
Malam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pernikahannya besok, Reyna berniat untuk segera tidur agar besok bisa bangun pagi dengan muka yang segar.
Sudah setengah jam bergelung di atas kasurnya tapi matanya masih belum terpejam. Ada keresahan dihatinya membayangkan pernikahannya besok. Akhirnya ia kembali bangkit, ia putuskan untuk melaksanakan shalat istikharah terlebih dahulu. Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Sesudah itu ia gelar sajadah dan dikenakannya mukena, kemudian didirikannya shalat dua rakaat. Terakhir ia panjatkan do'a agar diberikan kemantapan hati.
"YA Allah aku memohonkan pilihan-Mu untukku dengan ilmu-Mu dan aku memohon kepada-Mu yang agung, karena Engkau Kuasa sedangkan aku tak berkuasa. Engkau yang Maha Mengetahui sedang aku tak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah jika menurut pengetahuan-Mu urusan ini lebih baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku dimasa sekarang dan akan datang, maka tetapkanlah ia dan mudahkanlah untukku dan berkatilah ia untukku. Namun jika menurut pengetahuan-Mu, urusan ini tidak baik untukku dalam agamaku dan kehidupanku dimasa sekarang dan akan datang, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya, dan tetapkanlah kebaikan bagiku dimana ia berasal, kemudian jadikanlah aku ridho dengannya."
Setelah berdo'a Reyna membereskan mukenanya. Kemudian ia beranjak ke tempat tidur. Tak berapa lama ia pun terlelap.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Reyna bangun kemudian bergegas untuk melaksanakan sholat subuh. Sehabis sholat Reyna kemudiam mandi dan kemudian berpakaian. Reyna duduk didepan meja riasnya, di ambilnya handphonenya diatas nakas. Rupanya ada pesan dari Mira.
💌
Beb, kamu sudah bangun kan? Bentar lagi gue otw kerumah lo yah. Siapin sarapan yang enak! Gue jg belom mandi ntar numpang dirumah lo,, okk! 😘
Reyna tersenyum membaca pesan dari Mira, kemudian mengetik balasannya.
💌
Iya Mir, berezz! Gih buruan berangkat.
Kemudian terdengar ketukan dari pintu. Disusul dengan suara dari Nenek.
"Reyn, sudah bangun?"
"Udah, Nek. Masuk aja." jawab Reyna dari dalam kamar. Nenek terlihat sedang membawa sebuah piring berisi nasi goreng.
"Sudah mandi sayang? Ini sarapannya." Nenek duduk dipinggiran tempat tidur.
"Sudah Nek, ini baru nungguin Mira buat dandan." Reyna mengambil piring dari tangan Nenek.
"Mira kesini? Syukurlah kalau gitu nanti ada yang nemenin kamu." Reyna mengangguk.
"Iya, Nek. Nanti Reyna berangkatnya sama Mira saja." kemudian Reyna mulai menyantap nasi gorengnya.
"Kalau begitu Nenek berangkat duluan saja ya, sma si Bejo. Nenek harus memastikan persiapan untuk acara akadnya nanti. Kamu jangan terlalu lama, jam 8 sudah harus berada di rumah sakit. Okey!" ujar Nenek.
__ADS_1
"Iya, Nek. Nenek hati-hati ya." Reyna menyalami tangan Nenek dan menciumnya.
Setelah Nenek berlalu Reyna pergi ke dapur untuk membereskan bekas makannya. Tiba-tiba muncul Mira dari dalam.
"Reyn, tadi aku papasan sama Nenek dan langsung disuruh masuk. Wah nasi goreng ya. Buat aku juga kan?" Mira langsung duduk dan mulai makan. Reyna hanya geleng-geleng kepala saja melihat sahabatnya itu.
"Kamu makan yang banyak Mir, aku ke kamar dulu ya buat dandan. Ntar kamu bantuin ngerapiin." Mira mengangguk sambil mengangkat tangannya mengacungkan jari jempolnya.
Sehabis cuci tangan Reyna langsung menuju kamarnya. Ia merasa tidak perlu berdandan dengan MUA, cukup dengan make up natural saja untuk akad. Rasanya berlebihan jika di rumah sakit berdandan menor layaknya hendak menghadiri pesta. Tidak perlu tata rambut juga, ia cukup mengenakan hijabnya dengan model yang simple namun terlihat anggun dan memberi sentuhan aksesoris seperti perak agar terlihat lebih indah.
