
Semalaman merenungkan kesalahannya, pagi ini juga ummi Aini berniat untuk datang ke rumah sakit menjenguk pak Abu sekaligus untuk meminta maaf kepada keluarga Cindy. Ia merasakan adanya ketidaknyamanan sebab suaminya dan Fadhil seoalah menghindarinya. Sedari subuh ustadz Maulana menyibukkan diri di pesantren hingga tak ada waktu bagi ummi Aini untuk berbicara dengan suaminya.
Begitu pula dengan Fadhil sejak pagi-pagi sekali sudah pergi entah kemana. Kini Ummi Aini merasa hidupnya terasa sangat sepi di jauhi oleh suami dan anaknya.
Seusai mengurus kebutuhan belanja dapur dan mempersiapkan menu untuk sarapan dan makan siang para santri dengan salah satu orang kepercayaannya, ummi Aini bergegas bersiap untuk pergi menjenguk abinya Cindy sekaligus untuk meminta maaf.
Ummi Aini mendatangi suaminya di pesantren untuk meminta ijin hendak pergi ke rumah sakit.
"Bah, saya akan ke rumah sakit untuk menjenguk dek Abu sekaligus untuk meminta maaf kepada keluarganya," ujar ummi Aini.
"Pergilah!" jawab ustadz Maulana singkat
Ummi Aini lantas mencium punggung tangan suaminya, "Assalamu'alaikum, bah!"
"Wa'alaikumussalam!"
Tidak ada obrolan apapun diantara mereka selain itu. Ummi Aini pun merasa semakin sedih karena terus diabaikan. Namun, ia memang pantas untuk di perlakukan seperti itu karena ia memang telah berbuat salah.
Ia mengenal Cindy adalah anak yang baik. Entah mengapa ia begitu bodoh karena terlalu menghawatirkan soal keturunan. Allah telah menunjukan padanya bahwa ia keliru. Cindy bahkan hamil dengan cepat tak lama setelah menikah. Ia benar-benar merasa sangat menyesal.
"Ya Allah, ampuni hambamu ini ya Allah!" gumam ummi Aini.
Setelah menantunya mengalami keguguran, Ummi Aini menjadi resah. Harapannya untuk segera mendapatkan cucu pupus sudah. Ia terus berpikir bahwa itu adalah teguran dari Allah atas tindakannya terhadap Cindy. Sembari berjalan menuju halte untuk mencegat taxi ia terus mengelap air matanya.
Sesampainya di rumah sakit Ummi Aini di sambut baik oleh umminya Cindy.
"Mbak Aini, sendirian Mbak? Ayo silakan duduk, Mbak!" ummi Cindy menggiring ummi Aini menuju sofa yang berada di kamar VIP abinya Cindy.
Ummi Aini merasa sangat malu karena di perlakukan sangat baik oleh umminya Cindy, meskipun ia telah melakukan kesalahan pada anak mereka.
"Iya, Dek. Bagaimana keadaannya dek Abu?" tanya ummi Aini berbasa basi.
"Baik, Mbak. Alhamdulillah!" ujar abinya Cindy.
"Dek, kedatangan saya ke sini karena ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian," ummi Aini memegangi tangan umminya Cindy, "Tolong maafkan kesalahanku, Dek!"
Lagi-lagi ummi Aini menangis karena menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Maksud Mbak Aini, kesalahan yang mana, Mbak?" tanya umminya Cindy terkejut mendapati ummi Aini menangis.
"Kalian pasti sudah tahu kan jika aku yang meminta Cindy untuk membatalkan khitbahnya Fadhil waktu itu? Sungguh aku menyesal, Dek. Tolong maafkanlah aku yang telah melukai hati kalian. Terutama kepada Cindy, aku telah mengecewakannya dan membuatnya sangat terluka saat itu. Dosa-dosaku begitu besar pada kalian, tolong ampuni aku, Dek!" ujar ummi Aini dengan menangis tersedu.
"Ohh, jadi ini calon besan kamu yang dulu meminta Cindy membatalkan khitbahnya!" tiba-tiba saja budhe Asri masuk setelah dari kafetaria membeli makanan.
