Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Bersatu di saat yang tepat


__ADS_3

"Lalu, siapa cinta pertama, Kak Abi?" tanya Reyna lagi.


"Buat apa kita membahas masa lalu lagi Reyn, bukankah yang penting saat ini wanita yang aku cintai adalah kamu?" ujar Abiyu yang tidak ingin membahas masa lalu.


"Ayolah Kak cerita sama aku! Aku janji aku tidak akan mempermasalahkan masa lalu Kak Abi," ujar Reyna yang merasa feeling nya pasti benar.


"Baiklah. Ini aneh sih dan sedikit memalukan tapi aku akui inilah yng pertama kalinya," ujar Abiyu sembari kembali menerawang ke masa lalu.


"Memalukan? Sepertinya menarik ... ayo ceritakan, Kak!" Reyna semakin antusias ingin tahu.


"Jadi waktu itu aku masih kelas XI. Awalnya aku sangat cuek kepada perempuan. Sebab aku merasa mereka yang datang padaku adalah cewek kecentilan dan bertingkah sok kenal-sok dekat. Mereka yang mendekatiku yang jelas pasti ada maunya jika bukan karena ingin menjadi pacar terkadang karena ingin mendapat contekan."


"Wahh, Kak Abi cowok populer ya di sekolah? Keren-keren, lanjut!" ujar Reyna menanggapi.


"Aku tidak merasa menjadi populer juga sih, tapi memang aku cukup keren saat itu ... bahkan hingga sekarang masih keren," tutur Abiyu memuji diri sendiri, sembari memasang gayanya yang cool.


"Iya, tidak populer tapi narsis! Hahaha ... lanjut!" Reyna tertawa terbahak-bahak menertawakan tingkah suaminya yang terlalu percaya diri.


Melihat Reyna tertawa lepas membuat Abiyu tersenyum bahagia. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Reyna tertawa hingga selepas ini saat bersamanya.


"Saat itu, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang anak perempuan yang sangat berbeda dari yang pernah aku temui, dia tidak mudah untuk di sentuh, juga tidak mudah percaya pada orang lain yang baru dikenalnya, meskipun dia sedang terluka saat itu, dia bukan anak yang manja dan cengeng," tutur Abiyu sembari mengingat-ingat sosok seseorang dimasa lalu.


"Pasti cukup berkesan ya?" tanya Reyna sembari memandang intens pada suaminya seolah sedang menginterogasi.


"Aku menyukai karakternya, dia anak yang pemberani, jutek, tidak manja, tangguh, dan tidak centil. Anehnya aku menyukai tingkah polahnya itu, yang berusaha untuk menjaga dirinya sendiri. Namun, suatu insiden tanpa sengaja membuatku bersentuhan dengannya dan itu adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengan perempuan seintens itu selain dengan keluargaku. Terlebih dengan polosnya, dia mempertanyakan hal yang membuatku merasa malu sendiri dibuatnya," tutur Abiyu menceritakan pertemuannya dengan cinta pertamanya.


Reyna berdiri menuju laci nakas di samping tempat tidur kemudian mengambil foto Abiyu yang dilihatnya tadi malam.


Reyna menyodorkan sebuah foto ke hadapan Abiyu. "Yang tengah ini Kak Abi, Kan?"


"Iya, itu adalah foto yang diberikan oleh salah satu temanku waktu reuni SMA. Aku bahkan


lupa jika menyimpannya di sana," tutur Abiyu yang merasa senang dapat menemuan foto itu kembali.


"Apa cinta pertama Kak Abi itu anak bau kencur yang baru masuk SMP? Anak perempuan dengan rambut kuncir kuda, yang tidak suka diacak-acak rambutnya? Anak perempuan yang sudah ditolong tapi tidak berterima kasih? Dan yang mengatakan apa Kakak punya penyakit jantung ketika Kak Abi merasakan debaran di dalam dada??" sejumlah pertanyaan dari Reyna yang membuat Abiyu terkesiap dan membelalakkan mata.


"Ehh ... bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Abiyu dengan terkejut. "Jangan-jangan anak perempuan itu kamu, ya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Reyna mengangguk sembari tersenyum menanggapi suaminya.


"Astaghfirullah!" ucap Abiyu sembari menutup mukanya dengan satu tangannya.


Malu yang teramat sangat saat ketahuan menyukai anak kecil yang ternyata anak itu adalah istrinya saat ini.


"Sudah tidak apa-apa, kenapa harus malu. Justru Reyna seneng banget lhoh jika pemuda itu, Kak Abi," ujar Reyna sembari menarik tangan Abiyu agar diturunkan.


Abiyu menurunkan tangannya dari wajahnya. "Kamu mengingat tentang hal itu?"


Abiyu merasa heran bagaimana Reyna yang hilang ingatan justru malah mengingat hal itu.


"Justru karena ingatanku hanya sampai aku berumur tiga belas tahun, kejadian itu terasa belum lama terjadi dan masih segar diingatanku, Kak," tutur Reyna. "Bahkan sejak saat itu aku terus berdoa agar suatu saat aku dapat bertemu lagi dengan Kakak dan aku bisa berterima kasih atas pertolongan Kakak saat itu,"


Abiyu mencakup pipi istrinya. "Alhamdulillah, aku bersyukur sekali jika gadis itu adalah kamu, Reyn. Sejak saat itu, keesokannya dan hari-hari berikutnya aku terus mendatangi taman itu dan berharap bisa bertemu lagi denganmu, namun aku tidak pernah menemukanmu lagi. Aku sampai heran apa saat itu yang aku tolong benar-benar manusia atau hantu gadis kecil?" tutur Abiyu.


