
"Pagi, Mah!" ucap Raka saat menuruni tangga. Dia sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat ke kantor seperti biasa.
"Pagi, Sayang. Yuk sarapan dulu, Mama kehabisan bahan memasak, jadi cuma bikin nasi goreng deh," ujar Rahma sembari mendudukkan diri di meja makan.
"Nggak apa-apa, Ma. Justru Raka suka banget nasi goreng bikinan Mama. Apa pun yang dimasak sama Mama tuh pasti enak dan nggak akan pernah bosan sampai kapan pun!" Raka menggeser kursi dan ikut mendudukkan diri di sana.
"Kamu nih bisa aja, deh! mukamu kelihatan cerah banget, Ka. Lagi seneng ya?" tebak Rahma seraya memandang ke arah putranya yang tidak henti-hentinya tersenyum.
"Mama tau aja nih, iya sih Raka emang lagi seneng banget, Ma. Raka bersyukur sekali pada akhirnya bisa bertemu lagi dengan Fely, dan dia mau menerima lamaranku. Raka berharap semoga kali ini kami benar-benar berjodoh," tutur Raka mengungkapkan rasa bahagianya saat ini.
"Aamiin. Semoga jalanmu dimudahkan, Sayang. Mama ikut senang jika kamu bahagia," ujar Rahma sembari mengulurkan piring yang sudah terisi nasi goreng ke hadapan Raka.
"Terima kasih, Ma!" ucap Raka saat menerima piringnya, kemudian segera menyantapnya seusai berdoa.
"Iya, buruan gih dimakan," ujar Rahma seraya kembali duduk ke bangkunya. "Oh ya, sudah tanya tentang maharnya belum sama Fely?"
"Sudah, Ma. Tapi, Fely bilang terserah aku saja yang ngasih, katanya apa pun yang aku kasih bakalan dia terima dengan lapang, dia cuma menekankan agar aku tidak mengecewakannya lagi, dia pengertian sekali ya, Ma? memang sih, setahu dia, Raka itu cuma seorang asisten direktur, dia pasti tahu mana mungkin kan Raka punya uang sebanyak itu dengan hanya bekerja sebagai asisten direktur yang gajinya tidak seberapa."
"Tapi, waktu aku desak lagi dia sempat nyeletuk dan bilang uang satu M gitu Ma dengan bercanda, gara-gara aku tanya terus, padahal awalnya Raka juga sudah menyiapkan uang segitu jumlahnya, Raka udah berjaga-jaga buat beli mahar buat dia, makanya Raka sempet kaget waktu dia bilang segitu, kok bisa tahu sih? tapi ternyata dia cuma bercanda," ujar Raka panjang lebar menceritakan percakapannya dengan Fely saat ditelepon semalam.
"Lantas apa kamu akan tetap memberikan uang sejumlah itu kepada Fely? mama sih setuju aja kamu kasih mahar satu M ke Fely. Tapi, jika kamu memberikan mahar sebanyak itu, Fely dan keluarganya akan bertanya-tanya, dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk maharnya," ujar Rahma berpendapat jika berada pada sudut pandang keluarga Fely.
"Entahlah, Ma. Raka juga sedang bingung memikirkan alasan yang tepat juga, tapi Raka ingin sekali mengabulkan keinginan Fely itu, yah walaupun itu hanya candaannya dia." Raka nampak berpikir keras tentang maharnya itu.
"Sudah, sekarang habiskan makan mu dulu, yang penting segera urus syarat-syarat yang harus dipersiapkan untuk mendaftarkan pernikahan kalian ke KUA dulu, masalah maharnya nanti kita pikirkan lagi setelah semuanya siap," tutur Rahma memberi usulan.
"Iya, Ma. Nanti Raka akan segera mengurusnya setelah dari kantor. Mungkin setelah jam makan siang," tutur Raka.
__ADS_1
Keduanya kembali melanjutkan sarapannya dengan tenang. Namun, dalam hati Raka masih memikirkan apa yang akan kakeknya lakukan jika mengetahui Raka tetap akan menikah dengan Fely. Dia ingat betul saat mendatangi kakek untuk meminta restu, kakek terlihat sangat menentang pernikahan nya dan mengatakan jika akan mencoretnya sebagai ahli waris.
Raka cukup tahu bahwa kakeknya tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Raka tahu betul dengan tabiat kakeknya yang keras dan terkesan semena-mena pada bawahannya yang tidak menjalankan perintahnya, kakek pasti akan melakukan hal yang sama kepadanya ketika dia tetap memilih menikahi Fely. Sudah bisa dipastikan bahwa cepat atau lambat, kakek akan mencoretnya sebagai ahli warisnya.
