
Tangan Fely gemetaran sembari memegang handphone. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi Abiyu, namun teleponnya tidak diangkat. Dia mencoba menghubungi ke nomor Reyna, namun yang terdengar adalah suara dari operator.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."
Fely semakin bingung, pasalnya tadinya dia tidak ingin memberitahukan hal ini terlebih dahulu kepada bunda, karena takut bunda shock. Namun, karena yang lain tida bisa dihubungi akhirnya sekarang tidak ada pilihan lain selain menelepon bunda.
Telepon tersambung, namun pada dering ke dua tiba-tiba handphone Fely mati. Ternyata handphone Fely low battery.
"Gimana, Fe?" tanya Rahma kepada Fely.
"Handphone sa-saya habis daya, Tante," tutur Fely dengan suara yang terbata-bata karena sesenggukan akibat menangis terus.
"Sudah nikahkan saja mereka sekarang juga, Pak RT!" seru seorang warga memprovokasi sehingga memicu yang lainnya ikut angkat suara, hingga suasana menjadi semakin semrawut.
Pak RT pun semakin terdesak oleh warga yang bersikeras menginginkan mereka dinikahkan secara siri saat itu juga.
Akhirnya malam itu Fely dan Raka dinikahkan saat itu juga oleh wali hakim yang merupakan seorang pemuka agama setempat.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Raka Arvian Subrata. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Felycia Salsabila binti Almarhum Ali Ahmad dengan maskawin nya berupa uang senilai lima ratus ribu rupiah dibayar tunai," ucap sang wali hakim.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Felycia Salsabila binti Almarhum Ali Ahmad dengan maskawin nya berupa uang senilai lima ratus ribu rupiah dibayar tunai," qobul oleh Raka.
Pak Hj. Rosidi, kemudian bertanya pada warga.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah!" seru warga yang menyaksikan nikah siri itu berlangsung.
Derai air mata Fely semakin deras mengalir tatkala mendengar kata sah di telinganya. Bagaimana mungkin nasibnya sial begini, di nikahkan dengan cara hina atas tuduhan berzina, padahal dia sama sekali tidak melakukan apa pun.
Sungguh kejamnya fitnah yang dituduhkan kepadanya. Bahkan bibirnya pun belum pernah tersentuh oleh laki-laki. Bagaimana bisa dia dikatakan berzina. Bukankah pengantin harusnya menjadi ratu sehari dihari pernikahannya?
__ADS_1
Impiannya untuk menikah dengan berdandan yang cantik dan mengenakan gaun putih yang indah pupus sudah. Yang harusnya didudukkan di kursi pelaminan yang didekorasi dengan baik oleh seorang wedding organizer, senyum bahagia terpancar pada setiap tamu yang menghadirinya, namun apa yang terjadi padanya, hanya isak tangis, cacian, desakan, dan tuduhan yang keji sebagai seorang pezina.
Bunda, kakak, tolong Fely! Fely takut, Fely harus bagaimana? Fely tidak mau pernikahan yang seperti ini! jeritan suara hati Fely di dalam batinnya.
"Nggak ibu, nggak anak nasibnya sama saja, ujung-ujungnya nikah siri," celetuk salah seorang warga kembali memprovokasi yang lainnya.
"Bikin malu desa kita saja!"
"Anak muda jaman sekarang tidak tahu akhlak!"
Deg.
Cacian demi cacian terlontar begitu saja dari beberapa orang yang berbicara di belakang, namun masih bisa terdengar.
Rahma, merasakan sakit di dalam dadanya mendengar perkataan itu dari mulut orang lain. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi kepadanya, namun bisa menilai sesuka hati mereka. Meskipun memang benar dia menikah siri tapi dia tidak melakukan itu karena hanya sebatas menghindari zina. Mana ada orang yang berharap dinikahi secara siri ketimbang secara resmi.
Seseorang memang pandai menilai keburukan orang lain alih-alih menyadari keburukannya sendiri. Meskipun rasanya begitu panas di telinganya namun dia tetap memilih diam, karena terkadang diam lebih baik dari pada banyak bicara yang tidak berfaedah dan mendatangkan dosa.
Aku pastikan pernikahan ku dengan Fely akan aku sahkan dimata hukum nanti! lihat saja! batin Raka.
