Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Kepergok


__ADS_3

Mentari pagi telah menunjukkan sinarnya. Namun Reyna masih terkantuk-kantuk lantaran aktivitasnya semalam bersama suaminya. Tadi malam Rangga meminta haknya bahkan berulang kali, dengan dalih buat bekal tiga hari. Pasalnya besok Rangga sudah harus kembali ke Solo hingga tiga hari kedepan.


Seusai sholat subuh, Reyna kembali memejamkan mata hingga pukul 07.00 WIB, Rangga baru membangunkannya.


“Hanania, bangun sayang, ini sudah siang!” ucap Rangga, sambil menciumi pipi istrinya yang masih memejamkan mata.


“Hoaah..! Jam berapa, By?” jawabnya sambil menguap dengan mata yang masih terpejam.


“Jam tujuh sayang, hari ini mau ngantor nggak?” tanya Rangga


“Jam tujuh ya?” Reyna mengerjapkan matanya, perlahan dilihatnya jam di dinding, “Haah! Jam tujuh! Kok nggak bangunin aku dari tadi sih, By!” reyna baru menyadari bahwa ini sudah mulai siang.


Reyna bergegas duduk dan bersiap bangun, namun Rangga menahan bahunya.


“Mau kemana sayang?” tanya Rangga.


"Cuci muka. Baru kali ini lhoh aku bangun sesiang ini. Jadi malu sama Nenek dan Kakek." Reyna membuka selimut yang membungkus kakinya.


"Ya udah, cuci muka habis tu sarapan." Rangga mencium gemas pucuk kepala istri tercintanya. Kemudian Reyna berlalu ke dalam kamar mandi.


Saat Reyna ke kamar mandi Rangga pergi keluar menuju dapur. Kemudian ia kembali ke kamar dan meletakkan piring ke atas nakas. Bertepatan dengan Reyna yang keluar dari kamar mandi.


“Aku malu, By! Biasanya kan jam segini udah selesai sarapan!”


“Aku mau kemeja makan , By! Pasti Nenek sudah mulai makan.” jawab Reyna cepat.


“Kamu terlambat sayang, kita sudah selai sarapan. Ini udah aku bawakan sarapan buat kamu!” Rangga mengambil piring berisi nasi goreng, lengkap dengan telur mata sapi dari atas nakas.


“Ehh..makasih ya, By? Ini kok badan aku rasanya sakit semua?” Reyna menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan. Kemudian duduk di sofa yang berada di kamar.


“Ya udah kalau gitu nggak usah pergi kerja. Kamu istirahat dulu aja di rumah.” Rangga mengambil satu suap nasi, kemudian di arahkan ke mulut Reyna.


“Engga akh, aku uda hampir seminggu nggak kerja. Kasian sama Mira ngurus semua sendiri, By.” dilahapnya suapan pertama dari suaminya.


“By, aku lanjutin makan sendiri aja.” Reyna mengambil piring dari tangan Rangga.


“Ya udah kamu makan dulu, nanti aku anterin sekalian berangkat ke bandara.” Rangga mengusap pucuk kepala Reyna. Saat hidungnya mencium harumnya bau shampoo dari rambut Reyna membuatnya semakin lengket. Dipeluknya Reyna yang sedang makan, dari belakang.


“By, gimana aku makannya? Kalau begini aku jadi nggak bisa makan.” Reyna sedikit menggeliat, kala Rangga menciumi ceruk lehernya. Geli dan merinding!


“Kayaknya aku nggak bisa deh jauh-jauh dari kamu.” dengan berat hati Rangga melepaskan pelukannya.


“Sabar sayang, kan cuma tiga hari! Saat berjauhan nanti akan semakin rindu dan semakin cinta.” Reyna mencakup pipi Rangga dan membelainya lembut.


“Ya udah, untuk sekarang aku pasrah kita LDRan, nanti habis resepsi aku nggak mau kita terus berjauhan. Kalau Papi menugaskan aku kembali di Solo. Kamu musti ikut pindah ke Solo. Aku nggak mau tahu, pokoknya jangan LDR!” Rangga semakin cemberut saat merajuk.


“Siapa nanti yang jagain Nenek dan Kakek? Nggak boleh egois gitu, By.” ucap Reyna dengan lembut, ia tahu suaminya sangat menyayanginya. Diusapnya punggung tangan Rangga, menenangkan.


