
POV Fely.
Setelah lima belas menit berkutat di jalanan, kami sampai di stasiun Tugu. Seusai mas Nabil check-in kami duduk di salah satu kursi tunggu. Mas Nabil tidak melepaskan genggaman tangannya sembari kami menunggu keretanya datang.
"Kenapa milih naik kereta sih, Mas? kan kalau naik pesawat lebih cepat sampai," tanyaku.
"Naik pesawat itu gak asyik, Sayang. Kalau naik kereta kita bisa lihat pemandangan di luar jendela tempat-tempat yang dilalui jalur kereta," tutur mas Nabil menjelaskan.
"Tapi kan nanti pulangnya jadi lebih lama, Mas," ujarku yang tak rela berjauhan dengan mas Nabil.
"Hehehe ... belum ditinggal kenapa sudah kangen!" kekeh mas Nabil menertawakanku sembari melepas tanganku dan beralih merangkul bahuku.
Astaga apa kelihatan sekali ya kalau aku tak ingin terlalu lama jauh dari mas Nabil? aduh malunya! batinku.
"Ish apaan sih, Mas. Kan katanya habis dari Jakarta mau liburan, jadi biar ada waktu buat istirahat dulu gitu, Mas. Biar Mas Nabil nggak kecapean," kilahku beralasan.
"Iya, Sayang. Bentar aku mau ambil foto kamu dulu!" ujar mas Nabil sembari mengeluarkan handphone dan mengambil gambarku.
"Berdua dong, Mas!" pintaku kepada Mas Nabil yang kemudian mendekat ke arahku dan mengambil foto kami berdua beberapa kali dengan berbagai gaya.
"Sayang, rencananya nanti pas pulangnya juga mau naik pesawat ko, biar cepet sampai rumah," ujar mas Nabil tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone. "Udah aku kirim ke kamu ya, fotonya."
Aku melihat ada notifikasi pesan masuk dari mas Nabil. Aku membukanya dan melihat-lihat hasilnya bagus-bagus.
"Sayang, kamu jaga diri baik-baik, ya? semoga nanti kuisnya dapat nilai bagus juga," tutur mas Nabil sembari mengusap pucuk kepalaku yang tertutup hijab.
Aku menghambur memeluknya dengan erat, tidak mempedulikan orang-orang di sekitarku.
"Mas, smapai di Jakarta langsung telepon ya! pokoknya kalau ada waktu senggang kabari aku! semoga nanti seminarnya berjalan dengan lancar biar bisa cepet pulang," ujarku tanpa malu tak ingin melepaskan mas Nabil dari sisiku.
Tiba-tiba ada rasa berat untuk melepas mas Nabil pergi. Dalam hati seolah tidak mengijinkan mas Nabil pergi.
"Iya, Sayang. Aku pasti langsung kabarin kamu!" ujar mas Nabil seraya mengusap punggungku dengan lembut. "Sayang, bentar lagi keretanya mau datang, aku ke peron dulu ya, Sayang?" ujar mas Nabil saat terdengar pengumuman bahwa kereta menuju Gambir akan segera datang.
Aku pun segera melerai pelukanku.
"Aku pergi ya, Sayang! I love you, Fe ...," ucap Mas Nabil sembari memandang ke arahku.
__ADS_1
Aku diam sejenak merangkum wajah mas Nabil dalam otakku.
"Love you too, Mas. Hati-hati ya, Mas!" ujarku dengan sendu kemudian mengambil tangannya dan mencium punggung tangannya.
Mas Nabil mencakup wajahku dengan kedua tangannya, kemudian mengecup keningku. Aku memejamkan mata merasai setiap sentuhannya.
Seusai berpamitan, Mas Nabil bangkit menuju peron. Aku mengikutinya bangkit dan masih melihat ke arahnya dari samping pintu masuk peron. Tak berapa lama kereta datang dan mas Nabil segera masuk ke dalam setelah menoleh sekali ke arahku sembari berdada-dadah. Aku membalasnya, namun perasaanku semakin tak menentu.
Aku masih berdiri memandangi kereta yang dinaiki mas Nabil semakin jauh dari pandangan. Setelah keretanya benar-benar pergi aku baru ke luar dari area stasiun dan bergegas menuju kampus.
****
Sesampainya di kampus aku segera menuju ruang kelas. Beruntungnya aku belum terlambat. Tak berapa lama dosen datang. Bersyukur sekali apa yang diajarkan mas Nabil semalam aku sudah paham, jadi dengan mudah aku mampu mengerjakan kuis yang diberikan dari dosenku yang paling killer ini. Pikiranku hingga saat inimasih bercabang antara materi kuliah dan mas Nabil.
Setelah dua jam berlalu dan jam kuliahku berakhir, aku menyempatkan diri untuk pergi ke kantin untuk sekedar memebeli minum. Sebentar saja aku ingin melepas dahaga yang terasa kering ditenggorokanku. Aku duduk sembari memandangi foto mas Nabil saat berada di bandara beberapa saat yang lalu.
