Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kejutan untuk Mira


__ADS_3

Mira dan Dipa telah sampai di Yogyakarta. Setibanya di rumah, Dipa segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah. Mira nampak senang melangkah menuju ke dalam rumah. Dia merasa ada kebahagiaan tersendiri ketika rumah yang dulu dikaguminya kini akan menjadi tempat tinggalnya. Kini dialah pemilik tuan rumah beserta isinya.


"Kenapa bengong di situ? kamu mau tidur di ruang tamu aja?" tanya Dipa pada istrinya yang masih terdiam melamun.


"Ya ampun, baru juga dua hari jadi suami aku, main telantarin istri aja!" ujar Mira kesal.


"Bercanda, Mir. Mau di gandeng apa di gendong?" tawar Dipa masih dengan bercanda kepada istrinya.


"Harusnya dibopong ala bridal style, biar romantis kaya yang difilm-film drakor gitu!" celoteh Mira yang tak mau kalah.


Dipa berjalan mendekat ke arah Mira dan tiba-tiba saja Dipa mengangkat tubuh Mira ala bridal style seperti yang Mira katakan barusan.


"Ee ... ehh! astaghfirullah, kamu ngagetin aja sih, Dip!" tutur Mira saat terkejut dengan tindakan Dipa yang tiba-tiba.


Reflek Mira melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Kan barusan kamu yang minta. Sekarang tutup mata kamu!" titah Dipa kepada istrinya.


"Mau apa sih, Dip. Jangan aneh-aneh deh!" tutur Mira mengultimatum.


"Enggak akan, tutup matamu dan diam, jangan bicara!" titah Dipa lagi.


"Awas ya, jika macam-macam aku marah!" ancam Mira.


"Iya, Bawel. Cepet tutup mata!" ujar Dipa lagi.


"Oke, nih uda tutup mata!" ujar Mira yang sudah menutup matanya.


"Jangan bawel!" Dipa memperingatkan lagi.


"E emm, e emm!" ujar Mira dan mengunci mulutnya dengan gerakan tangan.


"Nah, jika diam begini terlihat lebih manis!" puji Dipa jujur, sembari memperhatikan wajah Mira yang berada tepat di hadapannya.


Sebenarnya kamu itu cantik, apalagi ketika diam begini, bibir bawelnya bikin gemas! guman Dipa di dalam hati.


"Itu sebuah hinaan apa pujian itu?" ujar Mira lagi.

__ADS_1


"Jika tidak bisa diam aku jatuhkan nih!" ancam Dipa.


Akhirnya Mira tidak menanggapi perkataan Dipa lagi. Mira hanya mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protesnya. Untuk sementara Mira akan menahan ucapan yang ingin terlontar dari mulutnya dan memilih untuk tetap diam menuruti perintah suaminya.


Dipa pun tersenyum dengan patuhnya Mira. Dia melangkahkan kaki menuju kamarnya yang akan menjadi kamar mereka nantinya. Cukup dengan menekan ibu jarinya, pintu kamarnya yang disertai dengan password pun terbuka. Dipa menendang pelan pintu dengan satu kakinya hingga pintu pun tertutup dengan sendirinya.


Setibanya di dalam kamar. Dipa meminta Mira untuk membuka matanya.


"Wahai Almira Pramudita, sekarang buka matamu!" tutur Dipa dengan selembut mungkin bak pangeran di negeri dongeng yang berucap pada seorang putri kerajaan.


Perlahan Mira membuka matanya, dan menatap tajam pada suaminya.


"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Dipa yang merasa heran dengan tatapan istrinya.


"Hua jahat! teganya bilang mau jatuhin aku!" tutur Mira seraya mengerutkan bibirnya sambil memukul pelan dada suaminya dan meronta-ronta.


"Hehehe, yang tadi itu cuma becanda, Sayang. Awas jangan kencang-kencang geraknya! nanti kalau jatoh beneran gimana?" ujar Dipa memperingatkan agar Mira tidak banyak bergerak.


Mira pun akhirnya berhenti bergerak. "Sekarang turunkan aku!" ujar Mira dengan raut muka cemberut.


Kemudian, Dipa menurunkan Mira secara perlahan. "Tarraa ...! welcome to our sweet room!" seru Dipa sembari merentangkan tangan.


