Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Cinta dan Kebohongan!


__ADS_3

Mira menatap dengan jengah laki-laki yang kini berada di depannya. Mau tak mau ia harus bertemu dengan Jona saat ini untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Dalam benaknya ia sangat menyesal telah memberi kesempatan kepada Jona. Sekarang, Mira telah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk kekasihnya itu.


Kini mereka tengah berada di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari rumah Mira. Saat ini Mira berencana untuk mengetes kejujuran Jona. Sebab, tidak ada untungnya juga jika ia mempertahankan hubungan jika terus hidup dalam kebohongan Jona.


"Siapa wanita tadi? Cepat jelaskan semuanya tanpa ada yang lo tutup-tutupi!" Mira nampak marah, namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya.


Saat ini Jonathan belum tahu jika Mira sempat menguping pembicaraannya dengan wanita yang menariknya di butik tadi sore.


"Dia temen aku di kantor, Ra. Cuma ada sedikit masalah sama dia kok. Maaf ya tadi ninggalin kamu sendiri? Tadi kamu pulang naik apa?" Jona terus saja mengoceh dengan berkata semanis mungkin untuk menutupi kebohongan-kebohongannya.


Mira semakin kesal dengan laki-laki di depannya. Jika belum menikah saja ia sudah berani membohonginya berulang kali, bagaimana jika sudah menikah nanti. Pernikahan yang seperti apa jika di dasari dengan kebohongan bertubi-tubi. Mira semakin asing dengan Jonathan. Jona bukan lagi sosok laki-laki yang ia kenal dulu. Lima tahun berpacaran ternyata tak cukup untuk mengokohkan rasa cinta. Justru semakin rapuh karena terjadi keretakan di mana-mana.


"Hhhhh..., ternyata kamu lebih memilih untuk membohongi ku daripada berkata jujur padaku. Asal kamu tahu aku mendengarnya. Aku mendengar semua yang kamu bicarakan dengan wanita itu waktu di butik tante Shinta! Dasar laki-laki breng zek kamu!"


Plaakk!


Emosi Mira mulai memuncak tatkala kebohongan demi kebohongan terus menerus yang ia dapat dari Jonathan.


Jonathan memegangi pipinya yang panas akibat tamparan dari Mira. Namun, ia menyadari jika ini memang pantas ia dapatkan atas kesalahan terbesarnya.


"Ra, tunggu Ra. Tolong kamu dengerin penjelasan aku dulu, Ra. Ini gak seperti yang kamu pikirkan. Oke aku bakal ceritain semuanya sama kamu, Ra. Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan!" Jonathan memegangi tangan Mira yang hendak pergi. Ia terus memohon agar Mira kembali duduk untuk mendengar penjelasan darinya.


Dengan berat hati Mira akhirnya kembali duduk. Ia mencoba bersabar agar semua jelas dan ia bisa mengambil sikap atas masalahnya.


"Apapun yang aku ceritakan ini mungkin akan sangat melukaimu, Ra. Tapi sebelumnya kamu harus tahu, aku berani bersumpah, aku cuma mencintai kamu seorang, Ra. Kejadian yang menimpa aku dan Dhewi saat itu murni kecelakaan, aku hilaf. Aku akui aku telah bersalah kepadamu. Dan, ribuan kata maaf tak akan bisa merubah segalanya. Sungguh jujur aku sangat mencintaimu, Mira," ungkap Jonathan dengan bersungguh-sungguh dari lubuk hatinya.


"Cinta saja nggak cukup buat menyatukan dua orang menjadi satu, Jona. Bahkan meskipun kita mempunyai rasa yang sama. Terlebih kamu telah menghianati cinta kita dengan perbuatan kotormu dengan wanita lain! Aku gak akan menerimamu kembali apapun alasanmu!" ujar Mira dengan tegas.


"Mira...., sungguh aku sayang sama kamu, Ra. Aku...," Jonathan hendak meyakinkan perasaannya, namun Mira buru-buru memotong ucapannya.


"Cukup! Sekarang ceritakan yang terjadi antara kamu dan wanita itu!" potong Mira dengan tegas.


"Baiklah aku akan menceritakan yang sesungguhnya terjadi! Sore itu aku dan Dhewi ditugaskan untuk mengecek lokasi tempat yang akan di bangun beberapa ruko di kawasan yang dekat dengan tempat pariwisata. Tempatnya dekat dengan pedesaan yang jauh dari kota. Saat kami hendak pulang, malam itu hujan turun dengan sangat deras. Jalanan desa yang sempit dan terjal membuatku tak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Sebab setelah keluar dari desa tersebut yang akan aku lalui adalah jalanan dengan tebing berkelok-kelok. Dan sering terjadi longsor. Akhirnya aku memutuskan untuk menunda perjalanan dan menginap di sebuah motel yang terletak tak jauh dari lokasi tempat pariwisata yang ada di desa itu. Dan apesnya saat itu motel penuh dan hanya tersisa satu kamar. Dengan terpaksa aku dan Dhewi tinggal disatu kamar yang sama. Saat itu hujan lebat dan baju yang kita kenakan pun basah terkena hujan. Akhirnya aku bertelanjang dada dan Dhewi berselimut. Awalnya semua baik-baik saja hingga tiba-tiba saja mati lampu sehingga Dhewi panik dan mendekatiku karena ia sangat takut kegelapan. Hingga kami hilaf dan hasratku tak bisa ku cegah untuk melakukan perbuatan yang melewati batas dengannya."

