Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Hikmah


__ADS_3

Malam terasa sunyi, baru jam delapan Qila sudah tertidur setelah menyelesaikan tugas mewarnainya. Reyna tadi sempat diminta untuk menemani Qila. Di sana, Nenek Qila bercerita banyak hal tentang Shila.


Shila dulunya adalah seorang dokter bedah sama dengan Dimas. Namun setelah hadirnya Qila, Dimas tidak mengijinkan Shila bekerja di rumah sakit. Kemudian Shila membujuk Dimas untuk mendirikan klinik di rumahnya. Sehingga Shila bisa tetap bekerja sekaligus bisa menjaga anaknya. Namun, ketika ia berkendara sendirian, shila mengalami kecelakaan saat mengandung anak ke dua mereka. Semenjak kepergian Shila, Dimas menjadi terpuruk dan acuh tak acuh dengan kejadian di sekitarnya. Bahkan Dimas melarang Qila bermain-main ke luar rumah maupun ke klinik. Jadilah anak itu pendiam dan kesepian.


Reyna kemudian kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Jendela kamar dibiarkan terbuka agar ia bisa memandang langit malam itu. Reyna sangat merindukan saat-saat berdua dengan Rangga, menatap bulan dan bintang di gazebo rumah kakek.


By, aku sangat merindukanmu!


Sedang apakah kamu sekarang, By?


By, di rahimku ada anak kita. Kamu selalu menantikan kapan ia akan hadir kan, By? Sekarang Allah memberikannya kepada kita.


Kamu akan menjadi seorang ayah,


Dan aku akan menjadi seorang ibu...


By, maafkan lah aku!


Karena kelalaianku meninggalkan rumah tanpa seijin mu, sehingga menimbulkan kesalahpahaman diantara kita...


Ya Allah, tolong ampuni dosaku, aku memohon kepada-Mu, pertemukan aku dengan suamiku!


Tok..tok..tok


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Reyna kala itu.


"Reyna, apa kamu sudah tidur?" ucap seseorang dari luar.


Di dorongnya kursi roda mendekati pintu. Dengan cepat Reyna kemudian membuka pintu kamarnya. Nampak Dimas berdiri di depan pintu.


"Dokter, ada apa, Dok?" tanya Reyna.


"Maaf mengganggu malam-malam, ini barusan saya mendapat info dari satpam yang bertugas di stasiun. Dia bilang tas kamu yang hilang sudah di temukan, hanya saja handphonenya tidak ada. Dompetnya ketemu namun kosong, kemungkinan uangnya sudah diambil pencurinya. Ini adalah foto barang-barang yang ditemukan di dalam tasmu," Dimas menyodorkan handphonenya kepada Reyna.


Terlihat di dalam foto kartu identitas, SIM dan beberapa kartu debit milik Reyna.

__ADS_1


"Alhamdulillah, tidak apa-apa, Dok. Uang tunainya juga tidak seberapa. Kartu-kartu ini sudah cukup bagi saya," ucap Reyna. Ia kembalikan handphonenya kepada Dimas.


"Iya kamu benar, mengurus kartu-kartu yang hilang membutuhkan proses panjang. Cuma sayangnya handphone kamu tidak kembali. Pencurinya juga berhasil kabur," ucap Dimas.


"Handphone bisa dibeli, Dok! Ikhlaskan saja. Yang harus kita lakukan adalah bertawakal kepada Allah. Sebab semua yang terjadi di dunia ini adalah dengan seijin Allah. Yang perlu kita pahami adalah mengambil hikmah dari musibah yang kita alami. Inilah saatnya bagi kita untuk muhasabah diri. Kemalangan yang saya alami saat ini, bisa jadi adalah teguran atas kelalaian yang saya lakukan. Mungkin ketika kita kehilangan apa yang kita punya, Allah ingin kita lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki. Hal ini adalah peringatan bagi kita untuk lebih peduli terhadap orang lain. Dan ketika Allah menguji saya dengan rasa sakit di bagian kaki saya yang terkilir, bisa jadi Allah ingin saya lebih bersabar dalam menghadapi cobaan, dengan begitu Allah akan menggugurkan sebagian dari dosa-dosa yang kita lakukan,"


"Bagi mereka yang telah mencuri tas saya, semoga Allah menuntun mereka ke jalan yang benar," ungkap Reyna panjang lebar.


Dimas bagaikan disambar petir dengan kata-kata Reyna barusan. Dulu ia sempat menyalahkan Allah saat ia kehilangan istrinya. Bahkan ia berlarut-larut dalam keterpurukan dan tidak peduli pada orang lain. Semasa istrinya masih hidup, ia hanya mempedulikan kebahagiaannya bersama anak dan istrinya. Dan mengabaikan keberadaan orang lain di sekitarnya. Sehingga, ketika Allah mengambil istrinya, Dimas merasa hidupnya hampa dan tak tentu arah. Bahkan niat awal Dimas menolong Reyna, hanya semata-mata karena wajahnya mirip dengan almarhumah istrinya. Ia baru sadar, ternyata selama ini ia tidak memaknai kehidupannya dengan baik.