"Hey!" Mika yang baru datang tiba-tiba mengagetkanku hingga aku terlonjak dan handphoneku jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah, ngagetin aja sih, Mik!" pekikku sembari memegangi dada.
"Ciyee ... yang pengantin baru, berpisah bentar doang langsung kangen, sampai-sampai fotonya dilihatin terus!" celoteh Mika sembari duduk di kursi yang lain.
"Dua hari, Mik, Mas Nabil udah berangkat seminar ke Jakarta tadi pagi," ujarku dengan lesu.
"Yaelah dua hari doang, Fe. Kaya istrinya bang Toyib aja yang ditinggal bertahu-tahun kagak pulang-pulang!" ujar Mika mengejekku.
"Entahlah, Mik. Tapi perasaan aku sedari tadi mengantarkannya ke stasiun kaya nggak rela melepas mas Nabil pergi gitu!" ujarku yang merasa resah saat mengingat mas Nabil naik ke atas kereta.
"Cup cup cup! sabar ya bu, dua hari bobo sendirian tanpa kangmas berani kan? kalau nggak berani ntar aku temenin deh!" goda Mika dengan bercanda.
"Ish, kamu nih, Mik. Udah ah, aku mau pulang cape!" ujarku sembari bangkit berdiri.
"Yah kok ditinggalin sih, Fe!" Mika nampak cemberut saat aku akan pulang duluan.
"Ngantuk, Mik. Aku mau pulang ke rumah kakakku! duluan ya, Mik. Assalamu'alaikum," ujarku sembari berdada-dadah kepada Mika.
Saat berjalan ke arah parkiran aku sempat mendengar anak-anak di kampus membicarakan sesuatu dengan serius. Tapi aku tidak bisa menangkap obrolan mereka dengan jelas. Sepertinya ada berita yang heboh atau sedang viral. Aku tak ambil pusing dan tetap berjalan menuju mobilku berada.
__ADS_1
Aku segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin menuju ke luar kampus.
*****
Sesampainya di rumah belakang resto ternyata kak Abi dan Kak Reyna sedang tidak ada di rumah. Kata satpam resto, mereka sedang mengantar Alesha imunisasi ke rumah sakit.
Aku merasa lelah dan mengantuk karena semalam tidurku sudah mendekati tengah malam. Ku lihat handphone belum ada notifikasi panggilan atau pesna dari mas Nabil. Aku memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggu kakak pulang.
Tak berapa lama aku merasa seperti berjalan di sebuah lorong yang panjang. Di depanku seperti ada seorang laki-laki yang berjalan ke depan. Sedangkan di belakangku tidak ada siapa pun.
Aku bingung harus mengambil jalur yang mana. Hanya laki-laki yang berada di depanku itu yang aku ketahui berada ditempat yang sama saat ini.
Aku berjalan cepat hingga sesekali aku berlari kecil agar bisa mensejajari langkah laki-laki yang ada di depanku untuk bertanya. Saat jarak kita semakin dekat ketika aku memperhatikan dengan seksama dari punggungnya aku yakin itu adalah mas Nabil.
"Mas!" seruku memanggilnya.
Laki-laki itu berhenti dan seketika menoleh melihat ke arahku.
Benar saja itu adalah mas Nabil. Aku segera berlari menuju tempatnya berdiri. Saat sampai di depannya aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Mas, mau ke mana?" tanyaku sembari melerai pelukanku dan mendongak ke arahnya.
"Aku harus pergi, Sayang. Maaf aku tidak bisa menjagamu lagi," ujarnya kepadaku.
"Hah, pergi? pergi ke mana, Mas? aku mau ikut denganmu, Mas!" rengekku yang tak mengerti ke mana Mas Nabil akan pergi dan kenapa tidak mengajakku.
"Tidak, Sayang tempatmu di sini. Aku akan menunggumu hingga tiba saatnya kita bertemu lagi. Maafkan aku harus pergi secepat ini! waktuku sudah tiba, Sayang. Kamu wanita yang kuat, bersabarlah sekali lagi!" ujar mas Nabil kemudian mencium keningku.
Mas Nabil mulai beranjak pergi melangkah ke depan melanjutkan perjalanannya hingga langkahnya semakin menjauh.
"Mas ... tunggu aku, Mas! tolong jangan tinggalkan aku, Mas! Mas Nabil ... jangan pergi, Mas! hiks ... hiks ...!" seruku sembari terisak meneriakinya.
Aku tidak berbuat apa-apa, sebab tiba-tiba kakiku tak bisa bergerak sama sekali.
Aku sudah tertinggal jauh hingga mas Nabil sudah tak terlihat lagi dari pandangan mataku.
...__________Ney-nna__________...
__ADS_1