
Reyna memulai sarapannya bersama kakek dan nenek. Baru setengahnya makan, si embak datang menghampiri nya.
"Non, dicari Den Rangga diminta ke kamarnya." Si embak memberitahu.
"Emm iya mbak bentar aku selesaikan makan dulu." Reyna buru-buru menyelesaikan makanannya.
Nenek dan kakek saling menatap dengan tersenyum.
Seusai makan Reyna berpamitan dengan kakek dan nenek. "Kek, nek, Reyna kesana dulu ya." Kakek dan nenek hanya mengangguk.
Reyna menuju kamar Rangga kemudian mengetuk pintu kamar Rangga.
"Tok...tok...tok...!"
"Masuk." Terdengar suara dari dalam.
Reyna membuka pintu lebar-lebar kemudian masuk ke kamar Rangga tanpa menutupnya kembali.
"Ada apa, Ga? Tanya Reyna sambil melihat ke nampan yang berada diatas nakas. Rupanya dari tadi makanannya belum dimakan sama Rangga.
"Hehee...suapin dong. Tangan ku masih sakit ni yang lecet." Rangga merajuk.
Reyna terdiam menatap tajam ke arah Rangga. Kemunculan Rangga akhir-akhir ini membuat Reyna seperti menguak kembali perasaannya dahulu yang sudah lama ia lupakan. Melihat sikap Rangga yang seolah-olah mencari perhatiannya, membuat Reyna meragukan ketulusannya. Reyna masih ingat betapa playboynya dia dulu semasa SMP.
__ADS_1
Yang ditatap justru malah balik menatap. Persis seperti kebiasan Rangga dulu, Reyna semakin kesal. Reyna berpaling mengambil piring diatas nakas sambil membuang kasar nafasnya. Ia mengambil kursi kemudian duduk disamping tempat tidur Rangga.
Reyna menyuapi Rangga dalam diam. Malas berdebat dengannya. Sampai makanan habis keduanya masih terdiam. Rangga menjadi gemas sendiri melihat diamnya Reyna.
"Na, diem aja sih dari tadi, marah ya?" Tanya Rangga.
Reyna tidak menjawab dan hanya menggeleng. Hal itu membuat Rangga semakin gemas.
Saat Reyna hendak berdiri menaruh piring tiba-tiba tangan Rangga reflek menarik lengan Reyna hingga terjatuh ke tepi tempat tidur dengan bahu menempel ke dada Rangga. Reyna terkejut dengan membulatkan matanya dan mulut sedikit terbuka. Pandangan mereka bertemu dan jarak mereka sangat dekat.
Beberapa saat mereka terdiam. Rangga seperti terbawa suasana dan tergoda melihat bibir ranum Reyna. Rangga memajukan kepalanya semakin mendekat ke wajah Reyna. Semakin mendekat dan hampir saja mengenai bibir Reyna, namun hal itu tidak terjadi manakala Reyna berpaling membuang mukanya kesamping. Reyna secepat kilat berdiri meletakkan piring diatas nakas dan berjalan keluar kamar meninggalkan Rangga yang terpaku menyaksikan kepergian Reyna.
Rangga mengusap mukanya dengan kasar menyadari perbuatannya. Tanpa ia sadari nenek sudah masuk dan duduk di kursi yang Reyna duduki tadi.
"Ehh...nek." Rangga terkejut.
Rangga nampak lama berpikir, ia tidak tau harus menjawab apa. Pertemuannya dengan Reyna adalah hal yang tak terduga.
Selama satu bulan ini ia sedang lost contact dengan pacarnya. Rangga marah karena Putri sering pergi bersama teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. Putri merasa tidak bersalah karena tidak ada hubungan yang special diantara ia dan laki-laki lain. Akhirnya mereka bertengkar dan saling mendiamkan.
Rangga dan Putri berpacaran dari semenjak masih di bangku SMA. Tentu saja putus nyambung itu sudah hal biasa bagi mereka.
Jika ditanya perasaannya saat ini, tentu saja ia masih mencintai Putri. Namun kehadiran Reyna sedikit menggoyahkan perasaannya.
__ADS_1
Flashback on...
Pov. Rangga
Saat pertama kali dia mengatai aku cowok cengeng, aku benar-benar kesal sama anak itu. Namun kalau diperhatikan saat dia tersenyum mengejek ku, mukanya sungguh lucu menampakkan gigi gingsulnya.
Rambutnya lurus, hitam panjang dan pipinya yang cubby terlihat sangat manis. Membuatku betah memandanginya, apalagi saat bertemu dengan tatapan matanya yang indah. Aku suka saat menjahilinya, ketika marah ia terlihat semakin cantik.
Namun aku merasa ada yang berbeda dengan akhir-akhir ini, sepertinya iya mulai menghindari ku. Saat aku melihatnya, ia selalu membuang muka, tatapannya seperti sedang marah terhadapku. Aku bingung apa salah ku.
Setiap meja kita berdekatan selalu saja iya meminta Dina yang bersampingan dengan mejaku. Bahkan meskipun satu kelas kita tidak pernah lagi berbicara satu sama lain.
Pernah satu kali ia mendatangiku.
"Ga, foto ini boleh nggak buat aku." Tanya Reyna.
Setelah satu abad nggak saling bicara, itu kalimat pertama yang iya katakan. Dia membawa album foto ku yang aku ambil saat study tour. Tadinya album foto itu dipinjam sama Dina.
Dia menunjuk foto Hendra teman beda kelas sekaligus tetangga ku. Aku sedikit terkejut, hal itu membuat dadaku sesak. Aku membuang muka kemudian aku mengajak bicara Ferdi dan tertawa-tawa tanpa menghiraukan keberadaannya.
Tak berapa lama gantian Dina yang datang meminta hal yang sama. Sebenarnya aku ragu, mengiyakan permintaan Dina sama saja memperbolehkan Dina memberikan foto itu pada Reyna.
Akhirnya aku menyetujuinya. Supaya iya merasa kesal bahwa aku tidak mengabaikan Dina seperti aku mengabaikannya. Ternyata benar tatkala Dina berhasil membawa foto itu, mukanya terlihat sangat kesal sambil melihat tajam ke arahku. Kemudian aku tertawa puas melihatnya.
__ADS_1
"Hahahhahhahhh......"
Flashback off....