Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Rindu Mama


__ADS_3

Reyna tiba di kediaman milik Dimas. Dimas memiliki klinik kesehatan yang tergabung dengan rumahnya yang memanjang hingga ke belakang. Pintu utama klinik menghadap langsung pada jalan raya, sedangkan pintu utama rumahnya menghadap ke perumahan elite. Sehingga rumah pribadi Dimas langsung menyambung dengan bangunan klinik.


Dimas memarkir mobilnya di pelataran klinik, kemudian turun dari mobil memutar untuk membantu Reyna turun dari mobil. Dengan sigap Dimas mengambilkan kursi roda agar Reyna tidak perlu berjalan terlalu jauh. Dimas langsung membawa Reyna menuju tengah bangunan yaitu menuju ruang kamar inap pasien.


"Reyna kamu bisa tinggal di sini. Jika perlu sesuatu kamu bisa memanggil Mbak Minah ART di rumah saya. Kamarnya ada di sebelah dapur dan di sebelahnya lagi ada pantry, untuk karyawan klinik. Dan di bagian depan ada beberapa perawat klinik jika kamu membutuhkan perawatan, kamu bisa memanggil mereka," ujar Dimas menjelaskan.


"Baik, Dok. Terima kasih!" ucap Reyna sambil mengangguk.


"Kamu bisa beristirahat, saya akan keluar dulu untuk memberitahu yang lain tentang keberadaan kamu di sini," Dimas keluar kamar meninggalkan Reyna seorang diri.


Reyna melihat ke sekitar kamar cukup bersih dan terawat. Ada satu tempat tidur seperti di rumah sakit di sampingnya ada nakas kecil, kemudian terdapat kamar mandi di dalam dan satu sofa panjang berukuran medium. Di luar kamar, berhadapan langsung dengan taman kecil dan di sampingnya terdapat mushola terbuka dengan pagar kayu di sekelilingnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Reyna memutuskan untuk sholat terlebih dahulu di mushola. Seusai sholat Reyna melihat ke samping ada seorang wanita muda yang juga menyelesaikan sholatnya. Reyna menyimpan mukena di almari kecil tempat menyimpan mukena.


"Mbak ini pasien dr. Dimas yang menginap di kamar itu ya?" tanya wanita muda yang berpakaian setelan baju dan celana panjang berwarna putih lengkap dengan hijab warna putih khas seorang perawat klinik.


"Iya, Mbak. Nama saya Reyna," Reyna memperkenalkan diri dengan ramah.


"Saya Cindy, perawat yang jaga di FO klinik depan, Mbak," dengan ramah Cindy mengulurkan tangan berjabat tangan. Reyna menyambutnya dengan tak kalah ramah.


"Tadi dr.Dimas sudah berpesan kepada saya untuk membantu Mbak Reyna, jika membutuhkan bantuan bisa telepon saya saja," katanya.


"Baik, Mbak. Terima kasih!" ucap Reyna.


"Ya sudah saya permisi ke depan dulu ya, Mbak," pamitnya kepada Reyna.


"Ya, Mbak. Silakan!" Cindy pun berlalu.


Reyna kembali ke kamarnya kemudian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Seusai mandi Reyna berbaring di tempat tidur, seharian ke sana kemari membuatnya lelah. Setidaknya di sini jauh lebih baik dari pada ia menginap di hotel sendiri pasti sangat kesepian.


Reyna menerawang memandang ke langit-langit kamar. Mengingat kejadian siang tadi saat diusir ibu mertuanya. Kata-kata mami masih terngiang-ngiang di benaknya, terasa perih di dalam dada. Namun ada yang membuatnya heran dengan foto yang mami perlihatkan pada Reyna tadi siang.


"Dari mana Mami memperoleh fotoku dan Kak Abi saat berada di resto? Itu berarti orang yang mengambil foto ada di resto Kak Abi saat itu. Dan itu berarti orang yang mengambil foto mengenal aku dan Mami juga. Ohh iya tadi kan ada Putri, apa mungkin Putri yang memberikan foto itu pada Mami? Tapi aku kemarin tidak melihat Putri di resto Kak Abi!" Reyna bergumam sendiri memikirkan hal itu.