"Mulut anda begitu pedas, Nyonya. Tega-teganya menolak keponakan saya di saat menjelang hari pernikahannya. Apa anda tau bagaimana adik saya harus menanggung malu dari semua kerabat dekat yang sudah mendengar kabar itu dan tiba-tiba batal menikah. Tidak banyak yang menyalahkan Cindy karena pada awalnya kami mengira Cindy yang membatalkan pernikahan secara sepihak. Sungguh anda tak berperasaan!" omel budhe Asri yang telah mengetahui cerita dibalik batalnya rencana pernikahan Cindy dengan Fadhil.
"Mbak, sudahlah. Kita serahkan semua pada Allah," ujar ummi Cindy pada kakak iparnya.
"Mbak Aini, jujur saja waktu itu saya sangat terluka sebagai seorang ibu yang mengetahui anaknya diperlakukan seperti itu. Saya sangat menyayangkan hal itu bisa di lakukan oleh anda yang dikenal sebagai muslimah yang baik. Namun, kami tidak menyimpan dendam, hanya saja saya mohon anda berpikir terlebih dahulu sebelum berucap. Terakhir kali anda berbicara pada Cindy waktu itu membuatnya kembali terluka. Tolong anda intropeksi diri agar hal itu tidak terulang kembali pada orang lain."
"Pada dasarnya saya sudah memaafkan anda. Hikmahnya saat ini, akibat perbuatan anda itu justru Cindy telah menemukan jodoh yang tepat untuknya dan ia telah dipercaya oleh Allah untuk mengandung janin di rahimnya. Saya percaya bahwa Allah akan memberi balasan pada setiap perbuatan. Yang menabur kebaikan akan menuai kebahagiaan. Yang menabur luka pasti akan mendapat balasannya tersendiri. Bertaubat lah dan memohon ampun atas apa yang anda lakukan. Saya dan suami saya telah memaafkan anda, begitu pula dengan Cindy, saya yakin anak saya berhati besar untuk memaafkan kesalahan anda. Namun, saya minta anda tidak usah menemui Cindy untuk membahas ini lagi, hal ini hanya akan menguak lukanya kembali. Saya tidak ingin Cindy kembali mengingat kepedihan yang pernah ia alami. Biar saya yang menyampaikannya sendiri!" ujar umminya Cindy panjang lebar.
"Baiklah, Dek. Terima kasih karena sudah memaafkan saya, Dek. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong sampaikan maaf saya yang sebenar-benarnya kepada nak Cindy. Saya telah mendapatkan hukuman dari Allah dek, menantu saya mengalami keguguran, saat ini suami saya dan juga Fadhil marah terhadap saya. Saya benar-benar menyesal, Dek. Saya mohon pamit untuk pulang, maaf telah mengganggu waktu kalian. Sekali lagi terima kasih sudah memaafkan saya! Assalamu'alaikum!" ummi Aini bangkit sembari mengusap air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.
"Hati-hati di jalan, Mbak. Wa'alaikumussalam!"
Budhe Asri geleng-geleng kepala menyaksikan ummi Aini berlalu.
"Sabar, Mbak. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Aku hanya tidak ingin dendam menguasai hati kita. Allah saja Maha Pengampun. Buat apa kita harus mengotori mulut kita untuk menghakimi perbuatan orang lain. Yang ada kita akan mendapat dosa. Biar saja Allah yang membalasnya."
"Astaghfirullahal'adzim! Aku jadi geram sendiri tadi, Dek!"
****
Fadhil datang ke rumah mertuanya untuk menjemput istrinya. Setelahnya ia sempatkan berjalan-jalan berdua untuk menghilangkan gundah di hatinya. Saat ini ia sangat membutuhkan tempat bersandar, dan kepada istrinya lah ia datang untuk bisa menyembuhkan luka hatinya yang di sebabkan oleh umminya.
Setelah berada di pesantren Fadhil berusaha untuk menyibukkan diri dengan para santriwan dengan bermain bola di sore hari. Ia memilih untuk tidak terlibat percakapan dengan umminya. Luka hatinya masih belum juga mengering. Namun ia tidak benar-benar membenci umminya. Ia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya.
Saat makan malam pun terasa berbeda. Tidak ada obrolan atau muka ceria di wajah Abah, Ummi dan Fadhil.
