Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Beringin Kembar


__ADS_3

"Terima kasih ya, mas Dipa!" ujar seorang wanita sembari mengantar hingga ke teras rumah.


"Iya, Bu. Sama-sama. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum!" pamit Dipa.


"Wa'alaikumussalam, mas Dipa. Hati-hati di jalan."


Dipa beranjak menaiki mobilnya dan perlahan-lahan mobilnya mulai melaju.


"Nand, ayo kita makan dulu, Sayang!" seru Reyna memanggil putranya yang sedang menaiki mobil-mobilan remote control yang di kendalikan oleh Lala.


"Mam mam mam mam!" celoteh baby Reynand saat melihat mamanya membawa mangkuk kecil di tangan.


"A ...," satu suapan nasi tim melesat menuju mulut mungil baby Reynand.


Dipa menghentikan laju mobilnya, tatkala mendengar sebuah suara yang tak asing di telinganya.


"Ehh, itu kan Reyna!" gumam Dipa sembari menajamkan pandangannya.


Sejenak ia hanya diam sembari melihat pemandangan di depannya.


"Stop! A- dulu, Sayang!" ujar Reyna kemudian kembali menyuapkan satu sendok nasi tim ke dalam mulut putranya.


Merasa ada sebuah mobil yang terparkir di depan pagar yang menghalangi jalan keluar rumahnya. Reyna akhirnya berpaling dari anaknya dan melirik ke arah depan di mana mobil itu berada.


Nampak Dipa yang sedang keluar dari dalam mobilnya.


Reyna terkejut melihat Dipa yang sedang berjalan mendekat menuju tempatnya berdiri.


"Hai, Reyn!" sapa Dipa.


"Dipa ...!" seru Reyna.


"Rumah kamu di sini?" tanya Dipa.


"Em, iya. Kok kamu bisa ada di sini?" tanya Reyna heran.


"Aku habis dari rumah sebelah, untuk observasi lokasi yang mau didesain ulang. Pas mau balik ke kantor lihat kamu di sini," tutur Dipa menjelaskan.


"Ohh, gitu!" jawab Reyna pendek.


Drrrt drrtt drrtt.


Handphone Reyna bergetar tanda adanya panggilan masuk.


"Sebentar ya, Dip. Aku angkat telepon dulu!" ujar Reyna kemudian beranjak menjauh dari hadapan Dipa agar lebih leluasa menjawab telepon.


"La, ini kamu lanjutin ya suapin Reynand!" ujar Reyna sembari menyerahkan mangkuk kecil tempat makan putranya.


Dengan sabar Lala menyuapi anak majikannya itu.


"Mbak, anak ini namanya, Reynand?" tanya Dipa.


Yang ditanya hanya mengangguk.


Dipa berjongkok mensejajari tinggi si anak yang sedang duduk di atas mobil-mobilannya.


"Hai, Reynand!" Dipa menoel pipi gumush si bayi yang menggemaskan.


"Maam mam mam mam!" celoteh si bayi yang membuatnya lucu mendapat mainan baru.


"Mbak, Papanya gak lagi di rumah kan?" tanya Dipa.


"Papanya, Mas? Papanya sudah gak ada, Mas," ujar Lala.


Hal tersebut segara membuatnya terkejut.


"Maksudnya gimana, Mbak?" desak Dipa pada Lala.


"Mas, belum tau ya? Aduhh, maaf saya gak berani cerita apa-apa, Mas. Tanya saja sama mbak Reyna sendiri, Mas. Saya takut salah, mohon maaf!" ujar Lala yang merasa bersalah telah berbicara pada laki-laki asing yang mungkin Reyna tidak sukai.


Dari saat itu akhirnya Dipa menduga jika suami Reyna telah tiada. Untuk lebih meyakinkannya, seusai dari rumah Reyna, Dipa menelepon mamanya untuk menanyakan kebenaran tentang kabar tersebut. Rupanya benar jika suami Reyna telah meninggal dunia dan juga hal yang sama terjadi pada kakeknya beberapa bulan yang lalu.


Ia kemudian mencari kebenaran dari berita tersebut. Hal itu dilakukan sebab tidak mungkin jika ingin bertanya langsung kepada Reyna. Dan kini ia mendapatkan detailnya dari berita di internet tentang meninggalnya pengusaha muda yang mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan kematian. Keluarga Hadi Jaya cukup dikenal dikalangan enterpreuner.


