
Seusai menelepon, Rangga bergegas menaiki taxi menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. Jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Beruntung Rangga masih kebagian tiket terakhir untuk menuju Solo. Jadwal keberangkatan pukul 19.10 WIB. Masih ada sisa waktu untuk makan terlebih dahulu. Dia memutuskan untuk makan di stasiun sambil menunggu kereta yang akan membawanya, datang. Saat sedang makan Rangga mendapati ada seorang pengunjung kedai yang mendekat ke mejanya.
"Mas, maaf mengganggu. Bolehkah saya meminta tolong? Handphone saya kehabisan batrey, kalau boleh saya mau pinjam handphonenya untuk mengabari Kakak saya, supaya menjemput di stasiun," perempuan itu memohon dengan penuh harap.
"Emm...boleh, silakan," Rangga menyodorkan handphonenya ke depan.
"Sebelumnya terima kasih ya, Mas!" ucap perempuan itu sambil tersenyum ramah. Rangga membalas dengan mengangguk.
"Hallo, kak. Handphone aku low batt, ini pinjem punya orang. Kakak jemput aku di stasiun jam delapan ya. Bentar lagi kereta aku datang," ucapnya saat bertelepon ria, yang masih terdengar di telinga Rangga.
"Okey, jangan sampai telat jemputnya!" ucapnya lagi. Kemudian telepon dimatikan.
Perempuan itu kemudian beralih menuju Rangga, "Ini Mas, handphonenya. Sekali lagi terima kasih ya?" ucap perempuan itu sambil mengembalikan handphone kepada Rangga.
Rangga hanya tersenyum kemudian mengangguk.
Tak berapa lama kereta tiba. Rangga bergegas menuju peron. Saat pintu penumpang terbuka, Rangga kemuadian masuk ke salah satu gerbong kereta.
Kurang lebih hampir satu jam berlalu. Sampailah Rangga di stasiun Balapan.
Perempuan tadi celingukan dan belum mendapati Kakaknya. Ia kemudian berlari mendekati Rangga.
"Mas...mas...tunggu!" teriaknya.
"Ada apa?" tanya Rangga dengan keheranan.
"Maaf Mas, Kakak saya belum datang. Saya takut sendirian di sini. Stasiun sudah sepi, tolong tinggal sebentar sampai Kakak saya datang menjemput," mohon gadis itu.
Rangga terdiam sejenak, dalam pikirannya ia ingin segera pulang untuk menemui Reyna. Namun, melihat kawasan di stasiun yang terkenal cukup rawan, apalagi di malam hari. Akhirnya ia menyetujui untuk menemani gadis itu sebentar hingga Kakaknya datang.
"Baiklah!" Rangga kemudian duduk di kursi tunggu stasiun. Perempuan itu juga ikut duduk di samping Rangga dengan jarak dua kursi di bagian tengah memisahkan mereka.
Perempuan itu melirik pada Rangga yang terus menekuni handphonenya.
"Ekhm...ekhm...Mas, kenalkan nama saya Rosa, kalau boleh tau Mas, namanya siapa?" dengan mengumpulkan keberanian akhirnya ia mengajak berkenalan.
Rangga menoleh pada Rosa, sungguh ia sebenarnya malas, satu keinginannya sat ini adalah segera menemui Reyna.
"Rangga!" ucapnya singkat dengan sedikit senyum di bibirnya, tanpa menjabat tangan Rosa. Saat ini ia sedang bertukar pesan dengan Reyna.
Tak lama sebuah mobil terparkir di halaman. Rosa yang mengetahui yang datang adalah kakaknya, dia pun berdiri.
"Itu kakakku, Mas. Terima kasih ya, Mas. Atas bantuanya tadi dan sudah bersedia menemani saya," ucap Rosa tulus.
"Iya, sama-sama," jawab Rangga sopan.
"Rosa, cepat masuk. Dibilangin jangan deket-deket sama cowok juga. Kamu itu masih kecil!" ucap Kakak Rosa tegas.
Rosa adalah mahasiswa semester awal di UGM Yogyakarta. Pilihannya yang ingin kuliah jauh dari rumah membuat kakaknya lebih tegas menjaganya. Jangan sampai adik perempuannya terbawa arus hubungan anak muda yang kelewat batas.
__ADS_1
"Maafkan Kakak saya ya, Mas. Saya permisi duluan," Rosa mengangguk sopan kemudian melangkah menuju mobil kakaknya.
Rangga hanya diam tak mau ambil pusing dengan hal itu. Ia berjalan ke tepi jalan untuk mencari taxi. Kebetulan masih ada beberapa taxi yang mangkal di sekitaran stasiun. Rangga memilih salah satu taxi kemudian taxi melaju setelah menyepakati untuk menaiki taxi tersebut.
