Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kisah di hari pertama


__ADS_3

Lala berpapasan dengan seseorang yang di kenalnya berada di dapur.


"Meilani ...!" seru Lala saat Meilani hendak masuk ke dalam dapur.


melihat Meilani sedang fokus menggoreng tempe dan tahu untuk makan malam.


"Lala, kamu ke sini?" tanya Meilani terkejut karena Lala menyusulnya. Meilani celingukan melihat ke belakang Lala. "Kamu tadi sama siapa, La?" tanyanya.


"Sendiri," jawab Lala singkat. "Kamu dari mana?" tanya Lala saat penasaran melihat Meilani di luar dapur dan bukannya di dalam dapur.


"Dari toilet, ayo ikut masuk saja. Aku tadi lagi menggoreng tahu dan tempe!" ujar Meilani sembari berjalan masuk ke dalam dapur.


"Terima kasih ya, Ken. Kembalilah ke asalmu!" ujar Meilani kepada temannya yang bernama Niken, yang tadi menggantikan tugas Meilani selagi ke toilet.


"Iya, sama-sama, Lan!" ujar Niken sembari melangkah pergi kembali ke tugasnya semula memotong sayuran.


"Tau dari mana kalau aku di sini, La? Wawa mana?" tanya Meilani saat menyadari Najwa tidak ikut.


"Najwa yang bilang. Dia sakit perut ... kram haid katanya. Barusan meringkuk di kamar, aku suruh dia istirahat dulu deh," ujar Lala sembari memperhatikan keadaan sekitar.


Di dapur ada sekitar sepuluh orang yang menekuni tugasnya masing-masing. Ada yang memotong sayur, mengulek bumbu, membuat adonan, membuat minuman dan menggoreng lauk. Terlihat sesosok wanita paruh baya yang berdiri sembari mengontrol beberapa kompor yang berjajar di hadapannya. Terkadang mengaduk sayur, mengayun-ayunkan spatula, dan mencicip rasa masakannya. Kemungkinan beliau itu adalah koki di dapur ini.


"La, kamu mau bantu-bantu juga kan? Kamu di sini aja goreng tempenya, biar aku yang goreng tahunya," ujar Meilani sembari menunjuk wajan di depannya yang sudah berisikan potongan tempe yang berenang di dalam minyak panas di atas kompor. Tadinya Meilani menghandle kedua wajan sekaligus.


"Oke, Lan," ujar Lala sembari meraih spatula, kemudian menyerok tempe yang sudah berwarna kuning keemasan.


Seorang wanita bercadar memasuki dapur dan lewat di belakang Lala, kemudian wanita itu mendekat kepada bu Salamah.


"Bu, ini diberi uang dua ratus ribu sama ustadz Fadhil. Katanya sebagai ganti rugi gelas yang tadi pecah. Bukannya ini berlebihan jika hanya untuk mengganti satu buah gelas yang pecah?" tanya Reyna pada bu Salamah.


Lala yang merasa seperti tidak asing dengan suara itu, kemudian menoleh pada sumber suara dan ikut mencuri dengar dengan perkataan wanita bercadar yang sedang memunggunginya.


"Alhamdulillah, anggap saja dia sedang bersedekah untuk dapur kita. Besok kita beli beberapa gelas dengan uang itu sesuai dengan yang diamanatkan. Dan, itu tandanya dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Semoga rezekinya di mudahkan," tutur bu Salamah dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aamiin, kalau dipikir-pikir benar juga ya, Bu. Jika suatu saat bertemu lagi, aku akan berterima kasih kepadanya," ujar Reyna, setelah itu berjalan mendekat ke arah Lala dan Meilani.


"Lan, mbak boleh minta tahu dan tempenya sepotong saja, ya? Sepertinya enak nih dimakan selagi masih hangat?" ujar Reyna kepada Meilani saat tergoda dengan tempe dan tahu yang sudah di goreng.


"Iya deh, buat bumil apa sih yang enggak, Mbak. Musti diturutin ini biar debaynya gak ileran nantinya. Hehehehe ...," ujar Meilani dengan bercanda.


"Yeyy, itu sih mitos, Naudzubillah!" ujar Reyna sembari mengusap lembut ke perutnya yang sudah mulai membuncit.


Sedangkan Lala terus mengamati Reyna lewat sorot matanya.


Ya, Allah suaranya kenapa mirip sekali dengan mbak Reyna. Apa hanya perasaanku saja karena sangat merindukan mbak Reyna? Terlebih wanita ini bercadar dan sedang hamil. Tidak mungkin jika ini mbak Reyna, kan? Jika benar wanita ini yang tadi pagi bertabrakan dengan mas Abi, pastinya dia mengenali mas Abi kalau dia benar mbak Reyna! Pasti hanya mirip saja suaranya! gumam Lala tanpa mengalihkan pandangan dari Reyna.


Merasa ada yang mengawasi, Reyna menoleh ke arah Lala. "Maaf, Ukhti ini santri baru ya?" tanya Reyna kepada Lala.


