
Hari ketiga Cindy sudah di perbolehkan pulang. Saat ini ia sedang beristirahat di kamarnya. Meski sudah diperbolehkan pulang namun Cindy tidak diperkenankan melakukan kegiatan yang berat. Beruntung dr.Dimas tidak mengeluarkannya dari klinik, karena tidak bisa berangkat kerja dalam waktu yang cukup lama, yang kemungkinan lebih dari dua minggu semenjak ia merasakan sakit di perutnya, hingga seminggu ke depan. Justru Dimas memberikan ijin kepada Cindy, untuk mengambil cuti hingga ia cukup mampu untuk bekerja kembali.
Dimas sempat menjenguk Cindy sepeninggal Ummi Aini. Dimas mengetahui keadaan Cindy dari dr.Anung sahabatnya, yang juga sebagai dokter kandungan yang menangani Cindy. Lagi pula Cindy di operasi di rumah sakit tempat Dimas bekerja. Sebagai atasannya di klinik, Dimas menyempatkan waktu untuk menjenguknya di saat jam istirahat. Dan di malam saat Cindy di operasi Dimas turut hadir dan sempat bertemu dengan calon suami Cindy yaitu Fadhil.
Hari ini adalah jadwal kepulangan Umar dari pesantren. Biasanya Cindy yang menjemput, namun karena Cindy sakit kali ini Abi lah yang menjemput. Cindy yang merasa suntuk karena terus berada di kamar akhirnya keluar dan berniat mencari udara segar di halaman rumahnya. Cindy duduk di bangku yang dibuat abi dari bambu yang di susun memanjang. Bangku itu terletak di bawah pohon mangga yang rindang.
Semilir angin sepoi-sepoi kala itu membuat betah berlama-lama di sana. Tak berapa lama, nampak abi datang dengan menaiki sepeda motornya. Cindy memandang heran pada abinya, karena tidak nampak Umar adiknya turut serta.
'Lantas di mana Umar!' batin Cindy.
"Bi, kok sendirian, Umar mana?" tanya Cindy .
Abi mendekat, kemudian Cindy salim pada abinya, "Bentar lagi juga sampai."
"Maksudnya, Umar pulang sendiri? Naik apa?" tanya Cindy yang mulai keheranan.
"Diantar nak Fadhil, itu mereka datang!" ujar abi sembari menunjuk ke arah jalan yang menampakkan mobil Fadhil muncul dari ujung gang.
Mata Cindy mengekori ke arah yang di tunjuk oleh abinya. Benar saja ia dapat melihat mobil Fadhil yang perlahan memasuki halaman rumah Cindy.
Cindy sedikit terkejut, dengan kedatangan Fadhil ke rumahnya. Ia lalu teringat atas permintaan Ummi Aini untuk membatalkan rencana pernikahannya.
'Kebetulan sekali mas Fadhil ke mari, mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakannya!' guman Cindy dalam hati.
Terlihat Umar dan mas Fadhil turun dari mobil. Umar lantas berlari menghampiri Cindy.
"Assalamu'alaikum, Mbak," ujar Umar sembari menyodorkan tangannya ke depan Cindy untuk salim.
"Wa'alaikumussalam," Cindy menyambutnya.
"Mbak, katanya habis sakit ya? Sakit apa?" tanya Umar.
"Iya, sakit di bagian perut mbak, sekarang udah gak apa-apa kok. Udah sana masuk temui Ummi dulu," titah Cindy. Umar pun menurut.
"Nak Fadil, Bapak tinggal masuk ke dalam dulu ya?" ujar abi.
"Iya, Pak. Monggo!" jawab Fadhil.
"Cin, ajak masuk nak Fadhil ke ruang tamu," ujar Abi yang di balas anggukan oleh Cindy.
Kini tinggallah Fadhil dan Cindy di halaman.
"Assalamu'alaikum, Dek. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" ucap Fadhil kepada Cindy.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Alhamdulillah sudah mendingan. Mari masuk ke dalam saja, Mas," ajak Cindy.
Fadhil mengangguk kemudian berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah dengan senang hati. Dalam bayangannya sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari anggota keluarga di rumah ini setelah melaksanakan ijab qobul dengan Cindy.
__ADS_1
Fadhil dan Cindy kemudian duduk di sofa ruang tamu yang berbeda dan menjaga jarak agak jauh. Mereka tahu batasannya, meski hendak menikah mereka tidak di perkenankan untuk berdekatan karena belum adanya ikatan yang sah.
