Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Hariku bersamamu


__ADS_3

Pov Fely.


Sesampainya di salah satu kamar hotel tipe suit room, Pak Nabil segera membuka pintu dan memberiku kesempatan untuk masuk terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum," ucapku saat memasuki ruangan kamar.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar dengan hati-hati dan aku menghentikan langkahku tatkala terkesima dengan suasana kamar yang romantis. Di atas bed ada dua handuk yang dibentuk menyerupai angsa, dan di atas seprei putih dihiasi taburan kelopak bunga mawar merah yang berbentuk hati. Di atas nakas terdapat lilin-lilin kecil yang membuat suasana malam itu semakin romantis.


Deg.


Aku terpaku dan seketika menelan salivaku saat dua buah tangan menyentuh lenganku. Pak Nabil tepat berada di belakangku. Dia membalikkan tubuhku hingga saat ini kita saling berhadap-hadapan. Dan, pandangan kami pun bertemu.


"Kenapa diam saja?" tanya pak Nabil dan aku belum meresponnya.


Aku tersadar bahwa mulai malam ini akan ada pak Nabil yang akan tidur di sampingku. Kami harus berbagi kamar di kamar yang sama. Tiba-tiba saja aku menjadi gugup dan canggung. Karena, mulai malam ini status kita telah berubah. Di sini dia bukan lagi dosenku, melainkan suamiku.


"Bersihkan badanmu terlebih dahulu, aku akan ke luar sebentar!" ujarnya dengan lembut, kemudian melepas pegangan tangannya di lenganku.


Aku tidak menjawabnya, dan hanya menganggukkan kepala tanda setuju dengan perintahnya. Kemudian, dia berbalik dan melangkah pergi. Aku masih melihat punggungnya yang semakin menjauh menuju pintu dan ke luar dari kamar setelah menengok sebentar ke arahku sembari tersenyum.


Yaampun manisnya pak Nabil sepanjang hari ini. Dia begitu perhatian padaku dan terlihat sangat bahagia. Berbeda sekali dari sebelum-sebelumnya saat berada di kampus! gumamku dalam hati.


Aku berjalan menuju koperku berada dan mengambil piama tidur untuk baju ganti. Kemudian, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah sangat lengket.


Seusai membersihkan diri, aku ke luar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutku dengan handuk kecil, kemudian berdiri di depan cermin.


Hah! pekikku di dalam hati.


Aku terkejut saat melihat pantulan sosok di cermin yang sedang duduk bersandar di tempat tidur sembari melihat ke arahku.


Astaghfirullah, ternyata Pak Nabil sudah kembali!


Reflek aku segera menutup rambutku dengan handuk. Aku sungguh malu karena belum mengenakan hijab.

__ADS_1


"Sudah selesai ya mandinya?" ucapnya sembari menaruh handphonenya ke atas nakas dan beranjak berdiri.


"Em, sudah Pak, silakan kalau mau mandi!" ucapku tanpa bergeser dari tempatku berdiri sembari memegangi dua sisi handuk di bawah daguku.


Pak Nabil terlihat sedang memilih baju ganti dari dalam kopernya, kemudian berjalan mendekat.


Tiba-tiba dia berhenti tepat di depanku. "Fe, kamu mau sampai kapan memanggil, Pak? sudah halal lhoh! kita bukan sedang berada di kampus dan saat ini aku bukan dosenmu," ujar Pak Nabil sembari tersenyum seraya memegang daguku agar mendongak ke arahnya.


Sentuhanya itu seketika membuat jantungku berdesir dibuatnya, terlebih jarak di antara kita yang hanya tinggal sejengkal membuatku semakin tersipu malu.


"Em, ma-maaf!" ucapku dengan sedikit gugup.


"Satu lagi ... kalau rambutnya basah jangan pakai kerudung nanti kamu bisa pusing, aku boleh melihatnya bukan?"


Aku menganggukkan kepala dengan malu-malu.


Pak Nabil membuka handuk yang tersampir di atas kepalaku dengan pelan, "Jangan khawatirkan apa pun, jika kamu belum siap kita bisa memulainya pelan-pelan untuk saling mengenal terlebih dahulu. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hal 'itu' malam ini."


Saat dia hendak beranjak pergi dengan segera aku menahan tangannya agar dia mengurungkan langkahnya, "Mas ...!" ucapku yang seketika membuatnya berhenti.


