Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Hutang


__ADS_3

"Lalu apa alasan kakekmu mencoret mu sebagai ahli waris dan mengambil semua miliknya darimu?" tanya Fely yang masih penasaran akan nasib suaminya yang baru diketahuinya.


Namun, Raka diam saja. Raka terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa kamu nggak jawab? tolong jangan bohongi aku lagi!" ujar Fely dengan penekanan di setiap katanya.


"Oke, aku akan jawab tapi kamu janji dulu sama aku tolong jangan katakan ini sama keluargamu, sebenarnya aku nggak ingin kamu dan keluargamu sedih karena hal ini," ucap Raka yang membuat Feli semakin penasaran.


Fely menghela napas beratnya. "Oke katakan!"


"Sebenarnya kakek melakukan itu semata-mata ... karena kakek tidak merestui jika aku menikah denganmu. Itulah mengapa dulu kakek memaksa aku untuk menerima perjodohan dengan Maura. Jika saat itu aku tidak menikah dengan Maura, kakek akan mencoretku sebagai ahli waris dan kakek mengancam akan mencelakai mama jika aku tidak menurutinya."


"Maafkan aku karena saat itu aku terpaksa harus memilih untuk meninggalkanmu dan menikah dengan Maura. Aku pikir alasan kakek memaksa karena ingin membalas budi kepada kakeknya Maura, ternyata di saat Maura sudah tiada pun kakek tetap menentang keinginanku untuk menikahimu." Raka menjelaskan dengan panjang lebar.


Feli terkesiap mendengar penjelasan dari Raka. Feli seketika menutup mulutnya yang sedikit terbuka dengan kedua telapak tangannya. Fely merasa sangat sedih karena kakeknya Raka sebegitu menentang Raka untuk menikahinya.


"Apa alasan kakekmu menentang pernikahan kita? apa karena orang tuaku tidak cukup kaya dan tidak sebanding dengan kakekmu?" tanya Feli dengan bulir-bulir air mata yang mulai menetes dari kedua sudut matanya.


Raka menatap istrinya itu dengan sendu lalu menggelengkan kepalanya. "Aku rasa bukan karena itu. Tapi entahlah, jujur saja aku nggak tahu alasan yang sebenarnya mengapa kakek sangat menentang jika aku menikahimu. Sampai saat ini kakek belum mengatakan apa alasannya. Yang jelas kakek sempat bilang, jika aku boleh menikah dengan siapa pun selain kamu," ujar Raka memberi penjelasan.


"Siapa saja selain aku?!" ucap Feli mengulang kata-kata dari Raka.


Hatinya terasa sangat sakit mendengarnya. Dia bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya hingga kakeknya Raka sangat membencinya. Dia bahkan belum pernah bertemu dengan kakek dari suaminya itu.


"Raka, bukankah kakekmu tidak mengenalku, bagaimana bisa kakekmu sangat menentang kamu menikah denganku?" tanya Fely.


"Aku juga nggak tahu, Fe. Tapi, aku yakin kakek sudah tahu semua identitasmu serta latar belakang keluargamu. Karena kakekku pasti sudah mencari tahu tentangmu dari anak buahnya," tutur Raka membeberkan tindakan yang biasa dilakukan kakeknya.


Feli menangis tersedu-sedu saat mendengar hal itu, dia bingung kenapa kakeknya Raka bisa sebegitu nya tidak menginginkannya untuk menjadi istri Raka. Dia berpikir keras tentang apa kesalahannya? ataukah ada yang kurang darinya sehingga kakeknya Raka sangat tidak menyukainya.


"Please, berhentilah menangis lagi, Fe! jangan pikirkan masalah kakekku! seharusnya aku tidak mengatakan tentang hal ini padamu. Hatiku pun sakit jika kamu merasa sedih seperti itu. Aku tidak peduli dengan restu kakek atau dengan hartanya. Kali ini aku tidak mau lagi menuruti keinginan kakek yang sangat egois untuk memisahkan kita."


"Aku akan berjuang untuk menjagamu dan melindungimu. Aku percaya kita pasti bisa hidup bahagia meski tanpa bantuan dari kakekku!" tutur Raka sembari merengkuh tubuh Feli ke dalam pelukannya serta mengusap-usap punggung istrinya dengan penuh perhatian.


"Meskipun kenyataan ini sangat sakit buat aku, tapi kamu harus tetap meengatakan hal itu padaku. Kedepannya aku mohon jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku. Kita harus saling jujur dan saling percaya satu sama lain. Jangan pernah ada kebohongan lagi, kita hadapi semuanya bersama-sama."


