
Keesokan harinya Reyna meminta ijin kepada Rangga untuk berangkat kerja. Ia sudah sangat rindu bekerja dan juga rindu suasana di ruko. Dengan bujuk rayunya akhirnya Rangga mengijinkan.
"Terima kasih ya, By. Hamil kan tidak berarti harus berdiam diri di rumah. Aku janji nggak akan cape-cape dan duduk diam di kantor," ujar Reyna.
"Baiklah...!" ucap Rangga.
Akhirnya ia mengalah. Padahal dengan menjadi istri seorang Rangga seharusnya Reyna tinggal duduk diam di rumah. Namun ia tahu istrinya bukan orang yang mau berdiam diri sambil menunggu uang datang kepadanya kemudian bebas membeli apa maunya. Tapi Reyna berbeda, bagi Reyna, entah sedikit atau banyak jika datang dari peluh yang menetes dari dahinya maka kucuran rezeki menjadi lebih nikmat, seperti memperoleh kepuasan tersendiri.
Pagi ini Reyna berangkat diantar oleh Rangga. Sesampainya di area pelataran ruko. Reyna mengulurkan tangannya untuk salim. Diciumnya punggung tangan suaminya. Langsung di sambung dengan kecupan di keningnya oleh Rangga.
"Hati-hati ya, By. Assalamu'alaikum!" ucap Reyna sembari beranjak ke luar kemudian melambai-lambaikan tanganya pada Rangga.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Rangga sambil tersenyum.
Rangga berlalu, kemudian Reyna masuk ke dalam ruko.
"Selamat pagi, ada yang bisa di bantu?" ujar seorang gadis cantik yang berada di front office.
"Pagi...," balas Reyna sembari tersenyum ramah. Ia menduga pasti dia adalah karyawan baru yang menggantikan Gina di FO sesuai perintahnya pada Mira.
"Mbak Reyna ya? Ini beneran mbak Reyna!" ujar seseorang yang menarik bahu Reyna dari belakang.
Reyna menoleh ke belakang, "Eh, Gina."
"Ya ampun mbak Reyna aku kangen banget deh. Kata mbak Mira, mbak Reyna hamil ya?" tanyanya setelah mengendurkan pelukannya pada Reyna.
"Iya, Gin. Ini baru jalan 10 minggu," ujar Reyna.
"Alhamdulillah, semoga sehat-sehat sampai lahiran nanti ya, Mbak?" doa Gina.
"Aamiin, makasih ya Gina," nampak Gina mengangguk.
"Ayo, Mbak ke atas bareng!" ajak Gina sambil menggandeng lengan Reyna.
"Dah, Wulan!" Gina berjalan sambil tangannya melambai-lambai pada Wulan.
Wulan menatap kepergian mereka berdua dengan penasaran, karena baru pertama kalinya melihat Reyna.
Sesampainya di lantai dua, Reyna mengintip ruang kerja Mira dari pintu kaca. Ternyata Mira sudah sampai. Mira nampak serius memandangi layar handphonenya.
"Aku ke Mira dulu ya Gin," ujar Reyna.
"Oke...Mbak, aku masuk ke dalam dulu ya? Ruanganku di sebelah!" ujar Gina kemudian masuk ke ruangan di sebelah ruang kerja Mira. Reyna mengangguk.
Tok...tok...tok...!
"Assalamu'alaikum, Bu bos!" ucap Reyna sembari berjalan masuk ke ruangan Mira.
"Wa'alaikumussalam..., Reyna!" Mira terlihat kaget dengan kedatangan Reyna.
Reyna memang sengaja tidak memberitahukan kedatangannya kepada siapa pun, untuk memberi kejutan.
Mira memeluk erat tubuh Reyna, disusul dengan suara sesenggukan yang terdengar dari telinga Reyna.
"Hiks...hiks...hiks...!" tangis Mira.
