalankan pekerjaannya.


Ardi duduk di sofa kecil yang disediakan lalu bersandar ke belakang dan memejamkan matanya yang mulai terasa lelah dan berat. Pikirannya mulai melayang hendak terbang ke alam mimpi ketika tiba-tiba kesadarannya kembali saat mendengar suara Alya yang lembut dan lirih.


"Ardi ...."


Lelaki itu membuka mata dan mendapati Alya berdiri tak jauh darinya dan memaku pandangan ke arahnya dengan tatapan lembut disertai sebuah senyuman yang menghiasi wajah ayunya yang terlihat lebih segar usai merapikan penampilan di kamar mandi.


"Aku tinggal dulu. Beristirahatlah juga kalau kamu lelah. Maaf jadi merepotkanmu seperti ini." Alya membawa serta ponselnya dan sudah berbalik untuk membuka pintu, saat Ardi memanggilnya.


"Alya ...!"


Sang pemilik nama menoleh dan mendapati seulas senyuman yang sudah tampak di bibir dokter duda itu sambil menatapnya dengan teduh dan hangat. Hampir saja wanita itu kembali terhanyut dan ingin berlama-lama menatapnya lagi. Namun akhirnya dia masih bisa menguasai perasaannya yang dipenuhi getaran indah penuh cinta.


"Selamat bertugas." Hanya itu yang ingin dikatakan Ardi untuk mengiringi Alya memulai pekerjaannya. Wanita itu mengangguk dan memberikan senyuman sesaat yang tetap saja membuat hati Ardi berdebar-debar tak terkendali.


Alya menghilang di balik pintu penghubung, meninggalkan lelaki yang masih terpesona dengan senyuman yang menghiasi wajah wanita cinta pertamanya. Ardi kembali memejamkan matanya dan membayangkan lagi wajah penuh senyuman yang baru saja dilihatnya.


Rasanya sangat berat untuk pergi dan berpisah darimu, setelah hampir satu minggu kita menjalani hari-hari bersama dan mulai membuka hati untuk saling jujur akan perasaan di antara kita.


.

__ADS_1


.


.


"Ga, apakah kamu bisa menbantuku untuk mencari seeorang yang bisa menjaga Alya di sini?" tanya Ardi dengan mimik muka serius bercampur gelisah.


"Jujur saja aku tidak bisa tenang setelah mengetahui perilaku lelaki itu dan bagaimana dia melukai Alya selama ini. Bukan hanya secara fisik namun juga membuat psikisnya terganggu akibat kekerasan yang dia alami sekian lama dan tak berkesudahan."


Setelah meninggalkan Alya di rumah sakit, Ardi membawa Aura pulang dan beristirahat di rumah Yoga, sambil menunggu malam tiba. Dia akan kembali menjemput dokter anggun itu lalu mengantarkan pulang untuk yang terakhir kalinya, sebelum besok pagi mereka berpisah entah untuk berapa lama.


Aura sudah tidur nyenyak di kamar tamu ditemani Raga yang seharian tadi terus mencarinya. Bocah tampan keturunan Mahendra itu akhirnya ikut tertidur di samping Aura di bawah pengawasan Mbak Indah yang terus mendampingi mereka berdua.


"Jangan khawatir. Selama ini aku sudah meminta beberapa orang untuk menjaganya dan melindungi dia dari kemungkinan buruk yang akan dilakukan lagi oleh lelaki itu."


Dengan tenang Yoga menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya untuk melindungi Alya, sejak pertama dia tahu bahwa dokter kandungan istrinya itu adalah seseorang yang sangat berarti di masa lalu sahabat kecilnya.


Selain alasan itu, Yoga melakukannya karena dia tidak bisa melihat kekerasan terhadap seorang perempuan apa pun bentuknya. Oleh karena itu setelah mengetahui banyak hal tentang kehidupan Alya, ayah dua putra itu segera menyiapkan beberapa orang untuk berada di sekitar dokter berhijab anggun tersebut.


Ardi tersenyum lega setelah mengetahui bahwa selama ini wanita terkasihnya sudah berada di dalam perlindungan orang yang tepat seperti Yoga.


"Terima kasih, Ga. Meskipun sebenarnya aku marah kepadamu karena telah menyembunyikan semua ini dariku sekian lama, tapi setidaknya kamu juga sudah membantuku untuk melindunginya sehingga semua bisa segera diakhiri dan Alya akhirnya terlepas dari belenggu kekejaman lelaki tak beradab itu."


Yoga tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya yang mengungkapkan kemarahan kepadanya. Dia tahu bagaimana Ardi karena itulah dia berani mengambil tindakan tersebut untuk melindungi keharmonisan rumah tangga sahabat kecilnya.


"Jika sejak dulu kukatakan padamu, aku tidak yakin kamu bisa menahan diri untuk tidak mempedulikannya sama sekali walau hanya sebagai seorang teman. Perasaanmu telanjur terikat sangat erat dengan hal-hal yang berhubungan dengan cinta masa lalumu itu."


Ardi tidak bisa mengingkari itu. Yoga memang mengetahui semua cerita cintanya dulu, meskipun tidak pernah mengenal wanita itu secara langsung sebelumnya. Dan ternyata takdir Allah yang justru mempertemukan Yoga dan Nara dengan Alya yang menjadi dokter kandungan di kota tempat keluarga Yoga menetap sekarang.


"Sekali lagi terima kasih, karena selama ini sudah melindungi Alya sekaligus menjaga keluargaku. Kamu memang sahabat yang terbaik!"

__ADS_1


.


.


.


Tepat pukul delapan malam, Ardi sudah sampai di depan ruang pemeriksaan Alya. Pasien sudah tidak lagi terlihat di sekitarnya, menandakan bahwa dokter kandungan itu sudah menyelesaikan seluruh tugasnya hari ini.


Dengan hati yang kembali berdebar tak menentu, Ardi mengetuk pintu yang masih tertutup rapat di hadapannya. Terdengar suara lembut Alya mempersilakan masuk sehingga lelaki itu segera membuka pintu perlahan kemudian menunjukkan dirinya dan mengucapkan salam.


Ardi tersenyum begitu melihat Alya duduk di bangkunya masih dengan jas putih yang dikenakan di tubuhnya. Terlihat sangat menawan dan sarat pesona, tak jauh berbeda seperti dulu. Hanya saja sekarang dia terlihat semakin dewasa dan dipenuhi aura kebaikan.


Sebelumnya Ardi memang belum pernah melihat Alya menggunakan pakaian seperti itu, sehingga kali ini pandangannya cukup dalam karena mengagumi penampilan Alya yang berbeda dan penuh daya tarik. Mungkin itu juga yang membuat dokter berprestasi tersebut begitu disegani dan disayangi oleh banyak pasiennya, selain dari sikap ramah dan kelembutan hatinya pada semua orang.


Sejak dulu kamu selalu mengagumkan di mataku, Al. Dan sekarang, melihat penampilanmu yang seperti ini aku semakin terpikat padamu dan tidak akan melepaskanmu lagi untuk selamanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2