Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Khawatir


__ADS_3

Sehabis sarapan, Reyna berpamitan untuk berangkat kerja, kepada Nenek dan Kakek. Ia mencium tangan Kakek dan Nenek bergantian, dan tak ketinggalan ia mengucapkan salam sambil melambaikan tangan, pada Kakek dan Nenek yang sedang mengobrol di teras.


Kakek dan Nenek tersenyum bahagia melihat betapa cerianya Reyna. Betapa tidak, setelah anaknya menikah, mereka sibuk dengan keluarganya masing-masing. Tapi diusia mereka yang sudah renta, Tuhan memberi seorang gadis yang beranjak dewasa dan sangat menyayangi mereka, selayaknya keluarga kandungnya.


"Ma, tau tidak kenapa aku ingin mejodohkan Reyna dengan Rangga?" Tanya Kakek kepada istrinya, sambil melipat koran yang berada ditangannya.


"Pasti karena Papa sangat menyayangi mereka." Tebak Nenek.


"Itu salah satunya, tapi yang lebih tepat, aku menghawatirkan nasib Reyna ketika kita sudah tiada."


Kakek melepas kacamatanya kemudian meniupnya. Matanya terlihat sayu termakan usia.


"Khawatir kenapa, Pa? Biarkan mereka mencari kebahagiaannya masing-masing. Jangan terlalu memaksakan hal itu."


Nenek mengelus pundak Kakek, kemudian mengambil secangkir teh dan meminumnya.

__ADS_1


"Ketika aku sudah tiada, siapa yang nantinya akan menjaga Reyna. Lantas dimana dia akan tinggal ketika anak kita meminta rumah ini. Jika Reyna menikah dengan Rangga setidaknya Reyna masih menjadi bagian dari keluarga kita. Menjadi istri dari penerus pimpinan perusahaan. Aku tidak ingin kejadian yang dialami Reza berulang kepada cucu ku. Lihat sendiri istri Reza, hanya tau menghabiskan uang suaminya tanpa pernah mehargai kita sebagai mertuanya." Kakek menghembuskan nafas kasarnya.


Pasalnya Mami Rangga selalu saja beralasan ketika Papi Reza mengajaknya mengunjungi Kakek dan Nenek. Jadilah hanya Papi Reza yang datang bersama kedua anaknya yaitu Windi dan Rangga.


"Tapi, apa tidak salah jika kita memaksakan perjodohan ini. Bagaimana jika nantinya Reyna tidak bahagia setelah menikah dengan Rangga." Nenek meragukan keputusan Kakek.


"Aku yakin suatu saat Rangga akan menyadari betapa tulusnya hati Reyna." Nenek hanya geleng-geleng kepala, tidak yakin dengan apa yang menjadi keinginan suaminya.


****


"Kak Reyna, Kak Mira, tumben belum ada jam dua belas sudah makan siang." Sapa Fely sambil duduk dikursi yang kosong.


"Iya nih Fe, udah laper banget nih gegara kerja sambil nyium bau masakan di restoran kamu jadi gak konsen kerja. Kayak yang pengen melompat aja dimari." Mira beralasan, padahal sebenarnya karena belum sarapan, Mira merengek minta ditemenin makan sama Reyna.


"Kok kak Reyna gak ikutan makan?" Fely beralih melihat kearah Reyna yang hanya memesan lemon tea.

__ADS_1


"Masih kenyang nih, Fe. Baru juga tiga jam yang lalu sarapan." Jawab Reyna.


"Reyna, kalau tidak sibuk, bisa tidak bicara berdua sama Bunda sebentar?" Tanya Bunda.


"Gak sibuk kok, Bun. Sekarang juga boleh, apa sih yang gak buat Bunda." Reyna sidikit bercanda sambil merangkul Bunda.


"Bener ya kak? Ntar harus mau lhoh." Fely langsung menodong minta disetujui.


"Ehh mau apa dulu nih. Kok main mau-mau aja sih, Fe." Reyna mulai penasaran.


"Udah, Reyn gak usah dengerin Fely. Ayo kita bicarakan diruangan Bunda." Bunda langsung berdiri hendak meninggalkan meja.


"Bunda, kok Mira gak diajak sih?" Mira ikutan penasaran.


"Nanti ya, sayang. Tunggu giliran." Canda Bunda sambil tersenyum. Kemudian Reyna mengikuti langkah Bunda menuju keruangan kantor Bunda.

__ADS_1


__ADS_2