Namun, satu hal yang membuatku sangat penasaran. Sebenarnya apa alasan kakek begitu menentang ku untuk menikah dengan Fely? bahkan kakek sampai berkata aku boleh menikah dengan wanita manapun asalkan bukan Fely. Aku semakin curiga dengan sikap kakek, apakah ada sesuatu yang membuat kakek begitu keras menentang kami? gumam Raka di dalam hati.
Tok tok tok.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Rahma dan Raka saling berpandangan seraya melihat ke arah jam didinding yang masih menunjukkan pukul 07.00.
"Siapa yang sudah bertamu sepagi ini?" tanya Rahma seraya berdiri dari tempat duduknya.
Raka mengedikkan bahu menandakan bahwa dia juga tidak tahu.
Rahma segera berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Dilihatnya dari kaca jendela samping pintu terlihat seorang laki-laki berdiri membelakangi pintu. Rahma segera membuka pintunya.
Saat pintu terbuka nampaklah asisten tuan Wirya di depan pintu. Rahma seketika heran melihatnya.
"Nyonya ...," ucap Yahya saat Rahma diam saja sembari memandang heran ke arahnya.
"Ada perlu apa Anda ke mari?" tanya Rahma tanpa basa-basi, Rahma bisa menduga bahwa kedatangannya ke rumahnya kali ini tidak akan jauh beda dari sebelum-sebelumnya. Sesuatu yang pastinya bukan kabar baik.
"Nyonya, kedatangan saya ke mari atas perintah dari tuan besar. Bisakah saya bertemu dengan mas Raka?" ujar Yahya sopan.
"Tunggu sebentar, akan aku panggilkan!" ujar Rahma, kemudian kembali masuk ke dalam rumah mencari Raka.
"Raka, ada Yahya di depan. Kakekmu memintanya datang karena ada yang ingin di sampaikan padamu," tutur Rahma pada putranya.
__ADS_1
Baru saja aku memikirkan tentang kakek, dan asistennya sudah datang sepagi ini, batin Raka.
"Baiklah, Ma. Raka akan menemuinya," ujar Raka kemudian meletakkan alat makannya dan beranjak berdiri menuju ruang tamu.
Raka ke luar dengan diikuti Rahma dari belakang.
"Ada apa, Pak? apakah terjadi sesuatu pada kakek?" tanya Raka sedikit mencemaskan kakeknya saat melihat asisten kakek datang sepagi ini untuk menemuinya.
"Tidak, Mas. Saya datang karena ada hal lain berkaitan dengan Anda. Bisakah Mas Raka menuruti agar tidak menikah dengan wanita bernama Felycia?" tanya Yahya.
"Hhhah, tidak! aku akan tetap menikahinya. Memangnya kenapa jika aku tidak mengikuti keinginan kakekku?" tanya Raka dengan nada sinis menentang keinginan kakek.
"Anda yakin?" Yahya mengulangi pertanyaannya.
"Ya, aku yakin sekali akan menikahinya," jawab Raka mantap.
"Jika begitu mohon maaf saya terpaksa harus menyita mobil, kartu kredit, debit, dan semua fasilitas lainnya dari harta kekayaan yang berasal dari kakek anda," tutur Yahya seketika membuat mereka tercengang.
"Baiklah, tunggu akan ku persiapkan semuanya yang kamu mau!" tutur Raka kemudian kembali masuk ke dalam rumah mengambil seluruh harta yang berasal dari harta kekayaan kakeknya.
Raka kembali keluar dan menyerahkannya kepada asisten setia kakek.
"Nih ambil semua dan katakan kepada kakek jika aku sudah merelakan hal ini, jadi tolong jangan mengusik kehidupan ku lagi!" tutur Raka mantap.
"Baik, Mas. Saya permisi!" ucap Yahya kemudian pergi meninggalkan kediaman Rahma.
"Astaghfirullah, apa yang membuat kakekmu itu berhati batu Raka? seharusnya jika dia menganggap mu cucunya beliau turut senang melihatmu bahagia."
__ADS_1
"Tenang, Ma. Jangan khawatirkan hal itu, aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Aku sudah menduganya jika kakek pasti akan melakukan hal ini. Dan, aku akan membuktikan pada kakek jika aku bisa tetap hidup tanpanya!"
...__________Ney-nna_________...