Rangga sudah mendapatkan pesan maps alamat rumah Cindy dari Reyna. Saat dilihat alamatnya ternyata tak jauh dari rumah orangtuanya. Rangga memutuskan untuk pulang sejenak mengambil mobil agar lebih mudah saat menjemput Reyna. Selang lima belas menit, sampailah Rangga di rumah orangtuanya. Rangga membayar taxi kemudian masuk ke dalam rumah. Rangga tidak naik ke kamarnya melainkan mengambil kunci mobil di nakas ruang tengah, kemudian hendak pergi lagi.
Tidak terlihat Mami dan Papi, mungkin berada di karmar atau taman belakang. Rangga hanya sempat berpapasan dengan Siti.
"Lhoh Mas Rangga, kok balik ke sini lagi? Katanya tadi ke Jakarta," tanya Siti.
"Ia Mbak, tadinya juga sudah sampai di Jakarta, ini dapat kabar ternyata Reyna berada di Solo. Aku pergi dulu ya Mbak, mau jemput Reyna sekarang. Tolong bilang sama Papi, biar nggak bingung nanti kalau mobil yang satunya aku yang bawa," Rangga bergegas menuju garasi untuk mengambil mobil.
Saat membuka pintu garasi, ia melihat ke teras rumah, ada koper yang tadi di bawanya masih bertengger di sana. Ia belum sempat menyimpannya ke dalam rumah. Karena buru-buru akhirnya ia masukkan saja ke dalam bagasi mobil. Takutnya akan kemalaman sampai di rumah Cindy. Tidak enak jika bertamu larut malam.
Setelah siap, Rangga bergegas masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya menuju rumah Cindy.
****
Reyna dan Cindy sedang duduk di dapur membantu ummi membuat klepon. Ummi adalah ibu rumah tangga yang aktif di pengajian rutin dan sebagai guru mengaji bagi ibu-ibu yang ingin belajar membaca Qur'an. Ummi terkadang juga menerima pesanan untuk membuat kue jika ada tetangga yang meminta tolong untuk dibuatkan atau jasa pembuat snack saat ada hajatan di kampungnya.
Saat ini ummi sedang membuat klepon untuk pesanan snack acara jalan sehat di hari minggu esok pagi. Adonan klepon terbuat dari tepung ketan dan sedikit tepung beras, sedangkan warna hijau berasal dari daun suji dan pandan. Adonan diuleni hingga khalis agar mudah dibentuk. Adonan yang sudah jadi kemudian di bentuk bulatan-bulatan sebesar buah anggur dengan diberi isian gula merah di bagian tengahnya. Bulatan-bulatan tersebut kemudian dimasukkan satu-persatu ke dalam panci berisi air yang sudah mendidih seperti membuat bakso. Bulatan yang sudah mengapung kemudian di tiriskan. Setelah dingin, ummi menutup baskom berisi bulatan klepon tersebut dengan plastik wrap di bagian atasnya, kemudian di simpan di kulkas.
Karena cukup banyak, ummi mencicilnya dari malam ini, keesokannya ummi tinggal menyelimutinya dengan parutan kelapa yang sudah di kukus.
"Ini Ummi buatkan sedikit yang sudah dibalut parutan kelapa, Reyn. Sudah pernah coba belum?" ummi menyodorkan piring yang berisi klepon yang sudah jadi.
"Sudah sih, Ummi. Tapi itu sudah lama sekali, dulu saat menginap di Jogja di rumah saudara. Bibi mengajak Reyna dan Ibu ke pasar untuk berburu jajanan pasar," ujar Reyna sambil mengingat-ingat masa lalunya. "Kelihatannya enak, Ummi. Reyna coba ya? Bismillah!" dimasukkannya satu buah klepon ke dalam mulutnya.
"Bagaimana, Reyn? Enak tidak bikinan Ummiku?" tanya Cindy yang berada di depannya.
"Emmm...ini enak sekali, Ummi. Reyna bakalan rindu deh sama masakan dan kue klepon buatan Ummi," ungkap Reyna.
"Kue klepon itu pernah viral di medsos lhoh Ummi, katanya nggak islami!" ungkap Cindy.
"Nggak islami bagaimana? Padahal kue klepon itu ada artinya yang bagus lhoh Reyna, coba ingat tadi cara membuatnya, diuleni dengan kelembutan dan keuletan, sabar membuatnya satu persatu, dan musti tepat tingkat kematangannya, kalau dilihat dari bentuknya klepon itu seperti keras di luar dan lembut di bagian dalam, seperti halnya manusia yang harus memiliki kebaikan di dalam hatinya, kemudian kalau orang jawa bilang kanti lelaku pesti ono yang artinya sebagai petunjuk dalam hidup, jika kita prihatin pasti akan ada jalan keluarnya," cerita ummi panjang lebar.