"Ada apa, Fe?" tanyanya kembali berbalik.


"Mas, maaf! aku memang tidak bisa melayanimu malam ini, tapi bukan karena aku belum siap. Hal itu karena aku sedang datang bulan, sudah dua hari ini aku mens ....," ujarku merasa bersalah karena empat hari ke depan aku masih tidak akan bisa melayaninya.


"Oh jadi begitu?" ujarnya dengan raut muka serius. "Sebenarnya aku merencanakan untuk mengajakmu liburan selama tiga hari ke depan, sembari honeymoon, apa perlu kita menundanya minggu depan?"


"Weekend saja bagaimana, Mas?" ujarku memberi usulan. Sebab, saat itu aku sudah selesai masa haid.


"Kamis sampai dengan jum'at aku harus menghadiri seminar Nasional yang diselenggarakan di Jakarta, Fe. Kita pergi honeymoonnya sabtu saja, ya?" ujarnya padaku.


"Iya, Mas. Gih mandi sana!" ujarku pada suamiku itu.


"Iya ...," ujarnya sembari mengusap pucuk kepalaku dengan lembut, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Malam itu aku tertidur di pelukan mas Nabil, setelah beberapa saat saling bercerita apa saja yang membuat aku dan dia semakin dekat. Hingga kami sama-sama terlelap.


****


Sepulang dari hotel, mas Nabil memboyong aku untuk tinggal di rumahnya. Aku baru tahu ternyata mas Nabil memiliki usaha beberapa kedai kopi yang menjadi tongkrongan anak muda di daerah sekitaran kampus. Mas Nabil juga sudah mempunyai rumah pribadi dari hasil kerja kerasnya sendiri. Ada beberapa hal yang membuatku merasa tersanjung dengan tingkahnya, yaitu ketika mas Nabil lebih memilih membawa bekal masakanku dari pada membeli makan di luar. Sehingga setiap saat aku harus menyediakan bekal untuknya.


Ada lagi saat kita berangkat ke kampus diwaktu yang sama, Mas Nabil selalu menggandeng tanganku dan mengantarkan ku hingga ke depan kelas. Akhirnya aku akan menjadi bahan ejekan dari teman-temanku karenanya.


Rabu malam, aku menyiapkan beberapa baju ganti untuknya dan memasukkannya ke dalam koper. Dua hari ke depan aku akan tidur sendirian. Mas Nabil sebenarnya ingin mengajakku ikut serta, namun aku tidak bisa karena besok ada kuis.


"Sayang, besok harusnya kamu dapat nilai A, soalnya belajarnya udah diprivat langsung nih sama dosen ganteng!" ujar mas Nabil dengan percaya dirinya.


"Iya, Mas. Makasih banyak, ya?" ujarku sembari melingkarkan tanganku di pinggangnya.


Aku akui berkat bimbingannya kali ini, aku sangat paham dengan materi kuis besok. Luar biasa memang kalau belajarnya dengan kekasih halal yang pintarnya di atas rata-rata, sehingga belajar pun menjadi penuh dengan semangat.


"Tentu, Sayang! kedepannya kamu harus fokus belajar meskipun belajar sendirian kamu pasti bisa. Aku tahu kamu cukup cerdas. Terus jangan banyak begadang, itu nggak baik buat kesehatan kamu," ujar mas Nabil sembari membelai rambutku.


"Iya, Mas," jawabku patuh.


"Kamu jangan nakal ya, saat aku nggak ada! aku sayang banget sama kamu, Fe ...," ujar mas Nabil sembari memelukku dengan erat seperti tidak rela meninggalkan aku di rumah.


Mungkinkah ini yang namanya bucin, berpisah dua hari saja rasanya nggak kuat! batinku.


"Nggak akan, Mas. Aku akan setia menunggu. Aku juga sayang sama kamu, Mas!" ujarku sembari mengusap-usap punggungnya.


"Oh ya, Mas. Nanti kalau sempat kunjungi bunda ya, Mas?" ujarku berpesan agar mas Nabil menjenguk bunda. Aku sangat merindukan bunda.


"InsyaAllah, Sayang. Nanti jika ada kesempatan aku mampir ke tempat bunda! udah malem nih, yuk tidur! jangan sampai besok ketinggalan kereta!"


"Iya, Mas!" jawabku singkat sembari melingkarkan tanganku di pinggangnya.


...__________Ney-nna___________...

__ADS_1


__ADS_2