Seusai pernikahan siri terlaksana, warga desa membubarkan diri dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Mas Raka, sebaiknya setelah ini anda segera mendaftarkan pernikahan kalian ke KUA. Semua ini demi kebaikan Mbak Fely juga untuk menghindari hal-hal yang tidak baik dikemudian hari," ujar Pak RT memberi nasehat. "Untuk ketidaknyamanan ini saya mohon maaf, selaku ketua RT saya harus mengikuti suara terbanyak, meskipun saya sendiri masih merasa ragu," tambahnya.
"Baik, Pak. Saya pastikan saya akan bertanggung jawab atas kesalahpahaman ini, meskipun tuduhan yang ditujukan kepada kami itu tidak benar saya akan tetap mendaftarkan pernikahan kami ke KUA!" tutur Raka masih bersikeras jika tuduhan warga terhadapnya tidaklah benar.
"Saya mengerti, Mas Raka. Mungkin ada maksud tertentu Allah mempertemukan kalian dengan cara seperti ini, semoga suatu saat akan ada hikmah yang baik di balik semua ini," tutur Pak RT kemudian beranjak berdiri. "Bu Rahma dan Mas Raka, saya mohon pamit terlebih dulu, karena waktu sudah menjelang pagi juga. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Raka dan Rahma berbarengan.
Sepeninggal mereka kini tinggallah bu Rahma, Raka, dan Fely.
__ADS_1
"Fely, sekarang istirahatlah dulu di kamar, Tante. Kamu bisa tambah sakit jika terus-menerus menangis!ayo, Tante temani tidur," tutur Rahma sembari menggiring Fely masuk ke kamarnya dan meninggalkan Raka sendirian di ruang tamu.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi. Raka segera menutup pintu ruang tamu dan kembali naik ke kamarnya. Dia merebahkan diri di atas ranjangnya, namun matanya menatap ke atas langit-langit yang berada di dalam kamarnya.
Raka masih mengingat-ingat bayangan ketika dia harus menikahi Fely dengan cara yang tidak baik. Ada rasa bersalah yang bercokol di benaknya ketika menyaksikan wanita yang dicintainya harus mendapati peristiwa seperti ini hingga derai air mata terus membasahi wajah cantiknya.
Kepalanya terasa berdenyut memikirkan hal tadi. Meskipun dia menginginkan Fely, namun dia juga tidak menyangka jika caranya harus seperti ini. Sekarang dia merasa bingung bagaimana cara mengenalkan Fely kepada kakeknya. Terlebih seandainya kakeknya nanti tidak menyetujuinya.
Padahal misinya pada Fely juga belum terwujud tapi sudah harus menikah dengannya secepat ini.
"Tidak! Fely tidak boleh mengetahui tentang jati diriku yang sebenarnya! aku akan tetap memainkan peranku sebagai seorang sopir. Paling tidak untuk sebulan ini!" gumam Raka sendiri.
Tok tok tok!
"Raka!" panggil mamanya di depan pintu.
Seketika Raka menoleh ke arah pintu. Dia kemudian bangkit dan beranjak untuk membukakan pintu.
Nampak mamanya berdiri di depan pintu, kemudian langsung masuk ke dalam kamar melewati Raka begitu saja. Raka membiarkan kamarnya terbuka lebar, kemudian Rahma mendudukkan diri di kursi yang berada di kamar Raka.
"Ma, Mama percaya kan sama aku?" tanya Raka sembari berjongkok di depan mamanya.
"Tanpa kamu jelaskan pun Mama percaya jika ini adalah kesalahpahaman yang terjadi. Dari yang mama lihat Fely masih utuh dengan pakaiannya begitu pula dengan kamu. Mama yakin kamu tidak sengaja melakukan itu, namun nasi sudah menjadi bubur. Sekarang ke depannya mama mohon jangan kecewakan mama, daftarkan pernikahan kalian ke KUA, segera!" ujar mama menasehati Raka.
"Pasti, Ma. Aku akan menikahinya secara resmi?" ujar Raka mantap.
"Kamu kapan akan memberitahukan tentang jati dirimu yang sesungguhnya kepada Fely, Ka?" tanya mamanya.
"Tidak saat ini, Ma. Aku ingin Fely menganggap aku ini sopir bukan seorang direktur, jadi Raka mohon kepada Mama, tolong jangan mengatakan apa pun kepada Fely terlebih dahulu tentang Raka yang sesungguhnya, Ma! paling tidak untuk sebulan ini, Ma. Raka mohon bantuan dari Mama!" tutur Raka mendesak mamanya untuk membantunya mewujudkan keinginannya.
...____________Ney-nna____________...
__ADS_1