Tok...tok...tok!


Reyna seketika melihat ke arah pintu, "Masuk!"


Pintu terbuka memperlihatkan wanita paruh baya di balik pintu, "Maaf Mbak mengganggu istirahatnya, saya diminta Pak Dimas untuk membawakan teh hangat, dan ini ada sedikit kue untuk camilan sore."


Reyna menduga mungkin itu adalah Mbak Minah ART dr.Dimas. Reyna bangkit untuk duduk.


"Mbak Minah ya?"


"Terima kasih, Mbak. Maaf merepotkan," ucap Reyna.


"Iya, Mbak. Saya pembantu di rumah ini."


"Tidak merepotkan kok Mbak, ini sudah menjadi tugas saya. Kalau butuh sesuatu panggil saya saja ya, Mbak," katanya.


"Oiya, panggil saja saya Reyna," Reyna tersenyum ramah.


"Baik, mbak Reyna. Mau saya ambilkan makan sekarang apa nanti? Kata pak Dimas, mungkin mbak Reyna belum makan siang?" tanya Minah.


Oiya, aku baru ingat tadi belum sempat makan siang gara-gara kejadian tadi siang. Pantas saja aku merasa lemas dan perutku terasa perih.


"Iya Mbak, saya baru ingat tadi belum sempat makan siang. Jika diijinkan saya makan di dapur saja boleh, Mbak?"


"Saya bosan dari tadi di kamar sendirian," tanya Reyna.


"Boleh Mbak, mari saya antar ke pantry. Karyawan klinik biasanya juga makan di sana. Ini teh dan kuenya saya bawakan, nanti di makan di sana saja ya sekalian?" Minah mengambil kembali teh dan kuenya di taruh di atas nampan.


"Iya, Mbak. Terima kasih!"


Mereka berjalan menuju pantry. Sesampainya di pantry Reyna meminum teh dan memakan kue yang di kasih Minah. Minah berlalu ke dapur untuk mengambil makan untuk Reyna.

__ADS_1


"Ini Mbak makanannya," di taruhnya piring yang berisi lauk pauk dan ada mangkuk kecil berisi sup.


"Makasih ya, Mbak. Tapi ini kok banyak banget mbak porsinya?" tanya Reyna yang heran mendapat nasi dengan porsi besar dan lauk pauk lengkap telur, ikan dan daging.


"Kata, Pak Dimas, mbak Reyna kan sedang hamil, jadi musti banyak makan biar janin yang ada di kandungan sehat," ujar Minah sambil tersenyum ramah.


Reyna speechless mendengar perkataan Minah. Reyna menjadi sungkan karena diperlakukan sangat baik di rumah ini.


"Aduh Mbak, saya jadi nggak enak karena sudah banyak merepotkan dr.Dimas dan mbak Minah. Lain kali tidak perlu sebanyak ini. Saya takut tidak bisa mengahabiskan semuanya nanti jadi mubazir," ucap Reyna.


"Mbaak...!" tiba-tiba ada seruan dari dalam rumah seperti suara anak kecil.


"Iya, non," jawab Minah.


Dari luar nampak seorang anak perempuan berdiri di pintu yang menghubungkan rumah dengan dapur. Minah menghampiri anak tersebut.


"Ada apa, Non Qila?" tanya Minah.


"Qila mau, susu..," katanya.


"Baik, Non. Sebentar ya Mbak buatkan," Minah menuju dapur untuk membuatkan susu.


Anak itu kemudian duduk di kursi pantry berhadapan dengan Reyna namun agak ke samping. Pandangan anak itu kemudian mengarah kepada Reyna yang sedang makan. Merasa di perhatikan anak kecil Reyna menoleh kemudian tersenyum. Anehnya anak itu terlihat sedih matanya berkaca-kaca.


"Maa..maa..!" ucapnya.


Reyna bingung dengan sebutan anak itu. Reyna menoleh ke samping kanan kiri tidak ada orang lain selain dirinya.


Apa aku salah dengar, aku tadi seperti mendengar anak itu memanggil mama!


"Maamaaa... huwaaaaa!" anak itu malah terlihat menangis histeris.


Reyna kaget mendapati anak itu menangis. Ia kemudian menghentikan makannya.