Dipa tidak menyangka jika Reyna akan mengalami kisah yang memilukan dengan pernikahannya. Ditinggal mati suaminya disaat sedang sayang-sayangnya sebagai keluarga kecil yang utuh dengan kehadiran seorang anak yang masih sangat kecil untuk bisa mengerti akan kematian ayahnya.


Namun, dipandang dari sisi yang lain hal ini justru membuatnya berpikir seolah mendapat kesempatan baginya. Mungkinkah jika ini suatu petunjuk untuk bisa mendekati Reyna kembali. Sebab baginya Reyna adalah cinta pertamanya yang sulit untuk ia lupakan.


Semenjak saat itu Dipa sering mampir ke rumah Reyna dengan alasan usai melakukan observasi di rumah tetangganya yang menjadi kliennya yang berkonsultasi untuk mendesain interior rumahnya. Padahal itu hanya alasannya saja supaya dapat bertemu dengan Reyna.


Dan hal itu berhasil membuatnya semakin dekat dengan Reyna maupun anaknya.


"Dip, kamu kalau ke sini, ya main saja tidak perlu membawakan mainan untuk Reynand," ujar Reyna.


"Alah, cuma mainan doang kok Reyn, bukan sesuatu yang mahal atau mewah. Aku hanya senang melihat polosnya anak kecil yang mudah tersenyum hanya dengan mendapatkan sebuah mainan," ujar Dipa.

__ADS_1


"Tapi yang kemaren itu terlalu banyak, dan aku rasa Reynand juga belum bisa memainkannya," tutur Reyna.


"Aku kan hanya memberi robot kecil ini dan mobil-mobilan dorong. Dan ini sudah bisa di mainkan oleh Reynand, Reyn. Kamu ini terlalu melebih-lebihkan," ungkap Dipa.


"Lantas helikopter dan mobil remote control yang kemaren itu dari siapa?" tanya Reyna bingung.


"Bukan aku. Memangnya siapa yang kemarin datang ke sini?" tanya Dipa.


"Gak ada, cuma kamu, Dina dan Bibiku yang biasa kemari!" ujar Reyna.


"Ohh, mungkinkah ada tetangga kamu yang berbaik hati?" tanya Dipa.


Reyna mencoba berpikir keras siapa orangnya yang mungkin memberikan hadiah mahal itu untuk Reynand. Namun, tak ada petunjuk satu orang pun. Sebab memang tak ada orang lain yang cukup dekat saat tinggal di kota ini.


"Emm, nggak terlalu dekat sih sama tetangga. Coba nanti aku tanya sama Lala."


"Reyn, sesekali ajak Reynand jalan-jalan ke luar yuk!" bujuk Dipa


"Ke mana? Aku gak pernah ajak Reynand main sore-sore begini. Gak berani aku keluar malem-malem bawa Reynand," ujar Reyna.


"Kan sama aku!" ujar Dipa menawarkan diri, "Kita ajak Lala juga tentunya. Ke alun-alun seru lhoh Reyn, kalau sore begini. Selama kamu di sini belum pernah jalan-jalan keluar kan?"


Reyna terdiam. Mungkin jika Rangga masih ada hari-hari yang ia lalui lebih berwarna dan tidak membosankan seperti ini. Sejak pindah ke Yogyakarta ia memang tidak pernah ke tempat-tempat hiburan sama sekali. Tidak ada gairah untuk bersenang-senang.


"La, sini deh!" panggil Dipa kepada Lala.


"Ada apa, Mas?" tanya Lala.


"Mau jalan-jalan ke Alun-alun Kidul nggak?" tanya Dipa.


"Alkid, Mas? Wahh pengen banget. Lala sudah lama banget nggak maen ke sana. Kalau sore begini rame tuh Mbak, di sana," ujar Lala yang terlihat antusias.


"Tuh Lala juga mau. Ayolah Reyn, cuma deket ini kok!" bujuk Dipa.


"Kamu pengen banget, La?" tanya Reyna.


"Iya, Mbak! Mau mau...." ujar Lala.


"Ya sudah kalian berangkat saja berdua sana!" ujar Reyna.


"Ehh, gimana sih, Mbak. Nggak seru dong kalau nggak sama mbak Reyna aku nggak mau!" ujar Lala kecewa.