Mira yang sudah selesai makan ikut membantunya. Satu jam berdandan akhirnya selesai juga nanti sesampainya di rumah sakit tinggal menyematkan mahkota kecil diatas hijabnya. Selesai makeup Reyna mengganti pakaiannya dengan gaun pengantinnya. Mira kemudian mandi dan bersiap. Jam 7 mereka berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit sebelum menjangkau kamar Kakek, Mira memakaikan mahkota kecil diatas hijab Reyna.
"Siiip, beres deh. Sumpah kamu cantik banget Beb, kayak gini. Dijamin Rangga pasti bakalan terpesona." ucap Mira.
"Apaan kamu tuh suka lebai deh, Mir. Ayo buruan." Reyna berjalan cepat menuju kamar kakek sambil menyeret Mira dibelakang.
Nampak di depan kamar Kakek sudah banyak orang. Salah satunya adalah Bibi yang langsung menyambutku.
"Bibiii..!"
"Iya Bi, Reyna juga sangat merindukan Bibi." ucap Reyna sambil melerai pelukannya dengan Bibi.
"Reyna..!" terdengar ada seorang dari samping yang mendekat ke arah mereka. Reyna kemudian menoleh ternyata Pamannya datang.
"Paman..! Paman sudah sembuh?" mata Reyna mulai berkaca-kaca menatap laki-laki yang mirip dengan Ayahnya itu kemudian memeluknya. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Pamannya itu sejak menderita sakit ginjal.
"Berkat bantuan pengobatan dari Tuan Hadi Paman bisa berobat dengan lebih baik sehingga keadaan Paman membaik. Tapi tetap saja Paman harus rutin melakukan cuci darah." ujar Paman.
"Assalamu'alaikum." tampak petugas KUA datang bersama Penghulu.
"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang yang berada di sana.
"Bagaimana, Za. Pernikahannya sudah siap dilaksanakan?" ternyata itu adalah kepala KUA sekaligus teman Papi Reza.
"Alhamdulillah semua sudah siap, mari kita masuk ke dalam." ucap Papi Reza.
__ADS_1
Setelah semua masuk dan duduk pada tempatnya akad pun segera di mulai.
"Bagaimana mempelai laki-laki dan perempuan sudah sepakat untuk menikah ya?" penghulu memastikannya terlebih dahulu.
Rangga dan Reyna sejenak saling menatap kemudian mengangguk.
"Baiklah karena kedua belah pihak sudah setuju, dengan mengucapkan Basmalah acara akad nikahnya kita mulai."
"Bismillahirrahmanirrahim."
Penghulu kemudian membacakan ayat suci Al-Qur'an kemudian dilanjutkan dengan khotbah nikah oleh kepala KUA.
Setelah selesai khotbah ijab kabul dilaksanakan. Kemudian Paman dan Rangga menempatkan diri duduk berhadapan sambil berjabat tangan. Penghulu mengarahkan kepada Paman untuk mengucapkan kalimat ijab nya.
"Saudara Rangga Putra Sanjaya bin Reza Sanjaya. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Reyna Hanania dengan maskawinnya berupa emas 20 karat dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." ucap Paman
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Reyna Hanania binti Almarhum Herman Maulana dengan maskawinnya tersebut tunai." kobul oleh Rangga.
Penghulu kemudian bertanya pada saksi.
"Bagaimana saksi sah?"
"Sah." saksi dengan tegas menjawab.
"Alhamdulillah." Semua orang bersuka cita.
Penghulu kemudian membacakan do'a nikah. Selanjutnya penandatanganan buku nikah oleh Rangga dan Reyna. Dilanjutkan serah terima mahar kemudian tukar cincin oleh Rangga kepada Reyna dan sebaliknya bergantian.
Reyna kemudian mencium tangaan Rangga dan Rangga mencium kening Reyna.
Acara dilanjutkan pada nasihat pernikahan oleh penghulu kemudian terakhir penutup.
Semua yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan ala kadarnya mengingat acara hanya diadakan di rumah sakit.
Kakek terlihat sangat bahagia manakala Reyna dan Rangga meminta restu.
Tiba-tiba dari arah pintu nampak dua orang perempuan masuk dengan tergopoh-gopoh.
__ADS_1