"Eh..anak cantik kenapa menangis?" Reyna membelai lembut kepala anak itu. Kemudian anak itu berdiri dari duduknya dan menghampiri tempat duduk Reyna.


Reyna hanya bengong diam di tempat, bingung tidak tau harus berbuat apa.


"Eh, non Qila, itu bukan Mama, Non!" Minah ikut kaget melihat tindakan Qila yang mengira Reyna adalah mamanya.


"Ini Mama Qila, Mbak. Qila rindu Mama!" anak itu semakin erat memeluk Reyna sambil berlinang air mata. Reyna akhirnya mengusap-usap belakang punggung anak itu untuk menenangkan.


"Memangnya Mamanya kemana, Mbak?" tanya Reyna pada Minah.


"Sudah tidak ada Mbak Reyna, Ibu meninggal saat kecelakaan setahun yang lalu," ujar Minah dengan mata berkaca-kaca mengenang kejadian setahun yang lalu.


Saat itu dr.Shila istri dr.Dimas sedang hamil tua, saat berangkat kerja ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Akhirnya ibu dan janinnya tidak tertolong dan meninggal. Saat itu Qila masih berumur empat tahun. Selama ini Qila diasuh oleh ibu dari dr. Dimas saat ditinggal kerja.


Mendengar ada keributan Dimas dan Ibunya muncul dari dalam rumah.


"Qila, ada apa sayang?" terlihat wanita paruh baya yang terlihat anggun keluar dari dalam rumah.


Dimas yang melihat Qila memeluk Reyna sambil menangis sudah bisa menduga bahwa Qila pasti mengira Reyna adalah mamanya. Dimas terlihat sendu menyaksikan pemandangan di depannya. Ia hanya bisa pasrah sambil mengeluarkan nafas beratnya. Pasalnya ia pun tadi saat awal bertemu Reyna juga merasa bahwa Reyna sangat mirip dengan almarhumah istrinya. Bedanya istrinya tidak mengenakan hijab dan lebih tegas karakternya dibanding Reyna yang lemah lembut. Namun dari garis wajahnya nampak sangat mirip.


"Dia siapa Minah?" tanya ibu Dimas.


"Pasien Dimas, Bu. Tadi Dimas yang bawa dia ke sini," ungkap Dimas.


"Mirip sekali dengan Shila!" ujar ibu Dimas blak-blakan.


Reyna yang ikut mendengar percakapan ibu dan anak itu pun akhirnya sedikit mengerti. Mungkinkah Reyna mirip dengan mama anak yang saat ini berada di pelukannya. Pantas saja tadi saat di stasiun Dimas juga bengong saat pertama kali melihatnya.


"Sayang, jangan menangis nanti hilang cantiknya," Reyna mengendurkan pelukannya. Anak itu menurut.


Diusapnya pipinya yang masih basah. Kemudian di rapikannya rambut anak itu.

__ADS_1


"Nah, kalau begini kan terlihat cantik. Sekarang duduk dulu ya, tadi katanya mau minum susu," bujuk Reyna mengajak anak itu agar duduk di kursi samping tempat duduk Reyna.


Minah buru-buru memakai kacamatanya kemudian menaruh segelas susu di hadapan Qila. Ia baru menyadari jika Reyna memang mirip dengan almarhum majikannya. Tadi saat tidak memakai kacamata tidak terlalu jelas memperhatikan wajah Reyna.


Dimas dan Ibunya merasa lega akhirnya Reyna bisa membujuk Qila agar berhenti menangis. Ibu Dimas menarik tangan Dimas untuk masuk ke dalam rumah agar bisa berbicara berdua.


"Dim, ayo ke dalam sebentar!" titah Ibu Dimas.


Dimas pun akhirnya mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah.


"Dim, coba ceritakan awal mula kamu bisa ketemu dengan perempuan itu!" titah Ibu Dimas.


Akhirnya Dimas menceritakan semua kejadian dari awal tadi ia bertemu Reyna hingga ia membawanya ke rumah ini.


"Oh jadi begitu, sayang sekali ya, dia sudah punya suami. Kalau tidak kan bisa menjadi ibu sambung untuk Qila," ungkap Ibu Dimas sendu.


