Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Kemalangan bertubi-tubi


__ADS_3

Rangga masih berdiri di atas balkon. Ia memikirkan mimpinya barusan. Dalam mimpinya ia melihat Reyna berlarian dengan kaki terpincang-pincang dan kemudian terpeleset ke dalam jurang. Reyna berteriak meminta tolong, hingga akhirnya ia terbangun karena merasa mendengar suara keributan.


Rangga menjadi resah dan sangat khawatir dengan keberadaan Reyna saat ini yang entah berada di mana. mungkinkah ia sudah berada di Jakarta saat ini. Seharusnya ia kemarin tidak terbawa emosi dan meminta penjelasan terlebih dahulu atas apa yang ia lihat. Bagaimana jika ia salah paham tentang istrinya.


"Ga, sedang apa?" suara dari belakang menyadarkannya.


Rangga segera berbalik, mungkinkah istrinya datang, "Reyna...!"


Shit! Bahkan saat ini kamu masih berharap dia lah yang datang! batin Putri


Rangga sangat kecewa ternyata bukan Reyna melainkan Putri.


"Oh, maaf. Aku fikir kamu..." ucapnya terhenti karena Putri langsung memotongnya.


"Tidak apa-apa, Ga. Aku hanya mampir sebentar untuk menemui Mami. Mami bilang kamu sakit, makanya aku sempatkan untuk menengok keadaanmu. Syukurlah jika kamu sudah merasa lebih baik," ucap Putri dengan kecewa di hatinya. Namun ia terap memperlihatkan seulas senyum di bibirnya.


"Terima kasih sudah datang, jika senggang datanglah bertemu Mami. Mami sangat kesepian semenjak kamu tak lagi datang ke sini," ungkap Rangga.


Huh, kamu bahkan tidak lagi mengharapkan ke hadiranku, lantas untuk apa aku bersusah payah datang jika hanya untuk bertemu ibumu! Akan aku buat kamu merasakan kehilangan orang yang kamu cintai, sebagaimana aku kehilangan cintamu!


"Tentu," ucap Putri dengan tersenyum sinis.


"Ohya, Ga. Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?


Dahi Rangga berkerut mendengar pertanyaan Putri, "Apa Mami bercerita sesuatu padamu?"


"Emm, sedikit. Kamu bisa berbagi cerita sama aku jika kamu mau, siapa tau aku bisa bantu," tawar Putri.


"Emm..terima kasih, Put. Kamu memang selalu pengertian," Putri tersenyum senang mendengarnya.


"Tapi, untuk kali ini aku yakin bisa mengatasinya sendiri."


Putri meremas jari-jemari di balik punggungnya. Rangga seolah memberi batasan diantara mereka bahwa Putri bukan siapa-siapa lagi. Dan tidak mengijinkan Putri untuk ikut campur dengan kehidupannya lagi.

__ADS_1


"Emm... baiklah, semoga masalahmu cepat terselesaikan. Aku pulang dulu ya, Ga. Aku masih ada urusan," Putri merasa sangat kecewa dengan penolakan Rangga.


"Iya, Put. Hati-hati di jalan ya!"


Putri menoleh ke arah Rangga kemudian mengangguk. Ia berjalan ke luar meninggalkan kamar Rangga dengan tersenyum sinis.


Aku cukup puas melihat istrimu menderita di tangan ibumu sendiri. Dia juga harus merasakan sakit yang aku rasakan!


Sepeninggal Putri, Rangga menghubungi nomor kantor dengan telepon rumah di kamarnya.


"Ya, ini Rangga. Tolong sambungkan pada Doni," ucap Rangga pada bagian FO yang mengangkat telepon.


Setelah menunggu beberapa saat kemudian telpon tersambung pada Doni.


"Hallo, Bos. Kenapa telpon lewat kantor, Biasanya lewat HP, Bos?" tanya Doni.


"Iya, HP gue rusak, Don. Belikan HP baru buat gue, kalau sudah buruan kirim ke rumah!" titah Rangga.


"Iya, Bos. siap laksanakan. Bos di rumah Solo kan?" tanya Doni.


"Iya, Bos. Maaf-maaf, saya kan nggak tau, Bos."


"Oya, sama tolong pesankan tiket ke Jakarta buat besok, Don." perintah Rangga.


"Oke bos, laksanakan!" telpon di matikan.


Rangga masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka laci mejanya. Mengambil foto Reyna yang di simpannnya sejak SMP.


"Aku yakin Allah sudah mentakdirkan kamu untukku Reyna. Nggak akan ada laki-laki lain yang bisa merebutmu dari ku!" gumam Rangga menemeluk foto Reyna erat. Ia sangat merindukan istri tercintanya.