"Mas, apa ada sesuatu yang terjadi saat aku tidak ada?" tanya Tia istri Fadhil.
"Memangnya kenapa, Dek?" tanya Fadhil.
"Suasana di rumah ini terasa dingin, Mas," Tia seolah merasakan ada masalah di keluarga suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, Mas akan menceritakannya. Mas tidak ingin kamu mendengar hal ini dari orang lain. Tapi, Mas mohon kamu jangan salah paham dulu," ujar Fadhil dengan lembut kepada istrinya.
"Iya, Mas."
"Sebelum aku menikah denganmu, aku telah menjalani ta'aruf dengan seorang gadis, dan berlanjut sampai tahap mengkhitbahnya. Dan, kami sepakat untuk menikah. Namun, dua minggu menjelang hari pernikahan kami gadis itu divonis oleh dokter mengidap kista dan menjalani operasi. Saat aku berkunjung ke rumahnya tiba-tiba saja ia membatalkan khitbah denganku tanpa ada alasan yang pasti. Jujur saja aku merasa sangat kecewa dan terluka. Tak berapa lama Ummi memaksa aku untuk menikah denganmu. Dan kemarin aku baru mengetahui jika Ummi lah yang meminta gadis itu untuk membatalkan khitbahku waktu itu. Dengan alasan Ummi takut ia tidak akan bisa memberikan keturunan. Aku benar-benar kecewa kepada Ummi, Dek!" ungkap Fadhil panjang lebar.
"Astaghfirullahal'adzim, aku bisa merasakan bagaimana terlukanya gadis itu, Mas. Ia pasti menjalani hari-hari yang sulit waktu itu. Namun, bolehkah aku bertanya, Mas. Apakah Mas Fadhil masih mencintainya?" tanya Tia dengan cemas.
Fadhil terdiam, ia sendiri tidak memahami dengan perasaannya saat ini. Ia menyayangi istrinya, tapi tidak di pungkiri ia menyimpan rasa terhadap Cindy.
"Mas tidak perlu menjawabnya, aku sudah tahu jawabannya dari diammu, Mas," ada guratan kesedihan di wajah wanita itu. Tak bisa dipungkiri ia merasa cemburu mengetahui ada wanita lain yang bersemayam di hati suaminya. Ia lantas beranjak untuk keluar kamar.
"Tunggu, Dek!" Fadhil menahan langkah istrinya untuk meningkalkan kamar mereka.
"Duduklah, aku belum selesai berbicara," Fadhil menarik tangan istrinya untuk kembali duduk.
Tia menuruti perintah suaminya.
"Tolong dengarkan aku dulu, Dek. Aku tidak akan membohongimu dan menutup-nutupinya darimu. Mungkin karena ada ganjalan di hatiku tentang kejelasan masalah itu, aku seolah terus mengingatnya karena merasa ada masalah yang belum terselesaikan diantara aku dan dia. Selama ini aku sudah belajar untuk menyayangimu, Dek. Tapi tentu itu tidak mudah bagiku untuk berpindah ke lain hati dalam waktu yang singkat ini. Aku mohon berikan aku waktu, aku akan membuktikan kepadamu, Dek. Untuk kedepannya hanya akan ada namamu di hatiku!" tutur Fadhil lembut untuk meyakinkan istrinya.
"Baiklah, Mas. Aku akan menantikan saat itu. Aku akan bersabar menunggumu, Mas!" ujar Tia sendu.
"Terima kasih, Dek. Aku menyayangimu!"
Fadhil memeluk istrinya dengan lembut dan memberi kecupan di pucuk kepala istrinya. Ia merasa tidak memiliki beban di pundaknya, setelah mengutarakan semuanya pada istrinya. Ia akan berusaha untuk belajar mencintai istrinya.
_____________________Ney-nna________________
Author punya pertanyaan nih buat reader's.
Tanggal berapa dan bulan apa Rangga junior lahir?
Coba tebak dan beri jawaban di kolom Tag komentar di bawah ini ya!
Terimakasih buat yang sll mendukung author semoga sehat selalu 🙏
Salam hangat dari author 😘💕💕💕
__ADS_1