Ummi datang dengan membawa dua cangkir teh dan sepiring kue untuk camilan.
"Mari nak Fadhil di minum tehnya. Sama kuenya di makan. Maaf ya, seadanya," ujar ummi yang mempersilakan Fadhil untuk menikmati hidangan ala kadarnya.
"Njih, Bu. Ndak usah repot-repot, matur suwun," ucap Fadhil berterima kasih.
"Tidak repot kok, Nak. Ummi tinggal dulu ke belakang," ummi kemudian kembali ke dapur, meninggalkan mereka berdua.
"Diminum dulu, Mas," ujar Cindy.
"Iya, Dek," Fadhil mengambil cangkir di depannya dan meneguknya perlahan.
Seusai itu Fadhil kembali menaruh cangkirnya ke atas meja.
"Em...saya ke mari sekalian ingin bertanya kepada kamu, Dek. Kira-kira dek Cindy menginginkan mahar apa untuk pernikahannya nanti, supaya saya bisa mempersiapkannya dari sekarang," ujar Fadhil dengan sesekali melirik ke arah Cindy kemudian kembali menundukkan pandangannya.
Cindy terdiam sejenak untuk menimang-nimang bagaimana cara yang tepat untuk mengatakan pembatalan khitbah itu. Ia melirik sebentar ke arah Fadhil untuk memastikan keberadaan laki-laki di depannya.
'Mas Fadhil sepertinya sudah mantap untuk melanjutkan pernikahan ini meski mengetahui kekuranganku. Terbukti mas Fadhil adalah laki-laki yang baik. Namun, sepertinya kamu memang bukan jodohku, Mas. Kamu pasti akan menganggapku wanita yang tercela karena melanggar janji untuk menerima khitbahmu. Namun, semua ini adalah demi kebaikanmu dan keluargamu, Mas,' gumam Cindy di dalam hati.
"Sebelumnya, mohon maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menikah denganmu, Mas. Aku ingin membatalkan rencana pernikahan kita. Oh ya, ini aku kembalikan cincin yang pernah Ummi Aini berikan untukku, kepadamu, Mas," ujar Cindy sembari melepas cincin yang telah melingkar di jari manisnya, kemudian meletakkannya di atas meja di depan Fadhil.
Seketika Fadhil menoleh ke arah Cindy. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka saking terkejutnya. Ia ingin memastikan kebenaran atas apa yang ia dengar dari perkataan wanita yang berada di sampingnya itu.
"Aku bukan wanita yang tepat untukmu, Mas. Dan di luar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dariku. Kamu terlalu sempurna, sedangkan aku memiliki banyak kekurangan. Aku bukanlah wanita yang sepadan denganmu, Mas. Aku bukan jodoh yang tepat untukmu!" ujar Cindy dengan isak tangisnya.
Mendengar seperti ada keributan Abi dan Ummi kemudian menghampiri ke ruang tamu.
"Ada apa ini?" tanya Abi penasaran begitu melihat anak perempuannya menangis dan melihat ketegangan pada raut muka calon menantunya.
Ummi kemudian duduk di samping Cindy dan merangkulnya.
"Ada apa, Nduk?" ummi merasa sangat khawatir dengan anak perempuannya.
"Silakan bertanya pada anak, Bapak. Saya tidak mengerti mengapa dek Cindy tiba-tiba ingin membatalkan rencana pernikahan ini," ujar Fadhil dengan sendu.
"Membatalkan pernikahan!?" seru Abi menoleh ke arah Cindy dengan keterkejutannya.
Abi kemudian mendudukkan diri di kursi di depan Fadhil. Ia terlihat mengusap kasar mukanya dengan salah satu telapak tangannya kemudian memegangi dagunya.
"Ada apa Cindy? Kamu bahkan tidak mengatakan apa pun kepada Abi sebelumnya. Mengapa tiba-tiba kamu ingin membatalkan rencana pernikahanmu dengan nak Fadhil?" tanya Abi.
"Hal itu sudah Cindy pikirkan sejak kemarin, Bi, tolong Abi dan Ummi menyetujui keputusan Cindy," ujar Cindy meyakinkan orang tuanya, "Maafkan Cindy, Mas. Keputusan Cindy sudah bulat. Cindy mohon Mas Fadhil berlapang dada untuk menerima keputusanku ini. Mulai detik ini juga Mas Fadhil bebas untuk menjalin ta'aruf dengan wanita lain, karena Cindy sudah membatalkan khitbah mas Fadhil."