__ADS_1


"Semenjak saat itu kami sepakat untuk saling bungkam dan merahasiakan apa yang telah terjadi, seoalah tidak ada yang terjadi di antara kita. Namun, takdir berkata lain. Sebulan setelah kejadian itu Dhewi ternyata hamil. Jujur saja aku bingung, Ra. Aku hanya mencintai kamu, tapi aku juga gak bisa lepas tangan begitu saja dan membiarkan Dhewi untuk menangani kehamilannya sendirian. Dia menuntut tanggung jawabku atas bayi yang ada di kandungannya. Tapi aku juga tidak mungkin untuk menikahinya, karena aku tidak mencintainya. Menurut mu aku harus bagaimana, Ra!?" tutur Jonathan panjang lebar.


Dasar breng zek kamu Jona. Lima tahun kita pacaran kamu bisa menahannya untuk tidak menyentuhku, mengapa dalam sehari saja kamu bisa berbuat seperti itu pada wanita lain! Mira mengepalkan tangannya geram.


"Yang pertama yang harus kamu lakukan adalah mengakhiri hubungan kita. Batalkan rencana pernikahan kita. Jauhi aku dan jangan pernah dekati aku lagi. Mau tidak mau kamu harus bertanggung jawab padanya!" Mira hendak melangkah pergi, namun lagi-lagi Jona menahannya.


"Please Mira jangan tinggalkan aku, aku hanya mencintai kamu Mira. Aku akan bertanggung jawab dengan bayi itu tanpa harus menikahinya. Kita tetap akan menikah, Ra. Aku tidak akan membatalkannya!" ujar Jonathan bersikeras sembari memegang tangan Mira.


"Lepasin..., atau aku akan teriak supaya semua pengunjung cafe ini berpikir kamu telah mengganggu ku!" Mira menghempaskan tangannya hingga genggaman Jonathan terlepas.


Mira segera berjalan keluar cafe dan meninggalkan Jonathan sendiri.


Jonathan melihat kepergian Mira dengan rasa penyesalan yang teramat dalam.


****


Kring kring kring!


Telepon kantor yang berada di atas nakas ruang kerja Mira berbunyi. Dengan malas Mira memegang gagang telepon tersebut dan mengangkatnya.


"Mbak, Mira. Di bawah ada seorang wanita yang mengatakan ingin bertemu dengan mbak Mira. Namanya Dhewi," ujar Seza karyawan FO.


"Dhewi! Baiklah aku akan segera turun!"


"Baik, mbak. Saya akan memintanya untuk menunggu."


Telepon di matikan.


Dhewi...? apa mungkin Dhewi adalah wanita yang dihamili oleh Jona?


Dengan enggan Mira beranjak dari tempat duduknya untuk menemui tamunya.


Mira menuruni tangga dan sejenak berhenti di anak tangga terakhir. Benar saja dugaannya, wanita itu adalah wanita yang sama yang datang di butik tante Shinta.

__ADS_1


Wanita itu pun berdiri dan saling bertukar pandangan dengan Mira.


"Ada perlu apa anda mencari saya?" tanpa basa-basi Mira langsung menanyakan niat kedatangan wanita itu.


"Bisakah kita berbicara berdua, Mbak?" tanya Dhewi.


"Hhhhh...!" Mira menghela nafas kasarnya, "Ikut aku!" Mira berjalan keluar menuju restoran bunda Maya.


Sebenarnya Mira sangat enggan untuk mengungkit-ungkit lagi masalahnya. Apalagi dengan melihat wanita di belakangnya yang membuat hatinya terasa ngilu.


Kini mereka duduk di sudut restoran milik Bunda Maya, yang tempatnya agak jauh dari pengunjung yang lain.


"Apa maumu?" tanya Mira memecah keheningan.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf, Mbak. Kehadiran ku telah menghancurkan rencana pernikahan mbak dengan Jonathan," ujar Dhewi.


"Lantas apa lagi?" tanya Mira.


"Tolong mbak Mira untuk sudi merelakan Nathan untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan saya, Mbak," pinta Dhewi kepada Mira.


"Saya sudah memutuskan hubungan saya dengan si breng zek itu, jadi kamu tidak perlu khawatir saya akan kembali dengannya!" ujar Mira dengan ketus.


"Tapi Nathan tidak mau menikahi saya, Mbak. Dia mengatakan bahwa dia akan tetap menikah dengan, Mbak. Dia hanya mau memberi santunan untuk biaya hidup saya. Saya harus bagaimana, Mbak?" ujar Dhewi dengan sendu.


"Kamu salah jika mendatangi saya untuk hal itu. Saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia, selesaikan masalah kalian sendiri dan jangan libatkan saya lagi. Saya tidak akan pernah kembali padanya. Jadi jangan lagi menemui saya!" ujar Mira dengan tegas.


"Baik, Mbak. Maaf telah mengganggu waktu anda. Saya permisi!" Dhewi berlalu pergi.


Sepeninggal Dhewi Mira tertunduk di meja sembari menangis. Dia bingung harus bagaimana caranya mengatakan kepada mamanya jika pernikahannya dengan Jonathan batal.


Sebuah tangan lembut menyentuh kepalanya.


"Mira, ada apa?" Mira mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat keberadaan seseorang yang menyentuh kepalanya.

__ADS_1


___________________Ney-nna_________________


Happy weekend, jangan lupa untuk bahagia ya reader's. Selalu dukung author 🙏😘💞💞💞


__ADS_2