
Cindy mondar-mandir di lorong klinik sembari memainkan jari-jari tangannya. Sore ini Cindy ada jadwal untuk mengajari Qila mengaji. Namun, ia ragu untuk datang ke rumah belakang. Pastinya nanti akan bertemu dengan dr.Dimas. Ia sangat tidak enak hati karena Abi sudah menolak lamaran dr.Dimas.
"Sedanga apa kamu Cindy?" tanya seseorang di belakangnya.
Cindy kemudian berbalik ke belakang. "Astaghfirullah...!" pekiknya saat melihat Dimas lah yang berdiri di belakangnya, dengan menenteng tas jinjing di tangannya.
"Kamu kenapa, Cin? Lihat aku kaya lihat hantu saja!" ujar Dimas.
"Maaf, Dok. Maksud saya bukan seperti itu, saya hanya kaget saja," kilah Cindy.
"Makanya kamu yang fokus, hari ini jadwal mengaji Qila kan?" tanya Dimas.
"I-iya, Dok. Ini juga mau ke sana," ujar Cindy kikuk.
"Ya sudah ayo ke rumah, kenapa malah mondar-mandir di sini?" tanya Dimas.
"Nggak apa-apa, Dok. Silakan duluan!" Cindy memempersilakan Dimas agar berjalan terlebih dulu.
Cindi merutuki kebodohannya yang mondar-mandir seperti setrikaan. Dan, pastinya sangat memalukan karena dokter Dimas tentunya melihatnya.
Dimas tersenyum simpul sembari mengeryit heran.
'Aneh sekali sikap Cindy kali ini!' pikirnya.
Dimas kemudian berjalan lebih dulu di depan Cindy dengan langkah berwibawa.
Cindy berjalan di belakang sedikit memberi jarak. Di atur nafasnya berulang-ulang, agar tidak gugup.
Setibanya di rumah dokter Dimas. Qila langsung menoleh pada kedatangan mereka saat Dimas membuka pintu.
"Assalamu'alaikum!" ucap Dimas.
"Papah, wa'alaikumussalam!" Qila berdiri dan langsung menghambur ke arah papanya. Anak itu salim kepada papanya kemudian berlari ke arah Cindy dan memeluk kakinya.
"Tante Cindy...!" teriak Qila girang.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Qila. Sudah siap mengaji?" tanya Cindy sembari berjongkok agar sejajar dengan Qila.
Berbicara dengan Qila lebih mencairkan suasana dan menghilangkan rasa gugupnya menghadapi Dimas.
"Wa'alaikumussalam, Tante. Qila sudah menunggu dari tadi. Qila juga sudah mengambil wudhu, Tante," ujar Qila dengan gaya imutnya.
Cindy pun tertawa sembari mengusap-usap pucuk kepala Qila gemas, melihat kelucuan anak itu.
Dimas yang hendak masuk ke dalam kamarnya, sempat memperhatikan interaksi keduanya yang berada di ruang tengah. Dimas ikut tersenyum melihat keakraban mereka. Saat itu juga dengan tidak sengaja pandangan Cindy sedang tertuju ke arah Dimas. Sejenak pandangan mereka bertemu. Cindy merasa jantungnya berdesir. Namun dengan cepat Cindy mengalihkan pandangannya dan mengajak Qila untuk menuju kamarnya. Seperti biasa, mengajinya di lakukan di kamar Qila agar Cindy lebih nyaman saat mengajari. Sedangkan Dimas kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Satu jam berlalu akhirnya selesai juga mengajinya. Cindy berpamitan pulang, kepada nenek Qila. Ia kemudian berjalan kembali ke klinik. Namun ia mulai ragu untuk melangkah saat melihat Dimas sedang duduk di depan mushola di samping tempat parkiran klinik. Dengan begitu ia harus kembali menyapa Dimas karena harus melewatinya.
Dengan perlahan Cindy melangkah dan jarak pun semakin dekat. Cindy terus menunduk agar tidak bertemu muka dengan Dimas.
'Dulu sepertinya tidak secanggung ini, kenapa aku jadi gugup sekali ya Allah!' gumam Cindy di dalam hati.
Jarak semakin dekat mau tidak mau Cindy harus menyapa atasannya tersebut demi kesopanan dan menunjukkan etika yang baik.
"Dokter, saya sudah selesai mengajari Qila mengaji. Saya mohon pamit, Dok," ujar Cindy.
Sontak Cindy menjadi sangat terkejut dengan perkataan Dimas.
"Menunggu saya, Dok! A-ada apa, Dok?" tanya Cindy yang diliputi rasa penasaran.