“Udah jangan cemberut gitu dong, manfaatkan waktu yang tersisa sebaik mungkin. Kasih aku wajah ceria kamu supaya aku mengingat suami aku yang paling manis dan keren. Nanti aku akan sering-sering kirim pesan dan video call, buat ngobatin rindu.” bujuk Reyna kepada Rangga.


“Ya udah, buruan diselesaikan makannya.” Rangga pasrah nurut saja.


“Iya, hubby sayang!” dikecupnya pipi Rangga.


“Ihh..mulai berani ya, awas kalau bikin aku hilaf!” direngkuhnya tubuh istrinya kedalam pelukannya dan dibalas dengan kecupan yang sama di pipi Reyna.


Seusai berganti baju dan bersiap yang memakan waktu cukup lama karena Rangga yang selalu mengulur-ulur waktu. Akhirnya Reyna dan Rangga tiba di ruko setelah jam menunjukkan pukul 08.40 WIB. Sudah sangat terlambat untuk jam masuk kantor, tapi karena Reyna ownernya, sah-sah sajakan terlambat sedikit.


Sampai di pelataran ruko, Reyna tidak kunjung keluar dari mobil, lantaran Rangga masih menahannya. Setelah puas melahap habis bibir Reyna, akhirnya Rangga melepaskan ciumannya saat terdengar suara handpone dari dalam tas Reyna. Dilihatnya ada panggilan masuk dari Mira.


“Halo Mir, aku udah di bawah. Tunggu bentar, dalam lima menit aku nyampe ruangan.” Seperti tau apa yanga akan ditanyakan oleh Mira. Reyna langsung memberikan jawaban dari pertanyaan yang belum sempat keluar dari mulut sahabatnya itu. Telepone langsung dimatikan.


Reyna bergegas mencium tangan Rangga berpamitan, “Hati-hati ya, By! Begitu sampai di Solo musti kasih kabar.”

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.” ucap Reyna cepat saking terburu-buru.


“Iya, sayang. Wa’alaikumussalam.” setelah mendapat jawaban dari suaminya, Reyna bergegas berbalik dan membuka pintu mobil. Saat hendak melangkah keluar, Rangga lagi-lagi menahannya. Diraihnya tisyu di dashbor mobil.


“Tunggu, sayang! Lipstiknya belepotan.” Rangga mengelap bawah bibir Reyna yang belepotan noda lipstick, akibat ulahnya tadi.


“Makasih ya, By. Untung kamu ingetin, aku masuk dulu ya? Jangan lupa kasih kabar kalau uda sampai!” ucapnya lagi saat melangkah keluar, sambil meraih bungkusan oleh-oleh kemudian berdada-dadah.


Rangga membalas lambaian tangan istrinya sambil tersenyum. Kemudian meninggalkan pelataran ruko setelah menyaksikan Reyna masuk kedalam ruko.


“Yaampun, jadi itu tadi mbak Reyna yang diantar suaminya! Dari tadi aku perhatiin mobil siapa yang parkir di depan tapi ngga keluar-keluar orangnya.” sambutan heboh dari Gina, begitu Reyna membuka pintu utama.


“Hehehe..iya, Gin. Nih ada sedikit oleh-oleh, dibagi ya sama yang lain.” Reyna menyerahkan bungkusan kepada Gina. Musti di suap biar nggak banyak tanya. Sudah di pastikan Gina juga melihat adegan romantis di dalam mobil.


“Wahh..makasih ya Mbak, oleh-olehnya.” Gina tersenyum sumringah mengamati oleh-oleh ditangannya.


“Iya, sama-sama! Dah..Gina, aku ke atas dulu yah!" ucap Reyna sambil menaiki tangga, kemudian berjalan menuju ruangan Mira.


"Iya..mbak Reyn, sering-sering yah!" jawaban Gina masih terdengar sampai di ujung tangga.


“Assalamu’alaikum, Mir!” ucap Reyna sambil melangkah masuk menuju meja Mira.


“Wa’alaikumsalam.” Mira geleng-geleng kepala.


“Gile bener, yah si Rangga. Bisa bikin kamu bucin sama dia cuma dalam waktu seminggu. Dulu kamu jutek banget sama dia, Beb! Sekarang nempeeel terus, kaya nggak terpisahkan!” Mira berdiri menyandar di depan jendela sambil bersedekap memandang lekat ke arah Reyna.


“Bucin gimana? Sok tau kamu Mir!” Reyna menggeser kursi kemudian duduk didepan meja kerja Mira.


