Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Saatnya Move On


__ADS_3

Sejak satu jam yang lalu Raka mendengarkan isak tangis istrinya dari balik pintu kamar bunda. Namun, tiba-tiba saja hening, tidak terdengar suara lagi. Raka menjadi cemas dengan kondisi istrinya di dalam kamar. Karena sangat penasaran dia mencoba mengintip dari celah pintu. Nampak Fely yang tengah tertidur.


Perlahan Raka memutar knop pintu kamarnya, beruntung pintunya tidak dikunci. Raka beranjak masuk ke dalam kamar dan berjongkok di samping tempat tidur, seraya memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur pulas.


Raka memperhatikan wajah istrinya yang terdapat sisa-sisa air mata. Hal itu membuatnya sedih dan merasa gagal menjadi seorang suami yang baik untuk Fely. Keinginannya untuk membuat Fely bahagia bersamanya, justru membuat Fely terus tersakiti.


Fe, apa yang harus aku lakukan? aku hanya ingin membuatmu bahagia, bukan sebaliknya! gumam Raka di dalam hati sembari menyeka sisa-sisa air mata di wajah istrinya.


Tiba-tiba terdengar dering suara handphone dari kamar atas. Raka segera beranjak bangkit menuju kamarnya.


Rupanya ada panggilan masuk dari handphone istrinya. Raka melihat nama yang tertera pada handphone. Ternyata ada panggilan masuk dari nenek Arum. Raka segera mengangkatnya.


"Halo, Assalamu'alaikum, Nek!" ujar Raka.


"Wa'alaikummussalam, Fely mana?" tanya nenek saat menyadari suara laki-laki yang mengangkatnya.


"Fely sedang tidur, Nek. Ini Raka, ada yang bisa Raka bantu, Nek?"


"Raka, kemarin Nenek sudah memberitahu Fely jika akan pulang hari ini dan minta dijemput, Nenek cuma mau mengingatkan, kalau Nenek sudah berada di bandara Sultan Syarif Kasim II, nanti minta tolong nenek di jemput di bandara pukul 13.30 ya?" ujar nenek Arum.


"Oh iya, Nek. Nanti biar Raka saja yang jemput, Nek. Semoga perjalanannya lancar," ucap Raka.


"Aamiin, ya sudah Nenek harus segera check-in, sudah dulu ya. Assalamualaikum."


"Iya, Nek. Wa'alaikummussalam."


Telepon ditutup.


Usai bertelepon Raka beranjak menuju resto depan. Raka meminta Tantin untuk menyiapkan beberapa menu makanan karena Fely tidak memasak.

__ADS_1


Sembari menunggu makanannya datang Raka mencoba mencari tahu alamat rumah Yasmin dari papanya Maura. Saat ini dia harus menyelidiki masalahnya sendiri tanpa bantuan seorang detektif. Raka berharap bisa mendapatkan bukti dari penyelidikan itu.


Ternyata papa Maura tidak tahu alamat rumah Yasmine. Sebab Yasmine dan Ibunya baru saja pindah rumah sepeninggal papa Yasmine. Raka kembali berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan alamat Yasmine.


Raka mencoba bertanya kepada Agung, namun ternyata Agung juga belum tahu alamat yang baru dari bosnya itu. Raka kembali berpikir keras tentang hal itu, hingga akhirnya dia menemukan sebuah cara. Jalan satu-satunya untuk sampai di rumah Yasmine adalah dengan membuntuti bu Ratih saat pulang kantor. Besok dia harus bisa bersikap biasa saja dan menahan emosinya seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan bu Ratih.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.45. Raka bergegas bersiap-siap untuk menjemput Nenek di bandara. Sebelum ke bandara Raka menuju kamar bawah untuk menemui istrinya.


Raka dilema antara ingin membangunkan istrinya atau tidak untuk berpamitan jika akan menjemput nenek Arum. Apalagi sebelumnya nenek Arum menempati kamar bunda.


Dia tahu pasti istrinya sangat kelelahan dengan apa yang terjadi kemarin hingga pagi ini. Akhirnya Raka menggendong Fely untuk dipindahkan ke kamar mereka.


Namun, sesampainya di tengah-tengah anak tangga Fely terbangun. Fely terkejut saat berada di gendongan sang suami. Ketika mengingat bahwa dia sedang kesal pada suaminya Fely segera meminta untuk diturunkan.


