
***Peringatan part ini boleh di skip bagi yang belum cukup umur.
POV. Reyna.
"La, Mbak nitip Reynand dulu ya. Nanti mbak kabari kalau sudah sampai!" aku berpamitan kepada Lala, sesaat setelah menaiki sebuah taxi. Aku tidak sabar menunggu ojol datang, pada akhirnya aku memilih jalan ke depan dan mencegat taxi yang sedang melintas.
"I-iya, Mbak Reyna hati-hati, ya!" seru Lala yang juga ikut mengantarku ke jalan depan rumah.
Dalam perjalanan aku kembali merasa sangat cemas. Jika tidak terjadi apa-apa pada kak Abi, mengapa aku seolah merasa terpanggil untuk segera mencarinya. Aku merasa harus segera bertindak jika tidak ingin terlambat dan kembali menyesal.
Pikiranku tidak tenang, bayangan kak Abi ketika marah membutku kembali terisak. Hingga tadi pagi kami belum berbaikan. Entah mengapa aku sangat merindukan perhatiannya. Aku takut takut kehilangannya. Hatiku semakin resah saat aku mencoba menghubunginya lagi, namun tetap sama, nomornya tidak aktif.
Dalam hati aku berdoa, 'Ya Allah tolong lindungilah suamiku di mana pun dia berada. Jika nanti aku diberi kesempatan untuk melihatnya lagi, aku berjanji akan berusaha menjadi istri yang patuh kepadanya. Dan belajar untuk lebih mencintainya ....
Jam seolah berjalan lambat, dan aku sudah tidak sabar untuk segera memastikan keadaan kak Abi saat ini. Jalanan pun cukup padat karena ini malam minggu. Dapat dipastikan banyaknya kendaraan berlalu lalang untuk sekedar mencari hiburan dan beberapa orang yang hendak bepergian untuk merayakan weekend bersama teman maupun keluarga.
Akhirnya setelah 25 menit aku sampai di restoran kak Abi. Aku segera turun dan membayar ongkos taxi. Suasana restoran cukup ramai dan banyak pengunjung yang datang. Aku melirik ke arah parkiran dan menemukan mobil kak Abi masih terparkir di sana. Melihat hal itu aku cukup merasa lega. Itu artinya kak Abi ada di dalam.
Namun, aku ragu untuk masuk ke dalam resto. Dalam benakku, bagaimana jika sedang ada acara di dalam sana dan kedatanganku justru akan mengganggu kak Abi yang sedang sibuk. Aku pun takut jika nanti kak Abi mengabaikanku saat berada di dalam sana.
Aku merasa bingung hingga mempunyai niatan untuk kembali pulang saja dari pada diabaikan nantinya. Namun, mengingat sudah sejauh ini mana mungkin mau pulang begitu saja tanpa memastikan keadaan kak Abi barang sebentar saja.
Perlahan aku melangkah masuk ke dalam restoran. Suasananya cukup ramai saat itu. Semua karyawan nampak sibuk untuk melayani tamu.
"Bu Reyna, silakan masuk!" ucap salah satu karyawan saat melihatku.
"Pak Abi sedang sibuk ya, Mbak?" tanyaku pada waiters itu.
"Pak Abi sedang ada klien, Bu. Perlu saya panggilkan?" tanya wairers itu.
Tiba-tiba saja dari kejauhan aku melihat kak Abi sedang berjalan keluar dari ruangan kantor dan menuju pintu belakang menuju rumah belakang.
"Itu kak Abi!" pekikku saat melihatnya berjalan menjauh.
"Permisi, Mbak!" kataku kemudian pergi mengejar kak Abi.
Aku mengikuti kak Abi hingga ke rumah belakang. Ku lihat kak Abi masuk dengan sangat tergesa-gesa. Aku segera berlari menuju kamar itu. Ku ketuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintunya, dan masuk ke dalam tidak nampak kak Abi di dalam kamar. Namun, aku mendengar suara gemericik air shower. Itu artinya kak Abi sedang mandi. Aku putuskan untuk menunggunya di sofa ruang tamu sembari menelepon Lala.
"Hallo, Assalamu'alaikum, La."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Mbak. Gimana, Mbak?" tanya Lala dari seberang telepon.
"Ini aku udah di resto, alhamdulillah kak Abi baik-baik saja. Nitip Reynand dulu ya? nanti aku segera pulang jika kak Abi sudah selesai!" ujarku pada Lala.
"Baik, Mbak. Reynand juga susah tidur kok, Mbak. Tenang saja ... Mbak pulangnya hati-hati ya! Assalamu'alaikum."
"Iya, La. Wa'alaikumussalam!" telepon ditutup.
Beberapa saat kemudian kak Abi nampak keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang ia kenakan dan rambut yang masih basah. Dia nampak terkejut saat melihatku.