“Nih, gue barusan lihat lhoh dari jendela. Pas kamu mau turun masih ditahan-tahan sama Rangga. Udah gitu, ngapain tadi deket-deketan berhadapan. Bikin baper aja tau nggak ngeliatnya! Pantesan terlambat datengnya, Reyn.” ucap Mira sambil menunjuk-nunjuk keluar jendela.


“Hehehe…kelihatan yah dari sini! Maaf..maaf yah, Mir.. hilaf!” Reyna nyengir, pipinya bersemu merah karena kepergok sahabatnya.


“Uuhh..jiwa perawan aku meronta-ronta tau, Beb! Sini, aku lihat oleh-olehnya.” Mira mendekat ke depan meja, mengintip ke dalam isi kantong


“Bismillah, gue cicipi ya Reyn, musti dialihkan ke makanan ini biar nggak baper terus, akunya!” Mira langsung mencomot terus pisang molen mini khas Tawangmangu yang berada dalam dus.


“Pelan-pelan atuh Mir, yang ini dua kotak khusus buat kamu seorang. Sisain bawa pulang buat Mama, sama ini teh asli dari kebun teh Kemuning, nanti buat ngeteh Mama sama Papa.” Reyna menyodorkan satu persatu isi dalam bungkusan.


“Ya udah, aku mau masuk ke ruangan aku dulu yah, Mir? Mau ngecek email yang masuk dari supplier. Ada komplain-komplain ngga dari customer yang susah di handle?” Reyna berdiri merapikan kursi yang tadi didudukinya.


“Ihh..gaya ya kamu, Beb. Udah bereslah sama aku. Kapan-kapan gantian lah aku mau cuti buat liburan juga!” Mira merapikan bingkisan makanannya.


“Iya deh iya, kamu emang sahabat aku yang T.O.P B.G.T deh Mir!" Reyna mengacungkan jari jempolnya. "Tapi jangan minggu-minggu ini ya, Mir. Rencananya Kakek pengen ngadain acara resepsi buat pernikahan aku gituh.” tambahnya.


“Kamu musti datang, nanti karyawan diliburin aja. Semua musti datang ke acara pernikahan aku.” Reyna menjelaskan.


“Wah, beres kalau itu sih, Beb. Aku bakalan support kamu deh buat bantu-bantu persiapin acaranya. Kapan resepsinya, Beb?” tanya Mira antusias.


“Belum tau sih Mir, kapan tanggalnya. Masih nugguin info gedung hotel yang bisa disewa buat acaranya.” Jawab Reyna.


“Ya udah, semoga lancar ya Beb sampai hari-H nya!”


“Iya, Mir. Aamiin..! Semoga cepet terlaksana!”


“Aku keruangan aku dulu ya, Mir? Dahhh…!” Reyna berlalu meninggalkan ruangan kantor Mira.


***


Siang hari, saat makan siang bersama Mira. Reyna bolak-balik melihat ke layar handphonenya. Setelah tadi mengabari kalau sudah sampai di Solo Rangga pamit untuk rapat. Sampai jam makan siang akan habis belum ada kabar lagi dari Rangga.


“Nungguin pesan dari Rangga ya, Beb? Ciyee.. gini nih kalau penganten baru! Baru juga berapa jam pisah uda kangen ajah.” goda Mira.


“Sok tau kamu, Mir!” Reyna melirik kearah samping ada Bunda.

__ADS_1


“Hai, Reyna? Lama nggak kelihatan, kamu kemana aja!” Bunda duduk di samping Reyna.


“Ehh..Bunda, biasa itu Bun yang penganten baru habis bulan madu!” jawab Mira heboh. Reyna melirik tajam ke arah Mira.


“Ohya, honeymoon ke mana Reyn? Mana oleh-olehnya untuk Bunda?” tanya Bunda Maya.


“Nggak direncana mau honeymoon juga sih, Bun. Kemarin itu diajakin suami pulang ke Solo, kan tinggalnya di sana Bun. Kemarin ada pekerjaan yang mendadak, ya udah aku ikut.” jawab Reyna.


Tulilit..tulilit…tulilit…!


Tiba-tiba handpone Reyna berbunyi. Dilihatnya ada telepone dari Rangga.


“Ciyee, akhirnya yang ditunggu-tunggu telepone juga.” goda Mira.


“Reyna angkat telepone dulu ya, Bun?” pamit Reyna kepada Bunda, kemudian pergi menjauh agar dapat menjawab telepone dengan leluasa.


“Halo Assalamu’alaikum, By.”