"Reyna, saya salut dengan kata-kata kamu barusan. Terima kasih sudah mengingatkan saya. Selama ini saya terpuruk dalam kesedihan tanpa mempedulikan orang lain," ucapnya.


"Sama-sama, Dok. Sesama manusia kita harus saling mengingatkan!"


"Dokter, yakinlah akan ada kebahagiaan setelah kesusahan yang menimpa kita," ungkap Reyna tulus.


"Baik Reyna, sudah malam, sebaiknya kamu segera beristirahat. Saya permisi dulu ya?" pamit Dimas.


"Baik, Dok. Selamat beristirahat," sepeninggal Dimas, Reyna menutup kembali pintu kamarnya.


****


"Assalamu'alaikum, pagi Nek!" sapa Rangga begitu sampai di kediaman kakek. Rangga menghampiri nenek yang sedang menyiram bunga anggrek ke sayangannya.


"Wa'alaikumsalam, Reyna nggak ikut pulang?" tanya Nenek.


Rangga bingung dengan pertanyaan nenek. Bukankah seharusnya Reyna berada di sini. Kenapa nenek malah bertanya kepada Rangga tentang keberadaan Reyna.


"Emm... bukannya Reyna berada di sini, Nek?" jawab Rangga lirih.


"Masyaa Allah, Rangga. Jadi Reyna berada di mana sekarang?!" nenek telihat khawatir.


"Bukannya Nenek bilang Reyna ke Jogja? Rangga pikir saat ini Reyna sudah pulang," ucap Rangga sedih.


"Kemaren Nenek telpon Bibinya Reyna. Sehari setelah kematian Pamannya, Reyna pergi ke Solo menyusul kamu. Katanya kamu sakit? Makanya Reyna buru-buru ke Solo," nenek menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi, Reyna nggak datang menemui Rangga, Nek!" ujar Rangga.


"Kalau begitu Reyna berada di mana? Padahal dia sedang hamil!" nenek duduk di kursi teras, raut mukanya terlihat sangat cemas.


Rangga terkejut mendengar penuturan dari Nenek, "Apa, Nek? Reyna hamil?"


Rangga merasa sangat bahagia sekaligus merasa terharu. Bahagia atas kehamilan Reyna. Dan, sedih atas permasalahan yang terjadi.


"Iya..! Kemaren bahkan sempat pingsan di pesawat katanya. Beruntung ia bertemu nak Abi di bandara, sehingga ada yang membantunya. Coba kalau nggak ada yang kenal bagaimana! " ucap Nenek.


Rangga semakin terkejut. Selama ini dia telah salah paham terhadap istrinya. Tapi, ke mana perginya Reyna. Mengapa ia tidak sampai di Solo. Apakah terjadi sesuatu yang buruk di perjalanan menuju Solo. Atau kah Reyna bersama Abiyu lagi. Rangga semakin pusing.


"Nek, Rangga masuk dulu ya ke kamar? Rangga nanti coba telpon Mira dan cari tau di mana Reyna. Nenek jangan terlalu khawatir," ucap Rangga kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


Rangga duduk di tepi ranjang kamarnya. Dia sangat merindukan istrinya. Ia mengambil handphone di dalam saku celananya. Kemudian ia menghubungi nomor telepon Reyna. Namun lagi-lagi nomor tidak aktif, hingga ke tiga kalinya.


Kamu di mana Hana! Ya Allah, kumohon lindungilah ia dan janin yang berada dalam kandungannya. Pertemukan aku dengan istriku ya Allah."


"Oiya, Mira pasti tahu. Aku akan mencoba menelponnya." ucap Rangga.


"Hallo, Ga. Ada apa?" Mira mengangkat teleponnya.


"Hallo, Mir. Apa Reyna sedang bersama kamu?" tanya Rangga.


"Nggak, Ga. Justru dari dua hari yang lalu Reyna belum masuk kerja. Bahkan nomornya nggak bisa dihubungi. Nenek bilang Reyna ke Jogja."ucap Mira.


"Iya, Mir kemaren Reyna memang ke Jogja. Tapi setelah itu dia belum juga pulang," ungkap Rangga.


"Astaghfirullah, trus Reyna kemana? Pokoknya kamu musti cari Reyna sampai dapat, Ga!" ujar Mira.


"Iya, Mir. Nanti aku kabari jika sudah ketemu. Udah dulu ya aku mau cari Reyna," ucapnya.


"Iya!" telpon di tutup.


Rangga menjambak rambutnya frustasi. Rangga menaruh handphone di atas nakas. Di bukanya laci nakas milik Reyna. Siapa tahu ada petunjuk yang bisa ia dapatkan. Nampak beberapa lembaran buku cerita novel.

__ADS_1


"Eh...ini apa?" dibukanya tumpukan buku paling bawah. Nampak sebuah buku kecil seperti buku diary berwana hijau dan bergambar princess dibagian sampulnya. Namun, halamannya tidak bisa di buka karena terkunci.


Ia mencoba mencari kuncinya namun tidak ketemu. Dibawanya buku menuju meja rias. Ada sebuah jepitan rambut dari besi memanjang. Ia mencoba mengutak-atik bagian gemboknya. Percobaan ke tiga kalinya akhirnya gembok terbuka.


__ADS_2