"Iya, gimana sih, Reyn. Ini kan niatannya buat ngajakin Reynand, ya kamu musti ikut lah!" Dipa bersikeras.


"Ya, sudah. Tapi sebelum maghrib kita pulang ya!" tutur Reyna.


"Beress!" Dipa menyatukan jari telunjuk dengan jari jempolnya membentuk huruf O sebagai tanda OK.


Setelah beberapa saat bersiap mereka berempat berangkat ke Alun-alun Kidul.


Sesampainya di sana mereka berjalan-jalan di sekitaran alun-alun. Dipa yang kebagian menggendong Reynand.


"Tuh Mbak yang dimaksud dengan beringin kembar," tunjuk Lala pada dua pohon beringin yang tempatnya berada di tengah alun-alun.


"Ohh, memangnya ada keistimewaan apa di sana, La? Sepertinya rame ya?" Reyna memperhatikan kawasan di sekitar pohon beringin.


"Iya, Mbak. Mereka lagi mencoba Masangin mbak itu," tutur Lala.


"Masangin apa itu, La?" tanya Reyna yang asing dengan istilah yang baru di dengarnya.


"Coba kamu perhatikan orang yang ditutup matanya itu, Reyn. Kaya gitu yang disebut masangin!" ujar Dipa sembari menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang berkumpul di sekitaran pohon beringin.


Dari kejauhan Reyna melihat ada seorang laki-laki yang berjalan sembari ditutup matanya.


"Kaya gitu biar apa?" tanya Reyna.


"Itu konon ceritanya putri Sultan keraton Yogyakarta, hendak dipinang oleh seorang laki-laki. Namun, sang putri tidak begitu menyukainya. Lantas sang putri mengajukan syarat kepada pemuda yang hendak melamarnya. Sang pelamar harus berjalan dengan mata tertutup dari pendopo yang berada di sebelah utara alun-alun kidul melewati dua beringin kembar di tengah alan-alun, hingga berakhir di pendopo sebelah selatan alun-alun. Dan, siasat sang putri berhasil. Sang pemuda tersebut gagal menjalankan misinya," Lala menjeda kisah yang di ceritakan dengan meminum sebotol air mineral yang ada di tangannya.


"Hhehee, maaf Mbak, minum dulu haus!" ujarnya seusai meneguk sebotol air mineral hingga hampir habis.


"Yeyy, bikin penasaran pemirsa aja pakai dijeda segala kamu, La. Gih, terusin!" titah Reyna yang mulai penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Oke lanjut. Setelah itu Sultan bersabda, bagi pelamar yang bisa melewati syarat yang diberikan sang putri, hanyalah pemuda yang hatinya benar-benar bersih dan tulus. Hingga datang lah pemuda dari Siliwangi yang bisa melewati rintangan tersebut. Kemudian pemuda itu dinikahkan dengan sang putri Sultan tersebut. Gitu mbak cetitanya. End!" tutur Lala panjang lebar.


"Yeay Reynand tepuk tangan, Mbak Lala selesai ngedongeng!" ujar Dipa antusias sembari mengajak Reynand bertepuk tangan.


"Yeaachh!" seru baby Reynand yang tertawa riang saat diajak bertepuk tangan memperlihatkan empat giginya yang baru tumbuh di bagian depan, atas dan bawah masing-masing dua gigi.


Reyna dan Lala mengikuti bertepuk tangan sehingga Reynand semakin antusias dan tertawa senang.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.


"Ehh, mas Dipa mau coba gak buat melewati beringinnya?" tawar Lala.


"Nggak nggak, aku gak bisa!" tolak Dipa.

__ADS_1


"Boleh juga tuh, Dip. Ayo dong Dip, buat seru-seruan aja!" bujuk Reyna.


Dipa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Melihat senyum ceria di wajah cantik Reyna membuatnya tak bisa menolak. Seingatnya sejak beberapa hari bertemu Reyna, baru kali ini melihat Reyna bersemangat dan kembali ceria. Akhirnya ia mengiyakan keinginan sang pujaan hati.


Mereka beranjak mendekat pada keramaian dan hendak menyewa penutup mata pada pengelolanya. Namun, Lala menghentikannya.


"Tunggu, Mas!" pekik Lala sembari bersembunyi di belakang punggung Reyna.


"Ada apa, La?" tanya Reyna yang merasa heran dengan tingkah aneh dari Lala.