“Wa’alaikumsalam sayang, lagi apa? Udah makan?” jawab Rangga dari seberang telepone.


“Udah, nih habis makan siang sama Mira. Kamu udah makan belom, By?”


Saat itu juga, Abiyu yang sedang keluar dari toilet pria menoleh ke arah Reyna, yang sedang berbicara di telepon, di lorong depan toilet wanita. Namun Reyna tidak melihatnya lantaran menghadap ke samping membelakangi arah Abiyu berdiri. Mau tidak mau akhirnya Abiyu ikut mendengar pembicaraan Reyna yang sedang berbicara di telepon.


“Nih baru makan. Tadi rapatnya agak mundur selesainya, jadi ini baru bisa makan.”


“By, lanjut nanti ya? Ini aku masih di resto. Nanti aku telepon lagi kalau sudah sampai di ruangan kantor.”


“Iya sayang, love you Hanania sayang.” ungkap Rangga.


“Emm.. Love you too, By! Assalamu’alaikum.” jawab Reyna lirih sedikit ragu saat akan mengucapkan. Takut ada yang mendengar.


Kemudian telepon di tutup. Saat berbalik ingin kembali, betapa kagetnya ia saat melihat Abiyu yang sedang berdiri di depan toilet pria, memandang ke arahnya.


“Haduuh..sejak kapan Kak Abi berdiri di situ!


Jangan-jangan Kak Abi tadi mendengar obrolan aku di telepone!” gumam Reyna dalam hati. Dengan muka pucat menahan malu.


“Ehm, apa kabar Reyn?” sapa Abiyu.


“Ehh.. baik kak. Kak Abi apa kabar?” Reyna berusaha menutupi kecanggungannya.


“Seperti yang kamu lihat, aku baik, Reyn.” "Selamat yah, atas pernikahanmu!” ucapnya.


“Emm.. iya kak, terimakasih!” jawab Reyna lirih. Bagaimanapun ia tetap merasa tidak enak hati. Sebab sejak terakhir bertemu di rumah sakit ia belum pernah meminta maaf, karena telah membatalkan lamaran Bunda.


“Kak, Reyna minta maaf ya. Reyna sudah membuat kecewa kak Abi dan Bunda.” ucap Reyna tulus.


Sejenak senyap, tak ada suara yang keluar dari keduanya. Abiyu menghela nafas kasarnya, jujur saja ia cukup kecewa. Sebab, saat Bunda menyatakan jika Reyna telah menerima lamaran untuk menikah dengannya, Abiyu mulai menaruh hati pada Reyna. Bahkan, cincin untuk acara lamaran pun, sudah di siapkan oleh Abiyu.


Namun siapa sangka, dalam sekejap kuncup bunga yang hendak mekar di hatinya itu sudah dirampas oleh orang lain. Dalam beberapa hari ia masih tidak bisa menerimanya. Beruntung Bunda dengan sabar mengingatkan untuk ikhlas merelakannya. Itu artinya Reyna bukanlah jodoh yang ditakdirkan untuknya saat ini.


“Emm..aku ikut bahagia, jika kamu bahagia, Reyn!” kata-kata yang keluar dari mulut Abiyu terasa getir di dengar olehnya.


Reyna bisa melihat ada kekecewaan dari sorot mata Abiyu. Diliriknya ke depan, Abiyu sedang memandang lekat ke arahnya. Reyna merasa bersalah telah mengingatkan hal itu pada Abiyu.


“Terimakasih atas pengertiannya, Kak. Maaf aku balik ke ruko dulu ya, Kak. Mau sholat dhuhur.” ucap Reyna, kemudian segera berlalu meninggalkan Abiyu yang masih termangu melihat kepergian Reyna.


“Mir, ayo balik!”


“Bunda Reyna permisi mau ke ruko dulu ya? Reyna belum sholat dhuhur.” Bunda mengangguk, kemudian Reyna bergegas menarik Mira keluar dari resto.


“Lama amat sih Reyn, jawab teleponnya. Ngobrolin apa aja sih pengantin baru?” tanya Mira begitu sampai di luar resto.

__ADS_1


“Ssstt..ayo buruan, aku tadi kepergok sama kak Abi!” Ungkap Reyna sambil berjalan cepat.


“Hah, yang bener? Hahhahaha.. terus gimana tadi ceritanya?” Mira tertawa membayangkan bagaimana lucunya situasi saat Reyna yang sedang kepergok Abiyu.


__ADS_2