
Pagi ini Reyna meminta Fely untuk menemaninya berbelanja bulanan sekalian membelikan baju untuk Reynand. Sebab banyak baju putranya yang sudah mulai kesempitan.
Mereka mulai dengan berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan mandi, alat kebersihan, popok untuk Reynand, dan juga susu kaleng persediaan satu bulan.
Seusai berbelanja di market, Fely dan Reyna melanjutkan berbelanja di sebuah baby shop untuk membeli perlengkapan Reynand. Reyna mematut beberapa setel baju untuk Reynand. Reyna juga membelikan mainan untuk Reynand yang merengek saat melihat robot karakter hero dari acara tv kids yang sering dia tonton.
"Kak, nggak pengen sekalian membeli perlengkapan bayi new born untuk adeknya Reynand?" tanya Fely yang antusias melihat-lihat perlengkapan bayi yang lucu-lucu.
"Fely, Kakak kan hamil baru lima bulan, masih lama lahirannya. Lagi pula jika untuk berjaga-jaga baju-baju dan perlengkapan new born milik Reynand waktu bayi masih bagus-bagus. Sepertinya tidak perlu berbelanja banyak deh!" tutur Reyna.
"Oh iya-ya. Ya sudah, kalau begitu kita lanjut belanja yang lainnya saja, Kak!" tutur Fely yang ingin sekali melihat-lihat fashion muslim.
"Oke mau belanja apa lagi, Fe?" tanya Reyna.
"Fely pengen lihat-lihat baju dan hijab, Kak," tutur Fely.
"Baiklah, tolong jagain Reynand dulu ya, Fe! aku mau bayar ke kasa dulu!" tutur Reyna.
"Iya, Kak. Beres!" tutur Fely kemudian mendorong stroller Reynand ke luar dari baby shop.
Reyna kemudian segera menuju kasa untuk membayar belanjaannya. Seusai membayar mereka menyusuri mall sembari melihat-lihat suasana mall yang kala itu cukup ramai.
"Kak, sepertinya di bawah ada event. Rame banget deh orang pengunjung mall yang berkerumun di lantai satu," tutur Fely.
"Haduh, kalau aku sih nggak mau berdesak-desakan begitu, Fe. Udah nanti bersentuhan dengan yang bukan muhrim, terus pada saling dorong, hadew ... nggak mau deh!" tutur Reyna.
"Tapi, kebanyakan ibu-ibu begitu, Kak Apalagi jika ada barang bagus yang lagi diskon, atau bagi-bagi hadiah," ujar Fely berasumsi dari apa yang sering dilihatnya saat di pusat perbelanjaan.
"Iya sih, itu sebenarnya naluri kita sebagai seorang perempuan, yang ingin melawan emosi negatif dan menyalurkan energinya lewat hal-hal seperti berbelanja, meskipun berjam-jam tidak akan membuatnya bosan, sebab dari hal-hal yang dilakukannya akan memberikan kepuasan tersendiri! itulah makanya berbelanja bisa disebut refreshing juga," tutur Reyna.
__ADS_1
"Wah iya bener, Kak!" ujar Fely membenarkan.
Saat melihat toko fashion muslim, Fely mengajak Reyna untuk asuk. Reyna ingin berbelanja pakaian dan juga kerudung untuknya.
"Kak, coba lihat! cocok nggak bajunya buat aku?" tanya Fely sembari mematut gamis berwarna ppink pastel yang cukup simple, namun elegan, dan sedikit longgar di badannya.
"Cocok kok, Fe. Cantik sekali dipakainya. Kamu terlihat sangat cantik dan terlihat segar dengan gamis itu!" tutur Reyna memberi masukan.
"Kak, Reyna nggak pengen beli baju juga?" tanya Fely kepada Reyna.
"Nggak deh, Fe. Kakak lebih suka dengan gamis syar'i yang sederhana, namun bersih dan rapi. Baju ini jika diuangkan, bisa digunakan untuk membuat baju sendiri atau ke tukang jahit, dapat berapa potong baju coba? sayang sekali bukan jika terlalu boros dalam membelanjakan harta benda. Sesekali membeli apa yang kita suka boleh-boleh saja, asalkan tidak berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," tutur Reyna berpendapat.