"Reyna ...," pekiknya padaku.
Aku seketika berpaling dan mengalihkan pandanganku ke bawah. Sudah bisa dipastikan bahwa saat itu kak Abi sedang tidak memakai apa pun di balik handuk kimononya.
Aku beranjak berdiri hendak ke luar untuk memberi kesempatan kak Abi berpakaian.
"A- aku akan keluar selagi kak Abi berganti baju!" ucapku dengan sedikit gugup dan bergegas berjalan menuju pintu.
Namun, tiba-tiba saja kak Abi menahan tanganku sebelum aku menjangkau pintu.
"Tunggu! kenapa kamu ke sini?" tanyanya padaku yang membuatku akhirnya kembali melihat ke arahnya.
Kak Abi melepaskan tanganku dan tiba-tiba saja sikapnya nampak aneh. Ia mengusap-usap leher dan badannya dengan kasar. Seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Mukanya memucat seperti menahan sesuatu.
"Ada apa, Kak?" tanyaku ingin memastikan apa yang membuatnya seperti itu.
Apa kak Abi sedang merasa gatal atau alergi?" batinku.
"Tunggu di sana dan jangan ke mana-mana!" ujarnya sembari beranjak hendak ke kamar mandi, namun dia kembali berbalik dan berkata, "Tolong kunci pintunya!"
Kak Abi kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi. Aku beranjak mendekati pintu kemudian menguncinya.
"Eh ... kenapa harus di kunci juga?" gumamku bertanya-tanya.
Akhirnya kuputuskan untuk menunggunya kembali duduk di sofa. Kembali terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Aku merasa aneh sekali dengan kak Abi.
"Kenapa kak Abi mandi lagi? apa tadi mandinya belum selesai?" gumamku sembari menepis pikiran buruk dan mencoba berprasangka baik padanya.
Tak berapa lama kak Abi ke luar dari dalam kamar mandi. Dia duduk di sofa sebelahku, menghempaskan tubuhnya di sebelahku bersandar pada sandaran sofa. Kak Abi menutup matanya dan memijit keningnya.
__ADS_1
"Apa Kak Abi merasa kurang sehat?" tanyaku saat melihat mukanya memerah seperti menahan sesuatu.
Kak Abi nampak menegakkan posisi duduknya. Ia menatap lekat ke arahku.
"Reyn, ada yang menaruh sesuatu di minuman atau makananku! argh sial!" ujarnya dengan kesal sembari menjambak rambutnya dengan kedua tangannya seolah menahan gejolak yang tertahan.
"Menaruh apa, Kak?" tanyaku tak mengerti.
"Sepertinya ada yang mencampurkan obat perangsang. Hasratku memuncak saat ini, dan mandi tidak menurunkan gejolak yang aku rasakan. Tolong bantu aku, Reyn! izinkan aku meminta hakku saat ini!" ujarnya dengan raut muka yang mengiba.
Aku membulatkan mata dan mulutku terbuka. Aku terkesiap mendengar permintaannya barusan.
A-apa ... kak Abi meminta haknya?
Aku bingung harus menjawab apa. Tapi aku kasihan juga padanya yang terlihat menahan hasratnya. Namun, siapa yang telah melakukannya? untuk apa orang itu melakukan ini kepada kak Abi?
"Tolong Reyna ... aku sudah tak bisa menahannya lagi!" racaunya kembali memohon padaku.
Aku melihat tangannya mencengkeram pada pinggiran sofa. Sorot matanya seolah meminta belas kasih dariku.
Sesaat terjadi perdebatan di dalam benakku.
Apa aku bisa melakukannya dengan kak Abi?
Tapi dia membutuhkanku saat ini. Bukankah aku istrinya dan hal itu halal bagi kami. Aku rasa sudah saatnya aku harus merelakan tubuhku dijamah oleh suami keduaku.
Perlahan aku mengangguk.
Tiba-tiba saja kak Abi menarikku dan menciumku dengan sangat rakus hingga aku sulit untuk mengimbanginya. Perlahan kak Abi menggiringku menuju tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Kemudian dia menghempaskan tubuhku di atas ranjang. Aku sempat kaget dengan tindakannya yang sedikit kasar. Aku merasa kak Abi tengah diliputi hasrat yang begitu besar. Aku sedikit merasa takut dan kurang nyaman dengan tatapannya yang seolah ingin segera memakanku.
Dia kembali mendekat dan menciumku. Aku merasakan degup jantungku berdetak dengan kencang dan tak beraturan. Sejenak ia berhenti untuk melepaskan hijab yang aku kenakan. Aku pasrah dengan perlakuannya itu. Namun, saat dia akan membuka kancing bajuku dengan reflek aku menahannya.
____________________Ney-nna_________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
...Give a gift & vote 🌹...
__ADS_1
...Tank you! 🙏...