Semua yang ada di ruangan nampak terkejut dan bingung dengan situasi ini.
__ADS_1
Cindy beranjak dari duduknya kemudian perlahan berjalan masuk ke kamarnya dengan berurai air mata. Ia menangis tersedu-sedu di balik pintu kamarnya yang sudah tertutup.
"Cindy, tolong jelaskan yang sesungguhnya terjadi kepada Ummi, Nak. Jangan mengambil keputusan dengan gegabah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Cindy," seru ummi di balik pintu kamar Cindy.
"Tidak, Ummi. Keputusan Cindy tidak bisa di rubah lagi. Tolong biarkan Cindy beristirahat, Ummi. Cindy merasa lelah dan ingin tidur!" ujar Cindy dari dalam.
Dengan berat hati ummi membiarkan Cindy untuk menenangkan diri terlebih dahulu, ia kemudian kembali ke ruang tamu untuk menjumpai suaminya dan Fadhil.
"Nak Fadhil, mohon maaf Ummi juga tidak mengerti kenapa Cindy tiba-tiba seperti itu. Sebelumnya Cindy tidak pernah mengatakan apa-apa tentang hal ini pada, Ummi," ujar Ummi sembari duduk di sofa.
Fadhil memandang umminya Cindy dengan sendu. Kemudian menghela nafasnya.
"Nak Fadhil sebaiknya pulang dulu, nanti kami akan berusaha membujuk Cindy jika ia sudah tenang dan merasa sudah lebih baik," ujar Abi membujuk Fadhil.
"Baiklah Pak, Bu. Saya mohon pamit terlebih dahulu. Saya mohon maaf jika tanpa sengaja saya berbuat kesalahan. Saya harap dek Cindy tidak jadi membatalkan rencana prrnikahan ini. Assalamu'alaikum," Fadhil mengambil cincin yang di kembalikan oleh Cindy kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya.
"Wa'alaikumussalam," ucap ummi dan abi berbarengan.
Seusai berjabat tangan dengan abinya Cindy Fadhil meninggalkan rumah itu dengan segera.
****
Fadhil kembali ke rumahnya dengan penuh kekecewaan. Padahal ia merasa sudah cocok dengan Cindy dan keluarganya. Dari sekian banyak CV ta'aruf yang ia terima dari mantan santri dan juga anggota remaja putri di tempat kajian, ia lebih memilih untuk ta'aruf dengan Cindy.
Fadhil pernah beberapa kali melihat Cindy saat menjemput Umar di pesantren. Sehingga saat abahnya yaitu ustadz Maulana menunjukkan foto anak dari teman baiknya untuk di jodohkan dengannya, ia langsung menyetujuinya saat melihat wanita yang ada pada foto adalah Cindy.
Namun, apa daya. Cindy yang awalnya menerima khithbahnya, tiba-tiba ingin membatalkannya. Perasaan sedih dan penasaran bersarang di benaknya. Hingga membuatnya murung dan melamun di ruang tengah rumahnya.
"Sudah pulang, Dhil. Dari mana saja?" tanya ummi Aini yang baru muncul dari arah dapur.
"Ekhm...dari rumah Cindy, Ummi," jawab Fadhil dengan muka datarnya.
"Kamu menjenguknya?" tanya ummi Aini.
"Iya, Ummi," jawab Fadhil singkat tanpa ada selera untuk mengobrol.
'Dari gelagatnya, Fadhil sepertinya sedang merasa sedih. Apa mungkin Cindy sudah membatalkan khitbahnya?' batin ummi Aini bertanya-tanya.
"Apa terjadi sesuatu, Le?" tanya ummi Aini kepada anak laki-lakinya.
"Cindy, membatalkan khitbah dari Fadhil, Ummi!" jawab Fadhil Lirih kemudian punggungnya bersandar pada sandaran sofa, sembari memejamkan matanya yang terlihat sembab di pelupuk mata.
Ummi Aini merasa iba dan sangat bersalah dengan keadaan putra keduanya itu. Ia dapat melihat kesedihan yang mendalam di mata Fadhil akibat pembatalan khitbah dari Cindy. Namun, hal ini adalah jalan yang terbaik menurutnya, demi masa depan putranya yang lebih baik.
___________________Ney-nna_________________
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukung author,, terimakasih reader's 💕💕💕
__ADS_1