Namun, Lala masih bengong dengan lamunannya tentang Reyna.


Melihat Lala tidak segera menjawab Meilani menyentak pundak Lala. "Hey, La!" seru Meilani sembari menyenggol lengan tangan Lala.


"Diajak bicara juga, La ... malah bengong sih!" tegur Meilani kemudian melihat ke wajan Lala. "Ya ampun, La! Tuh tempenya hampir gosong!" seru Meilani sembari menunjuk ke arah wajan Lala dengan spatula yang di bawanya.


"Astaghfirullah.... "


Secepat kilat Lala menyerok tempe yang mulai kecoklatan, yang berada di hadapannya itu.


"Mikirin apa sih, La. Nih kan satu, dua, tiga, empat, lima, enam tempe hampir saja gosong, kan!" tutur Meilani menghitung tempe yang hampir gosong tersebut.


"Maaf... maaf, Lan!" ujar Lala merasa bersalah karena tidak fokus pada tugasnya.


"Lima kali seribu, jadinya enam ribu. Ummi rugi enam ribu ini dagangan kita, Um!" tutur Niken ikut nimbrung.


Namun, hal itu malah membuat Lala semakin murung. Karena beberapa santri yang lain terlihat berbisik-bisik di belakang. Lala merasa malu dan kesal, hari pertama membantu memasak kesannya sudah buruk, karena membuat kesalahan.


"Sudah-sudah, tidak apa-apa, Nak. Lanjutkan menggorengnya dan fokus pada tugasmu, ya! " ujar bu Salamah lembut.

__ADS_1


"Iya, Ummi. Sekali lagi Lala mohon maaf, Ummi!" tutur Lala dengan sendu.


Reyna memperhatikan raut wajah Lala yang berubah seolah mengerti jika Lala merasa tersinggung dengan candaan mereka.


"Lala, jangan sedih, ya! Anak-anak hanya bercanda kok, terkadang bercandanya memang agak berlebihan, tapi sebenarnya mereka tidak bermaksud sungguh-sungguh dengan ucapannya. Karena belum mengenal mereka, mungkin kamu jadi salah paham dengan kata-kata mereka. Sebenarnya mereka tidak ada maksud apa-apa kok," tutur Reyna mencoba meluruskan, sebab santri yang lain memang terkadang juga seperti itu bercandanya, tapi karena sudah terbiasa saling bully mereka tidak menganggap itu sungguhan.


"Ampun, kamu kira tadi sungguhan ya, La? Maaf ya, La. Bener apa kata mbak ku ini, kita tadi cuma bercanda tidak bermaksud mencela kamu. Terkadang aku juga suka gosong kok saat menggoreng, gara-gara bercanda juga sama Niken dan yang lain, apa lagi kalau ada Wawa tuh, lebih parah. Tapi, sebenarnya kita itu gak sungguh-sungguh. Jangan di ambil hati ya, La!" tutur Meilani.


Lala tersenyum lega mendengar hal itu sembari mengangguk. Mereka kembali pada tugasnya masing-masing dan sesekali bercanda lagi.


"Bu, Reyna pergi ke klinik dr. Arif buat kontrol dulu, ya?" ujar Reyna kepada bu Salamah.


"Kamu pergi sama siapa?" tanya bu Salamah tanpa mengalihkan pandangan.


"Sendiri saja, Bu. Lagi pula cuma deket juga, kan! Nanti aku pinjem motor Pak Tatang saja," tutur Reyna sembari menghabiskan suapan terakhir tempe di tangannya.


"Ya, sudah. Hati-hati ya!"


"Iya, Bu. Assalamu'alaikum," ujar Reyna saat menyelesaikan mencuci tangannya.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua yang ada di ruangan itu.


"Bu, Salamah berpaling sebentar melihat kepergian Reyna hingga menghilang dari pandangan.


Setelah kepergian Reyna Lala bertanya kepada Meilani sembari berbisik, "Lan, mbak yang tadi namanya siapa?" tanya Lala kepada Meilani.


"Oh, yang tadi itu namanya mbak Reyna, orangnya baik kok, dia lagi hamil empat bulan, pintar menjahit baju, Lhoh. Kamu kalau mau dibikinin gamis sama mbak, Reyna saja. Modelnya bagus-bagus, lhoh!" tutur Meilani antusias.


Sementara Lala merasa terkejut dengan hal itu.


Namanya Reyna?! Kenapa bisa kebetulan begitu ya ... nama dan suaranya bisa mirip banget! Tapi, jika itu mbak Reyna seharusnya dia mengenali aku dan mas Abiyu, kan? Apa lagi mbak Reyna yang ini sedang hamil empat bulan! Aku penasaran ingin melihat wajah mbak Reyna yang di sini. Aku akan mencari kesempatan agar bisa melihat wajah mbak Reyna yang di sini! Ya Allah, semoga Engkau melindungi mbak Reyna, di mana pun dia berada! gumam Lala di dalam hati.


___________________Ney-nna________________

__ADS_1


__ADS_2