"Eh...ini kenapa? Kangen banget ya Mir, sama aku? Sampai nangis begini. Uluh...sayang...cup cup cup!" Reyna mengelus punggung Mira lembut.
"Huwaaaaa....!" tangisan Mira justru terdengar lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
"Eh...ini kenapa sih, Mir. Kaya bukan kamu yang biasanya?" tanya Reyna heran, sembari mencoba mengendurkan pelukannya.
Namun Mira menahannya, seperti tak ingin mukanya yang sedang menangis terlihat.
"Aduh, Mir. Aku sesak banget nih!" ujar Reyna merasa susah bergerak.
"Kekencengan ya, maaf...maaf! Hiks...!" ujarnya masih dengan isaknya.
Perlahan Mira mengendurkan pelukannya. Terlihat kedua matanya sembab. Dan ada kantung mata di bagian bawah mata. Terlihat sangat menyedihkan.
'Eh...ini sih bukan menangis haru. Lebih tepatnya seperti menangis karena kehilangan sesuatu!' gumam Reyna dalam hati.
"Mir, kamu kenapa?" tanya Reyna penasaran. Reyna baru menyadari ternyata tubuh Mira pun semakin kurusan.
Mira berjalan mengambil tissue yang berada di atas meja kerjanya kemudian ia duduk sembari menyusut air matanya.
"Maaf ya Beib, sambutannya malah kaya gini!" ujar Mira disela-sela menyusut hidungnya dengan tissue.
"Iya, enggak apa-apa. Kamu lagi ada masalah apa? Ayo crita, kita uda lama ya gak curhat!" Reyna ikut duduk di kursi depan meja kerja Mira.
"Gue rasa lo habis melewati banyak hal deh, Beb. Gue baper banget saat tau lo ilang dan gak ada kabar sama sekali!" Mira mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya sih, itu cuma kesalahpahaman aj kok, Mir. Dan semuanya udah beres! Yang jelas aku nggak bisa hubungi siapa-siapa karena waktu itu handphone aku ilang. Tapi, berkat kuasa Allah, aku masih terlindungi dan semua kembali berjalan dengan baik."
"Hikmahnya sekarang suami makin perhatian, karena aku juga sedang hamil. Dan yang paling aku syukuri dari serangkaian kejadian yang aku alami, Mami sekarang sayang sama aku. Walau agak bawel, tapi Mami perhatian malah sama kehamilanku. Pokoknya alhamdulillah banget deh, Mir," Reyna tersenyum mengingat pencapaiannya.
"Aku tuh kaya ngrasa yang habis ujian, trus naik kelas, dapat rapor nilainya bagus-bagus. Jadi bener-bener puas gitu deh!" ujar Reyna sambil tersenyum.
"Brarti kali ini giliran gue yang lagi ujian kali ya, Beb!" ujar Mira sendu.
"Tuh kan feeling aku bener, kamu tuh lagi ada masalah deh pasti. Ayo dong Mir cerita, siapa tau aku bisa meringankan beban kamu," ujar Reyna nampak khawatir dengan sahabatnya.
"Sabar ya, Mir!" diusapnya punggung tangan Mira.
"Dan kemaren pas weekend, aku ajak ketemuan, dia bilang dia nggak bisa karena ada keperluan. Ini tuh nggak biasa banget, Beib. Sampai kemaren dia tiba-tiba chat aku, tapi kaya bukan buat aku. Isi chatnya 'Lan, lagi sibuk nggak, tadi aku telepon kemana nggak diangkat?'. Coba Reyn, jelas-jelas bukan sebutan buat gue, biasanya kalau sama gue dia panggilnya 'Rara' dan saat itu juga Jona gak ada yang mised call sama sekali ke nomor gue. Dan waktu gue tanya dia menyangkal typo, itu beneran pesannya buat gue, jelas aja bikin ribut. Kecuali kalau dia nyangkal salah kirim buat temennya gue sih nggak curiga. Emang ya Jona itu nggak pinter bo'ong, jadi sekalinya bohong pasti ketahuan. Gue rasa Jona lagi deket sama cewek lain deh, Beib! Hiks...hiks...!" Mira kembali tersedu-sedu.
