Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kencan Sederhana


__ADS_3

Fely dan Raka menunggu di ruang tengah sedangkan dr.Tito sedang memeriksa keadaan kakek.


"Kangmas, gimana ini, Mas. Aku ngerasa bersalah banget sama kakekmu, Mas. Mungkin seharusnya aku nggak ketemu sama kakek kamu kalau akhirnya seperti ini," tutur Fely dengan sedih.


"Tenang dulu, Diajeng. Ini bukan salah kamu, kalau ada sesuatu yang terjadi sama kakek itu karena sakit yang diderita kakek. Kan sebelum ketemu sama kamu, kakekku juga sudah sakit," ujar Raka seraya mengusap lengan istrinya dan mendekap istrinya kedalam pelukan.


Terlihat seorang pria paruh baya yang muncul dari dalam. Raka segera beranjak dari duduknya untuk menanyakan keadaan kakeknya.


"Dokter ...!"


"Apa kabar, Mas Raka?" sapa dr.Tito.


"Baik, Dok. Bagaimana keadaan kakek saya?"


"Tenang saja, Mas. Kakek Anda hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat barusan sudah saya berikan obat. Beliau hanya terlalu banyak pikiran saja. Dengan rutin menjalani terapi keadaannya pasti bisa cepat pulih tutur dr.Tito.


"Baik dok, terima kasih atas kedatangannya!" ucap Raka dengan ramah.


"Sama-sama, Mas. Saya dengar Mas Raka sudah menikah lagi, ya? ini istrinya?" ucap dr.Tito sembari menunjuk ke arah Fely.


"Iya, Dok. ini istri saya, Felycia."


Fely nampak sedikit menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah dr. Tito.


"Saya ucapkan selamat atas pernikahannya. Semoga menjadi keluarga bahagia," tutur dr.Tito.


"Aamiin. Terima kasih, Dok!"


"Kalau begitu saya permisi dulu, Mas, Mbak," ujar sang dokter kemudian segera pulang setelah berpamitan.


"Baik, Dok. Hati-hati!"


"Diajeng, ayo aku antar kamu istirahat dulu," ujar Raka seraya menggandeng tangan Fely menuju kamarnya.


Raka menaiki tangga, dan Fely mengikutinya. Fely memperhatikan seluruh sudut rumah, sehingga terlihat seluas apa dalam rumahnya. Rumah kakek sangat besar hingga terasa hampa jika hanya ditinggali segelintir orang saja, terlebih tanpa adanya anak kecil pula.


Akhirnya sampailah mereka di depan pintu kamar Raka. Raka membuka pintunya dan terlihatlah bagian dalamnya yang sangat luas, lengkap dengan fasilitasnya yang mewah ala kamar laki-laki sekelas anak sultan.


"Istirahatlah, Sayang. Sementara kita tetap di sini hingga kakekku sadar," ujar Raka kepada istrinya.


Fely memegang lengan tangan suaminya yang hendak pergi, "Mau ke mana?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menengok keadaan kakek sebentar. Setelah itu aku akan segera kembali," ujar Raka, lalu mengecup kening istrinya sebelum berlalu pergi.


Setelah itu Raka pergi menuju kamar kakek. Raka duduk di kursi yang tersedia di samping tempat tidur kakeknya itu. Dilihatnya wajah laki-laki tua yang sudah banyak guratan di sebagian besar wajahnya. Bahkan rambutnya pun sudah memutih seluruhnya. Selang infus terpasang di tangan kirinya. Menyaksikan hal itu membuat amarah dan kebencian yang sebelumnya sangat besar pada kakeknya pun seolah luruh dengan sendirinya, berubah dengan rasa iba.


Andai saja kakeknya tidak membenci mamanya, andai saja kakek menerima Fely menjadi cucu menantunya, Raka pasti akan lebih menyayanginya. Namun, sayangnya rasa sayang kakek diungkapkan dengan cara yang tidak tepat.


"Se-kar ..., Se-kar ...!"


Raka tersadar dari lamunannya ketika melihat pergerakan dari sang kakek yang sepertinya sedang gelisah dalam tidurnya. Raka mencoba mendengarkan gumaman lirih dari mulut kakeknya itu dengan mendekatkan telinganya di depan mulut sang kakek.


Raka seketika mengernyit saat mendengar sebuah nama yang tidak dikenalnya disebutkan oleh sang kakek.


"Sekar ..., siapa Sekar?" gumam Raka sendiri sembari membenarkan posisi duduknya kembali.


Dilihatnya wajah sang kakek yang terlihat berkeringat dan tidak tenang dalam tidurnya, setelah berucap nama yang tadi sempat di dengarnya.