"Cindy, saya mohon kamu jangan sungkan atau merasa tidak enak hati karena kedatangan saya kemarin. Saya sudah berlapang dada untuk menerima keputusan orang tuamu. Kamu tidak perlu merasa bersalah karena sudah menolak lamaran dari saya. Saya turut bahagia, dengan kebahagian kamu yang telah menemukan jodohmu," ujar Dimas dengan sikap dewasanya.
Cindy terdiam dengan muka sendu. Entah ia merasa sungkan karena Abi menolak lamaran Dimas atau karena perasaan kecewa karena hal lain yang mengganjal di hatinya.
"Terima kasih, Dokter. Kalau begitu saya permisi dulu karena sebentar lagi maghrib. Assalamu'alaikum!" ujar Cindy.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati di jalan, Cin!" ujar Dimas. Cindy mengangguk kemudian berjalan menuju motornya dengan bermuka masam.
Ia harus bergegas pulang karena malam ini keluarga Fadhil akan datang. Rencananya
malam ini Fadhil akan mengkhitbah Cindy.
__ADS_1
****
Saat yang dinantikan telah tiba. Keluarga Ustadz Maulana datang setelah bakda isya'. Fakhri kakak pertama Fadhil turut hadir bersama istrinya. Tidak nampak ada anak kecil di sana. Semua yang datang adalah orang dewasa.
Di awal Abi dan Ust. Maulana saling menyambut dengan berbasa-basi untuk sekedar menghidupkan suasana. Kemudian masuklah ke obrolan yang mengarah pada maksud dan tujuan kedatangan mereka.
"Bismillahirrahmanirrahim, atas ijin dari Allah, saya bermaksud menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami sekeluarga ke kediaman Pak Abu pada malam ini, tidak lain dan tidak bukan untuk melanjutkan proses ta'aruf antara saya dengan anak Bapak, untuk menuju jenjang yang berikutnya. Jika berkenan, saya Muhammad Fadhil memohon restunya untuk mengkhitbah anak Bapak yang bernama Cindy Syaharani untuk menjadi pendamping hidup saya. Untuk itu saya persilakan kepada Pak Abu agar berkenan menjawab permohonan dari saya," ujar Fadhil dengan tegas.
Sesekali Cindy melirik ke arah Fadhil. Mulai saat ini ia harus bisa menyiapkan hatinya untuk menerima Fadhil sebagai calon suaminya.
'Ya Allah lapangkanlah hati hamba untuk menerima calon suami hamba menjadi satu-satunya laki-laki yang ada di hati hamba nantinya!' do'a Cindy di dalam hati.
"Terimakasih nak Fadhil, atas niat baiknya pada anak saya. Saya sebagai orangtua dari Cindy hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak saya, saya akan memberikan kesempatan kepada anak saya untuk menjawabnya," ujar Abi sambil memandang ke arah Cindy.
"Baiklah akan saya tanyakan kembali kepada anak Bapak. Bismillahirrahmanirrahim, Cindy Syaharani bersediakah kamu menjadi pendamping hidup saya?" tanya Fadhil.
Cindy agak terkejut dengan permintaan Abi agar menjawab lamaran dari Mas Fadhil. Padahal tadinya ia pikir semua terserah Abinya. Bukankah Abi menolak dokter Dimas demi menerima khitbah dari Mas Fadhil. Lantas apa pentingnya pendapat darinya. Abi pasti akan sangat kecewa jika Cindy menolak lamaran dari Mas Fadhil.
Cindy tau saat ini semua mata sedang mengarah kepadanya, menantikan jawaban yang akan diutarakan olehnya.
'Yang pasti semua berharap aku mengatakan ya. Di sini hanya aku lah yang masih bimbang dengan hati ku!' gumam Cindy di dalam hati.
Cindy menghirup nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim! Terimakasih kepada Mas Fadhil yang telah memilih untuk mengkhitbah saya diantara bayaknya perempuan sholihah di muka bumi ini, tapi...," Cindy menjeda kata-katanya terlihat suasana menjadi tegang menantikan kata selanjutnya dari mulut Cindy, "Saya bukanlah seseorang yang pantas untuk menolak laki-laki sebaik Mas Fadhil. Maka saya katakan ya untuk menerima pinangan dari Mas Fadhil, untuk membimbing saya menjadi wanita sholihah dan mendapat keridhoan dari-Nya," ujar Cindy dengan ikhlas.
"Alhamdulillah!" seru sebagian besar orang yang ada di sana.
Semua orang nampak bahagia.
___________________Ney-nna_________________
Semangat Up buat reader's terππ meski dengan terkantuk-kantuk, semangat πͺπ
Jangan lupa like, vote, dan comentnya ya reader's, agar author senang dan rajin Up π
__ADS_1