Dipa ikut menoleh ke arah Lala yang terlihat mencurigakan.


"Ada paman saya, Mbak," ujar Lala seolah ketakutan.


"Paman. Yang mana paman kamu?" tanya Reyna.


"Itu Mbak, yang duduk di bangku lipat. Dia itu bosnya preman, Mbak. Kalau ketemu pasti nanti minta uang deh sama aku, Mbak!"


Reyna melihat ke arah tiga orang yang berpenampilan mencolok dengan anting besar berlubang di telinganya, rambut acak-acakan yang diwarnai, tato besar di bagian tangannya, dan muka sangar mereka yang memancarkan aura membunuh.


"Jono!" pekik Reyna saat mengenali salah satu diantara mereka.


Reyna menajamkan matanya melihat dengan kebencian yang membara ke arah Jono. Sopir pribadinya yang telah mensabotase mobil Rangga hingga suaminya meninggal dunia.


"Siapa, Reyn?" tanya Dipa.


"Sopir pribadi yang telah mensabotase mobil suamiku hingga mengalami kecelakaan, Dip! Selama ini dia melarikan diri dan belum tertangkap," ujar Reyna panik dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian mengenakan masker agar tidak terlihat oleh Jono.


"Benarkah? Yang mana?" tanya Dipa.


"Yang pakai baju berwarna navy celana hitam, itu!" ujar Reyna setengah berbisik.


"Yang itu pamanku , Mbak. Tapi, namanya Parlan!" ujar Lala.


"Mungkin dia menyembunyikan identitasnya!" ujar Dipa menambahkan.


Secara diam-diam Dipa mengambil foto pria yang di maksud Reyna dengan kamera di handphonenya.


"Jangan, Mas. Ayo kita pergi saja!" sergah Lala dengan penuh kekhawatiran.


Seolah merasa ada yang mengawasi, Parlan melihat ke arah Dipa yang gerak-geriknya mencurigakan. Dan juga wanita yang seolah menyembunyikan diri di belakang Reyna.


"Heyy, sedang apa kamu!" Parlan beranjak dari duduknya dan mendekati Dipa, Reyna dan Lala.


"Mundur Reyn, lindungi Reynand!" ujar Dipa pada Reyna.


"Tapi, Dip!" Reyna khawatir jika laki-laki yang dianggapnya sebagai Jono tersebut akan melukai Dipa.


"Cepet mundur!" ujar Dipa dengan sedikit gertakan agar Reyna segera menjauh.


Reyna tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah Dipa. Ia mundur beberapa meter di belakang Dipa.


"Gak apa-apa kok, Bang. Saya hanya mengambil foto pemuda tadi yang sedang melakukan masangin," kilah Dipa.


"Jangan bohong kamu!" Parlan menarik bagian depan kemeja Dipa dengan kasar.


Dipa melihat ada pisau lipat di bagian saku celana preman di depannya. Sebisa mungkin ia mencoba bernegosiasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Iya sungguh, Bang! Maaf atas kelancangan saya. Begini saja, bagaimana jika saya membayar sejumlah uang sebagai gantinya kepada anda, Bang!" bujuk Dipa pada preman di depannya.


"Hhhahaa, orang kaya rupanya. Sombong sekali kau. Cepat serahkan dompetmu!" ujar Parlan sembari menarik cengkraman di bagian depan kemeja Dipa.


Dengan berat hati Dipa mengambil dompet yang ada di saku celananya dan menyerahkan dompet tersebut ke hadapan Parlan.


"Ambil Son, sikat semua uang cash di dalamnya!" ujar Parlan pada anak buahnya yang bernama Samson.


Dengan senang hati Samson mengambil semua uang cash dari dalam dompet Dipa. Kemudian mengembalikannya dengan cara menepuk ke depan dada Dipa dengan keras, hingga Dipa gagap saat menerimanya.


"Pergi lah sekarang juga!"


Parlan menghempaskan tubuh Dipa kebelakang hingga terjerembab ke bawah tanah yang menjadi pijakannya.


Reyna maju ke depan dan berjongkok memegangi lengan tangan Dipa untuk membantunya bangun.


"Hei kau, berhenti!" seru Parlan.


____________________Ney-nna_________________


...Please Like 👍...


...Leave a Coment 🤗...


...Give a gift & vote 🌹...


...Tank you! 🙏💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2