"Aku akan berusaha agar kakekmu merestui pernikahan kita, bawa aku untuk bertemu dengan kakekmu. Jika kakekmu meragukan ketulusanku terhadapmu, aku akan membuktikan pada kakekmu hingga kakekmu percaya jika cintaku tulus padamu," ujar Feli di sela-sela isak tangisnya.


"Kakekku sangat kejam, Fe. Aku tidak bisa mempertemukan mu dengannya. Aku tidak bisa membiarkan kakek melukaimu atau menjauhkan mu lagi dari aku," ujar Raka dengan cemas.

__ADS_1


Fely semakin terisak, rasa sedih berkecamuk di dalam dadanya. Hal itu pun cukup membebani pikirannya. Ketika pernikahan tidak mendapatkan restu dari salah seorang keluarga itu rasanya sangat menyedihkan.


Raka berusaha menenangkan istrinya. Disekanya air mata yang sempat membasahi pipi istrinya, kemudian kembali memeluknya dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya agar Fely merasa tenang.


Setelah beberapa saat feli sudah lebih baik dan tidak menangis lagi. Raka meminta Fely untuk menunggunya. Raka pergi ke suatu tempat di sudut alun-alun untuk membeli sesuatu.


Fely terus memperhatikan Raka yang berlalu pergi hingga berhenti di suatu kedai. Sesaat kemudian Raka kembali sembari membawa sesuatu ditangan kanannya.


"Diajeng, ini untukmu. Sejak tadi aku perhatikan sangat laris pembeli. Aku penasaran ingin membelikannya untukmu. Aku pilihkan yang rasa coklat. Bukankah coklat bisa memperbaiki suasana hati. Aku harap ini cukup membantu mengembalikan suasana hatimu menjadi lebih baik, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia saat bersamaku bukan bersedih seperti tadi. Ini makanlah, Sayang!" ujar Raka sembari mengulurkan tangannya yang membawa ice cream wafle yang dibelinya tadi ke hadapan Fely.


Fely nenerimanya, dan mulai mencicipinya. Ternyata benar, ice cream dengan wafle berbentuk ikan itu sangat enak, rasa coklat yang manis telah membuatnya sejenak lupa dengan permasalahannya tadi. Hingga tak sadar dia terus melahapnya. Tapi, dia seketika berhenti saat ingat jika Raka hanya membeli satu buah saja.


"Kenapa tadi belinya cuma satu? kamu juga harus coba!" ujar Fely sembari menyodorkan ice creamnya ke arah Raka.


"Enggak, kamu aja yang habiskan, Sayang!" tolak Raka sembari menggeser tangan Fely kembali ke hadapannya.


"Bukankah akan lebih romantis jika kita berbagi? kita bisa menghabiskan nya bersama! atau kamu nggak mau karena ini adalah bekas ku?" tanya Fely saat mendapatkan penolakan dari suaminya.


"Kalau boleh justru aku mau makan yang berasal dari bibirmu saja, Diajeng," ujar Raka sembari memandang lekat ke arah bibir istrinya.


Fely seketika mencubit pinggang suaminya.


"Aww ... sakit, Sayang!" ujar Raka sembari mengelus bekas cubitan istrinya.


"Biarin, siapa suruh mesum begitu!" ujar Fely sembari terkekeh.


"Mesum sama istri sendiri masa nggak boleh!" protes Raka.


"Ya kamu nggak inget sama tempat ihh. Kita di tempat umum," ujar Fely.


"Oke, berarti nanti kalau sudah di rumah boleh dong!" goda Raka.


"Ishh, apa sih! udah ah pulang yuk, kita ada tugas nganter nenek ke bandara, lhoh!"


"Ohh iya, jam berapa sih pesawatnya?" tanya Raka.


"Jam sembilan, kalau nggak salah!" ujar Fely.


Raka seketika melihat ke arah jam di tangannya. "Astaga udah jam setengah delapan, Diajeng. Cepat habiskan ice creamnya setelah itu kita pulang, karena kita harus bergegas!"

__ADS_1


"Bantuin!" pinta Fely dengan manja.


Akhirnya mereka menghabiskan ice creamnya berdua. Setelah itu Raka dan Fely pun bergegas lari menuju parkiran, agar tidak terlambat untuk mengantar nenek.


****


"Bulik, apa semua sudah siap?" tanya Maya kepada nenek Arum.


"Jangan khawatir, semuanya sudah aku siapkan!" jawab nenek Arum.


"Bulek pasti kembali kan?" tanya Maya.


