
Sayup-sayup terdengar kumandang adzan subuh. Masih dengan mata terpejam, Reyna hendak bangun namun merasakan tubuhnya sulit digerakkan. Perlahan matanya mengerjap, pupil matanya membesar di remang-remang lampu kamar.
Dilihatnya ada tangan melingkar diperutnya. Seketika hal itu membuatnya terkejut. Ketika ia menoleh kebelakang dilihatnya Rangga yang sedang tertidur pulas dibelakangnya sambil memeluknya. Ia hembuskan nafasnya yang sempat tertahan, baru ingat jika kemarin ia sudah menikah dengan Rangga.
Perlahan ia pindahkan tangan Rangga dari perutnya sambil pelan-pelan bangun dari tempat tidurnya. Ternyata pergerakan yang Reyna timbulkan menyebabkan Rangga terbangun. Melihat Reyna yang sedang berdiri di samping tempat tidur membuat Rangga langsung terduduk.
"Mau ke mana, Reyn?" tanya Rangga yang seketika membuat Reyna terhenyak. Usahanya telah gagal.
"Emm ... mau ke kamar mandi ambil wudhu," jawab Reyna jujur.
Rangga menoleh jam di dinding. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 04.20.
"Sudah waktunya sholat subuh ya ternyata? ya udah kita salat bersama!" ujar Rangga.
Reyna mengangguk, kemudian segera bangkit dan pergi ke kamar mandi terlebih dulu, kemudian bergantian dengan Rangga.
Setelah wudhu mereka salat berjamaah. Lagi-lagi Rangga mengulurkan tangannya kepada Reyna seusai salat. Kemudian, setelah Reyna mencium punggung tangan suaminya, Rangga mengecup kening Reyna.
Kali ini Reyna tidak menatap mata Rangga setelahnya. Reyna kemudian cepat-cepat berpaling untuk melepas mukenanya dan membereskan perlengkapan salatnya, lalu beranjak untuk menyimpannya ke dalam rak.
Rangga terdiam memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apa ada yang salah dengannya sehingga Reyna seolah menghindarinya?
Bahkan sekedar menatap ke arahnya pun terlihat enggan. Sangat berbeda dengan kemarin malam. Dalam diam Rangga mencoba bersabar dengan sikap istrinya itu.
"Mau aku buatkan minum teh atau kopi?" tanya Reyna.
Sesungguhnya yang Rangga inginkan hanyalah Reyna ada di sampingnya. Sejenak saja mengobrol atau sekedar untuk mencoba mendekatkan diri kepada pasangan, sebelum melakukan aktivitas lainnya.
Namun, ia tidak akan memaksa jika Reyna masih belum bisa membuka hatinya. Mungkin Reyna perlu waktu untuk membiasakan diri bersamanya.
"Apa saja yang kamu buatkan, pasti aku minum, Reyn," ucap Rangga pada akhirnya.
Setelah mendapat jawaban dari Rangga, Reyna bergegas meninggalkan kamar, menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur Reyna mendapati si embak yang tengah menyiapkan bahan untuk memasak sarapan dan juga ada Windy yang sedang membuat susu.
"Pagi Mbak ... Kak Windy juga sudah di sini ya?" sapa Reyna.
"Iya, Reyn. Nih Chaca minta dibikinin susu," jawab Windy.
"Pagi, Non. Penganten baru kok jam segini udah keluar kamar saja sih, Non. Biasanya kalau penganten baru itu bangunnya kesiangan, hhhhihi...," ujar si embak kemudian terkikik usai menggoda Reyna.
"Embak nih ada-ada saja, aturan dari mana coba?" jawab Reyna sembari merebus air untuk ia gunakan menyeduh kopi.
"Itu sih bener kata si Embak, Reyn. Tapi sepertinya masih utuh deh, Mbak. Buktinya jalannya masih lempeng aja! hahaha ...," ujar Windy yang tak kalah seru.
"Ishh, pada ngomongin apa sih, berisik banget?" ujar Mami yang baru muncul dari arah pintu.
"Ini nih, Mi. Si Embak nungguin yang belah duren," ucap Windi seraya tertawa terbahak-bahak diikuti si embak.
__ADS_1
"Apaan sih, Kak? aku mau balik ke kamar aja deh!" ucap Reyna seusai menyeduh kopi, kemudian Reyna pergi meninggalkan dapur dengan menahan malu.
"Tuh kan malah balik ke kamar ... jangan-jangan mau minta sama Rangga, ya, Reyn?" celoteh Windy yang masih sempat terdengar oleh Reyna.
Namun, Reyna memilih untuk mengabaikannya dan terus berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Reyna melihat Rangga yang baru selesai mandi. Rangga masih mengenakan celana pendek dan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Reyna kemudian buru-buru berpaling sambil meletakkan cangkir di atas nakas.
"Ini kopinya aku taruh di meja, Ga," ujar Reyna kemudian duduk di tepian kasur sambil meraih handphonenya.
Rangga segera mengenakan kaos berwarna putih yang diambilnya dari dalam almari, yang nampak pas ditubuhnya. Kemudian, dia berjalan mendekat ke nakas mengambil kopinya. Diteguknya kopi buatan istrinya itu.
"Emm ... lumayan enak! terimakasih ya, Reyn?" ujarnya.
Reyna berpaling dari layar handphone dan memandang ke arah Rangga yang berdiri tepat di depannya.
Rangga terlihat segar dan tercium aroma wangi sabun yang menyeruak di indera penciumannya. Sungguh menarik!
Reyna tidak menjawabnya, namun dia mengangguk mengiyakan. Kemudian, Reyna segera kembali menunduk melihat ke arah layar handphonenya untuk menyembunyikan kegugupannya.