****


Reyna menyusuri halaman masjid setelah capek berputar-putar dengan taxi yang tadi di tumpanginya. Ia bingung harus pergi kemana, jika ke Jakarta itu artinya ia harus mencari tempat tinggal lain karena Mami melarang Reyna untuk kembali ke rumah Kakek, sedangkan jika kembali ke rumah Bibi, Reyna takut akan membebani Bibinya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Stasiun Balapan Solo. Reyna berjalan ke masjid yang berada di depan stasiun, bersebelahan dengan pintu masuk ke stasiun.

__ADS_1


Di sini cukup ramai orang berlalu-lalang, namun di masjid cukup sepi. Mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul setengah dua sehingga tidak banyak orang yang berada di masjid. Hanya beberapa yang masih duduk-duduk santai di luaran masjid. Reyna menitipkan kopernya di loker. Kemudian beranjak menuju tempat wudhu. Setelah itu ia letakkan sling bag di atas tempat sujudnya kemudian mengenakan mukena. Reyna memulai melaksanakan sholatnya. Dua raka'at tlah terlaksana, saat duduk diantara dua sujud ada yang baru datang dan melaksanakan sholat. Reyna merasa ada orang yang mondar-mandir di belakangnya namun tidak ia hiraukan. Saat selesai salam, ia baru menyadari jika sling bagnya hilang. Reyna menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada siapa-siapa. Reyna benar-benar panik. Pasalnya dompet beserta kartu debit ada di sana semua. Bahkan handponenya pun berada di dalam sling bagnya.


Masyaa Allah, siapa yang telah tega mencuri di dalam masjid. Ya Allah aku harus bagaimana sekarang!


Reyna bingung ke sana kemari namun tak menemukan ada orang. Ia bingung hendak bertanya kepada siapa karena diluar masjid mendadak sepi. Orang yang tadi duduk-duduk di depan masjid sudah tidak ada. Reyna bergegas mengambil kopernya di dalam loker kemudian hendak keluar dari masjid. Ia akan bertanya pada satpam yang ada di stasiun namun saat ia beranjak sedang memakai sendal, ada yang mendorongnya dari belakang dengan sangat keras hingga ia jatuh tersungkur ke lantai. Kakinya kanannya keseleo.


Reyna tidak menghiraukan orang yang telah menabraknya. Namun yang ia rasakan saat ini adalah kaki kanannya sangat sakit seperti terkilir.


"Arghhh...sakiiit!"


"Tolong...tolong saya!" teriak Reyna sambil merunduk memegangi kakinya yang terasa nyeri.


Beberapa orang yang berada di stasiun akhirnya mendekat ke arah Reyna.


"Kenapa, Mbak?" tanya seorang ibu yang melihat Reyna seperti menahan sakit.


"Tolong Bu, kaki saya sangat sakit!"


"Tadi ada yang mendorong saya dari belakang, tolong saya....!" ucap Reyna, matanya sudah mulai berkaca-kaca menahan sakit.


Sungguh malang nasibnya hari ini. Sudah jatuh tersungkur ke lantai dua kali , di tambah barusan tasnya juga hilang di curi. Sekarang ia tak memiliki uang sepeserpun juga tak bisa menghubungi orang yang di kenalnya. Dan sekarang kakinya terkilir, terasa sakit untuk di gerakkan apa lagi untuk berjalan.


"Maaf ada apa, Pak?" tanya seorang pemuda yang berdiri di belakang kerumunan.


"Itu Mas, ada wanita yang kakinya terkilir setelah terjatuh di dorong orang yang tidak di kenal," ujar seorang bapak-bapak.


"Benarkah ?"


"Coba saya lihat!" pemuda itu menyibak kerumunan.


"Aduh, sakit Bu!" rengek Reyna saat seorang ibu mengoles minyak angin di kakinya.


"Maaf, coba saya lihat," ucap pemuda itu kemudian menempati ruang yang tadi di tinggalkan seorang ibu tua yang dari tadi menolong Reyna.

__ADS_1


"Kakimu harus diluruskan, naikkan ke atas koper, ini" titah pemuda itu, kemudian ia mengambil air mineral dingin yang kemudian di kompreskan kepada kaki Reyna yang terkilir.


"Kakimu terkilir cukup parah hingga terjadi pembengkakan, kemungkinan seminggu baru bisa di pakai jalan normal," ujar sang dokter yang kemudian melihat ke arah Reyna dengan seksama, ia nampak terkejut menyaksikan wajah Reyna dari dekat.


__ADS_2