"Wahh, Reyna nggak nyangka dapat pelajaran yang bisa di petik dari kue klepon. Bagus juga ya Ummi, filosofinya. Ummi memang hebat!" Reyna nampak kagum dengan pengetahuan ummi.
"Ah...bisa saja kamu Reyna!" ujar ummi dengan ke rendahan hati.
"Cindy, itu ada tamu. Katanya mencari nak Reyna," ungkap Abi yang baru masuk ke dapur.
"Oh, itu pasti suami kamu, Reyn!" ujar Cindy pada Reyna.
"Iya, Ummi, Reyna permisi ke depan dulu yah," Reyna beranjak dari duduknya kemudian berjalan dengan perlahan dengan tongkat menuju ruang tamu. Cindy mengikutinya dari belakang.
Gorden pintu di sibaknya dari dalam, terlihat Rangga yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Perlahan Reyna berjalan memasuki ruang tamu. Rangga yang melihat Reyna berjalan dengan tongkat dan balutan perban di kakinya, nampak terkejut dan khawatir.
"Hubby...!" panggil Reyna saat mata mereka bertemu. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang...!" Rangga dengan cepat menghampiri Reyna dan membawanya ke dalam pelukan.
Cindy kemudian meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
Air mata Reyna sudah pecah tak terbendung. Ia memeluk suaminya erat meluapkan kerinduan yang amat besar, setelah beberapa hari tidak dapat bertemu. Pertemuan ini terasa sangat berbeda. Ia merasa lebih mencintai suaminya setelah prahara yang hampir saja memisahkan mereka. Rangga membelai pucuk kepala istrinya lembut menenangkan. Sesaat kemudian setelah Reyna lebih tenang, Rangga mengendurkan pelukannya.
"Sayang, apa yang terjadi dengan kakimu?" tanya Rangga sambil menangkupkan kedua tangan di kedua pipi Reyna menghapus sisa air mata yang sempat meluncur di pipi istrinya.
"Nggak apa-apa, By. Ini cuma terkilir. Nanti saja aku menceritakannya," ujar Reyna. Saat ini yang lebih penting adalah ia bisa bersatu kembali dengan suaminya.
"Baiklah!" akhirnya ia pun bersabar.
Rangga cukup canggung juga untuk membahas permasalahannya di rumah orang lain.
"Ayo By, duduk dulu," Reyna dan Rangga kemudian beranjak dari tempatnya berdiri menuju sofa panjang di ruang tamu.
Tak lama Cindy keluar bersama ummi membawa dua cangkir teh dan sepiring klepon untuk Rangga dan Reyna.
"Nak, maaf mengganggu. Pasti lelah kan baru sampai. Sekarang diminum dulu tehnya."
"Baik, Bu. Terim kasih, maaf sudah merepotkan," jawab Rangga.
"Sama sekali tidak repot kok nak! Terus nanti jadi mau menginap di sini atau bagaimana?" tanya ummi.
Rangga dan Reyna kemudian bertatapan. Rangga merasa tidak enak jika harus ikut menginap di rumah orang juga.
"Emm... saya bawa pulang ke rumah orangtua saya saja, Bu. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini." ujar Rangga.
Setelah mengobrol sebentar dengan keluarga Cindy. Akhirnya Rangga dan Reyna berpamitan.
Saat berada di mobil Reyna tampak cemas. Ia belum sanggup jika harus bertemu dengan ibu mertuanya saat ini.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rangga yang menyadari ada kekhawatiran pada raut muka istrinya.
"Emm...By, bisa tidak jika malam ini kita tidak pulang ke rumah dulu. Bagaimana kalau kita menginap di hotel saja untuk malam ini, aku butuh waktu berdua saja denganmu untuk membahas masalah kita," pinta Reyna.
Sejenak Rangga berpikir, "Baiklah, Sayang. Asal kamu bahagia, jangan cemberut terus begitu."
Akhirnya Reyna dapat tersenyum bahagia karena keinginannya dikabulkan oleh suaminya. Rangga mengelus pucuk kepala Reyna yang tertutup hijab disela-sela mengemudinya.
Seharian ini Rangga sangat lelah berputar-putar. Pagi ia berangkat naik pesawat dari Solo ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta ternyata yang dicari tidak ada. Akhirnya sore ia mencari Reyna ke Jogja. Sesampainya di Jogja, Rangga kembali naik kereta menuju Solo.
Namun hal itu terbayar sudah saat sekarang istri tercintanya sudah berada tepat di sampingnya.
_____________________________________________
Berharap like, comment, vote, follow untuk semangat up ya kawan,, jangan lupa dukung aku! 😘
Salam hangat,
__ADS_1
Neyna