Tiba-tiba Rangga berjalan mendekat, kemudian duduk di samping Reyna.
"Reyn, nanti kamu mau kerja atau ke rumah sakit?" tanya Rangga.
"Nanti ke ruko dulu sebentar, habis makan siang baru ke rumah sakit," jawab Reyna.
"Gak usah dianter, Ga! biasanya juga aku berangkat kerja sendiri. Kamu pasti sibuk kan di kantor? aku naik motor aja biar gak ngerepotin kamu!" tolak Reyna.
"Gak, pokoknya aku anter!" tutur Rangga tak ingin dibantah.
Rangga kemudian beranjak dari duduknya, kemudian meletakkan cangkir kopinya di atas nakas.
Dibukanya almari, kemudian mengambil kemeja warna biru muda dan celana hitam panjang berserta jasnya dengan warna senada untuk dikenakan ke kantor.
Diliriknya ke samping terlihat Reyna yang tengah masuk ke dalam kamar mandi.
Selagi Reyna mandi, dia memakai bajunya dan bersiap. Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka sedikit, tanpa menampakkan orangnya.
"Ga, kamu masih di kamar?"
Terdengar suara Reyna dari daam kamar mandi.
Khawatir terjadi sesuatu pada istrinya, Rangga pun segera mendekat pada pintu kamar mandi.
"Iya, Reyn. Aku di sini! ada apa?" tanya Rangga.
"Ga, tolong kamu ke luar dulu sebentar! aku lupa gak bawa baju ganti nih!" tutur Reyna.
Mendengar hal itu, Rangga tersenyum merasa lucu dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Emangnya kenapa, Reyn? kalau mau ambil baju, ya tinggal ke luar aja!" ujar Rangga menggoda istrinya.
Dia bisa menduga jika Reyna pasti tengah kebingungan dan malu.
"Ayo dong Ga, please! kamu keluar dulu dong!" ucap Reyna memohon.
Pasalnya saat ini ia hanya mengenakan handuk kimononya. Sangat canggung jika Rangga melihatnya.
"Kita sudah sah, Reyn. Aku berhak untuk melihat semuanya. Kenapa musti disembunyikan?" tutur Rangga sembari bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi sambil terkikik menahan tawa.
Lama tidak ada jawaban dari dalam. Rangga jadi khawatir apa yang Reyna lakukan di dalam kamar mandi. Dia pun merasa kasian kalau istrinya mulai kedinginan lama-lama di dalam sana. Rasanya sudah cukup untuk menggoda istrinya.
"Reyn ..., Reyna ...? kamu gak apa-apa kan?" ujar Rangga mulai panik.
"Maaf, Ga. Aku belum siap ...."
Terdengar suara lirih Reyna dari dalam kamar mandi yang mengiba.
Rangga menghembuskan napasnya perlahan. Dia menyadari jika Reyna masih sangat polos dan dia tidak akan memaksanya. Padahal ia hanya ingin menggodanya saja.
"Aku gak akan minta itu sekarang, Reyn. Aku keluar dulu, aku tunggu di ruang makan," ujar Rangga kemudian beranjak ke luar kamar dan menutup pintunya dengan rapat.
Seusai kepergian Rangga, Reyna menjulurkan kepalanya ke luar pintu untuk mengintip. Matanya mengitari seluruh ruangan, namun tidak ditemukan siapapun selain dirinya.
Reyna kemudian bergegas ke luar kamar mandi dan mengunci pintu kamarnya.
Reyna segera berpakaian dan berdandan. Ada rasa bersalah mengingat kata-kata Rangga yang tadi. Rangga memang berhak atas dirinya, namun dia merasa takut dan belum siap untuk menunjukkan tubuh polosnya kepada suaminya itu.
Selesai bersiap, Reyna bergegas menyusul Rangga untuk sarapan. Ia melihat semua orang sudah berkumpul di meja makan. Suaminya sedang asyik bercanda tawa dengan Chaca. Dia pun memutuskan untuk duduk di sebelah Rangga.
"Ehh, Aunty sudah datang," ucap Chaca seraya melihat ke arah Reyna.
"Hai, cantik!" ucap Reyna sembari tersenyum ramah kepada si anak gemas itu.
"Pagi, Nek, Mih!" sapa Reyna pada Nenek dan ibu mertuanya.
"Pagi, Reyn," jawab nenek membalas senyuman Reyna. Sedangkan Mami hanya tersenyum saja.
Reyna berdiri hendak mengambilkan makan untuk Rangga, saat itu bersamaan dengan Mami yang terlebih dulu mengambil piring Rangga. Akhirnya Reyna kembali duduk. Windy yang berada di samping Reyna seolah mengerti gerakan Reyna akhirnya bersuara.
"Mih, adek tuh sudah ada jatahnya yang ngurusin, sekarang Mami tinggal duduk manis aja kalau gak ada Papi."
"Eh, sampai kapanpun kalian itu tetep bayi kecilnya Mami," ungkap mami Lena.
"Ihh Mami dikasih tau juga waktunya pensiun," ungkap Windy kekeuh.
"Iya Len, Windi itu benar, ketika anak sudah dewasa saatnya quality time sama pasangan. Meski sudah kakek nenek pun jangan mau kalah sama yang muda," ujar nenek mengalihkan pemikiran, saat mencium aroma ketidaksukaan menantunya itu kepada Reyna.
Mami Lena terlihat pasrah dan memilih untuk tidak menanggapinya. Mereka pun kemudian melanjutkan makannya dengan tenang. Selesai makan Reyna dan Rangga berpamitan untuk berangkat kerja.
__ADS_1