Raka segera menyeka keringat kakek dengan handuk kecil yang digunakan untuk mengompres kakeknya. Dia menduga jika saat ini pasti kakeknya sedang bermimpi buruk.


Raka kembali mengingat-ingat nama yang tadi di sebutkan oleh kakeknya itu. Sebenarnya siapa yang dimaksud. Jelas itu adalah nama dari seorang perempuan.


Raka nampak mengusap punggung tangan sang kakek dan menungguinya hingga stabil. Setelahnya kakek terlihat kembali terlelap. Raka segera ke luar dari kamar kakeknya menuju kamarnya sendiri.


"Em Pak Yahya, tunggu, Pak! ada yang ingin saya tanyakan kepada Anda," seru Raka saat melihat asisten kakeknya hendak menuju ke arah lain.


"Iya, silakan, Mas Raka. Apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya, Mas?" tanya Yahya.


"Apa Anda tahu seseorang yang bernama Sekar?" tanya Raka mencoba mencari tahu.


"Emm, sepertinya tidak ada wanita yang saya kenal dengan nama itu, Mas," jawab Yahya seusai berpikir keras tentang nama yang disebutkan.


"Kakek barusan mengigau dan menyebutkan nama itu," tutur Raka.


"Saya benar-benar tidak tahu, Mas!" jawabnya.


"Ya sudah saya, mau kembali ke kamar dulu."


"Baik, Mas. Saya akan meminta bagian dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Anda dan istri Anda," ujar Yahya memberi tahu.


"Tidak perlu, nanti sore saya akan pergi ke suatu tempat!" tolak Raka.


"Baik, Mas."

__ADS_1


Raka kembali ke kamarnya, rupanya istrinya benar-benar menurutinya. Fely tengah tidur di ranjangnya. Melihat istrinya pulas akhirnya dia ikut membaringkan diri di samping istrinya.


*****


Seusai melaksanakan salat maghrib Raka membawa Fely pergi ke suatu tempat.


"Kangmas, kita mau ke mana?" tanya Fely saat diperjalanan.


"Nanti kamu akan tahu, Diajeng," ujar Raka sembari tersenyum ke arah istri ya.


Setelah berkendara selama kurang lebih empat puluh menit, akhirnya mereka sampai di Bukit Bintang, Hargo Dumilah, Patuk, Gunung Kidul.


Sesampainya di tempat tujuan Fely terkesima dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan yang luar biasa cantiknya telah disuguhkan di sana. Kita dapat melihat hamparan sinar lampu dari rumah-rumah warga yang berada di dataran rendah dari atas bukit. Ditambah suasana cerah sehingga dapat melihat taburan bintang-bintang di langit yang bersinar dengan indahnya.




Mereka tengah berada diketinggian teratas di tempat itu, yang sepi pengunjung karena Raka sengaja menyewanya agar sejenak bisa berada di sana untuk berdua saja.


"MasyaaAllah, indah banget, ya, Mas!" ujar Fely sembari berdiri menatap pada pemandangan di bawah sana.


Hawa dingin mulai menyeruak, dengan segera Raka memeluk istrinya dari belakang sembari berkata, "Seindah dirimu, bintang hatiku!"


"Benarkah, Kangmas?"


"Tentu, Diajeng. Kamu adalah satu-satunya bintang yang terindah di hatiku."


Mendengar hal itu Fely seketika menoleh ke arah suaminya yang telah membuatnya terpesona dengan kata-katanya meskipun dia tahu jika itu hanya gombalan saja, begitu pun dengan Raka yang juga tengah memandang ke arah istrinya dengan penuh damba. Saking gemasnya Raka dengan cepat mengecup pipi istrinya hingga Fely semakin tersipu dibuatnya.


Setelah itu mereka makan malam romantis di tempat itu. Meskipun hanya dengan menu sederhana dan hanya di tempat yang biasa, namun berasa sangat istimewa buat Fely. Sebab, ketulusan dan rasa cinta yang sama dari keduanya itulah yang membuat kesederhanaan itu menjadi berasa istimewa.


Menjelang larut malam keduanya pun kembali pulang ke kediaman kakek serta untuk memastikan bahwa kakeknya baik-baik saja.


"Terima kasih, untuk hari ini, Mas. Indah sekali tempatnya tadi,"


"Sama-sama, Sayang. Hanya itu yang bisa aku berikan untuk saat ini," ujar Raka sembari membelai rambut istrinya di tempat tidur.


"Ini juga sudah lebih dari cukup, Mas. Yang penting adalah kita selalu bersama-sama," ucap Fely seraya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


Beberapa saat keduanya kembali memadu kasih hingga keduanya terlelap setelah sama-sama kecapean.

__ADS_1


..._________Ney-nna_________...


__ADS_2