"Ibu ini bicara apa? Dimas tidak ingin menikah lagi, Bu," ujar Dimas.


"Eh, kamu jangan egois, Dim. Qila itu masih kecil, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Ibu kan sudah mulai tua, tidak bisa memahami kehidupan anak muda jaman sekarang, apalagi saat Qila nanti tumbuh menjadi anak remaja"


"Kamu kan juga masih muda, Dim. Apa kamu mau menduda terus sampai tua!" ujar Ibu Dimas.


"Dimas tidak ingin membahas itu lagi, Bu. Sekarang bagaimana cara kita mengatakan pada Qila bahwa Reyna bukan Mamanya," Dimas menyentuh pelipisnya yang terasa pusing.


"Kamu saja yang memberitahu, ibu tidak tega melihat ia bersedih lagi ketika tahu dia bukan Mamanya. Saat ini Qila baru bahagia menemukan sosok Mamanya pada wanita itu," ujar Ibu Dimas.


"Hhhh...!" Dimas menghela nafas beratnya. Ia tahu betapa sulitnya membujuk Qila jika sedang menginginkan sesuatu.


Dimas berjalan ke arah dapur untuk kembali menemui Qila dan Reyna. Qila terlihat sedang mengobrol dengan Reyna. Mukanya terlihat tersenyum ceria. Dimas menjadi ragu untuk mengatakan yang sesungguhnya.


"Ehhm...Qila sekarang masuk ke dalam rumah dulu yuk, Papa mau bicara," bujuknya pada anak perempuannya.


"Gak mau, Qila mau sama Mama!" kekeuh anak itu.


Akhirnya mau tidak mau Dimas mengatakannya di depan Reyna, "Sayang, tante ini bukan Mama nak, Mama sudah pergi ke surga," ungkap Dimas lembut.


Qila melonjak turun dari kursi memeluk erat tubuh Reyna.


"Papa bohong, ini Mama Qila. Mama sudah pulang. Qila mau sama Mama!" rengek anak itu dan tidak mau di pisahkan dengan Reyna.


Reyna bingung harus bagaimana. Ia takut melukai hati anak ini juga.


"Qila...," ucapan Dimas terpotong dengan rengekan Qila lagi.


"Mama, Qila mau sama Mama. Mama jangan pergi lagi!" ucapnya sambil mendongakkan wajahnya memandang Reyna, tangannya masih tak mau lepas memeluk Reyna.


Reyna bingung harus berkata apa. Dalam hati Reyna sungguh kasihan dengan Qila, anak sekecil ini pasti sangat membutuhkan kasih sayang ibunya. Pada akhirnya ia hanya bisa tersenyum sambil mengusap-usap pucuk kepala anak itu. Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang.


"Qila, sudah bisa sholat?" tanya Reyna.


"Sudah, kan sudah diajarkan di sekolah," jawabnya.


"Ayo kita sholat maghrib dulu?" ajak Reyna. Qila mengangguk.


"Qila ambil mukenanya dulu, aku tunggu di sini ya? Nanti sholatnya di mushola dekat taman saja," ujar Reyna sambil menunjuk ke arah mushola.


"Baik, Ma!" ucapnya patuh, kemudian berlari menuju ke dalam rumah.


"Dokter, nanti saya akan coba menjelaskan kepada Qila, sementara biar dia ikut bersama saya," ucap Reyna.


"Baiklah, maaf ya Reyna sudah merepotkan kamu. Wajahmu memang ada kemiripan dengan almarhumah istri saya, sehingga Qila mengira kamu adalah Mamanya," ungkap Dimas.


"Tidak apa-apa, Dok. Saya mengerti," Reyna tersenyum ramah.


Tidak berbeda dengan Qila, memandang wajah Reyna pun membuat Dimas semakin tidak kuat menahan perasaan rindunya terhadap almarhumah istrinya. Sebaiknya ia segera pergi dari sini.

__ADS_1


"Reyna, saya titip Qila ya. Sebentar lagi saya ada jadwal praktik di klinik depan, saya mau bersiap dulu," Reyna mengangguk, kemudian Dimas berlalu masuk ke dalam rumah setelah berpamitan.


__ADS_2