"Ihh ... jahat banget sih, Kak. Masa aku dikatain hantu!" ujar Reyna dengan mengerucutkan bibir, kemudian memukul pelan lengan Abiyu.


"Habisnya kamu tiba-tiba ngilang, sebenarnya saat itu kamu ke mana? Aku sampai bingung nyariin kamu!" tanya Abiyu yang merasa penasaran akan hilangnya Reyna saat itu.


"Oh, iya. Saat itu ayahku datang mencariku, Kak. Ayah dan aku buru-buru pulang karena ibu dan bibi pasti bingung mencariku juga. Sesampainya di rumah aku baru ingat kepada Kak Abi jika belum berpamitan dan belum sempat berterima kasih. Keesokannya aku sudah kembali ke Jakarta. Namun, setelah itu aku terus kepikiran dengan pertemuan kita saat itu. Aku merasa bersalah karena belum berterima kasih dengan Kak Abi. Dan saat ini aku mulai mengingat sesuatu, setiap aku berkunjung ke rumah bibi aku akan mengajak Dina untuk mendatangi taman, dengan harapan aku akan bertemu dengan Kak Abi di sana," tutur Reyna panjang lebar.


"Aku juga merasa begitu, Kak. Allah punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan jodoh kita. Hingga aku dan Kak Abi di satukan dalam sebuah hubungan yang halal, yaitu pernikahan."


Abiyu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala Reyna berkali-kali.


"Terima kasih ya, Kak. Atas pertolongan Kak Abi saat itu, dan juga kebaikan kak Abi selama ini. Aku merasa Kak Abi adalah pahlawan di hidupku, " ucap Reyna sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Abiyu.


****


Abiyu dan Reyna berjalan bersama sembari memasuki meja makan. Di sana sudah ada bunda dan Fely yang menunggu.


"Apa kabar, Kak?" tanya Fely sembari melakukan cipika-cipiki dengan Reyna.


"Baik, " jawab Reyna singkat sembari mengulas senyum ramah kepada adik iparnya, meskipun Reyna tidak mengingat Fely tapi sudah bisa dipastikan bahwa yang saat ini memeluknya adalah adik dari suaminya itu.


"Yuk, Reyna. Kita sarapan dulu!" ujar bunda mengajak makan pagi bersama.

__ADS_1


"Baik, Bun, " ujar Reyna sembari menggeser kursi kebelakang kemudian mendudukkan diri di sana.


"Sayang, mau minum susu dulu apa sarapan dulu?" tanya Abiyu kepada Reyna.


"Emm... minum dulu deh, Kak. Takut nanti kekenyangan nanti malah mual karena kepenuhan, " ujar Reyna pada Abiyu. "Biar aku saja yang buat sendiri, Kak!" ujar Reyna menghentikan langkah Abiyu.


"Kamu duduk saja, Reyna. Aku saja yang buatkan, " tutur Abiyu pada istrinya.


"Baiklah, Kak. Terima Kasih! " ujar Reyna sembari tersenyum pada suaminya yang perhatian.


Melihat Abiyu membuka kardus susu ibu hamil, bunda Maya menajamkan pandangan kemudian melihat ke arah perut Reyna.


"Reyna, kamu hamil?" tanya bunda Maya yang baru menyadari karena gamis yang dikenakan Reyna yang cukup longgar dan khimar yang lebar hingga dibawah perut, sehingga bunda tidak terlihat lekukan tubuh dan perut Reyna yang mulai membuncit.


"Iya, Bun. Sudah jalan empat bulan, " tutur Rsyna menjelaskan pada mertuanya.


"Alhamdulillah, selamat ya, Reyna?" tutur bunda Maya nampak sangat senang.


"Terima kasih, Bun!"


"Yeyy... bentar lagi dapat ponakan baru!" tutur Fely ikut senang. "Selamat ya, Kak Reyna. Tinggal di sini saja sih, Kak. Fely bakalan bikinin kue-kue yang enak deh buat Kakak!" tutur Fely.


"Eh, gak lah gak bisa! Memangnya Kakak musti tinggal sendirian di Yogya gitu?" protes Abiyu.


"Bunda juga seneng-seneng saja kalau Reyna di sini, Bi, " ujar bunda ikut menambahkan.


"Wah, kalian jahat, nih. Masa Abi musti jauh dari istri. Jangan mau, Sayang!" bujuk Abiyu pada sang istri.


Semua pun tertawa. Reyna merasa bahagia menjadi bagian dari keluarga ini. Semua menyayanginya, suami yang baik, ibu mertua yang sangat sayang padanya, adik ipar yang juga sangat baik.


"Kalian jadi mau menjemput Reynand hari ini?" tanya bunda Maya.


"Iya, Bun. Habis ini kita akan berkunjung ke kediaman Kakek Reyna, " jawab Abiyu sembari menyerahkan segelas susu pada istrinya.


"Bunda juga kangen nih sama anak itu. Pasti sudah lari-larian, " tutur bunda.


Dalam hati Reyna juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak kandungnya itu meskipun tidak mengingatnya, namun naluri seorang ibu membuatnya ingin segera bertemu dengan putranya. Reyna berharap bisa segera berkumpul dengan keluarga kecilnya dan menjalani hari bahagia bersama.

__ADS_1


...__________________Ney-nna________________...


__ADS_2