Reyna tahu apa yang sedang dialami oleh sahabatnya. Jona mungkin saja sedang jenuh dengan hubungannya dengan Mira. Dan bisa jadi Jona memang sedang mencari pelarian untuknya mengisi waktu semenjak Mira sibuk. Dan itu penyebabnya karena Mira harus menghandle semua pekerjaan sendiri selagi Reyna tidak ada.
"Mir, maafin aku ya, Mir. Ini pasti gara-gara aku ninggalin pekerjaan sehingga kamu jadi sibuk banget ngurus kerjaan sendiri. Mulai sekarang coba kamu perbaiki komunikasi kamu lagi sama Jona, kamu nggak usah lembur-lembur. Sekarang kan aku udah balik kan, jadi kita bagi tugas lagi supaya pekerjaan kamu bisa stabil, toh ada Gina juga yang bantuin. Semoga hubungan kamu sama Jona bisa diperbaiki lagi!" ujar Reyna sambil berdiri mengusap-usap bahu Mira untuk tetap tegar menjalani masalah yang sedang di hadapi.
"Iya, Beib. Makasih ya, Beib. Sekarang gue bisa sedikit lega setelah sharing sama kamu. Karena, aku nggak bisa cerita ke orang lain tentang hal ini. Kamu tahu kan, aku nggak biasa cerita ke Mama juga karena takut membebani Mama yang sakit-sakitan," ujar Mira.
"Iya, Mir. Aku seneng jika ini bisa sedikit membantu kamu. Aku akan berdo'a semoga kamu dimudahkan menghadapi cobaan ini, dan Allah memberikan yang terbaik buat kamu!" tutur Reyna menyemangati.
"Aamiin, makasih ya, Beib!" Mira dan Reyna berpelukan.
****
Selepas sholat subuh, Cindy pergi ke dapur untuk membantu ummi memasak.
"Cin, kamu sudah sholat istikharah?" tanya ummi.
"Sudah, Ummi. Tapi Cindy tidak menemukan petunjuk apapun," ujar Cindy sambil memotong sayur-mayur, untuk membuat sarapan.
"Dengan nak Fadil bagaimana?" tanya ummi.
"Mas Fadil baik-baik saja Ummi. Yah sedikit demi sedikit Cindy mulai paham dengan karakternya Mas Fadil. Beliau orangnya baik dan," ujar Cindy
"Kamu menyukainya tidak?" tanya ummi.
__ADS_1
"Sejauh ini, belum sampai tahap itu Ummi," jawab Cindy jujur.
"Nanti kalau sudah menikah pelan-pelan pasti bisa saling menyayangi jika saling membuka diri. Kamu harus sabar ya, Nduk!" ujar ummi.
"Insyaallah, Ummi!"
****
Ketika selepas isya', terdengar suara mobil datang. Cindy mengintip dari celah jendela.
Terlihat dr.Dimas beserta Ibunya, dan Qila datang berkunjung ke rumah Cindy. Abi menyuruh Cindy untuk masuk ke dalam kamar sementara abi dan ummi menyambut kedatangan mereka. Dimas mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya ke rumah Cindy, yaitu dengan maksud ingin melamar Cindy untuk dijadikannya istri sekaligus ibu sambung untuk Qila.
Malam itu Cindy nampak terkejut, sebab Dimas tidak mengatakannya terlebih dalu saat bertemu di klinik. Atas permintaan ummi, Cindy tidak ikut menemui Dimas dan hanya menguping dari dalam kamarnya. Abi dan ummi lah yang menemui tamu itu.
"Begini Pak, langsung saja saya akan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan saya kemari adalah, saya ingin melamar anak bapak Cindy untuk menjadi istri saya," ujar Dimas.