"Tentu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku di tanah kelahiranku. Setelah urusan pembagian harta warisan peninggalan pak likmu itu selesai, aku akan segera kembali. Aku sudah meminta Abiyu agar mencarikan orang untuk merenovasi rumah peninggalan orang tuaku dan akan aku tempati hingga tiba saatnya nanti Allah memanggilku."


"Rasanya belum lega jika belum tuntas untuk melaksanakan pesan dari pak Lik mu, Maya. Beliau berpesan untuk membagi harta warisan bagi anak-anaknya dengan adil."


"Pak likmu, khawatir jika sepeninggalnya nanti anaknya akan berseteru hanya karena harta warisan yang tidak seberapa jika belum ada hitam di atas putih yang sudah tertulis nama mereka masing-masing. Untuk itu sebelum aku meninggalkan Riau, aku ingin menjalankan amanat dari mendiang suamiku agar sepeninggalku nanti mereka sudah menerima bagiannya masing-masing secara adil sesuai hukum islam."


"Dan, beliau berpesan untuk mewakafkan sebidang tanah yang dibelinya dulu, untuk diserahkan kepada warga desa untuk dibangun masjid. Belum sempat pak likmu mewujudkan hal itu, beliau sudah keburu dipanggil oleh Allah. Karena itulah Bulek ingin mewujudkan keinginan terakhir pak lekmu itu. Bukankah harta yang bisa menemani kita hingga di akhirat nanti berasal dari sedekah dan infaq di jalan Allah. Bulek berharap semoga keinginan pak likmu itu dapat diterima oleh Allah, dan pak likmu akan mendapat peneduh dari pahala sedekahnya di hari kiamat nanti," tutur nenek Arum.


"Aamiin, jika begitu sebaiknya disegerakan, Bulek. InsyaaAllah niat baik akan dipermudah jalannya oleh Allah," ujar Maya menanggapi.


"Aamiin. Ada satu hal lagi yang membuatku mengapa harus jauh-jauh datang kemari, Maya. Aku harus memastikan bahwa Fely menikah dengan orang yang tepat. Dan, ternyata memang sudah tepat. Sehingga aku sudah merasa lega," tutur nenek Arum.


"Aamiin, jangan khawatirkan tentang hal itu, Bulek. Doakan saja semoga pernikahan mereka kedepannya dirahmati oleh Allah dan membawa keberkahan ya, Bulek!" ucap Maya menjeda kata-katanya. "Oh ya, Bulek, nanti siapa yang akan menemani Bulek tinggal di rumah itu? apa tidak sebaiknya bulek tinggal di rumah ini saja sekalian menemani Fely?" Maya mengkhawatirkan buleknya jika harus tinggal seorang diri di rumah lamanya itu.


"Di sana kan dekat dengan tetangga. Lagi pula tidak jauh dari rumah ini, nanti jika perlu sesuatu aku akan meminta Fely untuk datang. Rumah itu banyak kenangan semasa kecilku, aku ingin tetap tinggal di sana. Dulu, rumah itu sempat dijual oleh ibumu, May. Setelah aku menikah dan punya cukup uang aku kembali mencari si pembelinya. Untung saja pembeli rumah itu masih mau menjualnya kembali padaku, sehingga rumah itu bisa kembali kepada ku," tutur nenek Arum bercerita.


"Untuk apa ibuku menjualnya bulek?" tanya Maya.


"Demi membayar hutang yang cukup besar, May. Kita tidak punya pilihan lain selain menjual rumah itu karena terus dikejar-kejar oleh penagih hutang. Setelah itu aku dan ibumu menumpang di rumah pakde ku demi bertahan hidup. Hal itu pun belum cukup untuk melunasi hutangnya, May. Aku dan ibumu harus bekerja keras untuk mencari uang dengan bekerja di ladang kakekmu. Hingga aku harus putus sekolah."


"Namun, pada akhirnya ibumu menikah dengan ayahmu. Ayahmu lah yang membantu melunasi hutang-hutang itu dan membiayai sekolahku. Kami sangat berhutang budi kepada ayahmu sehingga kehidupan kami bisa lebih baik," tutur nenek Arum.


Maya merasa hanyut dalam cerita itu. Dia bisa merasakan betapa sulitnya saat itu, ketika melihat pada netra buliknya yang mulai berembun. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar cerita tentang kehidupan ibunya sebelum menikah dengan ayahnya.


Maya menggenggam punggung tangan buleknya itu untuk menguatkan. "Ibuku berhutang sebanyak itu untuk apa, Bulik?" tanya Maya yang masih penasaran dengan alasan ibunya bisa berhutang sebanyak itu. Sebab, ibunya tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya.


..._________Ney-nna_________...

__ADS_1


__ADS_2