Kamarnya dipasangi wallpaper dholpin berwarna silver yang elegan, lampu tidur dengan gantungan dholpin di sekelilingnya, sandaran pada ranjang terdapat ukiran dholpin, bed cover bergambar dholpin, dan banyak lagi pernak-pernik yang lainnya berbentuk dholpin, semua desain furniture dirancang sendiri oleh Dipa khusus untuk Mira.


Mira tak bisa berkata-kata saat matanya mulai berembun, terharu dengan apa yang telah dipersiapkan oleh Dipa untuknya. Seketika Mira menghambur memeluk Dipa dan menumpahkan rasa syukurnya atas perhatian yang lebih dari suaminya.


"Kenapa malah mau menangis, kamu tidak suka?" tanya Dipa sembari membalas pelukan Mira dan mengusap lembut punggung istrinya.


"Suka banget! ini sangat mengejutkan buat aku! kapan kamu siapin ini semua?" tanya Mira saat melerai pelukannya.


"Waktu aku kembali ke Yogya setelah memesan cincin waktu itu," tutur Dipa.


"Aaaa ... so sweet! kamu bahkan melakukan semuanya tanpa bertanya padaku," tutur Mira terkesima dengan apa yang dilakukan Dipa untuk memberi kejutan untuknya.


Dari yang awalnya cincin dholpin dan satu set perhiasan dengan ukiran dholpin dan sekarang kamar mereka yang juga bertemakan dholpin dan pernak-pernik dholpin.


"Iya, ini buat gantiin yang kemarin kamu sumbangin ke panti, semuanya aku yang desain sendiri khusus buat kamu. Special for you, may your happiness be a blessing for me," tutur Dipa sembari menatap lekat ke wajah istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.

__ADS_1


"Aamiin, thanks for everything!" ujar Mira sembari mencakup kedua pipi suaminya.


Sejenak keduanya terdiam dan hanya sorot mata mereka yang berbicara. Perlahan Dipa mencondongkan wajahnya ke depan hingga bibir dengan bibir saling bertemu. Kecupan berubah menjadi tautan. Mencecap manisnya kasih sayang yang baru tumbuh di antara keduanya. Detak jantung keduanya mulai tak beraturan, saat tautan semakin dalam.


Tiba-tiba Mira mendorong dada suaminya agar melepaskan ciuman itu.


"Hhhh ... hhhhh ...!" Mira terengah-engah dan segera meraup napas sebanyak-banyaknya.


"Jangan menahan napas!" ujar Dipa sembari tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah dan mengusap lembut pada pipi istrinya.


Mira merasa malu kemudian menghambur ke dalam pelukan Dipa untuk menyembunyikan wajahnya.


"Harusnya kamu menjedanya, biar aku bisa mengambil napas!" tutur Mira tanpa mengangkat wajahnya.


"Kamu bisa tetap bernapas tanpa menjeda ciuman kita, nanti akan aku ajari cara yang benar, juga dengan yang lainnya yang tidak hanya sekedar ciuman saja!" tutur Dipa sembari berbisik di telinga Mira menggoda istrinya.


"Iiihh dasar mesum!" ujar Mira sembari mencubit pinggang suaminya.


"Aww ...! sepertinya kamu juga akan sebar-bar ini di malam pertama kita!" ujar Dipa menduga-duga.


"Dipa ..., hentikan!" pekik Mira saat dia semakin malu membayangkan hal itu akan terjadi padanya.


"Iya-iya, sudah!"


Dipa mengusap kepala istrinya dan mengecup pucuk kepala Mira beberapa kali.


"Berapa hari hingga tamunya pergi?" tanya Dipa tiba-tiba.


"Tamu? maksudnya?" tanya Mira sambil mendongak memandang ke arah suaminya.


"Itu, tamu bulanan kamu!" ujar Dipa.


"Ohh, aku biasanya enam hari baru tuntas," ujar Mira.


"Astaga lama sekali!" keluh Dipa yang sangat menantikan untuk segera menyalurkan hasratnya. Sebab, berdekatan dengan istri terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan dulu saat masih berpuasa ketika dia masih lajang.


Mira terkekeh menertawakan suaminya yang nampak tidak sabaran. "Uno Stackonya aku bawa kok, sementara kita bermain yang itu dulu! hahahaha ...!"

__ADS_1


"Yah!" Dipa menepuk jidadnya membayangkan harus bermain uno stacko sepanjang malam selama lima hari ke depan.


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2