"Turunkan aku, Mas!" ujar Fely dengan sedikit jutek.


"Baiklah!" Perlahan-lahan Raka menurunkan istrinya. "Diajeng, istirahatlah di kamar kita, aku pergi dulu ke bandara untuk menjemput nenek Arum," tuturnya.


"Tak apa, Diajeng. Kamu istirahatlah biar aku yang jemput nenek Arum. Jika kamu lapar aku tadi sudah meminta Tantin untuk menyiapkan beberapa menu makanan dari resto dan sudah aku susun di ruang makan. Aku berangkat sekarang, Sayang. Assalamu'alaikum," ucap Raka.


"Wa'alaikummussalam," jawab Fely singkat sembari memandangi punggung suaminya yang berlalu pergi.


Setelah kepergian suaminya Fely segera beranjak ke kamarnya. Mengingat dia belum salat dhuhur Fely memutuskan untuk mengerjakan salat terlebih dahulu.


Seusai salat dia kembali merebahkan diri di kamarnya. Rasanya dia tidak berselera untuk makan. Terlebih saat mengingat tentang masalahnya dengan suaminya. Namun, sebentar lagi nenek akan datang, rasanya tidak mungkin jika memperlihatkan keadaan rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja kepada nenek. Dia harus berusaha menunjukkan bahwa rumah tangganya baik-baik saja.


Fely terus memikirkan tentang masalahnya sembari melamun. Karena asyik melamun Fely sampai tidak menyadari jika Raka sudah kembali dari menjemput nenek, dan kini tengah memasuki kamar mereka.


"Diajeng, sudah makan?" tanya Raka seraya duduk di tepian tempat tidur.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Fely yang sedang melamun seketika tersadar.


"Hah apa?"


"Sudah makan apa belum? nenek menunggu di meja makan," tutur Raka dengan lembut.


"Kamu aja yang temenin, Mas. Aku ingin istirahat!" ujar Fely sembari memalingkan mukanya ke arah yang lain.


"Oke baiklah, aku turun dulu," ujar Raka dengan pasrah, dia menyadari jika Fely tentu masih merasa kesal padanya.


Saat makan siang nenek sempat menanyakan tentang Fely yang tidak ikut makan. Akhirnya Raka mengatakan jika istrinya sedang tidak enak badan.


Seusai makan, nenek Arum kembali ke kamar. Raka mengambilkan sepiring nasi beserta lauk pauk untuk dibawa ke kamar istrinya.


"Sayang, ini aku bawakan makanan. Kamu harus tetap makan agar tidak sakit!" ujar Raka sembari meletakkan sepiring nasi di atas nakas.


"Nanti saja. Aku tidak berselera!" ujarnya tanpa melihat ke arah sang suami.


"Aku tidak ingin kamu sakit, Fe. Paling tidak makanlah sedikit saja! aku akan ke luar agar kamu bisa nyaman saat makan," ujar Raka kemudian beranjak ke luar dari kamar.


Sepeninggal Raka, Fely kemudian duduk. Tidak dipungkiri saat ini dia sangat lapar, sebab sejak tadi pagi dia belum makan sama sekali hingga perutnya kini terasa perih. Padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 14.30.


Fely mencoba menyuap makanannya, namun baru satu suap saja Fely sudah merasakan ingin muntah. Terlebih rasa pusing di kepalanya membuatnya ingin menjatuhkan kepala di atas bantal.


Fely beranjak mencari obat maag di laci nakas. Setelah beberapa saat kemudian dia baru memakan makanannya sedikit demi sedikit.


Fely berpikir, meski hatinya sedang sakit namun, jiwanya harus tetap sehat. Dia harus tegar menghadapi cobaan ini. Dia harus move on dari masalahnya kali ini. Dia tidak boleh dengan mudah dikalahkan oleh perempuan lain itu. Sebab, jika dia lemah dia benar-benar akan kehilangan suaminya.


Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Saat ini rumah tangganya sedang dipertaruhkan. Jika perempuan itu berniat untuk memecah belah antara dirinya dengan suaminya. Maka perempuan itu akan senang melihat perpecahan di dalam rumah tangganya.

__ADS_1


...________Ney-nna________...


__ADS_2