"Bener juga ya, Sepertinya aku harus belajar kesederhanaan dari Kak Reyna. Apa karena aku terlalu mudah mendapatkan sesuatu jadi aku kurang bersyukur dengan apa yang aku punya dan terus merasa tidak puas, ya Kak?" tutur Fely pada Reyna.
"Bisa jadi, Fe. Ketika kamu terlalu sibuk memperhatikan yang berada di atas kamu kan tersandung. Jadi hiduplah sewajarnya ada kalanya pandangan harus lurus ke depan, menunduk, mendongak, dan juga ada saatnya menoleh. Kakak pernah terlalu lama menoleh ke belakang hingga akhirnya terjatuh. Dan, saat ini aku sangat bersyukur karena aku jatuh ditempat yang tepat, hingga aku terdorong untuk bangkit dan memperbaiki diri."
"Semua orang akan mendapatkan ujiannya masing-masing, kaya itu juga ujian, Fe. Ketika kita diuji dengan banyak uang apakah kita membelanjakan harta itu di jalan yang benar? banyak sedekah nggak? atau malah berfoya-foya? Allah menguji kita dengan berbagai cara, dan kita sebagai manusia harus tetap waspada," tutur Reyna panjang lebar.
"Bisa jadi, Fe. Apa yang membuat kamu menerimanya ketika kamu sudah melihat sesuatu yang kurang darinya?" tanya Reyna.
"Karena aku melihat dia bersungguh-sungguh, dia menepati janjinya untuk tidak menyentuhku, dan karena dia menyayangi keluarganya," tutur Fely.
"Ya sudah itu sudah benar, jika kamu masih ragu lakukan salat istikharah agar menjadi pasti!" tutur Reyna menasehati.
"Baiklah, Kak. Terima kasih atas saran yang sangat bermanfaat!" tutur Fely.
"Iya, sama-sama, Fe. Oh ya, perutku udah laper banget nih, Fe. Kita makan dulu yu!" ajak Reyna.
"Mau makan apa, Kak?" tanya Fely.
__ADS_1
"Terserah kamu, yang jelas Kakak sudah merasa lapar," tutur Reyna sembari mengelus-elus perutnya.
"Kak, gimana kalau ke restoran Jepang," tanya Fely sembari menunjuk papan nama restoran tersebut.
"Boleh deh, yuk masuk!" titah Reyna sembari mendorong stroller Reynand masuk ke dalam resto.
Sesampainya di resto Fely dan Reyna duduk di salah satu meja dan melihat-lihat pada menu makanan itu. Kemudian fely membuat pesanan.
"Kakak mau pesan apa? tanya Fely pada Reyna.
"Aku mau shabu-shabu dan dorayaki untuk Reynand. Eh, Fe ... tambah takoyaki juga boleh deh Fe," tutur Reyna.
Fely memberi tanda oke dengan tangannya.
Fely kemudian mengatakan kepada waitress yang datang untuk memesan apa yang dipesan Reyna di tambah ramen dengan kuah curry dan toppingnya udang dan cumi.
Tak berapa lama menunggu pesanan datang. Mereka segera menyantap hidangan tersebut untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan.
Saat mereka sedang makan, Fely seperti mengenali seseorang yang baru saja masuk ke dalam resto.
Raka! siapa itu yang duduk di depannya! batin Fely bertanya-tanya.
Terlihat Raka duduk di salah satu meja dengan posisi membelakangi Fely saat ini. Sehingga Raka tidak melihat keberadaan Fely. Namun, yang membuat heran adalah sudah ada wanita yang sedang duduk di sana menunggu Raka sebelumnya. Meja mereka berjarak tidak terlalu jauh dari meja Fely. Sehingga samar-samar Fely dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Raka nampak terkejut saat melihat tampilan Maura saat itu, ternyata Maura juga berhijab dia bukan lagi gadis manja seperti dulu. Maura terlihat anggun dan cukup tenang. Awalnya pembicaraan mereka hanya berbasa-basi lantas Raka memulai untuk lebih serius.
"Maura, apa kamu yakin mau menerima perjodohan ini?" ujar Raka langsung pada intinya.
Seketika Fely terkejut mendengar hal itu.
__ADS_1
...__________Ney-nna________...