Cindy yang dari kamar mendengar itu, ada perasaan senang, mengetahui perasaan sukanya pada Dimas ternyata berbalas. Namun, ia penasaran akan jawaban apa yang akan di sampaikan oleh Abinya.
"Atas dasar apa nak, Dimas ingin melar anak saya?" pertanyaan abi seketika membuat Cindy cemas.
"Karena saya mengenal Cindy adalah wanita yang baik dan sangat menyayangi anak saya," ujar Dimas.
"Terimakasih ya, nak Dimas. Karena sudah banyak berjasa kepada Cindy. Namun mohon maaf, saya tidak bisa menerima lamaran nak Dimas. Bukan karena nak, Dimas tidak sesuai kriteria atau apa, melainkan karena sudah ada laki-laki lain yang lebih dahulu datang untuk mengajak ta'aruf dengan Cindy. Dan tadi saat bertemu saya di pesantren, sudah mengutarakan maksudnya untuk datang kembali besok, untuk mengkhitbah Cindy. Karena ta'aruf berjalan baik tanpa ada kendala, dan kedua belah pihak sudah setuju. Maka saya tidak bisa menerima pinangan dari nak Dimas. Namun saya sangat berterimakasih sekali atas niat baik nak Dimas terhadap putri saya. Laki-laki yang baik adalah yang datang meminta putri mereka pada orang tuanya dan bukan memacarinya. Dan itu sudah nak Dimas lakukan dengan baik. Namun, mohon maaf mungkin bukan sekarang saat yang tepat nak Dimas untuk dipertemukan jodohnya dengan anak saya. Semoga nak Dimas dapat berlapang dada untuk menerima keputusan dari saya," tutur Abi panjang lebar.
Cindy yang mendengar hal itu dari dalam kamarnya, merasa dadanya terasa sesak, tiba-tiba saja air matanya mengalir begitu saja di pipi cantiknya.
"Baik, Pak. Saya akan berbesar hati untuk menerima keputusan Bapak. Semoga Cindy di mudahkan jalannya untuk mendapatkan kebahagiannya," ujar Dimas dengan tegar.
Ia bersabar untuk menerima penolakan ini. Mungkin saja memang bukan jodohnya dengan Cindy.
"Aamin, semoga nak Dimas juga segera di pertemukan dengan jodoh nak Dimas. Sekali lagi saya mohon maaf ya, Nak, Bu!" Abi mengatupkan kedua telapak tangannya untuk memohon maaf.
"Baik, Pak. Karena sudah larut saya mohon pamit. Assalamu'alaikum!" pamit Dimas.
"Wa'alaikumussalam!"
Setelah kepergian Dimas, ummi menghampiri Cindy di kamarnya. Cindy buru-buru mengusap airmatanya dengan tissue.
"Cindy, kamu habis menangis? Apa kamu menyukai dr.Dimas?" tanya ummi.
"Cindy, gak apa-apa kok, Mi. Cindy hanya merasa tidak enak saja mengecewakan Qila," kilah Cindy yang tak ingin umminya khawatir.
"Berdo'a lah sebanyak-banyaknya. Agar Allah menunjukkan yang terbaik untuk kamu ya, Nak. Semoga kamu meperoleh apa yang terbaik untuk takdirmu!" ujar ummi sembari memeluk Cindy.
Cindy mencoba untuk pasrah kepada takdir Allah. Mungkin memang bukan dr.Dimas lah jodohnya.
____________________Ney-nna________________
Jangan lupa mengawali aktivitas dengan membaca bismillah, semoga segala sesuatunya berjalan dengan baik ya kawan.
Semoga Allah senantiasa melindungi langkah kita di hari ini. Aamiin 💞
Selalu dukung author ya, tinggalkan jejak Like, comment dan vote / gift buat menyemangati author berkarya.
Terimakasih buat reader's tercinta ❤️❤️❤️
Salam hangat,
Neyna
__ADS_1